
Kulihat ibuku dan Bu Windi hanya saling pandang mungkin kaget, ternyata yang menjerit di rumah ini bukan hanya Bu Windi dan ibuku, tetapi juga aku.
"Ada yang berkelebat?" tanya Bu Windi.
"Iya Bu. Karenanya tak berani masuk kamarku untuk tidur dan aku kembali ke ruang tengah. Kak Toto menghampiri dan bertanya, kujelaskan apa yang terjadi," ujarku.
"Hemmm...terus?" tanya Bu Windi lagi.
"Aku bilang ke Toto tak berani tidur di kamar depan karena takutnya ada apa-apa mengingat tadi ada yang menakutkan dan pintu kamar yang sudah terbuka padahal kurasa tadi sudah ditutup. Aku duduk di ruang tengah bermaksud mau nonton TV lagi, tapi ternyata TV sudah mati padahal ketika pergi dari ruangan ini masih menyala dan Kak Toto sedang menonton," ujarku.
"O ya?" Bu Windi memandangku makin lekat mungkin kaget juga mendengar TV tiba-tiba mati tanpa ada orang yang mematikannya.
"Iya Bu. Nah, karena aku sudah ngantuk aku bermaksud ikut tidur di kamar ibuku. Kebetulan tadi aku melihat pintu kamar ibuku sedikit terbuka. Aku bergegas ke pintu kamar ibuku. Namun aku kaget karena ternyata pintu kamar ibuku sudah menutup rapat."
"Jadi, ada dua kejadian di ruang tengah ya Mas. TV tiba-tiba mati dan pintu kamar ibumu menutup sendiri?" tanya Bu Windi memperjelas omonganku.
"Iya Bu. Dua kejadian itu yang membuatku kaget dan mungkin juga Kak Toto."
"Benar aku juga kaget. Ketika mendengar jeritan Imas di ruang tamu, aku menghampiri dan bertanya. Bahkan aku sempat melihat tirai bergoyang-goyang seperti ada yang menarik-narik. Tapi mungkin itu hanya pengaruh angin dari luar karena tadi hujan cukup besar beserta angin," ujar Kak Toto membenarkan apa yang aku omongkan.
"Tidak usah kaget soal TV mati mendadak dan pintu menutup kamarku menutup rapat," kini ibuku yang berbicara.
"Maksud Bibi?" tanya Bu Windi.
"Ya, ketika tadi Bibi masuk kamar sudah sangat ngantuk hingga langsung saja merebahkan tubuh ke atas kasur, lupa menyalakan lampu yang tadinya padam. Bibi tak biasa tidur dengan lampu padam. Lupa pula menutup pintu. Tapi justru dengan lupa
60-1
pintu ditutup, tidur Bibi jadi tak lepas, antara terlelap tidur dan kesadaran pintu belum ditutup. Akhirnya Bibi memaksakan diri bangun, maksudnya mau menyalakan lampu dan menutup rapat pintu. Bibi pun menyalakan lampu, terus mendekati pintu. Tapi Bibi penasaran dengan Imas dan Toto, sedang apa mereka? Maka Bibi ke ruang tengah dan ternyata TV masih menyala. Maka Bibi matikan TV karena mengira Imas dan Toto sudah pada tidur dan lupa mematikan pesawat TV," kata ibuku panjang lebar menjelaskan pintu dan pesawat TV.
"Oh, kalau begitu Ibumu yang menutup pintu dan mematikan TV, Mas," ujar Bu Windi sembari tersenyum.
"Oh...ya pantas kalau begitu. Padahal TV masih menyala bukan lupa mematikan, tetapi kusengaja kutinggalkan dulu karena mendengar jeritan Imas, Bi," kata Kak Toto.
"Oh begitu To. Tapi, Bu. ketika aku masuk lagi ke kamarku, kepalaku mendadak pusing, dan tiba-tiba lampu kamar yang tadi telah dinyalakan mendadak padam," ujar ibuku.
__ADS_1
Aku, Kak Toto, dan Bu Windi terkesiap mendengarnya.
"Kok bisa Bi?" tanya Bu Windi.
"Itulah yang membuat Bibi heran. Lebih heran lagi ketika tiba-tiba Bibi diserang kantuk hebat dan langsung saja merebahkan diri ke kasur, tanpa menyalakan lagi lampu karena Bibi pikir mungkin bohlam lampu sudah putus karena tadi saklarnya sudah dinyalakan. Tapi menutup pintu dan menguncinya dari dalam tidak lupa, saat tidur yang kedua kalinya itulah Bibi merasa ada yang membawa ke dunia lain dan bertemu dengan sosok menakutkan yang mengaku Embah Sawi," imbuh Ibuku lagi.
"Terus kamu tidur di mana tadi Mas?" Bu Windi bertanya lagi kepadaku.
Pertanyaan yang masih mengandung kecurigaan bahwa aku dan Toto disangkanya melakukan hal tak senonoh, barangkali.
