Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 48. (Pov Rama) - Mencari


__ADS_3

Hingga azan magrib berkumandang saat takjil hari ini, Wati, adikku belum juga pulang. Entah sedang ke mana dulu dia sepulang kerja dari pabrik. Biasanya pukul 16:30 sudah tiba di rumah.


Aku pun menunggu dengan sabar walaupun baik ibu maupun bapak menyuruhku untuk segera mencari keberadaan Wati.


Buka puasa kami pun terasa tak nikmat perbawa hati gelisah memikirkan sang adik. Biasanya kami buka puasa sekeluarga dengan ceria dan terasa nikmat sekali.


Hingga azan isya berkumandang di masjid, Wati belum juga tiba di rumah. Aku semakin gelisah. Apalagi sejak tadi aku hubungi nomor WA-nya tak ada balasan.


Aku pun bergegas ke masjid untuk menunaikan salat isya dan salat tarawih. Demikian pula bapakku ikut ke masjid, sedangkan ibu kusuruh diam saja di rumah takutnya Wati pulang.


Di masjid aku tak melihat Imas. Biasanya dia tak ketinggalan ikut salat tarawih bersama Wati dan Yati. Kini ketiganya tidak ada.


Mungkin Imas ada halangan 'datang bulan'. Tadinya aku ingin menanyakan keberadaan Wati. Tapi biarlah sepulang tarawih aku akan ke rumahnya, atau kalau tidak malam ini mungkin besok pagi saja.


Ketika melihat Anwar di serambi masjid, aku pun menghampirinya dan langsung menanyakan keberadaan Wati barangkali dia menghubunginya.


"Terakhir menghubungi aku sore tadi, katanya mau ke kota kecamatan. Cuma gak bilang-bilang mau apa-apanya," kata Anwar.


"O ya?" tanyaku.


"Mau apa ya dia ke kota kecamatan. Hingga kini Wati belum pulang ke rumah An, aku khawatir keselamatannya," kataku.


"Hah? Benarkah?" Anwar tampak gugup.


"Iya, An. Makanya aku nanyain kamu. Tadinya mau nanyain Imas atau Yati ternyata mereka tak ada ke masjid," ujarku.


"Aduh, ke mana ya? Kalau butuh bantuan, aku siap Kak. Tapi mungkin setelah salat tarawih aja, ya?" kata Anwar.


"Iya, nanti aja setelah salat tarawih. Terima kasih atas kesediaannya," kataku, lantas segera menuju tempat wudu dan berwudu.


Terdengar muazin sudah melantunkan ikamat, tanda salat isya berjemaah akan segera dimulai. Aku pun bergegas masuk masjid menuju saf paling belakang karena saf depan sudah terisi.


Usai salat tarawih para jemaah bubar, pulang ke rumahnya masing-masing. Sementara aku dan Anwar masih diam di serambi. Tiba-tiba datang Warya.


Tadi aku tak melihat Warya di dalam masjid mungkin berada di saf paling depan.


"Halo Kak Rama, Anwar. Tampaknya sedang bicara serius?" tanya Warya.


"Eh Warya. Iya, War. Wati belum pulang hingga sekarang," kataku.

__ADS_1


"O, ya? Udah dicari ke mana, Kak?"


"Belum, aku baru nanyain Anwar. Kata Anwar terakhir komunikasi katanya tadi bilang mau ke kota kecamatan. Kak Rama pun sudah menghubungi HP-nya, tapi tak ada jawaban," jelasku pada Warya.


"Duh, ke mana Ya. Terus rencana Kak Rama sekarang bagaimana? Bila butuh bantuan, aku siap. Jangan segan-segan Kak," timpal Warya.


Aku tertegun sejenak mendengar kata-kata Warya barusan. Terbayang di benakku wajah Bu Hajjah Tita, teringat kembali kata-kata pedasnya tentang sebutan untuk Almarhumah adikku Wiwi, Warya harus menjauhiku dan keluargaku, serta dimintanya kembali uang yang lima juta rupiah.


"Biar aja War, biar aku dan Anwar saja yang mungkin saat ini akan menghubungi dulu Yati ke rumahnya," kataku.


"Kak Rama, jangan hiraukan ibuku. Lihatlah aku. Kita berteman dan kita telah sepakat untuk menghadapi cecunguk biadab yang telah menghancurkan keluarga Kakak, Allmarhumah Wiwi. Aku takkan membiarkan penderitaan itu hanya dirasakan kakak da keuarga. Kepedihan kakak, kepedihan aku juga Kak," kata Warya membuatku sungguh terharu.


"Ya, kalau begitu terima kasih War. Aku curiga Wati ada yang ngejahatin. Masa iya bepergian belum pulang hingga larut malam.


Terima kasih atas bantuan kalian berdua. Kalau begitu, ayo kita ke rumah Yati aja dulu," kataku kepada Anwar dan Warya.


Anwar lantas menutup pintu masjid dan menguncinya. Kemudian kami menutup pula pintu serambi masjid terbuat dari kayu dan cukup menguncinya dengan slot dari dalam.


