Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 17. Baju dan Celana Jadi Bukti


__ADS_3

"Bu?" tanya Kades Danu mengulangi lagi pertanyaannya. Tampaknya tadi Bu Windi tak mendengar walaupun dekat karena sedang fokus mengerjakan sesuatu.


Namun yang ditanya tak menyahut juga. Dia masih asyik dengan pekerjaannya di dapur. Si bibi mungkin sudah beristirahat sehingga Bu Windi harus terjun ke dapur langsung.


"Bu! Dengar enggak? Ini aku suamimu, kok dicuekin?" kata Kades Danu mendekati Bu Windi. Bahkan kini dia menepuk-nepuk lengan istrinya agar dirinya tidak dibiarkan.


"Jangan sentuh aku!" baru Bu Windi mau bicara dengan nada lantang.


"Lho, kok? Sejak kapan istriku berubah haluan tak menyayangi suaminya yang pejabat dan kaya raya?" kata Kades Danu mulai bangkit emosinya karena merasa diabaikan oleh sang istri.


"Sejak kamu membohongi aku. Tahu anak lagi menghadapi masalah, entah di mana sekarang berada. Eh bapaknya enak-enakan........!" kata Bu Windi sembari melirik sinis kepada Kades Danu yang terperangah.


Ya, terperangah untuk menutupi perbuatannya yang memang apa yang dituduhkan istrinya enak-enakan itu benar adanya, dia mengaku dalam hatinya telah berselingkuh meski tak sempat berhubungan biologis.


Akan tetapi untuk berterus terang, tentu saja gengsi. Mana ada suami yang mau ketahuan selingkuh. Kalau ketahuan pun dia pasti berdalih dan berkilah alias berdusta sedusta-dustanya demi melindungi diri.


"Enak-enakan apanya?" kades Danu pura-pura beloon dengan mimik muka seperti terheran-heran.


Sementara kain sarung masih dikenakannya. Ia belum berani masuk rumah untuk sekadar berpakaian sebelum masalahnya klir dengan sang istri.


"Kamu yang melakukan ya kamu tahu sendirilah apa yang dimaksud dengan enak-enakan!" timpal Bu Windi tak kalah lantang.


"Jangan macam-macamlah aku baru pulang tanpa dibaju, kedinginan, perut lapar, tolonglah tenang dulu kita selesaikan baik-baik," kata Kades Danu mencoba menenangkan emosi sang istri.


Aslinya dia sudah tak tahan dengan angin malam yang membuatnya menggigil ditambah gatal-gatal di tubuhnya karena sejak kemarin belum mandi.


Bu Windi tak menjawab lagi. Tampaknya dia merasa kasihan juga melihat Kades Danu yang tampaknya kecapaian.


Kades Danu menutup pintu dapur. Lalu dia ke kamar mengambil handuk. Sarung milik petani ia gantungkan di dapur. Kapan-kapan ia akan mengembalikannya bahkan boleh jadi diganti dengan sarung baru.


Ia lantas mandi sejadi-jadinya karena tubuhnya sangat tak nyaman. Beres mandi ia pun berpakaian, langsung saja memburu meja makan di ruang belakang dekat dapur dan menyantap hidangan yang telah tersedia.


Tubuhnya kini mulai enakan tak lagi gatal dan perutnya pun tak lagi menjerit-jerit minta diisi.


Usai makan Kades Danu masih duduk di kursi meja makan. Rumah itu kini tampak sepi setelah Darpin kabur karena menjadi DPO.


"Aku kena musibah, Bu!" kata Kades Danu membuka pembicaraan ketika Bu Windi membereskan bekas makan suaminya.


"Musibah apa musibah?" kata Bu Windi menyindir.

__ADS_1


"Ya musibahlah. Malam kemarin ketika aku pulang dari rumah si Muslih menagih utang aku dibegal orang tak dikenal," ujar Kades Danu mulai menyusun kata-kata dustanya dengan harapan sang stri bisa percaya.


"Dibegal apa dibegal?"


Lagi-lagi Bu Windi menyindir, membuat Kades Danu terheran-heran seolah istrinya sudah mengetahui kalau Kades Danu tengah berbohong.


"Ya dibegallah!" Kades Danu cepat menukas.


"Buktinya?" tanya Bu Windi sembari tersenyum sinis.


"Buktinya ini aku pulang cuma mengenakan kolor karena celana dan bajuku dirampas begal," tandas Kades Danu mantap.


"O, ya?" Bu Windi tampak terkaget-kaget. Ironisnya malah menyunggingkan secuil senyuman sinis.


