Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 23. Bertemu Teman


__ADS_3

Betapa tidak, ketika Darpin meraba-raba punggung bagian bawah untuk mengecek keberadaan dompetnya yang berisi uang dari ibunya yang berjumlah lumayan banyak, ternyata dompet itu telah hilang.


Entah di mana jatuhnya. Kemungkinan besar ketika tadi dia menuruni dan menyeberangi Sungai Cilampit, dompet itu terlepas. Kalau memang benar seperti itu, berarti bukan hanya topinya yang hanyut, namun juga dompet beserta isinya.


"Mati aku!" hardik Darpin lagi-lagi menyumpahi dirinya.


Ingin rasanya dia berkoar dan menantang duel dengan dedemit itu jika tampak kasat mata. Sayang tak terlihat wujudnya sehingga Darpin makin sakit hati dan ketakutan.


Betapa sedihnya ia harus menjalani petualangan pelarian dengan kondisi seperti ini. Ingin rasanya pulang ke rumahnya dan mengikuti nasihat sang ibu semalam.


"Benar-benar bodoh aku ini," gumam Darpin, ada penyesalan.


"Kalau lapor ke polisi kan paling ditahan, disidang, dijatuhi hukuman, masih diberi makan dan ditengok orangtua. Kalau begini? Mana perut lapar, mana diganggu dedemit, haduuuuh.......," pekik batin Darpin menyumpahi dirinya.


Hati Dapin semakin tersiksa. Ia benar-benar menyesal telah berbuat jahat terhadap wanita yang dicintainya. Mungkin untuk seumur hidup penyesalan ini akan terus terjadi.


Akan tetapi, ketika mengingat sakit hati diludahi, tak diterima cintanya, padahal dia merasa sebagai pemuda idaman, sontak penyesalan itu hilang dengan sendirinya.


Dia nekat akan maju terus pantang mundur melawan musuh-musuhnya, baik musuh manusia seperti si Warya, si Rama, si Wati, dan si Anwar, serta siapa pun yang mencoba merintangi keinginannya.


Satu-satunya cara yaitu minta tolong kepada si Embah Sawi.


"Semoga dia masih ada dan masih ingat bahwa saya anak Kades Danu yang dulu pernah mendatanginya," gumam Darpin.


Lantas dia pun mengayun langkah kembali ke hilir sungai. Dompet beserta isinya yang telah hanyut tak dipikirkannya lagi karena dia sudah merasa pesimistis takkan ditemukan.


Seperti yang sudah-sudah Darpin berjalan tertatih-tatih karena harus hati-hati jangan sampai terjerembab ke dalam sungai mengingat medan jalan berupa belukar dan terkadang tebing setinggi 3 - 6 meter.


Perutnya yang melilit-lilit sudah tak dirasakan lagi. Semoga saja di depan mendapatkan makanan.


Darpin berhenti sejenak. Menarik napas dalam-dalam agar tak terlalu capai. Tangannya mengelap dahi yang basah karena keringat. Bajunya sudah makin bau karena lama tak dicuci. Ketika ke rumahnya pun dia sama sekali tak ingat mengganti baju saking tergesa-gesa.


Darpin kembali mengayun langkah meneruskan perjalanan. Tatapannya ke depan, maksudnya mau menimbang-nimbang jalan mana yang sekiranya perjalanannya lancar, tidak terganggu kondisi medan yang terjal.

__ADS_1


Ketika tatapannya menclok di bagian depan bibir Sungai Cilampit yang agak rendah, Darpin terkejut karena melihat tiga orang pria tengah memancing.


Jarak di antara mereka sekitar 5 meteran dari satu orang kepada yang lainnya. Ketiganya asyik memegang joran pancing dan sangat menikmati suasana siang sekitar pukul 14.00.


Darpin senang melihat ketiga orang itu, semoga saja bukan aparat dan bukan orang jahat atau hantu yang menampakkan diri sebagai pemancing.


Dia sudah lelah berhadapan dengan gangguan para hantu yang tiada henti-hentinya dan kian berani.


Darpin kian mendekat, makin dekat. Betapa berbunga-bunganya Darpin karena ternyata ketiga orang itu adalah temannya, yaitu Doma, Benco, dan Gonto.


"Hai, kalian!" kata Darpin setengah berteriak.


Doma, Benco, dan Gonto seketika menoleh. Begitu melihat Darpin yang datang, keruan saja mereka sangat gembira.


"Halo, Bos? Maaf-maaf kami meninggalkan Bos!" ujar Doma sembari menyimpan joran ke tanah lalu ditindih batu besar. Dia berdiri dan menghampiri Darpin.