"Ya karena aku takut tidur di kamar depan dan tak bisa masuk ke kamar ibuku, aku memutuskan untuk tidur di sofa. Aku mempersilakan kalau Kak Toto mau ke kamarnya. Tapi Kak Toto
tetap menemaniku. Aku pun minta Kak Toto di sini aja, tapi dengan ancaman," kataku.
"Hah, ancaman?" tanya ibuku dan Bu Windi nyaris bersamaan.
"Ya, aku mengancam Toto jangan macam-macam," ujarku.
Tampak ibuku dan Bu Windi tersenyum.
"Benar Tante. Aku takut diancam Imas, makanya tak berani ngapa-ngapain kecuali aku harus terjaga jangan sampai tertidur, apalagi Imas tadi menjerit," kata Kak Toto.
"Ya syukurlah kalau begitu, Emak senang mendengarnya," ujar ibuku sambil mengusap-usap punggungku.
"Bener Im. Bukannya Ibu dan Emakmu menghalangi hubungan kalian atau istilahnya melarang pacaran. Silakan saja kalau memang kalian saling mencintai, Tante senang. Tapi ya itu tadi harus bisa menjaga diri, jangan sampai kebablasan. Sebab kalau kebablasan yang rugi kalian berdua," ujar Bu Windi.
Aku menyimak dengan baik-baik nasihat Bu Windi yang juga sering diucapkan oleh ibuku juga. Wajar keduanya menasihatiku seperti itu karena bukti keduanya menyayangiku dan Kak Toto.
"Iya Bu. Terima kasih nasihatnya," timpalku.
"Iya, Tante," kata Kak Toto, tampaknya dia pun sama denganku menerima dinasihati.
"Ya, sudah kalau begitu ini sudah makin malam. Tuh sudah jam setengah tiga. Ayo Bi tidur semoga tak ada mimpi buruk lagi," ajak Bu Windi kepada ibuku.
"Iya, ayo Bu. Kamu mau tidur di mana Im, kalau mau di kamar ibu, ayo!"
__ADS_1
"Udah di sini aja, nanggung sebentar lagi juga subuh," ujarku kepada ibuku.
Bu Windi dan ibuku pun lantas bangkit dan keduanya menuju kamar masing-masing akan tidur.
Aku kembali merebahkan tubuh ke atas sofa. Kantuk sudah semakin berat. Kulihat Kak Toto masih duduk di kursi dengan posisi punggungnya disandarkan rileks ke punggung kursi dan kepalanya disenderkan ke bagian atas kursi.
Tampak sekilas matanya memandang lekat ke mataku dengan tatapan aneh. Aku pun langsung memejamkan mata menjemput dunia maya. Aku percaya Kak Toto akan memegang janjinya
takkan berbuat macam-macam kepadaku. Nasihat Bu Windi barusan, kukira cukup menjadi benteng godaan setan.
Aku pun tak ingat lagi di dunia nyata, terlelap ke dunia maya. Namun anehnya aku malah membuka mata lagi dan terkejut karena telah berada di tempat asing.
Sepertinya aku berada di permakaman. Benar saja, kulihat nisan-nisan bertebaran di sekelilingku. Sedangkan cuaca tampak redup seperti akan turun hujan.
Udara terasa amat dingin sehingga tubuhku menggigil. Tiba-tiba mataku terbelalak ketika batu nisan di hadapanku bergerak-gerak seperti ada yang mendorong dari dalam.
Batu nisan itu tumbang, dan....oh Tuhan, tiba-tiba dari lubang bekas batu nisan itu keluar sebuah tangan yang sudah terputus, lalu tangan itu bererak-gerak dan menunjuk-nunjuk ke arahku.
Keruan saja aku sangat takut. Seketika aku ingin berteriak minta tolong, namun mendadak aku tak bisa bersuara. Suaraku mendadak hilang.
"Hahahaaaaa...........akhirnya kutemukan kau," tangan itu berbicara.
Aku makin takut. Selangkah demi selangkah aku mulai mundur menyelamatkan diri karena si tangan gentayangan itu terus menghampiriku seperti mau menamparku.
"Ingatkah kau kepadaku, hah?" tanya si tangan gentayangan.
Tentu saja aku tak bisa menjawabnya. Sama sekali aku tak ingat tangan siapa itu.
"Baiklah aku akan jelaskan tangan siapa ini. Aku tangan yang akan membalas kematian majikanku yang telah kau binasakan itu!" ujar si tangan gentayangan.
"Siapa kamu? Tangan siapa kamu? Aku tak merasa melukai tangan siapa pun, apalagi sampai mati!" ujarku, kini aku sudah bisa bersuara, namun untuk berteriak, anehnya tidak bisa.
"Ditanya malah balik bertanya. Dasar perempuan jahat tak kenal belas kasihan!" hardiknya.
"Nih rasakan!"
__ADS_1
Tiba-tba tangan gentayangan itu mencakar wajahku dengan sangat kuat hingga pipiku terasa robek dan seketika bercucuran darah.
"Auuuuuw......!" aku menjerit sekeras-kerasnya, tetapi tak terdengar oleh telingaku. Ya, aku menjerit tanpa ada suara. (Bersambung)