Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 70. Kabur Membawa Pistol


__ADS_3

"Ya udah kalau begitu Bibi juga mau nginap di sini aja. Pulang juga untuk apa, Iis belum ketemu. Baru Bibi akan pulang kalau Iis sudah ditemukan dalam keadaan baik-baik saja," timpal Inah.


"Baik kalau begitu. Bi Utih, maaf tolong bantu aku menyiapkan makanan, kita makan bersama," kata Bu Windi kepada Bi Utih.


Bu Windi bangkit mau ke dapur, namun dicegah oleh Bi Utih.


"Biar Bibi saja," kata Bi Utih.


Bu Windi pun menurut. Dia tak jadi bangkit, malah Inah yang mengikuti Bi Utih ke dapur. Keduanya pun menyediakan makanan untuk makan bersama di meja makan ruang dekat dapur.


Setelah makan bersama mereka pun beristirahat. Bu Windi tidur di kamarnya, sedangkan Inah ikut di kamar Bi Utih.


Adapun para pria, yaitu Rama, Warya, dan Anwar, ketiganya tidur di ruang tamu. Mereka lebih memilih tidur di ruang tamu daripada di kamar tamu yang ditunjuk Bu Windi.


Itu inisiatif Rama karena takut malam ada apa-apa. Kalau tidur di kamar tamu dengan kasur empuk sesuai dengan kemampuan pribumi sebagai orang berada, dikhawatirkan mereka akan tidur nyenyak dan tak akan menyadari ada bahaya.


***


Sementara itu Kades Danu benar-benar terpukul dengan dipanggil dirinya ke kantor polsek. Tak dibayangkan sebelumnya seorang Danu orang kaya dan terhormat sebagai pejabat desa akan digiring sambil diborgol ke kantor polisi.


Dia pasrah dengan sanksi yang akan diberikan atasannya sebagai kades karena berhari-hari, berminggu-minggu, tak menunaikan tugas dan semua tugas dibebankan kepada sekdes.


Kalaupun hadir ke desa, Danu hanya beberapa menit saja. Entah mengapa dia bisa aman atas pelanggaran administratif seperti itu. Boleh jadi ada uang di balik itu semua. Entahlah.


Namun kini dengan digiringnya ke kantor polisi dan tadi sudah diinterogasi serta alibi yang dikemukakannya dibantah polisi


sesuai fakta dan saksi-saksi, tak ayal Kades Danu harus segera menerima akibatnya.


Namun, bukan Danu namanya dia murid Embah Sawi, si ambisius berharap azimat komplet dan sebagai salah seorang pengguna azimat genianggara kalau tak bisa mengatasi masalah seperti ini.


"Anggap saja ini tantangan untuk menggapai impian yang sebentar lagi akan terwujud," batin Kades Danu di dalam tahanan polsek.


Dia ditempatkan di terali khusus, terpisah dari tahanan lainnya dengan pengawasan superketat dari petugas.


Saat itu Danu berpikir keras bagaimana caranya untuk melarikan diri dari tahanan itu. Sambil megucapkan mantra-mantra guna membangkitkan kekuatan azimat genianggara, tiba-tiba Danu menemukan akal untuk mengelabui petugas.


"Haduuuuuh....uh, uh, uuuuh....." lirih Danu sambil memijit-mijit perutnya.


Dia pura-pura sakit perut dan mengaduh-aduh seperti yang tengah menderita yang amat sangat.

__ADS_1


Erangan Danu terdengar oleh petugas jaga, dia pun melihat Danu tengah mengerang kesakitan


"Kenapa Pak, sakit?" tanya petugas yang tampak masih muda itu.


"I, i, iyaa, tiba-tiba perutku sakit, mulas-mulas, udah tak tahan ingin buang hajat, haduh hu, hu, hu, huuuuuu....." erang Danu yang tengah berekting.


"Ayo cepat ke WC, saya antar," kata petugas itu.


Pintu sel tahanan pun dibuka. Keadaan di sekitar sana sudah agak sepi para tahanan lainnya sudah pada tidur karena saat itu sudah pukul satu dini hari.


Setelah tiba di WC diantar petugas, Danu memohon untuk dibuka dulu borgolnya karena akan kesulitan kalau bersih-bersih sedang buang hajat.


Seperti kena sirep azimat genianggara, petugas itu pun menurut membuka borgol yang membelit tangan Danu.


Setelah borgol terlepas...


"Bhug!"


Dengan sekilat Danu melancarkan tonjokan ke polisi itu, lalu secepat kilat pula mengambil pistol. Sang petugas tersungkur, dia pingsan karena yang ditonjok Danu ulu hati si petugas.


