Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 54. Babi Hutan Misterius


__ADS_3

Lebih terkejut lagi Warya melihat seekor babi hutan. Rama, Pak Rudi, dan Anwar, terlihat menjauhi babi hutan itu. Seketika itu juga Warya lari mendekati kawan-kawannya.


Sementara si babi hutan tak henti-hentinya menyeruduk tubuh Darpin yang mengerang kesakitan. Usai menyeruduk Darpin, babi hutan itu lalu menyerang si Doma, si Benco, dan si Gonto, hingga mereka kewalahan menghindari amuk babi hutan bertaring runcing itu.


Sementara Rama cees, melihat babi meyerang Darpin cees, segera bertindak menyelamatkan diri dengan mengambil sepeda motor untuk meninggalkan tempat tersebut.


Mereka bersyukur diselamatkan dengan kehadiran babi hutan misterius. Rama, Pak Rudi, dan Anwar, tak melihat dengan jelas dari mana datangnya babi hutan itu.


Dia muncul begitu saja sepertinya loncat dari atas tebing yang dijadikan sandaran Warya, lalu menerjang Darpin hingga tergeletak.


Rombongan Rama seketika meninggalkan tempat itu. Bagaimana nasib Darpin cees? Bagaimana pula jenazah si Udin, si Odos, dan si Somad?


Rama tak mengetahuinya. Namun yang pasti melihat keberadaan Darpin cees merupakan kesempatan baik untuk melaporkan kepada polisi lalu ke warga bahwa jelas pembuat ulah masih si Darpin, anaknya Kades Danu.


Rama masih mengendarai sepeda motor milik Warya, Anwar membonceng Warya, dan Pak Rudi menunggangi motor miliknya. Mereka terus melanjutkan sepeda motor petang hari itu dalam kondisi fisik yang amat letih karena mereka sedang puasa, belum ada yang batal.


Tiga puluh menit kemudian mereka sudah sampai di persimpangan saat tadi bersua dengan rombongan si Udin cees. Lalu belok langsung ke kanan menuju kampung halaman mereka di Desa Mekarmulya.


Tiba-tiba Pak Rudi yang melajukan sepeda motornya paling depan menghentikan sepeda motornya.


"Alhamdulillah kita selamat, Rama, Anwar, Warya. Bagaimana kondisimu Warya?" tanya Pak Rudi.


"Ya lumayan sakit sekujur tubuh nih


Pak. Tapi alhamdulillah masih bisa bernapas dan tak ada yang terasa sakit parah," kata Warya.


"Syukurlah kalau begitu. Nah sekarang bagaimana kalau kalian semuanya langsung saja ke rumah Bapak. Biar buka puasa di rumah Bapak saja. Kalian bisa nelepon keluarga kalian dari rumah Bapak memberi tahu bahwa kalian selamat," usul Pak Rudi.


"Ya kalau gak keberatan menjamu kami, okelah Pak. Biar kita langsung bicarakan langkah selanjutnya di rumah Bapak juga," jawab Rama.


"Oke kalau begitu, mari langsung ke rumahku. Biar Bapak beri tahu dulu ibu di rumah agar menyiapkan jamuan santap takjil," kata Pak Rudi.

__ADS_1


Lalu dia memgirim chat WA kepada Bu Amih, istrinya. Dan lansung saat itu juga ada jawaban dan siap untuk menyediakan santapan takjil Pak Rudi dan kawan-kawan.


Tak berselang lama Pak Rudi dan rombongan sudah tiba di rumahnya, bersamaan dengan kumandang azan magrib.


Langsung saja mereka berbuka puasa dengan santapan takjil yang telah disediakan oleh Bu Amih dan juga Imas berupa minuman dan kolak.


Ternyata Imas menemani Bu Amih yang datang sejak sore menunggu kabar dari para pencari Wati dan Yati.


Usai takjil mereka menunaikan ibadah salat magrib dan setelahnya makan besar bersama-sama.


Bu Amih dan Imas belum berani bertanya keberadaan Yati dan Wati menunggu para pria itu duduk santai.


Sebab yang pasti, Wati dan Yati tidak ada, itu artinya para pria belum berhasil menemukan Yati dan Wati.


Setelah usai makan bersama barulah Bu Amih berani bertanya kepada suaminya tentang hasil pencarian Wati dan Yati.


"Benar keduanya kemarin sore ke kota kecamatan menjual kalung Bu, Mas. Kami telah menanyakan ke toko emasnya langsung," kata Pak Rudi.


Lalu dengan panjang lebar dan detail Pak Rudi menceritakan kronologis pencarian Yati dan Wati hingga mereka nyaris celaka saat menghadapi Darpin cees, tapi kemudian bisa menyelamatkan diri setelah si Darpin diserang babi hutan.


