Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 112. Enam Bulan Kemudian


__ADS_3

Kini Bi Inah dan Iis sudah mempunyai rumah baru setelah rumah lama yang terbakar direhab dengan dana dari Bu Windi dan sebagian sumbangan dari warga, terutama orang-orang kaya seperti Haji Makmur dan Ustaz Hamid serta yang lainnya.


Meski tidak sebagus rumah sebelumnya, rumah baru itu tetap kokoh karena masih menggunakan tembok rumah yang lama, kecuali kayu-kayunya yang semuanya diganti karena habis terbakar.


Pekerja bangunan itu dipercayakan sepenuhnya kepada Didi dan Taryo, warga Kampung Mekarsari yang memang sehari-harinya menggeluti dunia pertukangan bangunan, tembok dan kayu.


Hanya saja pekerja bangunan tukang tembok dan kayu itu tak setiap hari ada pesanan, walaupun tak kosong setiap bulannya. Nah di waktu kosong itulah Didi dan Taryo mengisi waktu dengan memancing di Sungai Cilampit hingga keduanya sempat dipermainkan dedemit sumur tua di dekat sebuah gudang tak jauh dari Sungai Cilampit.


Namun kini, seusai gudang itu dirubuhkan dan sumur tua diuruk atas inisiatif tokoh mayarakat yang dirujuk Ustaz Hamid, sepulang memancing jam berapa pun bahkan malam sekalipun, Didi dan Taryo, aman-aman saja.


Tentu saja upah mengerjakan bangunan rumah Bi Inah, keduanya mendapatkan uang hingga jutaan rupiah. Demikian pula para laden atau pembantu Didi dan Taryo pun kecipratan rezeki nomplok itu.


Pak Muslih pun kini sudah kembali mengelola sawah dan ladang Bu Windi yang sempat telantar karena tak ada orang yang bisa dipercaya untuk menggarapnya.


Dibantu Rama, tenaga muda, dan juga Bu Ratih, serta Bi Inah masih diberi kepercayaan oleh Bu Windi untuk bekerja di lahan pertaniannya, terutama mengelola tanaman sayuran bersama Bu Ratih untuk dijual ke pasar.


Hasil panen baik dari sawah maupun ladang dan kebun dibagi dua dengan Bu Windi. Namun, Bu Windi pun masih memberikan tip bulanan kepada semuanya.


Dengan begitu, Pak Muslih, Rama, Bu Ratih, dan Bi Inah makin bersemagat kerjanya tanpa dihantui perasaan khawatir tentang upah. Terhindar pula dari pinjam-meminjam uang hingga harus menumpuk seperti yang lalu-lalu ketika Kades Danu masih hidup.


Rama makin giat bekerja karena kini dia sudah mempunyai tanggungan yaitu resmi telah melangsungkan pertikahannya dengan gadis pujaan hatinya, Yati, putrinya Pak Rudi dan Bu Amih.


Untuk sementara Rama ikut tinggal bersama mertuanya. Yati pun sudah kembali bekerja di pabrik, walaupun dilarang oleh Rama, tetapi Yati bersikukuh ingin membantu ekonomi keluarga kecilnya sebelum nanti disibukkan mengurus anak. Rama pun tak bisa apa-apa.


Bukan hanya Rama dan Yati yang telah mengakhiri masa lajangnya di enam bulan terakhir, melainkan Wati putri Pak Muslim dan Bu Ratih atau adiknya Rama pun kini resmi menjadi Nyonya Awar, alias menantunya Ustaz Hamid.


Wati pun harus rela meninggalkan rumah orangtuanya karena dibawa Anwar agar tinggal di rumahnya.

__ADS_1


Bukan tanpa alasan Wati diboyong Anwar, ibunya Anwar atau istrinya Ustaz Hamid, Bu Aminah sakit keras, bahkan dua bulan lalu Bu Aminah dipanggil Yang Maha Kuasa ke haribaanNya.


Praktis Wati jadi andalan utama pekerjaan wanita di rumah Ustaz Hamid. Itulah sebabnya, ketika Yati yang kini sudah resmi menjadi kakak iparnya kembali mengajak Wati bekerja di pabrik, Wati tak mendapat izin baik dari Anwar suaminya maupun Pak Ustaz Hamid.


"Fokus saja mengurus rumah tangga ya Wat, habis Bapak kini sudah sendirian. Jangan khawatirkan kebutuhan rumah tangga, insyaallah Anwar dan Bapak takkan sampai mengabaikan," ujar Ustaz Hamid.


Wati pun hanya menimpali dengan anggukkan dan perkataan mengiyakan.


Toto dan Imas pun kini sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka tak canggung lagi dalam bersentuhan, tak seperti saat kejadian Imas diganggu dedemit rumah Bu Windi yang menyebabkannya harus tidur di atas sofa dan mengancam Toto agar tidak berbuat macam-macam.


Karena kini Imas dan Toto sudah resmi menjadi suami istri, Bi Utih ibunya Imas penakluk Si Embah Sawi, oleh Bu Windi dipensiunkan dari pekerjaan ART-nya.


