
Mata Kades Danu membulat melihat sekeliling. Dia ingat semalam tidur di kamar sebuah rumah mewah dengan kasur empuk. Dia menanti-nanti kedatangan wanita yang membawanya ke rumah mewah itu untuk bekencan.
Akan tetapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba bahkan dia ketiduran dan baru saja bangun. Namun bukannya di kasur empuk rumah mewah, melainkan di gudang jauh dari perkampungan.
Hanya mengenakan ****** ***** Kades Danu cuma bisa celingukan. Di luar tampak sudah terang benderang, tanda sudah siang.
"Kok aku ada di sini?" tanya Kades Danu pada dirinya sendiri, lalu matanya larak-lirik mencari celana panjang dan kemeja yang dikenakannya semalam. Namun tak ditemukan.
Ia bangkit, tangannya menepuk-nepuk sekujur tubuhnya yang dipenuhi debu dalam gudang. Mendekati pintu gudang yang menutup rapat. Lalu mendekati pintu itu, maksudnya mau keluar.
Akan tetapi ia bingung karena hanya mengenakan ****** *****. Bagaimana kalau dilihat warga? Pasti sangat malu.
Bagaimanapun dia harus pulang. Apalagi dia berada di dalam gudang yang menurut berita di sinilah si Darpin cees melakukan rudapaksa kepada Wiwi anaknya si Muslih itu.
Lalu mengapa dia berada di sini? Dan siapa yang membawanya? Tiba-tiba bulu roma Kades Danu berdiri, degup jantungnya berdetak cepat. Ia ingin segera pulang ke rumah.
Kades Danu pun segera saja membuka pintu. Brak, benar saja sudah terang benderang, sekitar pukul delapan pagi.
Dia mulai melangkahkan kaki meski agak ragu-ragu mengingat cuma mengenakan kolor. Dia menyesal semalam menyuruh Tanu pulang, padahal kalau dia ikut mungkin tak bernasib seperti sekarang.
Ketika berjalan pulang ke rumahnya dan dari kejauhan terlihat ada orang, Kades Danu segera saja mencari persembunyian, pohon pisang atau dangau yang berada di persawahan tersebut.
Dia tambah bingung karena harus beberapa kali melakukan hal serupa. Pastinya, makin dekat ke kampung, perumahan penduduk, akan makin banyak orang yang melihat.
"Harus bagaimana aku?" benak Kades Danu.
Lantas dia menyesali perbuatannya semalam yang mudah tergiur oleh kemolekan tubuh wanita yang belum jelas siapa-siapanya. Andai mampu menahan nafsu tentu takkan bernasib malang seperti ini.
"Aku harus membikin perhitungan dengan iblis itu!" bisik Kades Danu.
Ya, dia menjadi sadar sekarang bahwa wanita penggoda yang ditemuinya di permakaman itu adalah iblis, penampakan sebangsa jin atau para lelembut yang mengganggunya.
"Tapi mengapa harus aku?" batin Kades Danu bertanya-tanya.
Dia pun lantas merancang pembalasan bukan hanya kepada keluarga Pak Muslih, namun kepada iblis-iblis yang menggodanya hingga dia harus menanggung malu, pulang hanya mengenakan kolor.
Kades Danu masih mengumpet di balik pohon pisang. Dia menunggu-nunggu orang lewat kali aja ada yang kenal namun takkan mempermalukannya karena dia cuma mengenakan kolor.
__ADS_1
Kebetulan ada orang yang mebawa keranjang rumput, tampaknya ia akan menyabit rumput untuk ternaknya. Kades Danu tahu dia adalah si Sana, tetangganya.
Sudah mendekat segera saja Kades Danu menyahut.
"San, San......!" teriak Kades Danu.
Pria muda yang dipanggil Kades Danu menghentikan langkahnya. Lalu larak-lirik ke sana ke mari mencar-cari yang memanggil namanya.
"San, sini!" teriak Kades Danu.
Sana menoleh ke arah pohon pisang. Dilihatnya ada kepala dengan wajah yang tak asing lagi, Kades Danu.
Namun dia tak segera menghampiri, kaget saja mengapa sang kades ngumpet di balik pohon pisang. Sedang apa gerangan?"
"Pak Kades?"
"Iya, mari sini San!"
"Kok Pak Kades ada di sini, lagi apa?"
