Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 26. Diakui Keturunan Embah Sawi


__ADS_3

Mendengar jeritan wanita yang sepertinya menahan rasa sakit, Darpin cees terhenyak. Jantung mereka berdebar-debar. Rasa takut dan penasaran menyeruak di dada mereka. Ada apa gerangan?


"Embah sudah tuntas ritual menikmati bunga. Jeritan wanita itu simbol kepuasan si Embah atas bakti si bunga," ujar Sodom dengan wajah dingin.


"Sodooooom......!" panggil seseorang dari dalam rumah dengan suara bergema dan berat, namun cukup jelas dan tegas terdengar.


"Siap, Embah! Ada apa ya?" Sodom yang dipanggil orang dari dalam rumah itu segera bangkit dan masuk rumah.


"Bereskan dan bersihkan jangan tampak ada sesuatu yang tersisa. Cepaaaaaaat.......!" kata pria itu lagi yang terdengar jelas oleh Darpin cees dan Pak Danu.


Mereka cuma saling pandang. Tak mengetahui apa yang terjadi. Selebihnya degup jantung mereka kian kencang. Kecuali Pak Danu yang tetap tenang, dia tahu apa yang telah dilakukan si Embah yaitu mencicipi bunga sekaligus persembahan dan tentunya menghilangkan jejak.


"Kasihan," gumam hati Danu


Hari sudah pagi, mentari menampakkan diri dari sebelah timur ketika Danu dan Darpin serta kawan-kawannya dipersilakan menghadap Embah Sawi setelah sebelumnya diberi tahu oleh Sodom.


"Kau kembali Pak Danu?" tanya si Embah Sawi dengan sorot mata tajam ke arah Danu.


Darpin, Doma, Gonto, dan Benco hanya menunduk setelah sekilas sempat memandang Embah Sawi yang berperawakan gempal, janggut panjang, rambut gondrong, jemari-jemarinya penuh dengan cincin bermata batu warna-warni kecuali jempolnya yang tak dililit cincin. Beberapa gelang bahar melilit di lengannya.


"Iya, Embah. Maaf," kata Danu pelan penuh takzim.


"Siapa mereka?" taya si Embah dengan penuh curiga melihat keempat anak muda yang dibawa Danu.


"Ini anakku Embah. Dulu pernah ke sini, barangkali Embah masih ingat. Yang tiga orang kawan anak saya," terang Danu sembari menunjuk Darpin dan ketiga kawannya dengan jempolnya.


"Aku lupa lagi. Tapi biarlah itu tak penting. Mau apa mereka ke mari, Danu?"

__ADS_1


"Seperti telah dibicarakan kemarin-kemarin tentang azimat paket komplet dengan syarat 5 kuntum bunga, aku butuh bantuan orang dan kebetulan ada mereka dan siap membantu. Maka mereka aku bawa dengan harapan Embah bisa membekali ilmu dan azimat untuk memperlancar tugas mereka mendapat bunga-bunga nan indah kesukaan Embah," kata Danu panjang lebar.


Si Embah manggut-manggut sembari tangannya menjamah-jamah janggutnya yang menjuntai lebat.


"Ada pengalaman?"


"Kebetulan mereka tengah diburu aparat atas kasus pemerkosaan seorang gadis hingga tewas....." ujar Danu tanpa tedeng aling-aling, bahkan merasa bangga punya anak seorang kriminal.


"Hahahahaaaaaa......benarkah?"


"Ya, Embah. Bisa Embah tanya mereka sendiri!" balas Danu.


"Woi, anak! Coba ceritain bagaimana kamu menikmati bunga itu!"


"Ya Embah. Aku Darpin anaknya Pak Kades Danu. Ceritanya semula aku mencintai seorang gadis cantik, namun dia menolak karena sudah mempunyai kekasih pria lain, lalu dia meludahiku berkali-kali. Tak terima ditolak dan direndahkan dengan ludah, aku paksa dia melayani hasratku beramai-ramai dengan kawan-kawanku ini!" ujar Darpin begitu lancar berbicara seolah menodai wanita adalah prestasi yang patut dibanggakan.


"O, ya?" Si Embah serius menyimak omongan Darpin.


perbuatanku. Yang lebih mengesalkan, aku pun kerap dikerjai dedemit. Oleh karena tu, dengan kerendahan hati kami minta perlindungan dengan ilmu yang Embah punya dan dibekali pula azimat untuk keselamatan kami," tukas Darpin sambil menangkupkan kedua belah telapak tangannya sebagai simbol pengharapan besar.