"Bibi sudah tua, takutnya kelelahan dan ingin istirahat total. Mulai saat ini, sudahlah Bibi istirahat saja. Pekerjaan Bibi, dilimpahkan kepada Imas untuk sementara. Nanti aku akan mencari ART lagi," ujar Bu Windi.


Bi Utih pun semula merasa sudah tak terpakai lagi sehingga dia menduga Bu Windi tak membutuhkannya lagi, dengan kata lain dia dicampakkan.


membantu Ibu?" akhirnya Bi Utih bicara untuk mendapat kejelasan. Takutnya apa yang ia duga bahwa dirinya dicampakkan benar adanya.


"Bibi jangan salah paham atau merasa dicampakkan oleh aku. Justru ini sebagai rasa terima kasih aku kepada Bibi yang telah bertahun-tahun mengabdi di sini dalam suka maupun duka. Jangan khawatir tentang kebutuhan sehari-hari, akan aku perhatikan. Bukankah Imas kini resmi menjadi bagian dari keluargaku?" ujar Bu Windi memperjelas alasan mengapa dia memberhentikan Bi Utih menjad ART.


"O ya kalau begitu Bibi mengerti, Bu. Namun jika Ibu butuh tenaga Bibi, jangan sungkan-sungkan menyuruh," kata Bi Utih tak enak saja jika menerima uang dari Bu Windi namun cuma ongkang-ongkang kaki.


"Ya, tapi sebaiknya Imas saja yang megerjakannya sebelum ada pembantu baru. Soal tempat tinggal, mau di sini silakan mau di rumah Bibi di sana silakan katanya rumahnya belum ada lagi yang mengontrak karena Bi Inah kini sudah menempati rumahnya!" kata Bu Windi memberikan pilihan tempat tinggal.


"Iya Bu. Nanti saya bicarakan dulu dengan Imas bagaimana baiknya," tutur Bi Utih dan diiyakan Bu Windi.


Karena sudah diberi tugas baru menggantikan ibunya, Imas pun yang tadinya masih berminat untuk bekerja lagi di pabrik tak mengiyakan ketika Yati mengajaknya lagi bekerja di pabrik.

__ADS_1


"Aku malu sama Bu Windi, Kak Yati bukannya tak berminat bekerja. Kini fokus saja melayani suami dan membantu tugas dapur di rumah Bu Windi," kilah Imas.


"O ya enggak apa-apa kalau begitu memang kalau sudah berumah tangga harus fokus mengurus suami. Tapi kalau aku alhamdulillah suami mengizinkan ya mau bekerja lagi aja deh. Wati juga enggak bisa, sama seperti kamu disuruh fokus ke dapur. Ya enggak apa-apa, kita saling doakan saja semoga semuanya lancar, rumah tangga kita tak ada gangguan apa-apa," kata Yati menanggapi ucapan Imas beberapa waktu lalu.


Di rumah Pak Muslih dan Bu Ratih praktis kini hanya tinggal bertiga, yakni Pak Muslih, Bu Ratih, dan Triana yang masih betah tinggal di rumah uwaknya itu.


Oleh karena itu Pak Muslih dan Bu Ratih tak begitu kehilangan anak-anaknya yang telah keluar rumah karena pertikahan. Wati ikut Anwar, dan Rama ikut Yati. Kehadiran Triana yang berwajah mirip Wiwi, seolah Wiwi selalu hadir di samping kedua orangtuanya, Pak Muslih dan Bu Ratih.


Soal jodoh Triana? Pak Muslih dan Bu Ratih tak terlalu mengkhawatirkannya karena Triana dan Warya sudah resmi bertunangan tinggal menunggu hari-hari petikahannya yang kini sedang dipersiapkan.


Pak Muslih dan keluarga pun telah mengetahui peristiwa Warya dan Triana dilabrak Ira dan Ganda yang kemudian didamaikan oleh Ustaz Hamid sehingga tak terjadi lagi silang pendapat dan kecemburuan.


Bahkan Ganda dan Ira kerap bermain ke Kampung Mekarsari, dan diterima dengan baik oleh Warya dan keluarganya, demikian pula oleh Rama dan keluarganya termasuk Triana.


Bahkan oleh Rama dan Warya Ganda serta Ira diajak bermain ke rumah baru Bi Inah.


Ira dan Iis sudah tak asing lagi karena keduanya sempat bersama-sama disekap oleh Embah Sawi dan nyaris jadi korban kebiadaban para penjahat itu meskipun Iis harus menerima kenyataan, bapaknya Tanu, tewas dianiaya anaknya Kades Danu si Darpin.


"Kak Ira sering-sering main ke sini ya?" ujar Iis sambil merunduk.


Iis melakukan itu karena sedari tadi, pria ganteng kakaknya Ira, Ganda, terus memandanginya.


Ya, Ganda jatuh hati kepada Iis. Makanya ketika diajak pulang oleh Ira sepertinya sangat berat meninggalkan tempat itu.


"Iis juga main ke rumah Kak Ira ya di Karangsari." kata Ira.


"Iya, Is. Kalau gak ada yang ngantar biar Kak Ganda yang jemput dan mengantar pulang lagi," ujar Ganda spontan.

__ADS_1


"Maunya.....!" gumam hati Iis, kesal, tapi juga penuh harap. (Bersambung)


__ADS_2