Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 85. Si Darpin Merengek Minta Ampun


__ADS_3

"Hahaaaa.......kena burungnya!" ujar Yati tertawa senang.


"Bagus, Yat, bagus!" ujar Bi Utih.


"Bagus, bagus, Yati. Langsung lumpuhkan burungnya!" koar Bi Inah.


"Bikin mati saja tuh anak. Percuma hidup juga hanya menyusahkan ibunya, hanya membuat kesal. Menyesal aku melahirkan anak durhaka! Tahu bakal begitu, sejak lahir kubunuh kau!" kata Bu Windi berapi-api.


Darpin masih telentang di atas tanah. Sekujur tubuhnya teramat sakit, ditambah dengan 'burung'-nya yang juga kena sasaran.


Darpin heran, mengapa Yati bisa tahu secara rinci perlakuan dirinya ketika menodai Wiwi di gudang saat itu.


"Apakah Yati......?" kata Darpin tak lanjut bicaranya karena dipotong Yati.


"Pasti kau bertanya-tanya mengapa aku tahu semua perbuatan jahatmu di gudang bersama si Benco, si Gonto. dan si Doma, bukan? Ingat Darpin, di dunia ini bukan hanya makhluk nyata yang bisa dilihat, tetapi ada makhluk lain, ada yang gaib. Dan yang harus kamu ketahui, yang gaib dapat melihat kamu, tapi kamu tak bisa melihat yang gaib!" ujar Yati.


"Nah, kamu tidak menyadari hal itu karena dalam diri kamu tidak ada iman. Boro-boro iman, karena kamu telah dikuasi nafsu. Tak heran ketika kamu menodai temanku Wiwi, begitu santainya karena merasa aman tak ada yang melihat karena di dalam gudang, padahal yang gaib menyaksikan dan mencatat perbuatan kamu!" ujar Yati mendadak jadi orang bijak.


"Aaampuun, ampun, tolong saya jangan dibunuh Yat. Kita kan sama-sama teman?" rengek Darpin.


"Hahaaa......sudah kepepet baru minta ampun jangan dibunuh. Ke mana aja selama ini kamu, Darpin?" teriak Yati.


Sekilat parang yang menganggur ditebaskan ke lengan Darpin oleh Yati seperti juga yang ditebaskan kepada ketiga temannya terdahulu oleh Wati, Imas, dan Pak Rudi.


Tangan Darpin putus seketika. Darpin sudah hilang kekuatan karena di jemari lengannya sudah tak ada azimat cincin yang otomatis sudah tak berfungsi lagi.


Darpin benar-benar sudak tak berdaya. Untuk bangkit saja sudah kerepotan, apalagi untuk melawan.


"Ayo bangkit, berdiri, bajingan! Bukankah begitu yang kau lakukan ketika temanku Wiwi sudah kelelahan, sudah tak berdaya, tapi kamu dan kawan-kawanmu terus beraksi tak terpuji, tanpa perikemanusiaan. Ini balasan perbuatan kamu. Jadi, jangan salahkan aku, salahkan dirimu sendiri!" ujar Yati.


Lantas Yati mencengkeram leher Darpin hingga Darpin merasakan kesulitan bernapas. Yati pun segera menjambret kalung yang melilit di leher Darpin hingga terlepas. Hilang sudah seluruh kekuatan Darpin.


"Anakku.......," desis Danu demi melihat Darpin sudah tak berdaya. Ingin rasanya dia meloncat untuk menolong, namun dicegah oleh Embah Sawi.


"Jangan lakukan, Danu. Biarkan dia melawan secara jantan. Kesatria sejati tak butuh bantuan dari orang lain," kata si Embah.


"Tapi dia sudah tak berdaya, Embah?" protes Danu.

__ADS_1


"Biarkan saja. Kau ingat kata-kataku dahulu bahwa anakmu dan kawan-kawannya itu adalah keturunanku. Keturunanku orang pemberani, kesatria, harus berani bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya," ujar si Embah membuat Danu tak bisa apa-apa.


"Buuu....tolong aku Buuu.....!" teriak Darpin kepada Bu Windi.


"Apaaa...? Tolong? Minta tolong kepada ibu, ibu siapa? Selama ini kamu tidak mengakui ibumu. Buktinya kamu tak pernah menggubris nasihat ibumu, Darpin. Mana Bapakmu? Bukankah selama ini kamu mengikuti jejaknya, ayo minta tolonglah kepada Bapakmu atau kepada bajingan Sawi, atau cecurut Sodom!" ujar Bu Windi.


Kata-kata Bu Windi cukup membuat darah Danu dan Sodom bergolak di ubun-ubunnya. Keduanya nyaris loncat ke medan laga di halaman rumah Embah Sawi. Sayang tangan Embah Sawi menghalangi keduanya.


"Sudah keterlaluan Embah," ucap Sodom.


"Kepala kita diinjak-injak, Embah," sebut Danu.


"Pada saatnya kalian akan turun ke medan laga, Sodom, Danu!" ucap Embah Sawi. Tangan kanannya mengelus-elus kepalan tinju tangan kirinya.


"Ayo bangkit, Darpin! Atau aku permainkan lagi di Sungai Cilampit! Ketika kau kupermainkan di air Sungai Cilampit yang tenang, lalu kakimu ada yang menarik. Lalu aku pindah ke seberang sungai, memanggilmu dan kau menghampiri lalu kau terpeleset dan uang dalam dompet besar milik ibumu yang kau ambil paksa alias kau curi itu hanyut terbawa arus!" kata Yati, lagi-lagi membuat Darpin terheran-heran, kok kenapa Yati bisa tahu.


