
Berada di satu rumah, hubungan Toto dan Imas makin lengket saja. Orang bilang lengket kayak perangko ketika zamannya surat-menyurat
Keruan saja Toto makin betah tinggal bersama tantenya padahal oleh orangtuanya disuruh segera kembali. Tapi Toto berdalih cukup meyakinkan, kasihan Tante katanya tak ada pria di rumahnya kalau ada apa-apa.
Bukan Toto namanya kalau tak banyak akal untuk memaksa orang lain, sekalipun itu orangtuanya, agar mengikuti keinginannya.
Alhasil gagallah upaya orangtuanya menyuruh Toto agar segera pulang karena katanya tantenya sekarang sudah tenang. Suami dan anaknya yang menjadi biang kerok kehancuran rumah tangganya sudah meninggal dunia dan tak perlu dikhawatirkan lagi.
Malam itu di rumah Bu Windi baru saja makan malam bersama. Ya, Bu Windi, Bi Utih, Imas, dan Toto.
"To, kapan kamu pulang orangtuamu udah neleponinTante?" tanya Bu Windi setelah makan.
"Duh Tante, nanya-nanyain lagi pulang? Biarin aja di sana juga Toto gak ada kerjaan. Kalau di sini kan bisa bantu-bantu nyapu halaman, bersihin rumput kebun di belakang rumah," kilah Toto.
Memang sedari kehadiran Toto, Bi Utih, dan Imas, mereka dengan sendirinya berinisiatif membantu pekerjaan yang sekiranya bisa dikerjakan.
Bi Utih tinggal meneruskan pekerjaannya yang dari dulu. Imas bantu-bantu ibunya, sedangkan Toto selain beres-beres dan bersih-bersih halaman rumah, serta kebun di belakang, juga merawat mobil, serta mengantar Bu Windi dengan mobil jika ada keperluan.
Jadi sejatinya Bu Windi pun sangat terbantu oleh kehadiran Toto. Apalagi Bu Windi kini harus mengurus sawah dan ladang lainnya peninggalan suaminya.
Dulu sawah dan ladang dipercayakan kepada Tanu dan Pak Muslih serta istrinya. Pak Muslih berhenti karena ada kasus yang melibatkan anak Bu Windi si Darpin yang tega menodai Wiwi anaknya Pak Muslh hingga tewas.
Bu Windi tengah berpikir mau mempekerjakan lagi Pak Muslih menggarap sawah dan ladangnya. Itu pun kalau dia mau, kalau tidak ya akan mencari yang lainnya.
Tadinya mau diserahkan kepada Inah, namun dia perempuan tentu akan berbeda dengan suaminya dulu.
Hanya saja Bu Windi berjanji, jika rumah Inah yang akan dibangun oleh Bu Windi sendiri telah selesai, dia akan memberikan modal usaha, misalnya membuka warung.
Sebab Iis sekolahnya terhenti hanya sampai SMP keburu ada kejadian penculikan. Iis harus melanjutkan pendidikan hingga SMA syukur-syukur lanjut ke perguran tinggi. Itu akan diusahakan oleh Bu Windi.
Itu jika Inah tidak bersuami lagi. Lain halnya jika bersuami lagi, maka Bu Windi tentu saja akan mundur membiayainya kecuali sekadar bantuan seperlunya.
Itu rencana Bu Windi setelah merenung dengan penuh pertimbangan matang. Dia pun harus bertanggung jawab atas perbuatan suaminya terhadap pemerintah yang telah melalaikan tugas sebagai kepala desa.
Entah harus bagaimana pertanggungjawabannya itu, Bu Windi mungkin akan berkonsultasi dulu dengan orang-orang di kantor desa.
__ADS_1
Selama ini Bu Windi aktif sebagai pengurus PKK di desanya dan itu tetap dilakukan. Dan mungkin sekarang akan lebih aktif lagi untuk menebus dosa suaminya.
Bahkan, kalau seandainya dipercaya menjadi kepala desa, Bu Windi siap maju dan berjanji akan membaktikan dirinya sepenuh hati. Sekali lagi untuk mengobati luka hati masyarakat yang telah dikhianati oleh suaminya.
Atas rencana itu, jelas Toto masih dibutuhkan keberadaannya oleh Bu Windi. Dia akan menjelaskan kepada oragtuanya bahwa Toto biar tinggal bersamanya hitung-hitung mengganti si Darpin.
Jika Toto mau, dia akan disuruh melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun Bu Windi curiga karena kerap melihat Toto sepertinya ada hasrat kepada Imas, anak Bi Utih.
Tak jarang Bu Windi melihat Toto membantu Imas menyapu, mengepel lantai, bahkan mencuci piring. Di luar itu, keduanya kerap terlibat pembicaraan dengan mesra.
"Apakah anak itu ada hati kepada Imas?" benak Bu Windi menduga-duga.
"Mungkin suatu saat aku harus menanyai keduanya, termasuk menanyai Bi Utih," pikir Bu Windi.
