Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 100. (PoV Bi Utih) - Satu Malam 3 Kali Jeritan


__ADS_3

Bab 100. (PoV Bi Utih) - Satu Malam 3 Kali Jeritan


"Embah Sawi?"


"Seratus untuk kamu!"


"Bukan aku yang melakukannya. Aku cuma dipinjam raga, entah siapa yang mengendalikanku!" ujarku membela diri.


"Aku tahu siapa yang mengendalikanmu. Tapi tetap kamu harus bertanggung jawab dan merasakan bagaimana sakitnya kepala dibacok kapak yang telah kualami!" ujar sosok yang mengaku sebagai Embah Sawi.


"Jangan lakukan, aku tidak bersalah!" harapku sambil berusaha menjauhinya. 


Akan tetapi, dia terus mendekatiku dan memutar-mutar kapak berdarah di tangannya, siap dibacokkan ke tubuhku.


Aku tak dapat mebayangkan bagaimana sakitnya menerima bacokan kapak.


"Tolong jangan lakukan. Aku tidak bersalah, bebaskan aku dari kurungan gedung tua ini. Tolong bukakan pintunya!" harapku sambil menangkupkan dua telapak tangan, memelas.


"Enak aja minta dilepaskan! Nanti juga lepas sendiri jika kapak ini sudah mencium batok kepalamu setelah kuhunjamkan dengan tangan kekarku! Sekarang, ayolah panggil orang-orang terdekatmu karena sebentar lagi kau bakal mencicipi kapak tajam ini!" ancamnya membuat aku makin degdegan saja.


"Tolooooong.........!!!!"


Akhirnya aku memberanikan diri berteriak meminta tolong sambil berlari menjauhi sosok menakutkan itu.


Aku kembali ke depan rumah berharap pintu sudah bisa dibuka. Sial, begitu aku sampai di ruang depan rumah, si sosok menakutkan sudah berdiri angkuh bak patung raksasa di depanku menghalangi pintu.


"Sudah kubilang takdirmu di sini perempuan jahat!" hardiknya.


Dia mengangkat tangan kanannya yang memegang kapak ke atas, lalu tangan kirinya memegang tanganku dengan sekuat-kuatnya.


"Rasakan nih!" teriaknya sembari menghunjamkan kapak ke kepalaku.


"Aooooouw, toloooooong.....! Tolong, tolooooong!" teriakku sekeras-kerasnya.


"Bi, Bi, ada apa? Buka pintunya!"


Terdengar ada orang bertanya sambil mengetuk-ngetuk pintu.


Aku membuka mata. Menghela napas panjang, jantung berdegup kencang, kepalaku terasa pusing.


Aku duduk menenangkan diri. Kembali fokus kepada yang barusan bicara dan mengetuk pintu kamar.


Ya, ternyata aku masih berada di dalam kamarku dan barusan aku terbawa ke alam mimpi yang sangat menakutkan didatangi penampakan si Embah Sawi yang menghunjamkan kapak ke kepalaku.


""Bi, Bi, ada apa?" terdengar lagi yang bertanya, seperti suara Toto.


"Mak, Mak, kenapa menjerit-jerit? Ada apa?" kini kudengar suara Imas, anakku.


"Iya Bi. Tolong, buka pintunya!" Bu Windi juga memanggilku.

__ADS_1


Aku segera bangkit, menyalakan lampu. Ternyata kini lampu bisa menyala normal padaha tadi kuduga lampu mati karena terputus. Mungkin putaran dratnya kurang kuat alias loncer.


Begitu kubuka pintu, benar saja di depan pintu sudah berdiri Bu Windi, Toto, dan Imas.


"Ada apa Bi?" tanya Bu Windi.


Dia membimbing tanganku ke ruang tengah dan mengajak kami duduk di kursi ruang tengah. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 02:00 dini hari.


"Ada, ada, adaaa......" ujarku terbata-bata.


Aku bingung harus bercerita apa tentang mimpi yang sangat menakutkan itu.


"Ada penampakan orang yang telah Bibi binasakan di tempat Embah Sawi?" tanya Bu Windi.


Deg!


Kok Bu Windi bisa tahu apa yang kumimpikan barusan yang memang benar aku didatangi si penampakan Embah Sawi yang tempo hari kuhabisi ketika aku dipinjam raga oleh makhluk gaib yang entah apa.


"Iya Bu," ucapku pendek, malu-malu, takutnya ditertawai Imas dan Toto.


"Bibi tidak sendiri. Aku pun mimpi hal serupa. Tanya Toto!" ujar Bu Windi membuatku terheran-heran.


"Iya tadi kudengar Tanteku menjerit seperti sangat ketakutan. Ada apa sebenarnya?" ujar Toto.


"Ini sungguh aneh. Tampaknya iblis dan jin jahat yang selama ini bersemayam di tubuh para penjahat melakukan balas dendam!" kata Bu Windi.


Lalu aku bercerita tentang mimpiku barusan yang terperangkap di gedung tua dan didatangi sosok menakutkan yang mengaku si Embah Sawi.


