
"Ya, ketika Imas dan Iis didekati bola mata kecil yang menyala dan itu diperkirakan hewan buas entah serigala atau apa yang akan memangsa keduanya, tiba-tiba menghilang, dan itu karena dihadang oleh Kentingmanik.
Pun ketika Imas dan Iis ikut tidur di rumah Tarso dan Sukinah, Kentingmanik dan penampakan Wiwi menjaganya.
Kentingmanik pun tahu bahwa Sukinah mencampur minuman dengan ramuan khusus. Namun membiarkannya karena ramuan itu takkan menimbulkan kematian.
Hingga Darpin membawa mobil dan akan membawa Imas dan Iis yang pingsan, Kentingmanik mencoba mengganggu mobil Darpin yang tak bisa dihidupkan mesinnya sama sekali.
Dan itu berhasil membuat Darpin kalangkabut tak berkutik hingga Imas dan Iis dibawa pulang dengan kondisi tangan diikat, mulut dilakban, dan mata ditutup kain.
Melihat hal itu, penampakan Wiwi tak senang. Dia lantas bertanya kepada Kentingmanik.
"Untuk apa kita capai-capai menolong semalaman kalau kini Imas dan Iis dibiarkan tertangkap lagi Tante?" tanya penampakan Wiwi.
"Tenang saja Wi, biarkan teman dan keponakamu dibawa ke si Embah, tidak akan apa-apa kok, justru kita bisa memantau mereka. Sebab pasti keduanya akan disatukan dengan Wati dan Yati," ujar Kentingmanik.
"Kan bisa aja kita bantu mereka agar bisa pulang ke rumah, memberi kabar kepada keluarga, dan aparat. Ini kan hari Lebaran, kasihan keluarganya mencari-cari," kata penampakan Wiwi.
"Belum waktunya sayang. Suatu saat mereka akan berkumpul lagi dengan keluarganya. Tenang saja, Tante takkan membiarkan para bajingan itu melukai apalagi menodai mereka," kata Kentingmanik.
"Kau tahu kan bagaimana aku sukses mengelabui si Embah maniakseks itu? Dia kugigit bibirnya, dia kucelakai 'anu'-nya," imbuh Kentingmanik, terkekeh.
Penampakan Wiwi akhirnya tak menjawab. Dia ikut saja keputusan Kentingmanik yang dibilangnya tante itu.
***
Suasana Lebaran di Kampung Mekarsari benar-benar berduka, bukan hanya bagi keluarga Pak Muslih yang kehilangan dua orang anak gadisnya Wiwi dan Wati, keluarga Pak Rudi yang kehilangan anak gadisnya Yati, Bi Utih kehilangan Imas, dan keluarga Tanu dan Inah yang harus kehilangan anak gadis satu-satunya Iis.
Akan tetapi bagi warga kampung semuanya merasa berduka dan sangat kehilangan anak-anak gadis itu.
Mereka kira peristiwa Wiwi akan menjadi yang terakhir dan aparat bisa segera menangkap para pelakunya yang sudah diketahui yaitu Kades Danu, anaknya, dan beberapa teman Darpin.
__ADS_1
Akan tetapi entah mengapa Kades Danu sepertinya punya 'ilmu' tersendiri untuk selalu mengelak dan mencari alibi yang menyulitkan aparat penegak hukum menangkapnya.
Kini malah muncul lagi kasus baru, Yati, Wati, Imas dan si Iis. Yang membuat warga geram di antara yang hilang itu adalah Imas dan Iis.
Kalau benar pelakunya Kades Danu, sungguh keterlaluan. Betapa tidak, orang-orang pada tahu bahwa selama ini Tanu, adiknya Pak Muslih itu bekerja banting tulang membantu Kades Danu. Pun dengan Bi Utih sampai harus menginap di rumah Kades Danu sebagai ART.
Tak heran kalau Tanu yang merasa dirinya telah membaktikan hidupnya untuk memperkaya Kades Danu, begitu terpukul yang diluapkan dengan amarah kepada sang istri.
Ironis memang, di Hari Lebaran orang-orang saling memaafkan ini malah menyulut pertengkaran.
"Kenapa kamu izinkan Iis pergi ke rumah Kades Danu, Inah?" tanya Tanu kepada istrinya dengan wajah yang sangat marah.
"Ya habis memikirkan kamu Mas. Oran lain udah pada kumpul di rumah bersama keluarga menyiapkan diri mau Lebaran, sedangkan kamu masih saja bergulat dengan kesibukan memperkaya orang lain!" kata Inah tak mau disalahkan.