Megendap-endap Danu memburu pintu gerbang polsek. Entah mengapa para petugas jaga sama sekali tak melihat Danu padahal lampu terang benderang, dan ada dua petugas jaga dekat pintu gerbang, sebagiannya di dalam.


Danu pun lolos bisa kabur dengan membawa pistol hasil merampas dari petugas jaga tahanan.


Danu bermaksud langsung menuju rumahnya dan akan mengambil mobil untuk kemudian kabur ke Embah Sawi dan akan menerangkan apa yang telah terjadi pada dirinya.


Namun dia berubah pikiran. Pikirnya, kalau datang ke rumahnya mengambil mobil walaupun pasti di situ hanya ada istrinya, polisi takkan tinggal diam pasti memburunya dengan waktu yang cepat, padahal mobil itu ada di garasi dan ada pintu gerbang yang terkunci. Pasti membutuhkan waktu lama.


Itulah sebabnya tak ada jalan lain kecuali kabur dengan cara lain. Tiba-tiba muncul ide mencuri sepeda motor.


Danu pun terus lari menuju pangkalan ojek di kota kecamatan. Kebetulan ada satu motor ojek. Dengan berpura-pura santai Danu minta diantarkan ke Desa Merkarmulya dengan cepat.


"Ayo antar cepat ke Mekarmulya, ada orang meninggal!" ajak Danu.


Si tukang ojek pun tanpa curiga segera menghidupkan motornya. Danu segera naik. Motor pun melaju dengan kecepatan tinggi karena begitu disuruh Danu.


Ketika di tengah tempat yang sepi. Danu menghentikan tukang ojek. Dia mengambil pistol yang diselipkan di punggungnya.


"Turun, berjalan terus ke sana, jangan menoleh, kalau menoleh. kepalamu pecah!" ancam Danu sambil menodongkan pistol ke kepala tukang ojek.

__ADS_1


Si tukang ojek benar-benar terkejut tak dinyana ternyata orang ini perampok. Apa boleh buat, menghadapi penjahat yang berlindung di balik pistol, bukanlah pekerjaan mudah selain harus pasrah.


Si tukang ojek pun berjalan ke arah kota kecamatan dengan meninggalkan sepeda motor ojeknya yang belum lunas.


"Sial, keparat!" sungut si tukang


ojek sambil terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Bulu kuduknya terasa merinding, serasa peluru sudah menembus tengkuknya. Sementara lutut bergetar hebat, di celananya terasa ada yang basah.


Danu tersenyum lebar. Pistol diamasukkan lagi ke belakang punggungnya. Menoleh ke si tukang ojek tadi sudah berjalan amat jauh hingga tak terlihat karena jalan berbelok.


Danu pun dengan santainya menaiki motor dan kuncinya masih menempel di tempatnya.


"Untung si tukang ojek bego, kunci motornya tak dicabut," gumam Danu semringah.


Tak lama pun dia menaiki sepeda motor dan melajukannya dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat, takut terkejar petugas.


Dan benar saja dari belakang sudah terdengar deru mobil dan motor. Danu yakin itu mobil para petugas polsek yang tengah mengejarnya.


"Kejarlah daku kalau bisa!" tantang Danu sambil ngegas sepeda motor curiannya sekencang mungkin.


Semakin jauh dia tak mendengar lagi bunyi mobil dan motor mengejarnya. Danu senang.


Danu langsung menuju suatu tempat, tak lain dia akan menuju rumah Tanu dan akan membawanya.


Setibanya di rumah Tanu dengan diam-diam dan motornya diparkir di gang depan rumah Tanu. Kebetulan Tanu sedang berada di teras rumahnya, dia sedang memikirkan istri dan anaknya.


"Tan, sini!" kata Danu memanggil Tanu.


Tanu segera tahu siapa yang memanggil, yaitu Danu majikannya.


"Kok Bapak? Ada apa?"


"Ayo ikut aku sekarang juga kalau kamu ingin melihat putrimu!"


"O ya? Siap Pak! Saya tak bisa tidur memikirkan dia," jawab Tanu.


"Ya kalau begitu, ayo buruan ikut aku. Di rumah ada istrimu?"

__ADS_1


"Tidak ada, dia ke rumah Bapak, Enggak ketemu?" tanya Tanu.


"Kalau begitu cepat kunci rumahmu, bawa uang, bawa masker dan topi lebih baik kupluk, aku pinjam juga jaket, kita jenguk Iis, takut kenapa-kenapa," kata Danu.(Bersambung)


__ADS_2