"Tadinya Tante tak enak sama orangtua kamu nelepon nyuruh kamu segera pulang. Tapi kalau emang Toto masih betah di sini ya syukur aja toh emang Tante butuh tenagamu. Tenang Tante takkan menyepelekan tenagamu, kalau kamu perlu apa-apa, bilang aja ya!" ujar Bu Windi.
Keruan saja Toto sangat senang. Sudah mah malas pulang karena betah setiap hari bisa ketemuan dengan sang buah hati, kini dia disuruh tinggal di sini.
"Terima kasih Tante, Toto siap membantu Tante di sini. Tante juga jangan sungkan-sungkan nyuruh dan ngingetin aku kalau ada salah," ujar Toto.
"Imas juga tolong bantu ibumu ya. Ibmu kan sudah tidak muda lagi. Ibu mungkin akan menghadapi pekerjaan yang banyak meneruskan pekerjaan Bapak, baik di rumah maupun di desa. Imas juga akan Ibu perhatikan dan kalau butuh apa-apa, bilang saja sama Ibu ya?" kata Bu Wundi kepada Imas.
"Terima kasih Bu. Ibu sangat baik, bukan hanya kepada Emakku, tetapi juga kepada aku. Semoga kebaikan ibu dibalas oleh Yang di Atas," ucap Imas dengan nada tersendat-sendat saking terharu.
"Bibi juga jangan sungkan-sungkan ya bilang ke aku kalau ada keperluan. Kita harus menjadi keluarga yang kompak, salingbantu, salingnasihati kalau ada salah-salah kata dan tingkah laku, termasuk aku kalau ada salah jangan sungkan-sungkan kalian tegur," ujar Bu Windi sungguh bijak.
"Iya, iya Bu. Bibi doakan moga rezeki Ibu tambah banyak dan berkah, sehat-sehat selalu dan panjang usia," ujar Bi Utih, juga dengan sangat penuh perasaan.
"Aamiin....!" semuanya kompak mengucapkan amin.
Usai acara makan malam dan mengobrol, Bu Windi masuk kamarnya untuk tidur, demikian pula Bi Utih.
Kini tinggal Imas dan Toto berdua. Keduanya tengah menonton acara TV yang dari tadi menyala. Suara TV itu agak keras, lalu oleh Toto dikecilkan volumenya. Entah apa maksudnya.
Tiba-tiba degup jantung Toto serasa makin kencang. Tatapannya ke TV, namun hati ke Imas yang juga sama tengah dihantui perasaan tak menentu.
__ADS_1
Di luar tiba-tiba terdengar gemuruh seperti akan turun hujan lebat. Toto melihat pintu kamar Bu Windi sudah menutup rapat. Sialnya pintu kamar Bi Utih masih sedikit terbuka.
"Sialan, kenapa tidak ditutup semuanya?" celoteh batin Toto tentang pintu kamar Bi Utih.
Tadinya jika pintu kamar Bi Utih tertutup rapat apalagi langsung tertidur, tidur pulas, Toto ingin mengajak mengobrol asyik dengan Imas.
Hujan di luar terdengar sudah turun begitu lebatnya, diiringi dengan bunyi halilintar yang menggelegar. Dalam hati Toto berkecamuk hasrat kelelakiannya terdorong situasi malam yang dingin karena hujan lebat.
"Sungguh indah kalau melakukan sesuatu," bisik hati Toto, nakal.
Lain halnya dengan Imas, justru dia merasa takut akan terjadi hal-hal yang tidak dharapkan. Takutnya Toto nekat melakukan sesuatu.
Imas paham betul jika lelaki dibiarkan diberi peluang, takkan berpikir panjang lagi bakal langsung berbuat. Tak ubahnya kucing melihat dan mencium pepes ikan, langsung santap dan main gusur.
"Mujur ibuku tak menutup pintu rapat-rapat," Imas senang.
Tak pikir panjang lagi, Imas bangkit dari tempat duduknya dan akan masuk kamarnya serta terus tidur di kamar depan sesuai petunjuk Bu Windi yaitu mengisi kamar bekas Darpin.
Tampak Toto kecewa melihat Imas bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar depan.
"Mau ke mana Im?" tanya Toto.
"Mau tidur sudah ngantuk," timpal Imas.
"Mending di sini dulu, ngobrol, bareng-bareng nonton film, yuk!" goda Toto.
"Enggak ah, sudah amat ngantuk. Kak Toto aja ya, aku tinggal," ujar Imas, seraya pergi meninggalkan Toto sendiri di ruang tengah rumah.
Toto tak bisa berbuat apa-apa. Dia juga sadar, Imas bukan wanita murahan. Ini yang membanggakannya. Kalau Imas wanita murahan, tentu ada kesempatan baik ini dia bakal mau diajak melakukan hal yang dilarang agama.
Toto pun kembali menatap layar TV meneruskan menonton. Namun tiba- tiba dia terkejut mendengar Imas menjerit histeris seperti tengah menghadapi sesuatu yang sangat menakutkan.
Ada apa? Toto bangkit, segera menghampiri Imas ke kamar depan. Belum juga dia masuk ke ruang tamu, Imas keburu datang dan menghampirinya serta langsung merangkul tubuh Toto tanpa sadar.
"Ada apa Imas?" (Bersambung)
__ADS_1