Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 95. Yang Cemburu kepada Si Embah


__ADS_3

Karena kenal dan teman dekat, tentu saja Ira dan Ganda mendekati serta menyapa Triana. Triana pun menerangkan keberadaannya di kampung itu yaitu untuk menghibur uwaknya yang terkena musibah yang menimpa Wiwi dan Wati.


Adapun yang menjadi ganjalan Ira karena dia melihat sang pujaan hatinya yang justru menjadi pendorong Ira untuk bersemangat menghadiri acara syukuran ini, tampak lebih dekat dengan Triana.


Ira kerap memperhatikan Warya, sang kekasih pujaan hatinya itu mencuri-curi pandang lekat kepada Triana. Ada yang luka di hati Ira melihat kenyataan seperti itu.


Namun ketika ibunya Warya yaitu Bu Hajah Tita menghampiri dan mengajaknya mampir ke rumahnya, hati Ira sedikit terobati dan dia pun menyatakan kesediaannya untuk mampir ke rumah Bu Hajah Tita.


Benar saja, usai acara syukuran Ira dan Ganda pulang bersama rombongan keluarga Bu Tita dan Pak Muslih.


Ira lagi-lagi tergores sembilu hatinya ketika Warya membonceng Triana. Ada pikiran takkan jadi mampir ke rumah Bu Hajah Tita, namun segera saja pikiran buruk itu dienyahkan karena tentunya tidak baik ingkar janji.


"Kapan lagi menunjukkan sikap baik kalau bukan sekarang saat ibunya mengundang," ujar benak Ira.


Maka, Ira pun kini tak ragu untuk mampir ke rumah Warya. Meskipun luka hati melihat Triana dibonceng Warya, ia usahakan tetap menampakkan raut muka ramah.


Sesampainya di rumah Hajah Tita, Ira dan Ganda dijamu dengan makanan serba enak. Namun ketika ditawari makan, keduanya menolak karena memang di acara syukuran pun telah makan.


"Terima kasih Ira, Ganda, sudah mampir ke sini ya. Ibu hanya ingin minta maaf atas kelakuan ibu dan anak ibu di waktu yang lalu. Ibu juga memaafkan keluarga Ira di sana dan mudah-mudahan Ibu, Bapak, dan juga Warya berkenan ke sana menemui keluarga Ira," kata Bu Hajah Tita.


Mendengar ucapan Bu Tita, Ira sangat bahagia. Dia menyimpulkan bahwa akan hadirnya keluarga Warya ke rumahnya adalah untuk melamarnya, lalu menyatukan dirinya dengan Warya.


"Iya, terima kasih juga Ibu sudah mengundang Ira ke sini. Cuma mampir doang, insyaallah nanti akan ke sini juga bersama keluarga Ira," ujar Ira, sembari matanya jelalatan mencari-cari sang kekasih yang tak ada di ruang tamu.


Ira dan Ganda hanya ditemani oleh Bu Tita dan Pak Haji Makmur.


Karena hari sudah menjelang sore, akhirnya Ira dan Ganda pamit. Meski oleh Bu Tita diajak menginap saja karena sudah senja, Ira dan Ganda memaksa pulang.


"Ya kalau mau pulang, silakan ya Ira ya Gan. Hati-hati di jalan, naik motornya jangan kenceng-kenceng," kata Bu Hajah Tita mewanti-wanti.


Lalu Bu Hajah Tita memberikan sekantong oleh-oleh berupa makanan, ada kue, ada minuman, dan sebagainya.


Walaupun tadinya ditolak oleh Ira karena merasa dia datang tak membawa apa-apa, namun Bu Tita memaksanya. Ira pun dengan senang hati menerimanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Ira pamit Bu," ujar Ira sembari menyalami Bu Hajah Tita dan Pak Haji Makmur.


Keduaya pun lalu pergi meninggalkan kediaman Bu Tita.


Sejak keluar dari rumah dan naik sepeda motor sang kakak, benak Ira tak henti-hentinya bertanya-tanya sedang ke mana Warya kok tidak menemani dia saat bertamu ke rumahnya.


"Mungkin sedang ada keperluan lain," gumam Ira mengobati luka hatinya.


***


Selepas salat Isya keluarga Pak Muslih makan malam bersama, termasuk Bi Inah dan Iis yang sudah numpang tinggal di rumah uwaknya itu.


Rama, Wati, Triana, juga tak ketinggalan ikut makan bersama. Pak Muslih dan Bu Ratih sangat senang bisa berkumpul bersama walaupun ada yang hilang.


Pak Muslih kehilangan anak kesayangannya Wiwi, sementara Bi Inah kehilangan suaminya.


Namun semuanya telah terjadi dan berlalu, masa lalu hanya sebagai kenangan dan peringatan yang terpenting bagaimana menapaki hari ini dan langkah ke masa depan.


Begitu pikir Pak Muslih ketika merenungi nasib yang menimpa dirinya yang kehilangan anak dan adiknya.


bersama. Triana yang wajahnya mirip Wiwi, seolah dikirim Tuhan untuk menggantikan anaknya yang telah kembali ke haribaanNya.


