
Tak hanya mengurus para korban yang notabene orang-orang jahat, tokoh masyarakat pun memikirkan nasib orang-orang hidup, tepatnya orang yang menjadi korban khususnya para gadis dan para orangtua mereka.
"Yang pasti Bi Inah kehilangan rumah dan suami, Bu Windi kehilangan anak dan suami. Ini yang harus kita pikirkan bersama selanjutnya," kata Pak RW.
Saat itu para tokoh masyarakat sedang mengadakan pertemuan Sersan (Serius Tapi Santai) di Balai RW.
"Ya tentu Pak RW ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Yang paling mendesak mungkin memikirkan rumah Bi Inah," kata Ustaz Hamid.
"Untuk sementara biarlah Inah tinggal di rumah kami Pak RW. Kami bukan siapa-siapa Inah, tapi kakaknya walaupun pertalian darah dengan suaminya, almarhum Tanu. Tapi kan ada Iis anaknya, pertalian darah kami boleh dibilang masih kental," ujar Pak Muslih yang ikut rembukan.
"Ya syukur kalau begitu. Bagaimana Bi Inah ajakan Pak Muslih bakal diterima?" tanya Pak RW.
"Iya untuk sementara aku dan anakku akan ikut dulu dengan Wak Muslih dan Wak Ratih. Mohon maaf saja direrepot, Wak," timpal Inah sambil melirik Pak Muslih.
"Nah bagus kalau begitu. Satu masalah sudah selesai. Sekarang tinggal bagaimana pembangunan rumahnya, denger-denger akan dibantu oleh Bu Windi?" tanya Pak RW lebih lanjut.
"Iya, kata Bu Windi beliau sanggup membangun rumahku lagi meskipun mungkin dari bahan-bahan yang sesuai dengan kemampuan anggaran beliau. Bagiku tak mengapa Pak RW. Mau membantu juga sudah syukur alhamdulillah daripada tidak sama sekali. Lagian rumah kebakaran karena kelalaian kami, yaitu ditinggalkan begitu saja. Tapi Bu Windi tak mempermasalahkan penyebab kebakarannya, beliau bersedia membantu membangun rumah kami lagi," imbuh Inah panjang lebar.
"Nah bagus kalau begitu. Kira-kira kapan mulai dibangunnya, In?" imbuh Pak RW lagi.
"Kata beliau kalau tak ada halangan mungkin minggu-minggu depan," jawab Inah.
"Kala begitu bilangin sama Bu Windi, jangan memikirkan tukang. Biar percayakan kepada tukang di sini, bisa si Didi bisa si Taryo, biar tidak mancing terus kalau ada kerjaan, heheee. Gegara mancing kesorean, jadinya diganggu dedemit sumur tua mereka. Ladennya ramai-ramai saja dari warga yang tidak ada kerjaan," ujar Pak RW.
__ADS_1
"Iya akan saya sampaikan Pak RW," balas Inah.
"Tentang Bi Inah dan masalahnya kita semua telah mendengar ya tinggal menunggu realisasi pembangunan rumahnya. Nah sekarang bagaimana dengan Bi Utih, mantan jagoan penakluk si raja tega Embah Sawi?" ujar Pak RW yang telah mendengar cerita tentang kepahlawanan Bi Utih, Bu Windi, dan Bi Inah, dari Rama.
"Ah Pak RW bisa aja. Aku tak tahu apa-apa. Katanya aku jadi jagoan. Yang jelas mah tubuh Bibi serasa dinjak kaki gajah....." ujar Bi Utih yang saat itu juga mengikuti rembukan karena diundang oleh Pak RW.
"Hahaa.....padahal kalau terus jadi jagoan bisa jadi aktris, main film Bi. Dijamin bakal laku keras, judul filmnya 'Nyi Utih Jagoan Penakluk si Embah' hahahaa.....," canda Pak RW, ditimpali dengan sambutan tertawa hadirin.
"Ogah ah, capai jadi bintang film kelahi melulu. Kalau jadi bintang film selingkuhan mau, asal mainnya sama aktor ganteng. Hahaaa.........!" Bi Utih tak kalah membuat orang terkekeh-kekeh.
"Bisa aja ah si Bibi. Terus rencana Bibi sekarang bagamana?" kata Pak RW mengembalikan obrolan ke pokok permasalahan.
