
Imas membayangkan mestinya dalam suasana gema takbir seperti ini berkumpul dengan emaknya, bahkan dulu berkumpul dengan bapaknya sebelum meninggal. Namun saat ini harus berpisah gegara Kades Danu.
Demikian pula Iis, ia membayangkan ibunya seorang diri di rumah menanti kehadiran dirinya dan ayahnya. Seketika air mata Iis menetes dan mencoba disembunyikan dari pandangan Imas.
Sementara bagi Kades Danu, gema takbir itu tak mengusik batinnya sama sekali. Ia amat benci kalimat-kalimat itu. Yang berkecamuk dalam hatinya adalah rencana jahat untuk membawa dua gadis ini sebagai tumbal.
Diam-diam Kades Danu mengeluarkan dua botol minuman yang telah dicampur serbuk untuk membius korban yang justru orang terdekat.
Yang seorang anak ART-nya, yang seorang anak orang kepercayaannya yang selama ini telah banyak membantu memperkaya dirinya terutama dalam mengolah sawah, kebun, dan ladang.
Bahkan sebagai kades, Danu amat tega mengorbankan rakyatnya sendiri. Sungguh tirani lebih tirani.
"Pak Danu, kenapa jalan ke rumahku ke sini?" tanya Imas dengan suara agak nyaring untuk menyaingi bunyi mesin mobil.
Kades Danu seketika menghentikan laju mobilnya, ditepikan agak ke sisi.
"Harap sabar dulu Imas. Kan Bapak udah bilang tadi, kita jemput dulu bapaknya Iis, Tanu, yang lagi di desa tetangga. Dia belum kembali dan menemui Bapak di rumah padahal sudah diwanti-wanti berhasil atau tidak Tanu harus menemui Bapak di rumah paling telat pukul lima sore. Sekarang jam segini belum ada kabarnya," tutur Kades Danu berdalih.
"Barangkali sekarang dia sudah tiba di rumah Bapak. Apa tidak sebaiknya kembali ke rumah Bapak?" tanya Imas.
"Atau coba kontak nomor HP Bapakku Pak, Aku sudah kontak tapi tidak aktif," kini giliran Iis yang bicara.
"Baiklah Bapak akan hubungi Ibu di rumah mungpung masih ada sinyal," kata Kades Danu lalu mengambil HP dan mengontak istrinya Bu Windi untuk meyakinkan Imas dan Iis. Dia menghidupkan loadspeaker HP-nya.
"Halo Bu, apa Tanu sudah ada di sana?"
"Belum, Pak!" timpal Bu Windi.
HP langsung saja dimatikan oleh Kades Danu meski di seberang sana terdengar Bu Windi masih mau bicara.
"Kau dengar sendiri kan Mas?" ucap Kades Danu kepada Imas dengan tatapan sinis, tampak dari lampu remang-remang di dalam mobil.
Imas dan Iis pun tak menjawab. Hatinya mulai gelisah dan ingat lagi kata-kata Rama dan Warya agar berhati-hati menghadapi Kades Danu.
Namun kenyataannya seperti telah masuk ke dalam perangkap, Imas dan Iis tak mampu berbuat apa-apa kecuali pasrah.
Kades Danu pun mulai melajukan lagi mobilnya.
__ADS_1
"Perjalanan masih jauh, kalian mohon bersabar dulu. Ini Bapak bawa minuman, kalau kalian haus dan capai minum saja ini," ujar Kades Danu sambil menyodorkan botol minuman kepada Imas dan Iis masing-masing satu botol.
Anehnya Imas dan Iis tak bisa menolak. Mungkin pengaruh kekuatan azimat yang dimiliki Kades Danu. Keduanya menerima begitu saja minuman itu dan bahkan saat itu juga meneguk minuman tersebut.
Kades Danu tersenyum bahagia melihat Imas dan Iis meminum air pemberiannya yang telah dicampur serbuk bius.
Benar saja, tak lama kemudian Imas dan Iis terkulai di jok mobil.
"Kades Danu, dilawan? Boboklah sayang. Kalau saja bukan kepentingan si Embah sebagai syarat aku mendapatkan azimat paket komplet, kalian berdua sudah kucicipi sekarang juga," gumam nakal Kades Danu.
Sejenak dia menyalakan lampu mobil agak terang, tampak kedua bibir perawan yang satu masih remajawati yang satu sudah dewasa amat menggoda berahi sang kades.
Akan tetapi dia cuma menelan ludah di tenggorokannya. Ambisi mendapatkan azimat paket komplet lebih kuat daripada sekadar mencicipi dua bunga di dalam mobilnya.
