
"Musnahkan dan bakar semua yang ada di kamar ini. Izinkan saya akan berdoa di dalam kamar ini agar kekuatan gaib yang dibawa iblis dan setan serta jin jahat menjauh. Kalau ikut terbakar mustahil. Tapi kalau benda-benda ini dibakar jelas akan hilang maunat atau kekuatan gaibnya. Ayo bakar, kalau benda yang tidak bisa dibakar, kubur saja!"
Rama, Toto, dan Anwar, dibantu Imas. Wati da Yati, mengangkut benda-benda itu secara estafet hingga bersih semuanya. Tak ada sedikit pun benda di dalam kamar itu.
Barang-barang permusyrikan itu lantas dibawa ke kebun di belakang rumah dan barang yang bisa dibakar, ya dibakar. yang tak bisa terbakar seperti keris dan cincin, dikubur ke dalam tanah hingga tak terlihat lagi.
Selesai acara pemusnahan barang-barang sebangsa azimat milik almarhum Kades Danu, mereka pun lantas berkumpul lagi di ruang tengah.
Sambil mencicipi jamuan yang disuguhkan Bu Windi, Ustaz Hamid kembali memberikan nasihat-nasihat agama yang intinya pentingnya menanamkan keimanan dalam diri, memupuknya dengan zikir seiring desah napas.
"Jadi zikir itu bukan hanya mengucapkan lafaz-lafaz tertentu seperti sehabis salat wajib, zikir yang utama adalah selalu mengingat dan menyadari bahwa kita ini diawasi oleh Allah. Dengan begitu akan tumbuh dalam diri rasa takut menerima azabNya karena melanggar aturanNya, dan tumbuh semangat beribadah yang
merupakan kewajiban pokok setiap orang beriman," tutur Ustaz Hamid, sambil mencicipi jamuan.
"Insyaallah takkan ada lagi gangguan jin jahat seperti yang lalu-lalu. Tapi harus ingat, sebelum tidur jangan lupa membaca doa, mohon perlindungan Allah," imbuh Ustaz Hamid.
Setelah itu beliau tidak lagi memberikan nasihat apa-apa, kecuali ada yang meminta. Takutnya yang mendengarkan jemu, malah nasihat-nasihat yang telah diberikan tak berkesan dan tidak diperhatikan lagi.
"Percuma bicara sampai berbusa-busa jika tak ada bekas manfaatnya," gumam Ustaz Hamid dalam hatinya.
"Terima kasih atas bantuannya Pak Ustaz, semoga kami tak diganggu makhluk-makhluk gaib itu," ujar Bu Windi.
"Amiiin, insyaallah aman. Percaya saja dalam diri, jangan ragu-ragu, Kalau ragu-ragu justru akan memudahkan setan ataupun iblis merasuki lagi jiwa kita yang tengah kosong karena ada rasa ragu-ragu," tutur Ustaz Hamid.
Hening untuk beberapa saat kecuali keciplak mulut yang tengah mencicipi jamuan
Lantas Bu Windi memandang Pak Muslih yang sudah selesai mencicipi camilan.
__ADS_1
"Apa kabarnya Bu Ratih, Pak Muslih?" tanya Bu Windi.
"Ahamdulillah baik Bu," timpal Pak Muslih.
"Sekali lagi saya mohon maaf kepada Pak Muslih dan keluarga atas perbuatan anak dan suami saya terhadap alamarhumah Wiwi ya Pak, habis gimana itu sudah terjadi. Kalau waktu bisa diputar ulang pasti saya akan cegah sekuat tenaga kelakuan anak saya yang keterlaluan itu," ujar Bu Windi, dia merasa perlu berulang-ulang meminta maaf kepada keluarga Pak Muslih mengingat kelakuan anaknya si Darpin dan suaminya Kades Danu yang kelewat batas.
"Insyaallah dimaafkan Bu. Hati kami sudah bersih, kami anggap peristiwa itu sebagai musibah atas kehendak Allah. Lagian mereka sudah mendapat balasan seperti yang kita ketahui tempo hari. Yang pasti ini semua harus menjadi pelajaran bagi kita semua. Iya kan Taz?" kata Pak Muslih sembari melirik Ustaz Hamid.
"Iya, iya benar Pak Muslih. Saling memaafkan lebih baik. Dan kepada kalian wahai para pemuda dan pemudi, jagalah kehormatan kalian dengan cara menjaga pandangan serta menutup aurat," tutur Ustaz Hamid lagi.
"Oya Pak Muslih terima kasih telah memaafkan. Selain itu, kebetulan Pak Muslih ke sini tadinya saya sudah titip amanat kepada Rama agar disampaikan ke Pak Muslih," kata Bu Windi.
"Amanat?"
"Iya saya telah bilang ke Rama. Tapi kini Pak Muslih ada di sini, ya akan langsung saja," kata Bu Windi lagi sembari menarik napas dalam-dalam.