Saat itu juga kami bertiga menelusuri jalan ke arah rumah Warya dan kemudian ke rumahku. Warya bilang mau masuk ke rumahnya dulu katanya mau minta izin ke orangtuanya.


Aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam rumah. Namun Warya tak lama keluar rumah mengenakan baju jaket dan topi. Tampaknya sudah ada izin dari orangtuanya.


Kami pun menuju rumahku. Aku masuk rumah setelah mengucapkan salam. Tampak di ruang tamu bapak dan ibu sedang duduk termenung dengan wajah sayu.


"Lho kirain sudah ada pulang Bu. Belum diketahui Bu. Tapi kata Anwar tadi dia bilang mau ke kota kecamatan. Sekarang kami akan ke rumah Yati, permisi dulu ya. Hati-hati di rumah," kataku kepada bapak dan ibuku.


"Oh, iya. Syukur kalau begitu, kamu juga harus hai-hati. Mana Anwar dan Waryanya?" kata bapakku.


"Itu menunggu di luar. Ya kami permisi Bu, Pak," kataku.


Lantas aku ke kamar dulu mengambil baju jaket dan juga topi biar tak terlalu dingin.


Setelah itu kami menuju rumah Yati. Sekitar dua puluh menit, kami sudah tiba di rumah orangtua Yati.


Terdengar di ruang tamu ibu dan ayah Yati sedang berbincang.


Aku pun segera saja mengucapkan salam. Tak lama pintu dibuka dan ayah Yati menjawab salamku.


"Oh, Rama. Ayo masuk. Lagi diobrolin," kata Pak Rudi, ayahnya Yati.

__ADS_1


"Terima kasih Pak. Kami bersama Anwar dan Warya," kataku.


"O ya. mari masuk semuanya!" ajak Pak Rudi.


Kami pun masuk bertiga dan duduk di kursi yang tersedia di ruang tamu. Bu Amih tampak bermuka sayu tanda sedang bersedih. Namun melihat kedatangan kami, dia bangkit katanya mau mengambil air.


"Enggak usah repot-repot Bu, kami tidak akan lama," kataku. Bu Amih pun duduk kembali.


"Jadi begini Pak, Bu. Maksud kami datang ke sini untuk menanyakan adik kami Wati belum pulang sejak tadi bekerja di pabrik. Apakah Yati sudah pulang?" tanyaku.


"Justru itu, kami berdua pun lagi bingung. Yati belum pulang hingga sekarang Tadinya mau ke rumah Rama menanyakan Yati," kata Pak Rudi.


"Tadi sore dia ada pulang ke sini, mengambil sesuatu dari lemarinya. Lalu bilang katanya mau ke kota kecamatan, entah mau apa," kata Bu Amih.


Ternyata benar apa yang dikatakan Anwar tadi katanya Wati ke kota kecamatan. Ini berarti Wati dan Yati sama-sama pergi ke kota kecamatan. Lantas mau apa?


"Betul tadi juga aku hubungi Wati katanya lagi ke kota kecamatan," kata Anwar.


"Oh gitu ya An. Kalau begitu Yati ke kota kecamatannya bersama Wati. Entah mau apa dan mengapa hingga kini belum kembali?" kata Pak Rudi.


"Sekarang begini aja Pak. Biar kami bertiga akan mencarinya. Sementara ini mau ke rumah Imas dulu kali aja dia tahu lebih banyak," kataku kepada Pak Rudi.


"Bagus kalau begitu. Bapak tunggu infonya ya Ram, War, An. Kalau ada perkembangan bisa hubungi nomor WA Bapak. Tadi juga sudah berkali-kali menghubungi nomor Yati tapi tak ada jawaban. Ada enggak nomor WA Bapak?" kata Pak Rudi kepadaku.


"Ada Pak, ada, saya dikasih ama Yati, hanya belum kontak aja. Sekarang aku kontak ke WA Bapak," kataku. Lalu mengambil HP dan mengirim kontak chat sekadarnya ke WA Pak Rudi.


Pak Rudi pun melihat layar HP-nya.


"Udah, udah masuk, Ram," kata Pak Rudi.


"Kalau begitu kami permisi Pak, Bu," ujarku lagi.


"Ya, silakan. hati-hati kalian!" timpal Pak Rudi.


"Iya Pak," sahutku.


Kami lantas pergi dari rumah Pak Rudi dan menuju rumah Imas yang tak begitu jauh.


Sesampainya di rumah Imas atau rumah Bu Utih, aku sedikit ragu mengingat di rumah ini Imas biasanya sendiri sebab Bu Utih yang juga ART di rumah Bu Windi istri Kades Danu lebih sering nginap di rumah majikannya.

__ADS_1


Kalau tak salah hanya seminggu sekali boleh pulang. Sementara ayah Imas sudah lama meninggal dunia.


Akan tetapi mengingat hal penting yang akan kutanyakan kepada Imas, apa boleh buat aku harus menemui Imas sekarang juga. Semoga dia belum tidur. (Bersambung)


__ADS_2