Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 63. Kena Perangkap


__ADS_3

"Ini lumayan air hangat, ayo diminum Dek!" kata si perempuan itu.


Sementara si prianya tak henti-hentinya menatap Imas dan Iis dari ujung kaki hingga ujung rambut.


Imas dan Iis pun meminum air itu dengan sangat antusias karena memang sudah kehausan sejak semalam.


Air hangat itu seperti bercampur teh, namun rasanya seperti bukan teh. Imas dan Iis tak menaruh curiga selain karena menganggap pria dan wanita suami istri ini orang baik, keduanya sangat kehausan.


Si perempuan segera menambah air minum utuk Imas dan Iis dari teko yang telah disedikannya.


"Ayo habiskan aja, pasti kalian capai dan haus," ujar si perempuan.


Imas dan Iis hanya mengucapkan terima kasih. Tubuhnya sekarang sudah lumayan tak terlalu lemas karena sudah minum.


"Nah sekarang kalian sudah lumayan segar kan? Ayo cerita mengapa bisa sampai ke sini, kalian sungguh pemberani!" kata si pria yang bernama Tarso itu.


"Kami berdua bukan pemberani, namanya juga anak perempuan, tapi kami kena musibah, ada yang menculik," tutur Imas dengan suara lirih.


"O ya?" Tarso tampak terkejut.


Seketika Tarso menatap istrinya yang bernama Sukinah. Tiba-tiba kepalanya digoyangkan seperti tengah memberi isyarat kepada istrinya untuk mengerjakan sesuatu.


Perempuan yang bernama Sukinah itu pun mengangguk. Lalu dia keluar dari rumahnya menuju jalan bekas Imas dan Iis semalam melarikan diri.


Imas dan Iis tidak tahu apa yang akan dilakukan si perempuan itu. Keduanya berpikir mungkin si perempan itu akan ke warung memberi camilan untuk mereka berdua.


Tadi si perempuan bilang warungnya di tempat jauh. Nah mungkin sekarang si perempuan itu tengah ke warung yang jauh itu.


Lantas Imas menoleh ka jalan yang akan di tempuhnya kalau mau meneruskan perjalanan saat itu.


Dia tak melihat ada rumah di dekat rumah yang kini disinggahinya. Namun Imas melihat ada rumah yang lumayan jauh dari rumah yang kini disinggahinya.


"Di sini rumah berjauhan, tak seperti di kampung kalian mungkin saling berdempetan," kata Tarso seperti bisa membaca hati Imas yang tengah melihat-lihat sekeliling rumahnya.

__ADS_1


"Iya, kenapa begitu, apakah tidak takut terjadi apa-apa, hewan buas, atau orang jahat?" selidik Imas.


"Kenapa begitu ya karena emang begini keadaannya. Kami mengemban tugas menjaga keamanan daerah ini sehingga tak perlu ada yang ditakutkan sekalipun hewan buas maupun orang jahat. Namanya penjaga keamanan ya harus berani mengamankan, melawan hewan buas dan orang jahat," ujar Tarso panjang lebar.


Imas dan Iis manggut-manggut. Jika benar begitu, pantas saja keduanya berani tinggal di rumah yang berada di kebun dan belukar bahkan mungkin hutan belantara ini.


"Nah bagimana ceritanya kalian bisa diculik?" tanya Tarso lagi.


Maka Imas pun berceritera panjang lebar ihwal kelakuan Kades Danu hingga akhirnya dia harus melarikan diri setelah siuman di dalam mobil.


"Kami takut akan menjadi korban penculikan yang denger-denger akan dijadikan tumbal. Dua teman kami udah berhasil ditangkap penculik dan entah bagaimana sekarang nasibnya," tutur Imas.


"Oh...kasihan ya?" hanya itu tanggapan Tarso seusai Imas bercerita.


***


Sementara itu Sukinah yang diberi kode oleh suaminya, Tarso, keluar rumah, sudah tahu apa yang harus dilakukannya. Dia bukan kali ini saja menerima tugas seperti itu, sebelum-sebelumnya juga kerap melakukannya.


"Pasti akan mendapat bayaran gede dari Embah Sawi karena yang berhasil ditangkap dua gadis yang pastinya sangat penting bagi si Embah," benak Sukinah.


Di tengah jalan Sukinah melihat dari kejauhan serombongan pria. Dia tak ragu lagi bahwa mereka adalah para pemburu pelarian suruhan dari Embah Sawi.


