
Aku pun mengetuk pintu rumah Imas.
"Permisi Mas. Ini aku Rama, Warya, dan Anwar," kataku langsung menyebut nama berikut nama Anwar dan Warya agar Imas tak bertanya-tanya lagi.
Tak lama berselang pintu pun dibuka. Tampaknya Imas belum tidur karena jam baru menunjukkan pukul 21:15.
"Eh Kak Rama, Kak Warya, dan Anwar. Silakan masuk Kakak-kakak semuanya," sambut Imas, membuka pintu dan menyuruh kami duduk di kursi yang tersedia di ruang tamu.
"Aku buatkan kopi dulu ya, biar tak ngantuk," kata Imas.
"Jangan repot-repot Mas. Cukup gini aja, takkan lama kok," kataku.
"Iya Mas. Tak usah repot-repot," timpal Warya dan Anwar.
"Enggak kok, bentar ya," ujar Imas.
Tampaknya Imas tak rela jika kawan-kawannya ini bertamu tanpa dijamu. Toh tidak setiap hari. Mungkin itu pikiran Imas saat ini.
Tak lama kemudian Imas sudah membawa nampan berisi 3 gelas kopi. Lalu disimpan di atas meja. Dan dipersilakan kami meminumnya. Lantas Imas kembali ke belakang menyimpan nampan.
"Terus terang aja aku kaget kedatangan kalian, Kakak-kakak, ada apa ya?" tanya Imas setelah kembali dan duduk di kursi.
"Gini Mas. Aku mau menanyakan Wati dan Yati, hingga kini keduanya belum pada pulang ke rumah," ujarku.
"Hah? Yang bener Kak Rama? Astagfirullah.....," Imas mendadak cemas.
"Iya, Mas. Makanya kami datang ke sini mau menanyakan apa yang terjadi tadi di pabrik. Sebab kata Anwar dan juga Bu Amih, Wati dan Yati sepulang kerja pergi ke kota kecamatan. Entah untuk apa dan hingga kini belum pada kembali ke rumah," kataku lagi.
"Ya Allah. Pada ke mana itu anak ya. Duh, jangan-jangan ada yang ngejahatin Kak Rama, Kak Warya, Anwar. Aku takkan rela kalau keduanya kenapa-kenapa. Sudah cukup aku kehilangan Wiwi, tak mau lagi kehilangan kawan terbaik, huhuhuhu........" tangis Imas akhirnya pecah membuat kami pun terbawa sedih.
"Iya, iya Imas. Kami juga sedih dan kami akan mencarinya sampai ketemu, hidup atau mati. Syukur-syukur kalau masih hidup," ujarku lagi.
"Nah, kira-kira tadi di pabrik membicarakan apa saja antara Wati dan Yati, Mas?" tanya Warya.
Imas menghentikan dulu tangisnya, mengambil tisu, dan menghapus air mata yang bercucuran di pipinya.
"Iya, iya benar. Tadi siang ketika kami beristirahat, aku mendengar pembicaraan antara Wati dan Yati. Tapi maaf ya Kak Warya, maaf sekali," Imas tak melanjutkan omongannya.
Sejenak ia menatap wajah Warya dan mohon maaf. Mohon maaf untuk apa? Pikirku. Aku makin penasaran saja.
"Enggak apa-apa bilang aja Mas, jangan sungkan-sungkan. Aku gak bakal apa-apa kok," timpal Warya.
__ADS_1
Meski begitu aku melihat wajah Warya seperti dihantui rasa cemas. Boleh jadi karena Imas sudah mendahului berkata minta maaf dan itu berarti ada sesuatu yang mengganjal benak Imas.
"Gini ya Kak Rama, Kak Warya, dan Anwar. Tadi siang emang waktu kami bertiga istirahat, Wati sepertinya curhat kepada Kak Yati. Aku dengernya sepintas-sepintas aja karena yang bicara serius Wati dan Kak Yati. Nah tadi aku denger Wati menyebut-nyebut ibu Kak Warya, lalu Wati pun menyebut-nyebut uang lima juta. Setelah itu, katanya Kak Yati akan membantu dan akan menjual kalungnya ke kota kecamatan. Nah mungkin Kak Yati dan Wati ke kota kecamatan itu untuk menjual kalung," jelas Imas.
Deg!
Hatiku benar-benar terkejut mendengar penuturan Imas. Dan boleh jadi tadi Wati curhat sama Yati lalu Yati menjual kalungnya untuk membantu uang lima juta. Ya Tuhan......sungguh perih hatiku ini.
"Brengsek!" tiba-tiba Warya berteriak.
Dia mengepalkan tinju tangan kanannya, kemudian ditinjukan ke telapak tangan kirinya.