"Iya tapi kalau sudah begini, mana tanggung jawabmu?" Tanu makin marah dan bersikeras menyalahkan istrinya.
"Saya tidak tahu akan kejadian seperti ini Mas. Apa tidak sebaiknya coba tanyakan dulu ke Kades Danu, bagaimana kejadiannya?" saran Inah.
Tanu tak menjawab. Dia langsung balik badan dan keluar rumah. Di jalan orang-orang tampak saling bersalaman, sebagian lagi ada yang menuju permakaman untuk berziarah kubur.
Setibanya di rumah dia menanyakan keberadaan anak gadisnya Iis dan mendapat jawaban dari istrinya bahwa Iis belum pulang sejak disuruh ke rumah Kades Danu sore hari.
Inah menyangka belum pulangnya Iis karena bersama ayahnya Tanu. Namun ternyata yang pulang justru hanya Tanu sendiri.
Keruan saja Tanu kesal mendengar keterangan istrinya. Kok bisa-bisanya Iis disuruh-suruh mencari dirinya.
Namun dipikir lagi ia memaklumi juga kekhawatira sang istri terhadap dirinya. Oleh karena itu, kini bukan saatnya berdebat, namun gerak cepat mencari keberadaan Iis.
Tanu pun memanggil tukang ojek kampung yang di saat Lebaran laku keras mengantar orang-orang ke sana ke mari.
"Silaturahmi ke mana Kang?" tanya tukang ojek yang akan dinaiki Tanu.
__ADS_1
"Mau mencari penculik, ayo cepat ke rumah Kades Danu!" kata Tanu.
"Hah? Penculik? Emang siapa yang diculik Kang?" tukang ojek malah keterusan bertanya.
"Nanti saya jelaskan, sekarang cepat saya antarkan ke rumah Kades Danu!" kata Tanu tak mau berkepanjangan diajak bicara oleh si tukang ojek.
Si tukang ojek itu pun tak bercakap-cakap lagi. Dia langsung menghidupkan mesin motor ojeknya, Tanu segera naik motor itu.
Motor melaju menuju rumah Kades Danu. Sesampainya, Tanu langsung membayar. Dan mengetuk pintu rumah Kades Danu yang telah sering ia masuki dan bahkan tahu seluk-beluk rumah itu.
Pintu diketuk, tak lama kemudian Bu Windi keluar. Tampaknya dia hanya seorang diri tak kelihatan Bi Utih dan juga Pak Danu.
Aneh memang di hari Lebaran yang semestinya di rumah sekelas pejabat kepala desa keadaannya sepi, apakah tidak ada ajang silaturahmi dengan warga ataupun sebatas tetangga?
"Eh, Tanu? Bapak mana?" tanya Bu Windi.
Dia masih berdiri di muka pintu tak mepersilakan Tanu masuk, mengingat di rumah tak ada siapa-siapa dan suaminya juga tidak ada di rumah walaupun Tanu bukan siapa-siapa bagi keluarga Kades Danu. Dia orang kepercayaan Kades Danu.
Bu Windi malah mempersilakan Tanu duduk di kursi di teras rumah. Pun Bu windi duduk di kursi lainnya.
"Justru saya ke sini mau menanyakan Bapak, Bu. Anak saya Iis belum pulang hingga kini, katanya kemarin sore ke sini disuruh ibunya mencari saya," ujar Tanu.
"Benar, kemarin sore Iis dan Imas ke sini. Katanya Iis mau mencari kamu, sedangkan Imas mau menjemput Bi Utih ibunya. Tapi Bapak menyuruh Bi Utih tetap di sini menemani saya dan baru pulang subuh tadi," kata Bu Windi menjelaskan.
"Iis kemarin terus ke mana?" Tanu belum mengerti.
"Ya pulang karena kan dibilang oleh Bapak kamu masih menagih utang di desa sebelah. Sehubungan Bapak malam itu mau pergi yaitu mau menjemput kamu ya udah sekalian aja membawa Imas dan Iis, kata Bapak akan diantarkan langsung ke rumah masing-masing," jelas Bu Windi.
"Tapi Iis tak ada pulang Bu. Huh, ke mana anakku.....hmmmm," Tanu seperti anak kecil yang kehilangan mainan.
"Kok bisa begitu ya?" Bu Windi juga terheran-heran.
__ADS_1
"Saya sangat butuh keterangan Pak Kades, Bu. Kira-kira sedang pergi ke mana sekarang ya?"
"Iya belum pulang sejak sore hingga kini, Tan," timpal Bu Windi yang memang belum mengetahui di mana keberadaan suaminya saat ini. (Bersambung)