"Iya gua nyari-nyari elo bertiga, kok tega-teganya meninggalkan gua?" ucap Darpin dan saling berangkulan degan Darpin sepertinya sudah sangat kangen.


Lalu Benco dan Gonto pun menghampiri Darpin. Ketiganya membiarkan joran di sungai lalu menindihnya dengan batu besar agar tak terlepas. Kemudian berkumpul dan duduk-duduk di tempat yang agak leluasa.


"Syukur, kita bisa bertemu lagi di sini. Dari tadi pagi aku mencari-cari kalian di pinggir Sungai Cilampit, aku yakin kalian bakal lari ke sini dan ke hilir sungai, tak mungkin ke hulu!" ujar Darpin tak henti-hentinya mengungkapkan kebahagiaan saking senangnya.


"Iya kami pikir juga begitu Bos. Kami pikir pasti Bos mencari-cari, makanya kami pun menunggu di hilir sungai, menunggu kedatangan Bos. Tenyata benar," kata Doma.


"Lalu, bagaimana kalian sampai lari dari dangau dan tadi mengatakan panik?" kata Darpin penasaran.


"Jadi gini ceritanya, Bos. Ketika saat itu kami menunggu di dangau, tiba-tiba datang segerombolan anak-anak muda. Kirain mereka takkan menghampiri dangau, eh mereka menuju dangau sambil membawa sesuatu entah apa," cerita Doma.


"Terus?" Darpin makin penasaran.


"Ya udah, melihat mereka menuju dangau yang kami tempati, kami segera saja pergi. Maklum namanya buronan, siapa tahu mereka mata-mata dan telah mengetahui keberadaan kami," ujar Doma lagi.


"Ya, terus?"

__ADS_1


"Sebelum kami pergi menjauh, kami intip dulu mereka dari kejauhan apa yang akan mereka lakukan, ternyata....." kata Doma lagi.


"Ternyata mereka cuma menanak nasi liwet, Bos," ucap Benco.


"Oooh...pantesan aku tadi lihat ada bekas api," timpal Darpin


"Kami tak bisa terus menunggu di sekitar dangau itu takut keburu siang, ya udah kabur. Terus cerita Bos sendiri bagaimana?" kini giliran Doma dan kawan-kawan yang penasaran dengan cerita pelarian Darpin.


Darpin pun menceritakan sedetail mungkin cerita pelariannya mulai meninggalkan mereka hingga ke rumah, mandapat dompet berisi uang. Kemudian baru saja diganggu hantu wanita dan dompet serta topinya yang hanyut.


"Makanya aku sangat sedih. Sengaja aku pulang bela-belain nekat ke rumah ambil uang itu hingga mengancam ibu, eh ternyata dompetnya hanyut....," ujar Darpin dengan suara nyaris parau.


"Duh kasihan juga Bos. Terus rencana kita bagaimana?"


"Aku akan menemui orang pintar bernama Embah Sawi untuk meminta azimat penangkal gangguan hantu, dedemit, dan sebangsanya. Saya harap kalian pun ikut....." ujar Darpin.


"Ide bagus, tentu kami akan ikut Bos," ujar Doma bersemangat, pun Benco dan Gonto.


"Kapan kita berangkat Bos?"


"Sekarang juga kita berangkat, jangan ditunda-tunda lagi. Ngomong-ngomong, apa kalian mancingnya dapat ikan?"


"Alhamdulillah, dapat. Ayo kita ke dangau tuh di atas. Kita bakar ikannya. Sayang tak ada nasi," ujar Doma.


Lalu mereka mengambil joran dan ikan hasil tangkapan. Lumayan dapat ikan lele besar-besar. Lantas pergi ke dangau akan membakar ikan untuk ganjal perut.


Kebetulan ada pohon ketela, mereka pun mencabut satu pohon dan dibakar di dangau. Kebetulan ada korek api yang dibawa Doma. Beruntung pula tak ada orang yang melihat.


Mereka pun lantas mencicipi ketela bakar dan ikan bakar hasil tangkapan. Meski terasa hambar karena tanpa garam dan bumbu lainnya, mereka cukup senang karena memiliki tenaga untuk meneruskan pelariannya.


Usai makan-makan, sekitar pukul 19:00 mereka meninggalkan dangau. Joran bekas mancing pun disimpan lagi di dangau karena memang asalnya pun di dangau itu. Kemudian pergi beriringan menuju jalan besar di perkampungan. Tujuan mereka akan ke kampung Embah Sawi.


Di tengah perjalanan mereka tak sadar ada yang mengintai dan tiba-tiba lampu mobil menyala. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2