
"O ya, ada baiknya begitu Bu. Sebentar akan saya panggil ke rumah, semoga dia berkenan," timpal Rama.
Rama pun akhirnya bergi dari rumah Bu Tita dan menuju rumahnya untuk memanggil Triana. Kebetulan Triana tidak sedang sibuk dan bersedia dipertemukan dengan ibunya Warya.
Tak lama kemudian Rama dan Triana sudah sampai di depan rumah Bu Tita, lalu Triana mengucapkan salam.
Bu Tita tak segera menjawab. Matanya terbelalak tak berkedip melihat Triana yang wajahnya sangat mirip dengan Wiwi.
"Waalaikumsalam, Wiiii......eh silakan masuk Dek," kata Bu Tita tergagap-gagap nyaris saja menyebut nama Wiwi saking kagetnya melihat wajah Triana.
"Terima kasih Bu. Perkenalkan aku Triana Wiarti, keponakan Kak Rama," ujar Triana lalu menyalami Bu Tita dan mencium punggung lengannya.
"Silakan duduk Dek," kata Bu Tita. Tatapannya masih lekat di wajah Triana.
"Makasih Bu," ujar Triana lalu duduk di kursi kosong.
"Silakan kalian ngobrol dulu, ibu akan buatkan kalian minuman," tutur Bu Tita lalu bangkit.
"Enggak usah repot-repot Bu," ujar Triana.
"Enggak apa-apa, Ibu punya kue buatan ibu sendiri," kata Bu Tita.
Lalu dia ke belakang. Kembalinya membawa minuman dan camilan berupa kue.
Setelah hening beberapa saat, Bu Tita membuka obrolan dengan menceritakan bahwa tadi kedatangan Bu Yani dan anak prianya kemudian menceritakan keterangan Rama bahwa Triana teman Ira.
"Apakah benar Ira hilang, Tri?" kata Bu Tita.
"Kata ibuku yang menelepon malam kemarin iya," timpal Triana.
"Terus benar sikap Ira berubah?"
"Kelihatannya seperti itu. Biasanya Ira ceria, belakangan seperti murung terus. Entah kenapa, ketika aku tanya pun dia tak mau berterus terang," ucap Triana.
"Ya udah, kalau begitu Ibu percaya sekarang," tutur Bu Tita.
Obrolan dilanjutkan dengan topik lain hingga akhirnya Rama pamitan bersama Triana.
"Sering-sering main ke sini ya Dek Triana, di sini Ibu hanya sendiri," kata Bu Tita.
Entah mengapa sejak melihat Triana yang mirip dengan Wiwi dan anaknya Warya tergila-gila terhadap Wiwi hingga meninggal dunia, Bu Tita mendadak senang dan berharap agar Triana menjadi menantunya.
***
Sementara itu di Kerajaan Dedemit Sumur Tua, Ratu Mayanggeni kembali mengumpulkan anak buahnya dan dimintai laporan mengenenai perkembangan di tempat tinggal Embah Sawi.
Oleh karena itu Kentingmanik dan penampakan Wiwi terpaksa meninggalkan dulu tempat Embah Sawi yang selama ini dipantaunya atas suruhan Ratu Mayanggeni.
__ADS_1
"Bagaimana laporanmu, Kenting?" tanya Nyi Ratu.
"Mereka semakin nekad dan brutal. Baru saja terjadi pembunuhan dengan keji, Ratu!" kata Kentingmanik.
"Siapa yang dibunuh dan siapa yang membunuh?" Nyi Ratu tampak geram.
"Yang dibunuh masih saudaranya si Nyai, namun dia bersekutu dengan si Danu, makanya aku tak membelanya. Biarkanlah itu risiko dia mau-mauya membela orang jahat," ujar Kentingmanik.
"Benerkah Nyi?" tanya Nyi Ratu kepada penampakan Wiwi.
"Benar Ratu. Dia adalah pamanku, bahkan anaknya menjadi salah satu dari kelima gadis yang kini disekap anak buah Embah Sawi," kata penampakan Wiwi.
"Ya, lalu siapa yang membunuhnya?" tanya Ratu lebih lanjut.
"Yang membunuhnya si Darpin anak Kades Danu, Nyi Ratu!" ujar Kentingmanik.
"Ya sudahlah kalau begitu kita saatnya menyerang. Perang akan kita mulai membalaskan dendamku kepada si Sawi dan antek-anteknya. Tidak akan kusisakan seorang pun!" ujar Ratu Mayanggeni dengan suara nyaring membuat pengisi kerajaan teheran-heran.
"Coba panggil anggota baru prajurit kita, Kentingayu!" titah Ratu Mayanggeni kepada anak buahnya yang bernama Kentingayu.
"Baiklah Ratu," kata Kentingayu, lalu dia memanggil prajurit baru di kerajaan itu.
Dia tak lain adalah penampakan si Udin, si Odos, dan Si Somad, korban kebiadaban Darpin cees yang dibuang ke jurang.