Setelah dekat, benar saja mereka antek-antek Embah Sawi. Yang diketahui Sukinah ada Sodom dan dua lainnya dia belum tahu namanya tapi sesekali suka melihat di sekitaran kediaman Embah Sawi.


"Bagaimana Sukinah?" tanya Sodom setelah berhadapan dengan Sukinah.


"Beres Paman Sodom. Dua anak ingusan itu sudah masuk perangkap kami," timpal Sukinah tersenyum lebar.


"Hahaaaaa.....bagus! Bagus, bagus! Pasti si Embah akan memberi kalian hadiah besar," puji Sodom.


"Nah dengar apa kataku Danu, Darpin? Dua gadis itu takkan ke mana larinya kecuali ke perangkap yang telah kami pasang," kata Sodom kepada Danu dan anaknya si Darpin.


"Ya, kami percaya Paman. Si Embah dan Paman benar-benar melayani kami dengan sebaik-baiknya. Itu artinya apa yang kudambakan bakal cepat terwujud. Iya kan Paman?" ujar Kades Danu.

__ADS_1


"Pasti lah! Apa yang dikerjakan saya dan si Embah takkan gagal," ujar Sodom menghibur Danu.


Ya menghibur Danu karena sejatinya si Embah kini tengah galau menghadapi masalah besar, yaitu prosesi persembahan dengan cara menodai perawan tak semulus sebelum-sebelumnya, yaitu ketika Embah Sawi tak bisa menuntaskan ritual persembahan karena 'pusaka' dan bibirnya dilukai.


"Terima kasih Paman, terima kasih sekali," ujar Danu, senang bukan alang kepalang.


"Nah sekarang ayo lakukan Sukinah seperti biasa!" kata Sodom.


"Sudah Paman. Sudah kami lakukan sejak tadi dan mungkin mereka berdua kini sudah pingsan," ujar Sukinah.


"Bagus!" kata Sodom.


"Danu, dua gadis itu kini sudah pingsan. Kalian berdua atau salah seorang dari kalian ayo ambil mobil ke sini untuk mengangkut dua gadis itu. Dibopong terlalu jauh," kata Sodom.


"Baik Paman. Ayo Pin, ambil mobil bisa mobil Jeep kamu bisa mobil ayah tapi sebaiknya mobil kamu saja," titah Kades Danu kepada Darpin.


"Siap ayah," timpal Darpin.


Dia pun lantas kembali ke kediaman Embah Sawi untuk mengambil mobil dan mengajak teman-temannya sekalian.


Jarak antara rumah Embah Sawi dengan rumah Tarso dan Sukinah ada sekitar lima kilo meter. Jarak yang ideal untuk menghindari ada kedekatan atau keterkaitan antara Tarso dan si Embah.


Sodom, Danu, dan Sukinah pun menuju rumah Tarso untuk melihat kondisi Imas dan Iis.


Benar seperti apa yang dikatakan Sukinah bahwa minuman yang diberikan kepada Imas dan Iis yang tengah kehausan itu dicampuri sejenis ramuan yang sengaja dipersiapkan dan diberikan oleh Sodom sebelumnya.


Imas dan Iis setelah tadi merasakan tubuh segar setelah minum air hangat yang dikira dicampur teh meski rasanya beda namun karena begitu haus, tak pikir panjang lagi keduanya meminumnya hingga harus ditambah lagi oleh Sukinah, kini tiba-tiba kepala keduanya merasa pusing dan seketika tumbang tak sadarkan diri.


Dalam sehari semalam Imas dan Iis harus dua kali menerima minuman yang dicampur sejenis obat dan ramuan untuk menghilangkan kesadaran hingga pingsan.


Selang 30 menit, Darpin cees tiba membawa mobil di depan rumah Tarso dan Sukinah. Sementara Sodom dan Danu sudah terlebih dahulu tiba dan melihat Imas dan Iis terkulai lemas seperti sedang tidur pulas.


Untuk menambah keuatan ramuan, Sodom segera membacakan mantera agar Imas dan Iis bisa lebih lama lagi pingsannya.

__ADS_1


"Ayo bawa ke mobil. Tetap hati-hati jangan sampai terluka. Embah sangat doyan perawan yang mulus segala-galanya tanpa luka sedikit pun," titah Sodom. (Bersambung)


__ADS_2