"Hahahahaaaaa.......gue banget lu anak. Tenang, Embah akan bantu kesulitan kalian, apalagi ada kaitannya dengan misi Danu untuk mendapatkan azimat paket komplet yang diinginkannya dan kalian harus membantu."


"Terima kasih Embah yang baik hati," ujar Darpin menyanjung si Embah.


Meski belum terwujud, seketika Darpin sudah gembira bukan alang kepalang. Di benaknya sudah terbayang niat menghancurkan musuh utamanya si Warya dan kawan-kawannya. Demikian pula hantu-hantu yang suka mengganggu takkan mempan jika sudah memiliki azimat dari si Embah.


"Sodoooom........!!!" koar si Embah memanggil-manggil Sodom.

__ADS_1


Yang dipanggil belum muncul, entah sedang di mana. Mungkin belum beres membuang 'bunga' yang baru saja dinikmati Embah Sawi hingga menjerit histeris mengakhiri hidup dengan tragis.


"Sodooooom......!!!" lagi si Embah memanggil.


Yang dipanggil baru muncul dengan napas terengah-engah kecapaian. Namun dia harus segera menghadap karena sudah terdengar teriakan panggilan lagi. Itulah yang dikerjakan si Embah, jika memanggil anak buah harus segera didatangi. Kalau tidak alamat menerima siksaan superberat.


"Ya, Embah. Ada titah apa lagi?" kata Sodom, takzim.


Di hadapan si Embah, kumis tebalnya mendadak menciut kayak bulu ayam ketimpa air hujan.


"Ini ada empat anak muda. Satu di antaranya anaknya si Pak Danu. Kamu kasih ilmu anak-anak ini, kasih kalung, kasih cincin, gelang, dan kasih azimat geni anggara. Cukup untuk mereka segitu juga. Selebihnya ajari mereka bela diri jurus-jurus ampuh untuk melawan musuhnya. Anak muda ini keturunanku," kata Embah Sawi.


"Keturunan Embah?"


"Iya, mereka telah sukses menikmati bunga dan juga mempersembahkannya, persis seperti yang barusan aku lakuan terhadap bunga nan indah yang telah memuaskanku. Itu tanda keturunanku, dan langkah mereka selanjutnya untuk meneruskan jejak langkahku. Hahaaaaaaa........awas jangan gagal. Kau ngerti Sodoooooom....?"


"Ya, Embah. Aku mengerti. Aku akan beri mereka azimat sesuai petunjuk Embah dan akan diajari ilmu-ilmu gaib untuk mereka. Tadi subuh juga sudah ada isyarat ke sana ketika mereka mengantuk ingin tidur, aku bilang tak pantas jagoan ngantuk! Makanya aku janjikan aji penangkal ngantuk yang sudah tersedia pada aji geni anggara."


"Hahaaaaa.....bagus kamu Sodom. Hai sanak, sekarang kalian harus manut sama Paman Sodom. Dialah yang akan membimbing kalian. Tapi ingat, harus dibayar yaitu dengan mendatangkan bunga dan bunga sebanyak-banyaknya. Emang, aku syaratkan ke Danu untuk mendapatkan azimat paket komplet dia cukup menebus dengan syarat 5 bunga atau lima gadis. Namun jika lebih, tak mengapa aku akan senang dan senang. Hahaaaaa.......Mengerti kalian?"


"Mengerti, mengerti, terima kasih Embah. Kami siap mengikuti arahan dan bimbingan Paman Sodom," ujar Darpin mewakili teman-temannya.


"Bagus! Ingat, kalian berhasil membawa bunga ke sini. Apa yang kau miliki pemberianku maka maunatnya akan kian bertambah kuat. Sebaliknya bila gagal, lambat laun akan pudar dan bahkan......."


Raut muka Darpin dan kawan-kawannya seketika menjadi pucat, jantungnya pun berdebar-debar tak keruan.


Kata 'bahkan' yang dilontarkan si Embah sungguh memendam rahasia yang sukar ditebak. Apakah hal-hal yang ringan atau jangan-jangan kata 'bahkan' itu menyambung berupa kalimat, "Bahkan bisa membunuh kalian".

__ADS_1


Kalau benar seperti itu, sungguh menakutkan. Maka Darpin pun buru-buru bertanya.


"Bahkan apa Embah?" (Bersambung)


__ADS_2