"Hai Udin, Odos, dan Somad. Kami akan membalas dendam terhadap perlakuan Si Sawi dan kawan-kawannya termasuk yang tilah membunuh kamu si Darpin cees. Bagaimana apakah kalian akan ikut?" tanya Ratu.
"Dalam waktu dekat ini. Kita semua harus keluar dulu dari dunia maya ke dunia nyata lalu kita meminjam raga mereka. Intinya kita merasuki jiwa mereka dan kitalah yang mengendalikan raga orang yang dirasuki untuk melaksanakan perlawanan kepada Si Sawi dan antek-anteknya." kata Nyi Ratu.
"Bagaimana kalian siap semuanya?"
"Siaaaaaaaap...........!!!!" seru para penghuni Kerajaan Dedemit Sumur Tua berbarengan.
"Bagus! Camkan oleh kalian. Ini misi balas dendamku kepada musuh utamaku si Sarwi. Jika balas dendam ini usai kita hentikan dan kita kembali ke dunia mayal!"
"Siaaaaap........!" lagi-lagi penghuni kerajaan berteriak.
***
Sementara itu di rumah Kades Danu, malam hari sekitar pukul 19:00 tengah berkumpul Bu Windi, Inah, dan Bi Utih, ditemani oleh Rama, Warya, dan Anwar.
Ketiga anak muda itu masih mendiami rumah Bu Windi karena ancaman bahaya Kades Danu yang kabur membawa pistol ditakutkan kembai ke rumahnya walaupun polisi sesekali menyambangi rumah Kades Danu.
Aan tetapi kini di rumah Kades Danu ada tambahan seorang pria. Dia adalah keponakan Bu Windi yang sengaja diminta untuk menemaninya karena Bu Windi tengah menghadapi musibah.
Sang pemuda itu bernama Toto seumuran dengan Warya 26 tahunan. Bu Windi pun memperkenalkan Toto kepada Rama, Warya, dan Anwar.
"Perkenalkan ini keponakan Ibu, Ram, War, An," kata Bu Windi.
__ADS_1
Lantas Rama dan kawan-kawannya bersalaman dengan Toto. Mereka pun langsung akrab.
Kemudian Bu Windi menceritakan apa yang tengah terjadi di rumahnya. Bi Utih yang kehilangan putrinya, pun Inah sama mengalami nasib nahas kehilangan putri kesayangannya.
Toto menyimak keterangan tantenya dengan seksama dan dalam hatinya
ikut prihatin. Apalagi mendengar keterangan Bu Windi bahwa semua yang terjadi gegara suami dan anak Bu Windi yaitu Paman Danu dan anaknya Darpin.
Toto tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya hati tantennya menghadapi musibah yang sangat keterlaluan itu.
"Bagaimana Ram, apakah sudah ada pekembangan penyeledikan polisi?" kata Bu Windi kepada Rama.
"Belum Bu. Pihak berwajib masih terus berkoordinasi dengan pihak-pihak tertentu untuk mengejar buronan Pak Danu," kata Rama.
Lalu Rama memandangi bibinya Inah, dan bertanya.
"Bi, apakah Paman Tanu ada menghubungi?"
"Sejak Bibi ke sini dan Pamanmu pulang ke rumah, Bibi belum mendapat kabar dari dia sedikit pun," jawab Bi Inah.
"Kata Bapa tadi pagi-pagi sekali Paman Tanu tidak ada di rumah. Tapi lampu rumah di dalam menyala dan di luar pun menyala walaupun sudah siang, sepertinya Paman Tanu pergi meninggalkan rumah," kata Rama.
Inah terkejut. Dia mulai gelisah, jangan-jangan benar Tanu meninggalkan rumah. Sungguh bahaya bepergian tetapi lampu masih menyala.
Tapi kenapa sampai tak menghubunginya? Boleh jadi Tanu masih marah karena adanya perselisihan.
"Ke mana ya? Kok enggak menghubungi Bibi, Ram?"
"Entahlah makanya Rama bertanya kepada Bibi barangkali tahu,"
"Enggak Ram, enggak ada kontak ke sini," ujar Bi Inah.
"Takutnya Paman Tanu masih bersekongkol dengan Pak Danu. Sehabis kabur dari kantor polisi membawa pistol, takutnya Pak Danu mengajak Paman Tanu untuk melakukan hal buruk," ujar Rama.
"Bisa jadi kalau dia tak ada di rumah,": timpal Bu Windi.
"Tapi ita harapkan tidak terjadi hal itu," tambah Bu Windi.
"Iya Bu," timpal Rama.
Tiba-tiba HP Rama berdering, ada notif dari nomor Triana, namun yang bicara justru bapaknya.
"Ya, aku sendiri Pak. Ada apa?" tanya Rama lalu mengalihkan mode pembicaraan ke loadspeaker agar bisa didengar oleh yang lainnya.
"Bibimu ada di sana?" tanya Pak Muslih.
"Ada, mau bicara?" tanya Rama
__ADS_1
"Iya, tolong ke Inah dulu," ujar Pak Muslih. Tampaknya ada hal penting yang ingin disampaikan. (Bersambung)