"Gini Pak Muslih, kan Tanu sudah almarhum. Dia tak lagi menggarap sawah dan ladang peninggalan suami saya, sementara sawah dan ladang kan tetap harus digarap biar menghasilkan. Nah, bagaimana kalau Pak Muslih menggarap kembali ladang dan sawah saya? Katanya Rama siap membantu jika Pak Muslih bersedia mengolah sawah saya," ujar Bu Windi.
Pak Muslih belum menjawab, bahkan matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Bu Windi tersebut. Dia ingat bagaimana dia sungguh-sungguh mengarap sawah milik Kades Danu agar bisa menafkahi keluarganya, namun kemudian harus berhenti gegara ada musibah yang menimpa Wiwi.
Pak Muslih pun ingat ketika Kades Danu menagih utang bersama adiknya Tanu dan uang itu akan dibebaskan jika kasus Darpin tak berlanjut. Namun Pak Muslih dan Rama tidak mau dan Pak Muslih lebih memilih melepaskan pekerjaan yang telah digarapnya bertahun-tahun serta membayar utang lima juta atas bantuan Pak Haji Makmur.
Akan tetapi kini, pekerjaan itu ditawarkan lagi dan menjadi pertimbangan Pak Muslih, apakah diterima atau tidak? Tidak diterima, kasihan Bu Windi. Diterima ada luka yang sewaktu-waktu bisa muncul lagi.
"Ya kalau masih punya tenaga, sebaiknya ambil lagi pekerjaan itu Pak Muslih!" ujar Ustaz Hamid seolah bisa membaca pikiran Pak Muslih.
"Iya Pak, mending ambil lagi aja. Apalagi ada tenaga muda, Rama. Kasihan Bu Windi juga dan sayang kalau sawah dan ladang dibiarkan tak digarap," giliran Bi Utih yang nimbrung bicara..
__ADS_1
"Bagaimana Ram, Wat?" ujar Pak Muslih menatap kedua anaknya, Rama dan Wati yang masih berada di situ.
"Terserah Bapak saja. Kalau mau diterima ya Rama siap membantu. Kalau tidak, ya bicarakan juga sekarang karena pasti Bu Windi sangat membutuhkan jawaban sekarang juga," tutur Rama.
"Ya insyaallah kalau begitu saya siap Bu karena kini ada tenaga muda. Kalau tak ada tenaga muda saya juga pikir-pikir dulu. Bagaimana menurutmu Wat?"
Pak Muslih menyanggupi namun masih belum mendengar ucapan Wati. Bagaimanapun Wati harus bicara biar nanti tak ada masalah di kemudian hari.
"Ya bagaimana keputusan Bapak dan Kak Rama saja aku ngikutin aja, asal semua lancar tidak mengecewakan Bu Windi dan siapa pun. Iya kan Bu?"
Ternyata benar dugaan Pak Muslih bahwa anak wanitanya itu pun punya pemikiran yang layak didengar bahhkan dituruti.
"Ibu percaya kepada ayahmu Wat. Kepercayaan Ibu terhadap ayah dan ibumu dulu telah dijawab dengan kerja keras, penuh tanggung jawab. Sayang suamiku kurang menghargai sehingga Bapakmu punya utang hingga lima juta. Insyaallah dari segi kesejahteraan Ibu takkan menyia-nyiakan, sesuai dengan keringat yang dikeluarkan oragtuamu Wat," ujar Bu Windi yang membuat hati Pak Muslih dan kedua anaknya merasa lega.
Karena sudah ada keputusan Bu Windi mempersilakan kapan Pak Muslih akan mulai bekerja di sawah dan ladangnya.
"Dikontrol lagi Pak, apa yang kurang sehingga perlu dibenahi dan tentunya membutuhkan modal. Tinggal bilang saja ke aku," kata Bu Windi memperjelas tugas yang harus dilakukan oleh Pak Muslih.
"Siap, siap. Insyaallah mulai besok juga saya akan kontrol lagi ke sawah dan ladang. Tentu saya dan anak-anak mengucapkan terima kasih kepada Ibu yang telah mempercayai kami untuk menggarap sawah dan ladang milik Ibu," timpal Pak Muslih.
"Ya, baguslah kalau begitu Pak," ujar Bu Windi.
Lalu Bu Windi beranjak dari ruang tengah dan masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian sudah muncul lagi dan di tangannya ada dua amplop berisi uang.
"Nih uang untuk modal mungpung masih ada, takutnya segera kepakai. Pakai juga untuk keperluan sehari-hari Pak Muslih untuk sementara kalau lagi gak punya uang," tambah Bu Windi seraya menyodorkan amplop.
"Itu ada sepuluh juta, hitung lagi aja Pak," kata Bu Windi.
__ADS_1
Dengan tangan bergetar Pak Muslih menerima amplop itu dan kemudian dikeluarkan isinya, lalu dihitung dan benar ada sepuluh juta. Lalu amplop itu diserahkan kepada Rama agar dimasukkan ke dalam tas yang dibawa Rama. (Bersambung)