"Ini semua gara-gara ibuku. Sungguh keterlaluan ibuku, aku tak rela!" kata Warya.
"Sudahlah War, tahan dulu emosinya. Jangan memaki-maki ibumu, tidak baik. Semoga beliau segera sadar. Bagaimanapun dia ibumu yang harus dihormati War," kataku menenangkan emosi Warya.
"Terima kasih infonya Mas, terima kasih. Kini sudah jelas bahwa jejak Wati dan Yati ada di kota kecamatan. Kami akan ke sana, tapi mungkin besok saja karena kita sedang melakukan ibadah puasa Ramadan," kataku.
"Tidak bisa sekarang saja Kak?" tanya Warya.
"Iya sebaiknya sekarang aja Kak. Ini baru juga jam sepuluh, bisa naik motor," tambah Anwar dengan muka cemas.
Warya dan Anwar tampak mengerti atas ucapanku barusan.
Tring, Tring, Tring!
Ada panggilan telepon di HP-ku melalui panggilan di WA. Aku segera mengangkatnya, Pak Rudi yang menghubungiku.
Aku ubah HP-ku ke mode loadspeaker agar pembicaraan bisa didengar oleh semuanya.
"Halo Pak Rudi. Iya aku masih di sini di rumah Imas."
"Bisa bicara dengan Imas, tolong dikasihkan HP-mu Ram," kata Pak Rudi.
"Bisa Pak," jawabku lalu memberikan HP kepada Imas.
"Halo Imas?" tanya Pak Rudi.
"Halo Pak. Ikut prihatin Kak Yati belum pulang" kata Imas.
"Iya, iya, sampai sekarang belum pulang. Trus bagaimana ceritanya tadi waktu di pabrik?" tanya Pak Rudi.
__ADS_1
"Iya tadi waktu istirahat Kak Yati da Wati terlibat pembicaraan serius yang ujung-ujungnya mengajak ke kota kecamatan, menyebut-nyebut kalung. Mungkin Kak Yati atau Wati mau menjual kalung ke sana, Pak Rudi. Kirain sudah pada pulang ternyata belum pulang ya, kata Kak Rama Wati juga sama belum pulang," kata Imas.
"Iya, iya terima kasih infonya Mas. Tolong ke Rama kembali Mas, Bapak ada yang mau bicarakan," kata Pak Rudi.
"Iya Pak," sahut Imas sambil memberikan HP kepadaku.
"Halo Pak?" kataku.
"Iya, Ram. Trus rencana kamu gimana sekarang?"
"Tadinya kami akan langsung ke kota kecamatan Pak. Seperti kata Imas, mungkin Yati dan Wati ke kecamatan mau menjual kalung. Makanya tadinya kami akan ke toko emas, namun diperkirakan kini sudah tutup, jadi kemungkinan besok saja kami akan ke kota kecamatan medatangi toko emas kan tidak begitu banyak, hanya ada tiga kalau tak salah."
"O ya? Kalau begitu jemput Bapak ke sini besok ya."
"Siap, siap insyaallah akan kami jemput. Bapak mau naik motor sendiri atau ikut di motor Anwar atau Warya?"
"Bawa motor sendiri aja, Ram. Jangan lupa ya!"
"Siap, siap, Pak. Selamat malam. Mohon Bapak dan Ibu bersabar semoga Yati dan Wati tidak kenapa-kenapa," kataku.
"Ya, aamiin. Udah dulu ya Ram, terima kasih," kata Pak Rudi.
"Amiin, ya Pak," timpalku, dan terdengar saluran telepon ditutup oleh Pak Rudi.
***
(PoV Author)
Pagi harinya sekitar pukul 07:00 Rama sudah siap-siap akan ke kota kecamatan. Dia akan ikut dibonceng dengan motor Anwar atau motor Warya.
Tak lama kemudian Warya dan Anwar datang, terdengar mesin sepeda motor dan bunyi klakson persis di depan rumah Pak Muslih yang berlokasi di pinggir jalan.
Rama pun menemui dulu bapak dan ibunya, Pak Muslih dan Ibu Ratih minta izin dan doa restu.
"Semoga berhasil, Yati dan Wati ditemukan dalam keadaan selamat," kata Pak Muslih sambil megelus-elus kepala Rama.
"Aamiiin," kata Rama.
Lalu dia pergi menghampiri Warya yang berada di depan. Rama pun menaiki motor Warya. Diikuti motor Anwar.
Setelah itu ketiganya menjemput Pak Rudi yang ternyata di jalan berpapasan. Tampaknya Pak Rudi akan menjemput Rama. (Bersambung)
__ADS_1