
"Ah enakan panggil Bu," ujar Toto sembari melirik Imas.
Yang dilirik kebetulan sedang menatap pemuda tampan itu. Maka terjadilah tabrakan bermagnet asmara antara Toto dan Imas.
Keduanya sontak terkejut kesetrum arus asmara yang entah berapa ribu watt. Yang pasti degup jantung keduanya bergemuruh dahsyat.
Ya, Toto diam-diam menaruh hati kepada Imas. Selain lumayan cantik, Imas juga tampak keibuan dan ada aura penyayang dan penurut.
Segitu juga cukup bagi Toto untuk menjerat asmara, menjalin kasih, merajut rindu, dalam ikatan rumah tangga.
"Boleh kan aku mencintaimu, Imas?" tanya Toto dalam hatinya.
Pandangannya menancap kuat di gadis idamannya yang sedang merapikan pakaian dan dimasukkannya ke dalam tas.
Tentu saja ulah Toto yang memandangi tiada henti wajah Imas termasuk ilegal. Artinya curi-curi pandang, gitu lho.
Meski begitu karena merasa aman, Toto malah makin anteng menatap dan mengumbar 'halu'-nya dengan menjawab sendiri pertanyaan tadi.
"Tentu boleh Kakak ganteng," gumam Toto mewakili Imas. Padahal yang diwakilinya tak tahu apa-apa. Melirik pun tidak, apa-apaan mengharap pria yang tak sebanding dengan dirinya.
Alhasil apa yang dikatakan Toto tadi, bertolak belakang dengan ucapan Imas sesungguhnya.
"Dia bukan tandinganku. Dia tampan dan anak orang kaya, sedangkan aku wajah biasa dan bukan anak orang kaya, ibuku cuma ART," begitu lirihan Imas dalam hatinya.
Bi Utih yang sedari tadi mengintai pelaku ilegal love-ing, cuma geleng-geleng kepala.
"Katanya mau membantu beres-beres, eh malah otaknya seperti enggak beres," gumam Bi Utih.
"Ayo, Imas kita pergi," ajak Bi Utih kepada Imas.
Normalnya, mendengar orang bilang seperti itu segera bangkit, merespons. Ini malah duduk terus menatap lekat wajah sang pujaan tak bosan-bosannya.
"Ayo. Itu Kak Toto, Mak!" kata Imas.
"Biarin, dia mau di sini sendiri kali," timpal Bi Utih.
"Kak, ayo pulang sudah selesai beres-beresnya!" kata Imas mendekati Toto yang masih belum berkedip.
"Eh, oh, eh, iya ya......" Toto tergagap-gagap, malu.
__ADS_1
"Kok seperti tengah melamun? Ngelamunin apa sih?" goda Imas.
"Ya ngelamunin kamu dong Imas," timpal Toto dalam hatinya.
"Ah enggak, enggak ngelamun kok," timpal Toto lalu bangkit dan segera merogoh kunci mobil dari saku celananya.
"Enggak melamun tapi mengkhayal ya Den Toto? Mengkhayal siapa sih? Mengkhayal pacarnya ya?" sindir Bi Utih.
Toto tersipu malu. Lagi melakukan ilegal love-ing ketahuan ortunya. "Tapi semoga ada restunya," gumam Toto.
Bi Utih dan Imas pun segera masuk mobil yang dibawa Toto. Sebelumnya Bi Utih mengunci rumah dan Imas tak lupa memasang tulisan di kaca rumahnya "RUMAH INI DIKONTRAKKAN". Tak lupa di bawahnya dicantumkan nomor HP.
Melihat Imas masuk ke pintu mobil di bagian tengah, Toto mencegahnya. Dia meminta Imas agar duduk di depan.
"Di sini di depan Im," rayu Toto.
"Udah di sini aja Kak, nemenin Ibu," ujar Imas.
"Ibu sudah berumur sedangkan aku belum 25 tahun, jadi aku lebih muda daripada Ibu. Makanya yang layak ditemenin ya akulah," kilah Toto membuat Bi Utih dan Imas saling pandang. Ada-ada saja kelakuan Toto.
"Ya udah di depan Im, kasihan anak kecil nanti ngadat kalau tak dituruti," celoteh Bi Utih.
"Bukan begitu juga Bu. Kalau jok mobil ini hanya di isi separo, mobil bisa berat sebelah, makanya ini harus ada yang ngisi biar ada keseimbangan," dalih Toto, ada saja akalnya.
"Ya enggak bisa Im. Masa anak nyuruh Ibu, di mana-mana juga Ibu nyuruh anaknya. Ayo sini," Toto memaksa.
Akhirnya Imas mengalah juga. Dia pindah ke jok depan berdampingan dengan Toto dan yang didampingi jadinya berbunga-bunga hatinya bisa duduk bersandingan.
"Hitung-hitung geladi resik bersanding di pelaminan lho Imas," gumam Toto dalam hatinya.