"Gini ya Pak RW, Bapak-bapak dan Ibu-ibu. Karena saya melihat Bu Windi kini seorang diri, kehilangan anak dan suami. Kini pun hanya ditemani keponakannya, Toto, yang entah besok entah lusa juga mungkin akan pulang ke rumahnya. Untuk itu dan ini memang atas permintaan Bu Windi juga, Bibi mah mau ikut sama Bu Windi bersama Imas juga. Rumah di sini mau dikontrakan dulu. Gitu Pak RW," kata Bi Utih.
Sebab tak dapat dibayangkan bagaimana hidup menjanda dengan seorang gadis yang tengah membutuhkan biaya hidup. Kehadiran Bu Windi tentu sangat berarti bagi Bi Utih.
"Sekarang tinggal bertanya kepada Neng Yati dan Wati, bagaimanna rencana keduanya? Sayang keduanya tidak hadir di sini bisa dijelaskan oleh bapaknya saja, silakan Pak Muslih!" kata Pak RW.
"Kalau Wati sih alhamdulillah kini sudah mulai pulih, tidak terlalu trauma. Insyaallah saya sebagai bapaknya akan terus memantau dan membimbingnya jangan sampai mentalnya terganggu gegara peristiwa yang telah dialaminya," kata Pak Muslih.
"Alhamdulillah, kami ikut bahagia dan mendoakan semoga saja Pak Muslih sekeluarga ada hasilnya. Aamiin...." timpal Pak RW.
"Kemudian Pak Rudi bagaimana Yati, denger-denger mau langsung ditikahkan?" Pak RW kembali bercanda.
__ADS_1
"Alhamdulillah seperti Wati putri Pak Muslih, Yati anak kami juga mentalnya sudah mulai pulih walaupun terkadang tengah malam sesekali terdengar isak tangis di kamarnya, mungkin mimpi buruk saat disekap muncul lagi di alam bawah sadarnya. Itu hal normal. Soal ditikahkan, maunya sih begitu Pak RW. Tapi bagaimana Yati saja, saya juga belum pernah dengar siapa calon suaminya. Tapi kalau soal syukuran atas kembalinya anak kami seusai kena musibah, insyaallah tiga hari lagilah. Sekalian saja saat ini kami mengundang yang hadir datang pada waktunya," kata Pak Rudi.
"O ya? Alhamdulillah kalau begitu Pak Rudi. Insyaallah tokoh masyarakat akan hadir ke sana," timpal Pak RW.
"Ya syukur ditunggu kehadirannya. Tapi maaf-maaf saja diundang bukan untuk dijamu mewah karena tujuan syukurannya untuk minta doa restu agar anak kami, keluarga kami, dan kita semua dilindungiNya," tambah Pak Rudi merendah, namun tak bermaksud merendahkan orang-orang yang diundangnya.
Acara pertemuan sore itu pun diakhiri. Pak RW dan tokoh masyarakat senang karena sedikit demi sedikit persoalan yang dihadapi warganya teratasi berkat kerja sama dan gotong royong semua pihak.
***
Keesokan harinya Bi Utih dan Imas beres-beres rumah, membawa pakaian dan keperluan sehari-harinya utuk pindah ke rumah Bu Windi.
Toto yang diperintah Bu Windi menjemput Bi Utih dan Imas pagi itu ikut membantu beres-beres.
"Perabotan rumahnya mau dibawa sekalian Bu?" tanya Toto kepada Bi Utih.
Entah mengapa Toto menyebut Bi Utih dengan panggilan Bu. Padahal Toto sudah tahu sejak dulu bahwa Bi Utih adalah ART tantenya sehingga terasa janggal kalau memanggil Bu.
"Enggak usah Den. Biarin aja di sini. Biarin untuk pengontrak, kalau ada yang mau mengontraknya," balas Bi Utih.
"Ah jangan panggil aku Den, Bu. Panggil aja Toto," ujar Toto dengan penuh harap.
"Habis Toto panggil Bibi pakai Bu segala. Ya panggil Bibi sajalah biar gak canggung," timpal Bi Utih sembari merapikan pakaiannya yang akan dibawa.
__ADS_1
"Masa kepada calon mertua menyebut Bibi. Gak sopan tuh!" ujar Toto dalam hatinya. Sedangkan yang terucap di lisannya lain lagi. (Bersambung)