Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 76. Tanu Meregang Nyawa


__ADS_3

Tanu tidak tahu kalau si Benco kini sudah dibekali ilmu gaib dengan mengandalkan kekuatan azimat yang dipakainya di leher, di jemari, dan di simpan di pakaiannya.


Ternyata pengaruh 'teluh kantuk' Kentingmanik sudah dicabut sehingga orang-orang kembali terjaga di malam itu, termasuk Sodom, Danu, Darpin dan para anak buah Embah Sawi.


Embah Sawi sendiri sedang tekun bersemedi menghubungkan ruh dirinya dengan kekuatan gaib di alam sana yaitu berupa jin jahat yang selama ini dijadikan guru oleh Sawi.


Yang menjadi fokus Embah Sawi yaitu melaporkan kejadian misterius yang masih belum terjawab, yaitu gangguan makhluk gaib lainnya yang tidak mampu dideteksi oleh genianggara.


Sodomlah yang menjadi tangan kanan Embah Sawi kalau ada apa-apa.


Seperti saat dua orang anak buah Embah Sawi dan Benco mendapati Tanu tengah mengintip para gadis tawanan, maka dia dilaporkan kepada Sodom.


"Paman kami dapati orang ini mengintip para gadis tawanan," kata Benco.


"Bagaimana Danu?" tanya Sodom.


Sodom ingin bertanya dulu kepada Danu karena Sodom tahu orang ini dibawa Danu dan katanya anaknya ada di sini.


"Terserah Paman sajalah," ujar Danu dengan entengnya.


Mendengar kata-kata itu tentu saja Tanu sangat murka. Emosinya meluap-luap ingin segera menghajar muka Danu, manusia licik yang mau enaknya sendiri.


"Baik kalau begitu, orang ini akan kuberi pelajaran sehingga dia tahu siapa Sodom. Hahaaaa......." koar Sodom sambil memonyongkan bibirnya yang memang sudah monyong.


Dia pun memperlihatkan gelang bahar di lengannya untuk menakut-nakuti Tanu. Tanu sendiri, meski bernafsu ingin menghajar Danu, melihat orang-orang di sekitarnya siap siaga memperhatikan dirinya, nyali Tanu ciut juga.


Namun, sebagai pria dan sebagai ayah dari seorang gadis yang kini tengah disekap, Tanu berketad untuk melawan, hingga anaknya bisa dibawa dalam keadaan selamat.


"Lepaskan anakku Danu! Kau telah menipuku, kau telah mengkhianatiku. Aku bertahun-tahun membantumu memperkaya diri, imbalannya mencelakai anakku. Ayo lepaskan, bangsat!" koar Tanu sembari meronta-ronta ingin lepas dari cengkeraman tangan anak buah Embah Sawi dan Benco.


"Hahaaaaaaa......dasar manusia bodoh, mau-maunya diperkuda. Kalau elo punya otak, harusnya sejak dulu mundur, usaha sendiri daripada menjadi kacungku! Kau tahu Tanu, Danu orang pintar. Danu orang cerdas. Danu orang sakti berkat bantuan Paman Sodom dan Embah Sawi!" koar Danu dengan pongahnya.

__ADS_1


"Biar aku saja yang menghajar cecunguk ini, Paman," pinta Danu kepada Sodom yang tadi meminta izin kepada Danu untuk menghajar Tanu.


"Lanjutken!" titah Sodom.


"Ketahuilah juga Tanu! Gadis-gadis si Yati, si Wati, Si Imas, si Iis anakmu, dan gadis yang tadi siang kita culik itu adalah untuk persembahan. Kau tahu apa persembahan? Benar, persembahan adalah tumbal! Tumbal adalah pembaktian kematian. Namun sebelum itu kegadisan mereka akan dicicipi guruku yaitu Embah Sawi. Hahaaaaaa.......camkan itu Tanu!" ujar Danu sambil mengelus-elus parang di tangannya.


"Binatang!!!" Tanu amat murka.


Dengan sekuat tenaga dia berontak, meronta, ingin lepas dari tangan-tangan yang mencengkeramnya. Namun, nihil.


"Sudahlah Tanu, tunduklah padaku. Biarkan anakmu menjadi persembahan mulia demi cita-citaku mendapatkan azimat paket komplet. Azimat itu akan kugunakan untuk memengaruhi rakyat Desa Mekarmulya khususnya dan daerah lainnya agar memilihku untuk menjadi anggota dewan terhormat, tak sekadar menjadi kepala desa," tambah Danu mencoba membujuk Tanu agar tunduk.


"Hemmmmmh...persetan dengan itu semua, cuih....!!!" Tanu murka sambil meludah.