"Dedemit, sialan!" hardik Darpin.


Kini dia sadar bukan sedang berhadapan dengan Yati, tetapi dengan dedemit yang meminjam raga Yati.


Dia ingat dulu ketika menjadi bulan-bulanan dedemit di Sungai Cilampit, hingga lari dan mencari perlindungan kepada orang pintar yang menjadi langganan bapaknya yaitu Embah Sawi dan Paman Sodom.


Semua azimat itu bisa diandalkan, tak ada lagi dedemit yang mengganggu. Darpin mempunyai kekuatan dahsyat guna melumpuhkan siapa pun yang merintanginya.


Sehingga ketika tiga orang tukang ojek, yaitu si Udin, Odos, dan Somad, diketahui oleh Rama cees yang menculik Yati dan Wati, hanya dengan satu tusukan belati ketiganya tewas, lalu mayatnya dibuang ke jurang.


Setelah itu , Darpin berniat menghancurkan Rama cees yang diyakininya bakal mudah. Bahkan Warya yang merupakan musuh utamanya sudah tak berdaya, tinggal menusuk dadanya dengan belati, sialnya saat itu tiba-tiba ada babi hutan yang menerjangnya.


Kini, kekuatan dalam dirinya sudah tercerabut. Kalungnya sudah dilepas, tangannya sudah ditebas.


"Ayo bangun, brengsek!" Koar Yati.


"Baiklah kalau kau tak mau bangun. Akan kubangunkan kau!" ujar Yati.


"Bapak, tolong bantu. Bukankah Bapak penah dizalimi makhluk biadab ini! Ayo angkat dia agar berdiri, buka celananya!" tutur Yati dengan sangat amarah.


"Baiklah Yat. Benar, Bapak pernah dizalimi si Darpin!" ujar Pak Rudi.

__ADS_1


Lalu Pak Rudi mengangkat tubuh si Dapin, diberdirikan dan dilucuti celananya. Sekilat Yati menebaskan parang ke 'burung' si Darpin dan seketika si Darpin mengikuti jejak ketiga temannya ke alam sana.


"Anakkuuuuu......!" Danu menjerit histeris melihat anak kesayangannya tumbang setelah diparang Yati.


"Tumpur sudah keturunanmu Sawi! Kapan kau berani turun menghadapiku? Jangan-jangan kau akan kabur, tapi itu takkan mudah kau lakukan, prajuritku sudah mengepung kawasan ini!" tantang Bi Utih.


Mendengar kata prajurit Embah Sawi benar-benar ketar-ketir juga. Prajurit wujud nyata takkan sulit ditaklukkan, tetapi ini prajurit dedemit jelas bakal lebih sulit


Mestinya ia minta bantuan sang guru di kerajaan Kajinan, namun sudah terlambat karena gurunya sudah menutup diri untuk memberikan pertolongan kepadanya gegara terlambat mempersembahkan tumbal gadis.


"Sodom, maju kau!" titah Embah Sawi kepada Sodom.


Sodom bangkit. Sejenak merapikan dulu pakaiannya, kupluk yang di dalamnya banyak azimat dirapikan, cincin-cincin besar di kedua jemari tangannya dimasukkan lebih dalam.


Demikian pula beberapa gelang bahar di pergelangan tangannya digoyang-goyang, seolah Sodom meminta para azimat peliharaannya bersiap-siap membantunya.


Dengan langkah sedikit dipermainkan pura-pura sedang sakit kaki, Sodom maju ke medan laga di halaman rumah Embah Sawi.


Para anak buah Embah Sawi cuma boleh menonton, tidak boleh membantunya. Itulah instruksi dari Embah Sawi yang disampaikan melalui bisik-bisik dari mulut ke telinga secara berantai.


Dari pihak Bi Utih, yang terus bersiaga adalah Bi Inah, Bu Windi, Yati, Wati, Imas, dan Pak Rudi.


Rama dan Anwar, juga Warya bolak-balik dari medan laga ke tempat penyekapan yang masih berada di dalam kamar yaitu Iis dan Ira.


Iis bahkan belum tahu kalau Inah, ibunya, berada di sana. Kalau sudah melihat dan tahu, mungkin Iis akan segera mengabarkan kematian bapaknya yang dikuburkan begitu saja di sekitaran tempat ini.


Sementara Ira, sejatinya dia tak tahu menahu apa yang tengah terjadi di antara orang-orang di sana dan para gadis yang disekapnya.


Yang tengah merasuki jiwa Ira justru perasaan bahagia karena dia didekati pria pujannya, Warya, walaupun dia tak enak karena Yati mencegahnya.


Yati cemburu? Entahlah, Ira tidak tahu persis.


Yang jelas ketika orang-orang di luar hiruk pikuk berkelahi, Iis dan Ira tak mau keluar. Keduanya tak punya keberanian untuk keluar, takutnya mendapat celaka.


Apalagi bagi Iis yang telah melihat sang ayah tewas bersimbah darah diparang si Darpin. Entah bagaimana sekarang si Darpin, Iis berharap ada orang yang menghajarnya hingga tewas seperti yang dilakukan dia kepada bapaknya.


"Majuuuuuuuu......Inah!!!!" teriak seorang perempuan dengan nyaring. Ira dan Iis mendengarnya. IIs terkejut nama ibunya disebut.

__ADS_1


(Bersambung)


__ADS_2