"Panjang ceritanya San. Nanti saya ceritakan. Sekarang tolong aku ambilkan celana panjang dan kemeja di rumah kepada Ibu. Kalau tidak ada Ibu kepada pembantu, si bibi. Tolong San!"
Lantas Sana segera pergi meninggalkan Kades Danu yang untuk sementara gembira karena bakal bisa pulang ke rumah dengan berpakaian normal.
Lima belas menit berlalu, 30 menit, satu jam, 2 jam. Baru Kades Danu bisa melihat si Sana. Namun sayang setelah si Sana mendekat dengan begitu jelas dia tak membawa apa-apa.
Si Sana kembali dengan tangan kosong seperti ketika tadi ia bertolak dari sini. Keruan saja Kades Danu sangat menyesal.
"Kok gak bawa apa-apa San? Mana baju dan celanaku?"
Langsung saja Kades Danu memberondong Sana dengan pertanyaan pokok.
"Waduh maaf Pak Kades, Ibu Kades tak memberi," kata Sana sejujurnya.
"Kok bisa? Tidak mungkin!" hardik Kades Danu sangat tidak percaya terhadap apa yang dikatakan Sana.
"Lho untuk apa saya capai-capai pulang pergi hanya untuk berbohong, apalagi kepada Pak Kades?"
__ADS_1
"Tega nian si Windi. Suami kena musibah malah diabaikan," keluh Kades Danu garuk-garuk kepala yang tak gatal.
"Ngomong apa tadi Bu Kades San?"
"Bu Kades bilang, emang gue pikirin. Biarin aja dia pulang 'bulucun' (telanjang bulat, Sunda) biar warga tahu kalau Kadesnya tukang selingkuh! Gitu katanya!"
"Wah ngarang kamu, San?"
"Ih, gimana Pak Kades ini, tadi bertanya ngomong apa Bu Kades. Dijawab malah tak percaya!"
"Ya, sudah! Terima kasih atas bantuannya. Ntar saya kasih duit kapan-kapan sekarang enggak bawa uang."
"Oya, baik.Gak usah mikirin ngasih duit Pak Kades. Saya rida, kok," ujar Sana lalu ngeloyor pergi dengan keranjangnya utuk menyabit rumput.
Meski penasaran mengapa Kades Danu sampai harus telanjang. Apa emang benar yang dikatakan Bu Kades Windi bahwa suaminya selingkuh? Selingkuh dengan siapa kok di sawah. Dengan katak, kale?
"Hahaaaa......" Sana ketawa sendiri melihat ulah tetangganya yang satu ini.
Kades Danu masih duduk termenung memikirkan bagaimana caranya dia bisa pulang ke rumah tanpa dipermalukan warga. Dia pikir kalau tetap nekat pulang dengan kondisi seperti sekarang tanpa baju, mustahil tak dlihat orang karena ini siang hari.
Lalu dia melihat ada dangau tak jauh dari pohon pisang tempat dia bersembunyi. Dia pun mengayun langkah menuju dangau itu tentu dengan mengendap-endap takut ada orang yang melihatnya.
Dia sampai ke dalam dangau, menarik napas dalam-dalam. Perutnya terasa melilit, lapar. Apa yang mau dimakan, di dangau tak ada apa-apa.
Dia melihat ke atas dangau, ada balai-balai sepertinya tempat tidur yang punya sawah. Dia pun beranjak dari balai-balai bagian bawah dangau ke loteng sederhana atau balai-balai bagian atas dangau.
Dilihatnya ada sarung dan kopiah, tampaknya itu milik petani.
"Alhamdulillah, ada sarung dan kopiah. Lumayan bisa pulang dengan bersarung, tak teanjang," bisik Kades Danu gembira.
Meski begitu, terpaksa ia harus menunda keinginannya pulang ke rumah, mengingat hanya ada kain sarung. Tak lucu siang-siang bersarung, berjalan-jalan dan dilihat orang. Dia akan menunggu selepas magrib ketika suasana sudah gelap.
Dia pun memilih tidur di balai-balai bagian atas dangau itu hingga waktu magrib. Dia bangun dan siap-siap mau pulang ke rumah.
Berhasil sampai ke rumah. Dia masuk dari pintu dapur. Ternyata sudah ada Bu Windi. Begitu Bu Windi melihat kedatangan Kades Danu dengan mengenakan kain sarung, seketika matanya membulat seperti menahan amarah.
"Bu?" tanya Kades Danu ramah.
__ADS_1
Namun Bu Windi tak menjawab. (Bersambung)