Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 107. Tukang Bakso Penampakan


__ADS_3

"Ih, keponakan dari mana?" Imas melotot.


"Ya dari mana lagi kalau bukan dari pangeran ini," celetuk Warya sambil melirik Toto. Toto terkekeh.


"Sialan lho ah!" ledek Imas.


Namun akhirnya mereka sepakat pergi juga ke tukang bakso yang dari kejauhan sudah kelihatan, persis seperti beberapa tahun lalu.


Sebuah roda bakso beratap, di pinggirnya ada meja dan bangku kayu tempat para pembeli menyantap bakso.


Meski sudah beberapa tahun dari kejadian Imas, Yati, dan Wiwi jajan, dan Warya yang membayarnya, mereka berdua, Imas dan Yati masih ingat.


"Kalau ingat masa-masa itu, aku tersenyum ingat kebersamaan dengan Wiwi, tetapi juga ngeri ingat kebrutalan si Darpin yang saat itulah dia mulai menghancurkan kehidupan Wiwi dan kita-kita," ujar Yati seolah ingin benar-benar menumpahkan unek-unek dalam hatinya.


Dia lupa nasihat Ustaz Hamid agar jangan mengingat-ingat lagi peristiwa tersebut.


"Aku jadi penasaran, yuk cepet ke tukang bakso itu," ajak Wati.


"Seru deh pokoknya Wat. Aku goda Wiwi, dia cuma tersenyum, tentunya senyum spesial bagi sang Arjunanya," celoteh Yati, dia masih ingat ketika menyenggol lengan Wiwi berbarengan dengan Warya muncul.


Namun kemudian suasana hangat itu berubah ketika si Darpin bikin gara-gara sehingga Darpin dan Warya terlibat adu mulut dan nyaris adu jotos meski akhirnya Darpin yang lari tunggang langgang.


Mereka pun akhirnya menghampiri tukang bakso itu. Si tukang bakso melihat ada serombongan muda-mudi segera melirik dan melempar senyum kepada mereka.


Akan tetapi Yati, Imas, dan Wati sangat terkejut. Sementara Triana tak ada reaksi apa-apa karena baru melihat saat itu potongan si tukang bakso tersebut.


"Dia!" bisik Yati sambil mundur dan berbalik arah.


"Iya!" timpal Imas, juga ikut mundur mendekati Yati.


"Kok bisa ya?" kini giliran Wati yang mengemukakan pendapatnya.


Keruan saja, empat pria dan seorang wanita. Ya, Rama, Warya, Toto, dan Anwar, serta Triana tak mengerti atas sikap Yati cees.


"Ada apa Yat?" tanya Rama terheran-heran sembari mendekati kekasihnya itu.


"Dompetku terjatuh, tampaknya ketinggalan di bekas kita duduk tadi," kata Yati berbohong.


"O ya? Cepet ke sana lagi nanti kalau dilihat orang lewat diambil!" saran Rama.


"Iya, ayo!" ajak Yati.


Mereka pun bergegas kembali ke tempat semula, yaitu bangku di bawah pohon pinggir jalan.

__ADS_1


"Maaf ya, maaf semuanya!" ujar Yati kepada rekan-rekannya.


"Maaf untuk apa Yat? Ayo cari dompetnya, tuh 'kan gak ada pasti sudah ada yang ngambil," kata Rama kesal saja kepada Yati hilang dompet malah minta maaf dan maaf.


"Ini dompetnya ada," kata Yati sambil mengeluarkan dompet dari saku celana treningnya.


Keruan saja sahabatnya terutama Rama, Warya, Toto, Anwar, dan Triana tak mengerti. Sementara Imas dan Wati sudah tahu maksud Yati berbuat seolah-olah dompetnya jatuh, pastinya akan ada yang disampaikannya terkait dengan tukang bakso itu.


"Katanya jatuh di sini, kok itu ada di saku treningmu?" ujar Rama serasa dipermainkan oleh Yati.


"Aku barusan berbohong demi tukang bakso itu. Iyyyyyyyy........dia hidup lagi!" ujar Yati bergidik sambil merangkul tubuh Imas.


"Iya, iya, aku heran!" timpal Imas.


"Benar-benar tak menyangka dan kalau memang benar dia. Ini penampakan keterlaluan," imbuh Wati tak kalah seru oleh pernyataan Yati dan Imas.


Giliran Rama, Toto, Anwar, Warya, dan Triana yang cuma bisa terbengong-bengong heran.


"Ini ada apa sebenarnya? Kok bisa bicara ke mana saja sambil bergidik dan menyebut-nyebut penampakan. Udahlah jangan bicara lagi dedemit, kan kata Pak Ustaz Hamid juga jangan diingat-ingat lagi!" kata Rama kesal saja merasa dipermainkan oleh Yati, Imas, dan Wati.


"Masa Kak Rama, Warya, dan Anwar tidak ingat?" ujar Yati.