"Alhamdulillah kalian semua selamat walaupun Yati dan Wati belum berhasil ditemukan. Semoga langkah selanjutnya bisa menemukan Yati dan Wati," harap Bu Amih.


"Ternyata si Darpin cees masih hidup ya Pak Rudi?"


"Betul Mas. Si Darpin cees masih hidup bahkan kini mereka jadi jagoan," kata Pak Rudi.


"Saya jadi korban kebrutalan si Darpin, kaki dipelintir kini masih terasa sakit," kata Warya.


"Oh gitu Kak Warya?"


"Iya Mas. Bahkan tiga orang penculik Wati dan Yati di kota kecamatan, ketiganya tewas ditusuk belati oleh si Darpin dan si Doma. Entah bagaimana nasib jenazah ketiganya sekarang," kata Warya,

__ADS_1


"Mujur ada babi hutan yang entah dari mana datangnya. Kalau tidak datang babi hutan mungkin kami berempat bakal kena tusuk belati juga," kata Rama.


Sekitar pukul 20:30 datang Pak Haji Makmur, Pak Muslih, dan Ustaz Hamid. Mereka datang setelah menerima telepon dari anak-anaknya, kecuali Warya tak menelepon.


Kehadiran Pak Haji Makmur karena mengajak Pak Muslih. Pak Haji Makmur khawatir keselamatan putranya Warya yang tidak ada pulang dan tak ada kabar tentang kepergiannya.


Makanya dia menyambangi kediaman Pak Muslih dan oleh Pak Muslih dikabari bahwa Warya bersama Rama tengah mencari keberadaan Yati dan Wati yang tidak ada pulang sejak sore kemarin hingga saat ini. Kemudian Pak Haji Makmur mengajak Pak Muslih ke rumah Pak Rudi.


"Mari masuk Pak Haji Makmur, Pak Muslih, Ustaz Hamid," sambut Pak Rudi.


"Siap, Pak Rudi," kata Pak Haji Makmur yang kemudian duduk didampingi Ustaz Hamid dan Pak Muslih.


"Jadi bagaimana keberadaan Yati dan Wati itu Pak Rudi?" tanya Ustaz Hamid.


"Belum diketahui di mana-mananya


Pak Ustaz. Kami berempat hanya berhasil mendapati penculik keduanya di kota kecamatan. Sayang mereka tak tahu di mana Wati dan Yati disembunyikan oleh kelompok si Darpin," kata Pak Rudi.


"Benar Pak Ustaz. Tadi kami sudah bertemu Darpin diantar para penculik Wati dan Yati di sebuah tempat sekitaran hutan belantara, entah apa nama tempat itu. Namun sayang kami tak bisa menghadapi Darpin cees yang kelihatannya sangat sakti. Tiga penculik Yati dan Wati dalam waktu sekejap sudah tewas ditusuk belati," tambah Rama.


"Ini pasti ada beking kuat di belakangnya. Mujur kalian selamat, tak jadi sasaran Si Darpin," kata Ustaz Hamid.


"Ya, alhamdulillah Pak Ustaz. Kami bisa selamat karena ketika si Darpin akan menusukkan pisau ke dada saya, tiba-tiba muncul babi hutan menyerang si Darpin dan kawan-kawannya," ujar Warya.


Pak Haji Makmur sangat terkejut mendengar penuturan sang putra satu-satunya yang tetap gigih membantu keluarga Pak Muslih bahkan hingga kini masih tergila-gila oleh Wiwi yang telah tewas dinodai si Darpin cees. Padahal sang istri, Bu Hajat Tita, sangat tak suka kepada keluarga Pak Muslih.


"Syukur kamu selamat War, bapak bahagia mendengarnya," lirih Pak Haji Makmur.


"Untuk selanjutnya bagaimana rencana Pak Rudi?" tanya Pak Ustaz Hamid.


"Entahlah Pak Ustaz. Namun syukur Bapak-bapak kini berada di sini ya sekalian saja minta pendapat bagaimana langkah selanjutnya untuk menyelamatkan Wati dan Yati," balas Pak Rudi.

__ADS_1


"Baiklah Pak Rudi. Saya rasa langkah pertama kita lapor ke pengurus setempat Pak RW, juga Kades, dan terpenting ke aparat kepolisian. Langkah lainnya untuk berjaga-jaga ke depannya, saya minta Rama, Warya, dan Anwar temui saya untuk sedikit membekali kalian dengan ilmu khsus. Saya pikir, Darpin cees diberi ilmu hitam untuk menambah kesaktiannya," kata Ustaz Hamid. (Bersambung)


__ADS_2