"Tadi aku mimpi didatangi Embah Sawi. Dia mengatakan akan balas dendam dengan membunuhku menggunakan kapak karena aku telah


membacok kepalanya hingga dia tewas!" kataku menjelaskan mimpiku barusan.


"Pantas saja Emak menjerit. Tapi tak apa-apa kan Mak?" tanya Imas sambil menghampiriku, lalu megusap-usap punggungku.


"Alhamdulillah tak apa-apa, cuma kepala agak pusing, Im," timpalku.


"Aku pun sama didatangi penampakan suamiku yang sangat menakutkan. Dia mengejar-ngejar akan membunuh hingga akhirnya aku harus menjerit minta topong," ujar Bu Windi.


Deg!


Sungguh aku terkejut mendengar ucapan Bu Windi yang seperti itu. Berarti para penampakan antek Embah Sawi itu kini tengah melancarkann aksi balas dendam kepada orang-orang yang dulu telah membunuhnya.


"O ya? Tapi Bibi tidak mendengar sama sekali jeritan Bu Windi. Mungkin Bibi terlalu terlelap dan tengah memasuki dunia dedemit itu," ujarku.


"Sekarang kita harus bagaimana Bu?" tanyaku kepada Bu Windi.


Bu Windi geleng kepala, lalu memandangi aku, Imas, dan Toto.


"Kamu enggak apa-apa Imas, Toto?" tanya Bu Windi kepada anakku, Imas, dan Toto.

__ADS_1


Imas dan Toto hanya salingpandang, seolah bingung harus berbicara apa dan sepertinya ada yang dirahasiakan.


Aku takut saja keduanya menyembunyikan rahasia yang selama ini kutakutkan setelah kami berada di satu rumah.


Kekhawatiranku hanya satu, Imas dinodai leh Toto karena kelihatan sangat jelas bahwa Toto ada hasrat kepada anakku.


Bukan masalah hubungannya karena hal itu normal-normal saja. Hanya saja jika melanggar aturan baik negara apalagi agama, tentu aku tidak akan rela.


"Sepertinya kalian memendam rahasia?" tanya Bu Windi dengan penuh selidik.


Itu pula sebenarnya yang akan kutanyakan kepada keduanya. Jadi aku sangat setuju Bu Windi melontarkan pertanyan itu kepada Imas dan Toto.


"Maksud Tante?" tanya Toto.


"Iya, ditanya malah pada diam bukannya menjawab. Jangan-jangan kalian punya rahasia....."


"Yang akan membuat Tante dan Bi Utih malu, jelasnya kami berdua melakukan hubungan intim layaknya suami istri?" ujar Toto dengan lantangnya.


"Nah itu kira-kira," kata Bu Windi.


"Tapi kalian berdua jangan kenapa-kenapa. Aku dan juga Bi Utih sayang kalian berdua. Iya kan Bi?" tanya Bu Windi kepadaku.


"Ya, benar sekali, Bu!" timpalku.


"Oleh karena itu, kalian jangan merasa disudutkan atau aku khusnya dan pasti juga Bi Utih menaruh curiga kalian melakukan hal yang tak senonoh ketika tadi kami berdua tidur nyenyak hingga mimpi buruk!" kata Bu Windi.


"Astagfirulllajh, Tante! Sampai segitunya. Benar kami berdua ada rasa kasih, ada hasrat untuk berbuat tak senonoh ketika di rumah besar ini hanya ada kami berdua yang masih terjaga, di luar hujan deras dengan halilintar menggelegar, udara dingin, sementara Tante dan si Bibi tidur nyenyak. Maka, akan dengan mudah setan merasuki kami. Namun alhamdulillah, kami tidak tergoda!" kata Toto membuat hatiku sangat senang.


"Lalu kenapa kalian masih berada di ruang tengah berduaan bukannya masuk kamar, tidur?" tanya Bu Windi.


"Itulah yang akan kami berdua ceritakan," ujar Toto.


Bu Windi dan aku salingpandang.


"Apa?"


"Ya, mengapa kami hingga jam segini masih berduaan berada di sini dan mendengar dua kali jeritan dari kamar. Pertama jeritan dari Tante, kedua jeritan si Bibi barusan. Sebenarnya ada jeritan yang pertama. Jadi di rumah ini hanya dalam satu malam terjadi tiga kali jeritan," ujar Toto membuat aku dan juga tampaknya Bu Windi terheran-heran.


"Siapa yang menjerit selain aku dan Bi Utih?" tanya Bu Windi.


"Dia!" tutur Toto menunjuk Imas.


"Bernakah Imas?" sambung Bu Windi.


"Kenapa kamu harus menjerit, Imas. Kok ibu tak mendengar?" kini giliranku yang bertanya saking penasaran.


"Ya. Benar aku menjerit histeris ketika tadi usai makan bersama lalu aku mau tidur memasuki kamar depan, tiba-tiba aku melihat sesosok yang berkelabat masuk kamarku dan melihat pintu kamar telah terbuka padahal aku rasa tadi sebelum makan telah menutup pintu kamar," ujar Imas.


Lagi-lagi Bu Windi dan aku hanya saling pandang. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2