Rama, Warya, dan Anwar, hanya saling pandang belum mengerti terhadap petanyaan yang diajukan Yati.


"Ingatkah Kak Rama, Kak Warya, dan Anwar, saat Bi Inah menghadapi pria anak buah si Embah?" ujar Wati.


"Nah, benar itu!" ujar Imas.


"Ketika Bi Inah menyerang pria itu dengan menggunakan parang, lalu parang Bi Inah terlepas hanya dengan sebuah cangklong yang dipegang pria itu?" imbuh Yati.


Rama, Warya, dan Anwar mengingat-ingat lagi ketika para wanita menghadapi si Embah dan anak buahnya.


Rama ingat memang ketika itu Bi Inah dengan piawainya menyerang seorang pria berkulit hitam, bermulut tongos, berbaju hitam, dan berkupluk yang dengan jahatnya menghadapi Bi Inah.


Namun Bi Inah yang entah mengapa menjadi jagoan mencopot kupluk si pria itu dan seketika menjerit menahan rasa sakit yang tampaknya teramat sakit.


"Iya, iya aku ingat sekarang. Tapi aku lupa lagi siapa namanya," ujar Rama.


Sedangkan Warya dan Anwar saat itu tak begitu memperhatikan pertarungan antara para wanita dan Embah Sawi cees karena saat itu keduanya lebih memperhatikan Iis dan Ira di kamar penyekapan atas suruhan Rama.


"Nah, benar itu. Kak Rama ingat sekarang kan?" tanya Wati.


"Iya, tapi apa hubungannya dengan tukang bakso itu?" imbuh Rama, tetap belum mengerti.

__ADS_1


"Tukang bakso itu bukan tukang bakso yang aku beli dahulu bersama Wiwi, Imas, dan Kak Warya. Kak Warya tadi melihat enggak wajah si tukang bakso?" ujar Yati.


"Aku belum sempat melihat wajahnya keburu kaget melihat kalian dan tidak meperhatikan wajahnya, sumpah," ujar Warya.


"Ya udah kalau belum lihat. Tapi aku melihat dengan jelas wajah orang itu sebagai penampakan dari pria yang ditaklukkan oleh Bi Inah. Kami sangat hapal dengan wajah itu karena setiap hari, setiap saat, dia mengontrol kami ketika di dalam penyekapan si Embah Sawi," tutur Yati menjelaskan.


"Benar apa yang dikatakan Kak Yati. Aku tahu tukang bakso waktu dulu berbeda dengan yang sekarang. Yang dulu agak muda, yang sekarang


sudah tuaan dan wajahnya persis wajah dia," ungkap Imas sepertinya begitu yakin kalau si tukang bakso kini adalah penampakan.


"Terus sekarang mau bagaimana, apakah tidak jadi jajan baksonya?" tanya Rama kepada Yati.


"Entahlah, tapi aku sangat takut, aku enggak mau jajan bakso," ucap Yati.


"Aku jadi penasaran. Sekarang, kalian diam dulu di sini. Aku, Warya, Toto, dan Anwar akan ke sana, bisa jajan bisa cuma numpang ngobrol," kata Rama.


"Karena Warya dulu pernah jajan di sana sebaiknya yang ngomong Warya aja," usul Rama.


"Tapi tak enak kalau cuma ngajak ngobrol begitu saja mah. Ya mending sambil jajan saja," kata Warya.


"Oke" sahut Rama.


Para pria itu pun lalu pergi meninggalkan para perempuan yang tampak masih ketakutan melihat katanya ada penampakan.


Lama juga para perempuan itu menunggu kembali Rama cees. Namun setelah sekitar 30 menit berlalu, mereka kembali.


"Bagaimana?" tanya Yati buru-buru.


"Benar kan War bukan tukang bakso yang dulu kita beli?" tanya Imas.


"Benar kan dia itu penampakan pria yang tempo hari dikalahkan Bi Inah?" susul Wati.


"Ya seorang-seorang nanyanya dan tunggu jawabannya, dong! Jangan main berondong begitu!" hardik Rama.


"Iya, iya, ingat kan Kak Rama wajah pria itu sama dengan yang dikalahkan oleh Bi Inah?' tanya Wati.


"Iya sepertinya sama. Tapi sama tak mesti serupa, bisa saja itu hanya mirip," ujar Rama.


"Benar kan War bukan tukang bakso yang dulu?" tanya Imas.


"Benar, bukan. Aku masih ingat wajah tukang bakso yang dulu. Tapi samar-samar ingat pria yang dikalahkan Bi Inah hanya sekilas melihat wajahnya," tutur Warya.


"Nama tukang bakso ini Sodom," kata Anwar, dia mendengar jelas tukang bakso itu menyebut nama Sodom.

__ADS_1


"Tuh kan benar. Benar penampakan Sodom, kaki tangan Embah Sawi. Iyyyyyyy.......!" Yati bergidik lagi dan merangkul Imas. (Bersambung)


__ADS_2