Mesin mobil pun lantas dihidupkan. Lalu melaju dengan amat pelannya. Ibaratnya si Toto lagi membawa telur yang rawan pecah kalau bersenggolan dengan benda keras.
"Kok pelan-pelan mobilnya?" tanya Imas.
"Biar lebih lama," tukas Toto, seenaknya.
Membuat Bi Utih benar-benar kesal oleh ulah anak muda yang satu ini. Sudah mah larak-lirik mata anak gadisnya seenaknya, bawa mobil pelan, nyuruh-nyuruh duduk di depan lagi.
"Dibilangin sama Bu Windi bakal tahu rasa kamu To!" gumam Bi Utih.
__ADS_1
Meskipun pelan-pelan, namun akhirnya mobil yang dikemudikan Toto sampai juga di depan rumah Bu Windi.
Bi Utih dan Imas keluar dari mobil. Bu Windi menjemputnya di ambang pintu depan. Toto membantu membawakan tas Bi Utih yang berisi pakaian dan segala macamnya.
"Ayo masuk Bi, Imas," sambut Bu Windi.
"Iya Bu, terima kasih," kata Bi Utih dan juga Imas.
"Bibi kamarnya di tempat biasa aja ya. Imas di bekas kamar Darpin. Sudah Ibu bereskan. Toto di kamar lantai dua, juga bekas kamar Darpin ya," kata Bu Windi memberi instruksi.
Imas dan Bi Utih mengangguk, tak bisa membantah titah Bu Windi karena namanya juga ikut numpang.
Ketika masih hidup kamar Darpin memang ada di lantai satu dan juga di lantai dua. Maklum anak lelaki satu-satunya. Yang disuruh diisi Imas di lantai satu berhadapan dengan ruang tamu.
***
Sesuai janji Pak Rudi ketika menghadiri pertemuan di kantor RW yang katanya akan menggelar syukuran, benar saja acara itu digelar di rumah Pak Rudi dan istrinya Bu Amih.
Acara syukuran digelar sore hari bakda asar. Dipimpin oleh Ustaz Hamid acara syukuran diisi dengan ceramah keagamaan. Tentu saja Ustaz Hamid menjelaskan makna syukuran itu seperti apa.
Adapun yang menghadirinya, selain para tokoh masyarakat juga keluarga para korban penculikan, saudara Pak Rudi dan Bu Amih, para tetangga, dan teman-teman Yati.
Bahkan Ira pun, salah seorang korban penculikan Kades Danu, dan nyaris jadi korban kebiadaban Embah Sawi, ikut hadir sesuai janjinya tempo hari ketika masih bersama-sama Yati saat akan berpisah.
Ira datang ke kediaman Yati diantar oleh kakaknya, Ganda, menggunakan sepeda motor. Keduanya ikut khidmat mengikuti acara syukuran tersebut.
Sejak mendapat telepon dari Yati bahwa dia akan mengadakan syukuran dan diharapkan Ira bisa hadir, Ira pun sangat gembira dan tanpa berpikir panjang lagi dia menyatakan kesediaannya untuk hadir.
Sebelum acara syukuran dimulai, tampak kejadian yang mengharukan ketika para gadis korban penculikan dan penyekapan itu saling berangkulan. Seolah mereka tengah bereuni, mengenang masa-mas sulit yang sangat menyakitkan.
Iis tak henti-hentnya menangis. Tampaknya dia sangat traumatis. Terkenang kembali oleh Iis bagaimana ketika di Hari Lebaran justru dia tak bisa berkumpul dengan keluarga karena justru dia bersama Imas diculik oleh Danu.
Kemudian ketika sepanjang malam lari menjauhi tempat Embah Sawi, namun kemudian kena perangkap antek Embah Sawi yang bernamaTarso dan Sukinah. Iis pun sangat terpukul ketika melihat ayahnya Tanu dibacok parang oleh si Darpin hingga tewas.
Para gadis itu menyatakan akan tetap setia menjalin persahabatan terutama dengan Ira yang bertempat tinggal jauh dari kampung halaman Yati, Wati, Imas, dan Iis.
"Jangan sungkan-sungkan kontak ya Ira atau main ke sini. Bisa ke rumah aku, ke rumah Iis, ke rumah Imas, atau ke rumah Wati," tutur Yati.
Yati pun menerangkan di mana saja rumah mereka dan menceritakan pula pertalian hubungan di antara mereka, misalnya Iis yang masih saudaranya Wati. Bahkan Yati pun menerangkan Wiwi, kakaknya Wati, teman terbaiknya yang pertama-tama menjadi korban kejahatan Darpin cees.
__ADS_1
Ira dan Ganda mendengarkan dengan baik-baik. Keduanya merasa bahagia karena diterima dengan baik oleh semua yang hadir.
Akan tetapi, ada yang mengganjal di hati Ira yaitu ketika dia melihat Triana juga ikut menghadiri acara syukuran tersebut. (Bersambung)