
"Jadi gini, setelah tadi aku ngobrol dengannya," kata Rama membuka 'oleh-oleh' tadi ngobrol dengan si emang tukang bakso yang menurut Yati cees disebut penampakan.
Para perempuan itu mendekati Rama, bahkan Yati mendekat nyaris nempel kayak perangko seolah tak boleh didekati wanita lain selain dirinya.
"Iya gimana Kak?" tanya Yati gak sabar lagi.
Kata Rama si tukang bakso itu belum lama berjualan menggantikan iparnya yang enam bulan lalu meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.
"Innalillaahi....." Yati, Imas, dan yang lainnya serempak mengucapkan doa kematian.
"Jadi tukang bakso yang dulu kami jajan bersama Wiwi sudah meninggal dunia?" tanya Imas.
"Ya boleh jadi dia, aku sih tidak tahu wajah tukang bakso yang dulu dan si emang tadi tak menjelaskan apakah dia menggantikan tukang baso yang kamu beli dulu, Mas," kata Rama.
"Ya udah yang jelas si tukang bakso ini bukan tukang bakso dulu yang kita beli Mas. Tapi kata Anwar tadi dia mengaku bernama Sodom?" susul Yati, makin penasaran.
"Nah ini yang aku heran tadinya. Setelah aku ngobrol lagi, ternyata dia punya kakak yang entah di mana sekarang karena dia meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu gaib. Kakaknya juga namanya Sodom, sama dengan dia, namun beda arti," tambah Rama.
"O ya? Benar-benar cerita menarik kok kakak beradik bisa bernama sama, tapi beda arti. Maksudnya apa Kak Rama?" Yati makin penasaran saja.
"Si tukang bakso itu namanya Soleh Odom. Odom, kata dia, nama dari ayahnya. Sedangkan kakaknya bernama Aso Odom," tukas Rama.
"Oh....." barulah mereka mengerti setelah Rama mengupas tuntas siapa Sodom si tukang bakso itu.
"Jadi dia bukan penampakan Sodom anak buah Embah Sawi yang telah dihabisi Bi Inah," kata Rama.
"Tapi bisa jadi Sodom anak buah Embah Sawi kakaknya tukang bakso itu kan wajahnya sangat mirip," tutur Imas.
"Nah itu bisa jadi apalagi kalian hapal betul wajah Sodom anak buah Embah Sawi. Tinggal diperjelas lagi sekarang ke sana, silakan semuanya jajan bakso, tapi bayar sendiri!" celoteh Rama.
"Yey, licik. Ya udah ah kalau ceritanya begtu aku tak mau jajan bakso di sini, entar saja di rumah menanti penjual bakso keliling langganan," imbuh Yati.
"Terus sekarang kita-kita ke mana?"
"Ya pulang ke rumahlah," tukas Yati lagi.
"Imas, Toto, ayo main dulu ke rumah aku!" ajak Wati.
__ADS_1
"Enggak nanti aja Wat, aku mah mau nengok rumah dulu disuruh oleh Ibu melihat rumah apakah sudah ada yang melihat-lihat apa belum, mau ditanyakan sama tetangga" kata Imas.
Bi Utih memang ketika melihat Imas dan Totor tadi pagi keluar rumah untuk berolah raga di lapangan desa sekalian menyuruh Imas untuk melihat rumahnya di Kampung Mekarsari.
"Oh iya Mas aku pernah dengar Bi Inah katanya melihat rumahmu akan dikontrakkan, apa bener?" tanya Wati.
"Iya, kan aku sudah tulis pengumuman di depan rumahku. Tapi hingga kini belum ada yang berminat. Terus kata Bi Inah bagaimana gitu Wat?" ujar Imas.
"Iya kata Bi Inah biar dia saja yang mengisi rumahmu bersama Iis daripada di rumah ortuku. Padahal ortuku tak keberatan disinggahi Bi Inah dan Iis, kan lagi kena musibah rumahnya kebakaran dan tak punya siapa-siapa lagi. Tapi Bi Inah mengemukakan alasan lain, ingin mandiri dan tak ingin merepotkan ortuku," kata Wati panjang lebar.
"Ya kalau begitu aku akan balik langsung saja ke Bu Windi, akan bilang sama Ibuku bahwa Bi Inah mau mengontrak rumah," kata Imas.
"Ya, boleh-boleh kalau begitu lebi baik Mas," kata Wati.
Akhirnya mereka berpisah. Rama cees kembali ke umahnya termasuk Warya dan Triana. Sedangkan Imas dan Toto kembali ke rumah Bu Windi.
***
(PoV Warya)
Tiba-tiba bulu kudukku merinding padahal hari baru mau pergi menuju malam. Jelasnya aku duduk di teras rumahku ini di senja hari.