"Kalau aku nanti sudah jadi anggota dewan terhormat, udah banyak duit, jangankan cuma selusin dua lusin perawan, lebih dari itu pun takkan sulit," hibur Kades Danu.
Lalu dia mematikan lampu mobil di dalam, dan melajukan mobilnya di kegelapan malam menuju kediaman Embah Sawi.
Dia menempuh perjalanan bukan ke tempat yang melalui hutan rimba seperti yang ditempuh para penculik juga Rama cees, melainkan ke jalan lain yang banyak perkampungan sehingga tak begitu khawatir.
Satu dua kendaraan kerap berpapasan di kampung-kampung yang dilaluinya, apalagi dalam suasana malam lebaran di kampung-kampung itu tampak ramai.
Semua penghuni di tempat Embah Sawi pastinya alergi mendengar ucapan-ucapan seperti takbir itu karena mereka telah dirasuki jin jahat.
Kades Danu bingung juga belum bisa menghubungi seorang pun penghuni di tempat Embah Sawi ini.
Lalu keluar pintu mobil setelah mematikan mesinnya. Mestinya bunyi mesin mobil itu mampu mengundang kehadiran orang-orang. Entah mengapa justru tetap sepi.
Kades Danu melangkah menuju serambi rumah depan Embah Sawi, tampak orang-orang sedang bergeletakan tidur pulas. Ketika disorot baterei yang dibawanya Kades Danu melihat yang tergeletak tidur pulas di serambi itu adalah si Darpin cees.
"Mengapa mereka tertidur pulas begitu?" Pikir Kades Danu. Tak mengerti.
"Danu?" tiba-tiba terdengar suara.
Kades Danu terkejut, sambil melihat datangnya suara.
"Eh Paman Sodom? Mengapa ini ana-anak tidur pulas begini biasanya jam segini sedang jaga?" Kades Danu langsung saja menanyakan kondisi Darpin cees.
__ADS_1
"Itu sengaja, saya bikin tidur semua penghuni di sini agar tak mendengar suara-suara yang tak kami senangi," kata Sodom.
"Oh, aku mengerti Paman," ujar Kades Danu.
Danu mengerti bahwa yang dimaksud Sodom adalah suara gema takbir. Dia mafhum juga jika mereka mendengar gema takbir tentu akan menggugah hatinya dan itu akan menjadikan azimat yang dimiliknya takkan berfungsi sebagaimana mestinya lagi.
"Si Embah di mana Paman?" tanya Kades Danu.
"Mungkin beliau lagi tidur. Ada kejadian aneh di sini, Embah murka!" kata Sodom.
"Kejadian aneh?" Kades Danu tercengang.
"Ya, ada kejadian aneh tentang dua perawan yang kau bawa tempo hari."
"Maksudnya?"
"Mereka tak bisa dijadikan tumbal," ujar Sodom.
Deg!
Kades Danu lagi-lagi terkejut. Kalau tak bisa dijadikan tumbal, untuk apa menculik perawan padahal kini dia sudah membawa lagi dua perawan, tinggal satu orang lagi dan besok lusa pun dia pasti bisa mendapatkannya.
"Kok bisa?" tanya Kades Danu.
"Itulah kenyataannya Danu! Si Embah sedang memikirkan masalah ini padahal guru beliau sudah memintanya agar segera mengirim tumbal perawan sehingga ilmunya terus mengalir ke si Embah berikut kita-kita," kata Sodom.
"Oh begitu. Ya semoga saja si Embah menemukan cara untuk mengatasinya. Lagian aku sekarang sudah membawa lagi dua perawan, tuh di mobil masih muda," kata Kades Danu dengan bangganya menyebut keberhasilan membawa Imas dan Iis.
"O ya? Bagus kalau begitu. Pasti si Embah gembira kau telah berhasil mendapatkan lagi perawan. Semoga saja kali ini tidak akan gagal. Bahaya kalau gagal, segala kesaktian kita akan hilang seketika kalau persembahan tak diberikan
50-4
kepada guru si Eembah," ujar Sodom.
"Ayo ambil , masukkan ke gudang belakang dengan dua gadis lainnya!" ujar Sodom.
"Siap, tapi tolong bantu Paman. Keduanya saya bius, sebentar lagi siuman," kata Kades Danu.
__ADS_1
"Ayo!" timpal Sodom.
Lantas Kades Danu dan Sodom menghampiri mobil. Begitu membuka pintu mobil dan menyorotkan baterei ke jok belakang, Kades Danu terkejut. (Bersambung)