Usai makan bersama mereka pun lantas berbincang ke sana ke mari. Menambah suasana kian akrab dan menyenangkan.


"Wat, kan waktu kamu diculik itu sepulang jual kalung dan kamu membawa uang yang tadinya mau dikasihkan kepada Bu Tita?" tiba-tiba Rama mengingtakan adiknya tentang uang penjualan kalung milik Yati.


"O iya, alhamdulillah mereka tidak mengusik barang bawaan kami waktu itu. Masih aman ada di dalam tas dan kini sudah dikembalikan ke Kak Yati," ujar Wati.


"O ya alhamdulillah kalau begitu. Takutnya barang-barang berharga kalian diganggu."


"Tidak Kak. Sebab kata si Embah waktu ngobrol di dekat kami, anak buahnya disuruh benar-benar menjaga kami, barang yang dibawa jangan diganggu sedikit pun, makanannya harus dijaga, mandi juga jangan telat. Mungkin maksudnya agar kami tetap cantik dan menggairahkan, cuih!" ujar Wati membuat yang ada saling pandang dan terkekeh.


"Iya bener apa yang dikatakan Kak Wati. Kami diurus dengan telaten. Makanya tubuh cuma lesu-lesu saja. Tapi sebenarnya Kak Yati pernah....," ujar Iis.

__ADS_1


"Pernah apa Is?" tanya Rama dengan suara meninggi.


"Jangan marah ya Kak Rama. Benar atau tidaknya aku tak tahu cuma Kak Yati aja yang bilang. Iya kan Kak Wati?" sebut Iis sambil melirik kepada Wati seolah minta bantuan.


"Oh iya Kak Rama. Saat itu si Embah memaksa di antara kami harus melayani nafsu bejatnya," ujar Wati tak lanjut berkata karena Rama segera memotongnya.


"Apaaa...?" tanya Rama dengan mata tak berkedip, dia benar-benar cemburu kepada si Embah Sawi yang telah mati.


"Iya, suatu malam ketika aku dan Kak Yati antara sadar dan ketiduran didatangi si Embah memaksa kami berdua, aku dan Kak Yati. Tadinya memilih aku, namun beralih ke Kak Yati, ya Kak Yati yang dipilih," kata Wati.


"Binatang!" Rama bangkit dari duduknya lalu meninjukan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya dengan sangat emosional.


"Sabar dulu Kak, denger dulu cerita aku kan belum selesai. Mau dengerin enggak, mau tenang enggak, kalau mau marah-marah ya udah enggak bakal aku terusin, percuma!" ujar Wati.


"Iya dengarkan dulu Ram. Ini kan Wati belum selesai bicara. Lagian mengapa sih kamu perhatian banget sama Yati?" tanya Pak Muslih.


"Ih Bapak nanyanya kok gitu? Emang Kak Yati gebetan Kak Rama," timpal Wati berterus terang diiringi senyuman meledek sang kakak.


"Oh pantas kalau begitu. Ya teruskan saja cerita kamu bagimana?" ujar Pak Muslih penasaran juga jadinya.


"Iya akhirnya Kak Yati yang berhasil dibawa oleh anak buah si Embah lalu dimasukkan ke dalam sebuah kamar. Nah di sana Kak Yati dipaksa melayani si Embah. Namun kata Kak Yati dia tak sadar, hanya tiba-tiba ada dalam alam mimpi. Kak Yati melihat seorang tua mengejar-ngejarnya akan menodai dirinya. Di alam mimpi itu Kak Yati mendadak jadi orang kuat sehingga dia tak ada rasa takut menghadapi orangtua itu lalu dia pura-pura berserah diri. Nah ketika itulah Kak Yati menggigit 'anu'-nya si Embah hingga nyaris putus dan si tua bangka itu melolong-lolong. Tak hanya itu, kata Kak Yati, Kak Yati pun seolah-olah minta diciumi oleh si Pak Tua. Ketika menciuminya, Kak Yati seketika mengigigit lidah si Pak Tua dan akhirnya ambruk tak berdaya...." begitu cerita Wati menerangkan apa yang dikatakan Yati saat masih bersama dalam penyekapan.


"Jadi, intinya Kak Yati maupun aku dan kami semua selamat. Kegadisan kami tak berhasil dinodai oleh siapa pun," kata Wati sambil melirik Iis seolah minta dukungan dan Iis pun menerangkan hal yang sama.


"Tuh kan Yati masih gadis, Ram. Jangan takut," celoteh Pak Muslih meledek anak prianya.


Rama seketika tertunduk malu.


"Yang membuatku terharu selama di penyekapan," kata Wati melanjutkan lagi omongannya.


"Apa tuh?" orang-orang kembali menatap Wati dengan rasa penasaran yang tinggi.


"Aku selalu didatangi Kak, Kak, Kak Wiwi......dalam mimpi. Dia bilang, jangan takut, dia akan mejaga kami dari perbuatan orang-orang jahat itu," ujar Wati, lalu menangis tersedu-sedu ingat sang kakak.

__ADS_1


Yang lain pun terbawa haru lalu bersama-sama mendoakan alamrahumah Wiwi dengan khusuk. (Bersambung)


__ADS_2