Aku kembali dihantui pikiran buruk tentang dua wanita yang ada dalam diriku, yaitu almarhumah Wiwi dan Triana, saudaranya yang sejak Idulfitri hingga kini masih tinggal bersama uwaknya, Pak Muslih dan Bu Ratih.
Terus terang hingga kini aku belum bisa melepaskan bayang-bayang almarhumah Wiwi. Meski di sosok Triana tampak kemiripan Wiwi sangat sempurna, namun aku berkeyakinan Wiwi dan Triana tetap berbeda.
Akan tetapi jika aku tetap mengharapkan almarhumah Wiwi, sedangkan Wiwi sendiri telah pergi untuk selama-lamanya, tentunya takkan ada selesainya.
Emang sih aku dan Triana belum sampai menyatakan rasa cinta, tetapi Triana tak keberatan jika kudekati dan baik keluargaku maupun keluarga Pak Muslih sepertinya sangat mendukung.
Belum lagi memikirkan Ira yang tampaknya dia sangat berhasrat pula kepadaku. Sedangkan Ira dan Triana merupakan teman di kampungnya.
"OMG mengapa aku harus menghadapi persoalan wanita seperti ini?" gumamku dalam hati.
Ketika asyik memikirkan persoalan diriku dengan wanita, tiba-tiba muncul dua sosok wanita yang tak asing lagi, Triana dan Wiwi.
"Hah? Triana dan Wiwi!" batinku terkaget-kaget.
__ADS_1
Tampak Wiwi dan Triana seperti gadis kembaran yang sangat mirip, kata orang Sunda mah "lir beubeulahan jambe" (seperti pinang dibelah dua).
"Hayoh lagi apa?" sapa Wiwi teriring senyum manis, senyuman yang sulit kulupakan.
"Eh, Wiwi dan Triana?" sapaku balik bertanya.
Sepertinya aku tengah berada di alam lain namun sangat, sangat nyata, dengan kehadiran Wiwi dan Triana.
Aku juga terkejut sekaligus takut karena baru saja tengah galau memikirkan keduanya, ya Wiwi ya Triana.
"Lalu aku harus bagaimana?" lirihku dalam hati.
"Tak usah galau, tak usah sedih, tak usah bingung," kata Wiwi seolah bisa membaca alam pikiranku yang memang tengah galau.
Lantas Wiwi dan Triana, si kembar pinang dibelah dua itu pun duduk di tembok teras rumah di hadapanku.
Aku tak menjawab atau menanggapi ucapan Wiwi itu karena masih bingung di antara memilih keduanya karena memang kini ada di hadapanku dua-duanya.
"Sudahlah Kak Warya, jatuhkan pilihan kepada saudaraku ini. Aku merestui. Paling tidak ada darahku juga di tubuh dia, darah saudara, darah keluarga, dan bahkan aku dan dia mirip, bukan?" ujar Wiwi dengan sangat hati-hati.
Kini aku baru paham atas kehadirannya di hadapanku. Ya, dia seolah memutuskan agar aku tak usah mengingatnya lagi. Hal yang kerap dia katakan juga sebelumnya ketika dia datang menemuiku di alam lain.
"Jadilah kalian pasangan yang harmonis, saling mencintai, saling mengasihi, bertanggung jawab atas tugas masing-masing dalam ikatan rumah tangga. Jika kelak kalian diberi keturunan anak laki-laki, didiklah dengan baik, agar tidak mewarisi nafsu-nafsu iblis yang memperlakukan wanita sekadar pemuas nafsu berahi," tutur Wiwi membuat mataku berkaca-kaca.
Apa yang dituturkannya mengingatkan takdir hidup yang menimpa Wiwi yang pernah menjadi korban kebiadaban nafsu-nafsu berahi yang dimanfaatkan oleh iblis laknatullah.
"Iya, iya, aku mengerti Wi," ujarku terbata-bata.
"Bagaimana? Kamu siap menerima dia sebagai suamimu Ana?" tanya Wiwi kepada Triana yang sedari tadi hanya diam.
Triana mengangguk, aku pun bahagia dan kini tak ragu lagi untuk menerimanya sebagai pendamping hidupku yang kalau bisa untuk selama-lamanya hingga ajal menjemput kami.
"Begitu saja ya Kak Warya, aku akan pulang, pulang ke alamku. Berbahagialah kalian berdua, aku permisi........" kata Wiwi dan seketika menghilang dari hadapanku demikian pula Triana ikut pergi entah ke mana.
"Wiiiiii.....Trianaaaaa.......!" teriakku.
(Bersambung)
__ADS_1