"Dengarkan manusia dungu! Jika kau tunduk padaku dan kelak aku jadi anggota dewan terhormat, aku akan memberimu uang, membelikan rumah, bahkan boleh jadi aku akan mengangkatmu sebagai penggantiku jadi kades. Biarkanlah akanakmu Iis jadi persembahan, toh nanti kamu juga akan menikmatinya. Kamu tinggal bikin anak lagi dengan si Inah, kalau kamu tak becus bikin anak lagi, biar kubantu!" celoteh Danu, benar-benar membuat jijik Tanu.


Bicara begitu, Danu mendekatkan parang tajam ke tenggorokan Tanu. Bahkan bagian tajam dari parang itu sudah sedikit mengiris jakun Tanu.


Saking amarahnya, seketika Tanu menendang ************ Danu sekeras-kerasnya.


"Auuuuw.....brengsek!" Danu menjerit dan memegang pusakanya yang terasa sakit ditendang sekeras-kerasnya oleh Tanu.


Parang yang dipegang Danu terlepas. Sekilat Tanu mengambil parang itu. Berhasil ia pegang. Untuk sementara Tanu bisa bernapas lega dan siap menghadapi orang-orang di sekitarnya menggunakan parang.


"Awas, siapa yang mendekat akan kuhabisi dengan parang ini," ancam Tanu.


Anehnya, orang-orang itu malah tampak tenang, bahkan ada yang tersenyum-senyum. Ini membuat Tanu keheranan.


"Aku tidak ada kepentingan dengan kalian, aku hanya ingin membunuh si Danu. Dia orang biadab yang layak menerima tebasan parang ini," ancam Tanu.


Bicara begitu Tanu maju ke depan dan siap menebas leher Danu dengan parang tajamnya. Namun bukannya Danu yang tertebas parang, melainkan punggung Tanu yang tiba-tiba dibacok benda tajam.

__ADS_1


"Auuuuuuuuw.......heks!"


Tubuh Tanu seketika ambruk bersamaan dengan lepasnya sukma dari jasadnya.


"Kau telah bekerja dengan baik, anakku," puji Danu kepada Darpin.


Ya, ternyata parang yang membacok punggung Tanu berkat jasa tangan Darpin anaknya Danu yang melihat ayahnya ada dalam ancaman Tanu.


Tanu tergeletak tak bernyawa dengan tubuh bersimbah darah. Bacokan parang Darpin tembus hingga jantung, ditambah dengan menggunakan tenaga dalam yang dahsyat.


"Bawa mereka ke sini, ikat dulu tangannya, awas jangan ada yang terlepas. Mereka perlu melihat bagaimana akibatnya orang yang membangkang dan melawan misi kita!" ujar Sodom.


Maksud 'mereka' yang dikatakan Sodom adalah tak lain para gadis tahanan, yakni Yati, Wati, Imas, Iis, dan gadis yang tadi diculik Tanu dan Danu.


"Baik Paman," ujar salah seorang anak buah Embah Sawi.


Ada sekitar sepuluh anak buah Embah Sawi yang memasuki kamar para gadis tahanan. Di dalam kamar, satu per satu tahanan itu kedua tangannya diikat ke belakang. Lalu digiring ke mayat Tanu yang masih dibiarkan tergeletak.


Yati tahanan pertama yang dibawa dan disuruh melihat mayat Tanu. Begitu melihat Tanu yang bersimbah darah, seketika Yati menjerit histeris.


Demikian pula ketika Wati, Imas dan gadis tahanan baru, tak kuasa melihat tubuh Tanu bersimbah darah.


"Paman Tanu? Mengapa bisa begini? Hai Danu, dibagaimanakan pamanku tewas begini?" tatap Wati kepada Danu.


"Aku tidak ngapa-ngapain Ti. Tanu sendiri yang membunuh dirinya sendiri dengan parang," kata Danu, enteng.


"Bohong!" teriak Wati.


Bagaimana Wati akan percaya luka yang dialami Tanu di punggungnya. Mana mungkin orang bunuh diri bisa melukai punggungnya sendiri kecuali oleh tangan orang lain.


"Ya udah, mau percaya mau tidak gak apa-apa. Yang jelas pamanmu sudah jadi mayat, mau apa lagi? Dan ingat, ini sebagai peringatan bagi kalian semua jika membangkang, maka nasib kalian pun akan seperti orang ini!"ancam Danu.

__ADS_1


"Jahat kamu Danu! Rasakan kamu akan menerima pembalasan dari ulah jahatmu selama ini!" ancam Wati. (Bersambung)


__ADS_2