"Kok seperti tidak percaya? Kau lihat aku tadi ke sini pakai sarung. Itu sarung aku pinjam di dangau entah milik siapa."


"Kenapa gak telanjang sekalian! Biar warga tahu kalau kadesnya suka main perempuan!"


"Jaga mulutmu Bu! Aku ini ngomong serius, aku dibegal bajuku dipelorotin....."


"Dan kamu diam saja gak melawan?"


"Ya namanya menghadapi begal, bawa senjata, mengancam, mana aku mau melawan karena sama saja dengan menantang maut," ujar kades Danu tak kalah berdalih.


Deg!


Jantung Kades Danu sungguh berdegup kencang. Benarkah istrinya sudah tahu apa yang dialaminya? Dari mana dia tahu, dan apa buktinya?


"Kalau tahu aku dibegal, mengapa kamu tak menolongku?" tanya Kades Danu, tampaknya ia pun harus meladeni omongan bohong istrinya.


"Kalau tahu kamu dibegal dan aku punya keberanian melawannya, sebagai istri ya tentu akan membela sekuat tenaga. Tapi pan kamu mah gak dibegal, apalagi dipelorotin baju dan celana...."


Kades Danu makin bingung dan merasa kian tersudutkan.


"Lalu?"


"Lalu, ya baju dan celanamu itu dibuka olehmu sendiri, dan tidur di ranjang empuk menanti kehadiran wanita cantik selingkuhanmu......"


Deg!

__ADS_1


Kades Danu untuk kedua kalinya dibikin syok. Akhirnya dia terdiam.


"Kenapa diam? Merasa ulahmu terbongkar?"


"Aku sudah bilang dibegal!"


"Ya, dibegal wanita cantik, tapi dengan sukarela kamu membuka celana dan baju sendiri!"


"Jaga mulutmu!"


"Mulutmu juga jaga jangan membohongi istri. Ngomong jujur kenapa sih!"


"Ya kan aku sudah jujur, aku dibegal, celana dan bajuku dibuka, lalu aku pulang hanya memakai sarung meminjam punya petani di dangau. Harus menjelaskan apa lagi?" Kades Danu masih mencoba berkelit.


Lalu Bu Windi meninggalkan Kades Danu yang masih bermuka kusut. Tak


dinyana gegara urusan kepincut wanita iblis bisa berkepanjangan begini dan mengapa harus menimpa dirinya?


Tak lama kemudian Bu Windi kembali ke tempat Kades Danu duduk di ruang tengah. Lalu tiba-tiba menyimpan celana dan bajunya ditaruh di meja makan. Keruan saja Kades Danu terkejut bagaikan kena setrum listrik.


"Ini baju dan celana siapa?" tanya Bu Windi dengan sorot mata tajam sepertinya lagi kesetanan sehingga Kades Danu tak berani menatapnya lama-lama.


"Ini baju dan celana siapa?" sekali lagi Bu Windi bertanya, bahkan celana dan baju itu didekatkan ke mulut suaminya.


"Ayo jawab, baju dan celana siapa?"


"Baju dan celana aku....." kata Kades Danu akhirnya bicara nyaris tak terdengar saking kaget dan takut.


Namun dalam benaknya dia bertanya-tanya mengapa baju dan celananya bisa ada di sini. Padahal semalam dibuka di kamar rumah mewah yang kemudian berubah menjadi gudang.


"Kau tahu mengapa sekarang ada di sini, di tanganku. Ingin tahu alasannya?"


Kades Danu cuma termangu. Jantugnya kian dagdigdug. Kalau sudah begini tak ada kesempatan lagi untuk berdusta. Mau berdusta apa lagi kalau bukti celana dan bajunya yang kemarin dia pakai ketika akan menagih utang di Pak Muslih memang sudah ada di tangan bininya.


"Dari mana kamu dapat baju dan celanaku, kok bisa-bisanya?"


"Setiap wanita tepatnya istri yang mengetahui suaminya selingkuh dan melihat wanita madu selingkuhan suaminya, pastilah muak. Tapi tidak dengan wanita selingkuhanmu malam tadi," kata Bu Windi, membuat Kades Danu geleng-geleng kepala saking kaget.


"Sebab wanita selingkuhanmu itu telah dengan sudi menghampiriku lalu menerangkan bahwa kamu selingkuh dengannya, mengajak kencan, dan yang perlu kau tahu, ketika datang ke sini dia menyerahkan baju dan celanamu, lalu dia mengantarkannya ke mari. Cukup jelas buktinya, bukan?"

__ADS_1


Deg!


Lagi-lagi Kades Danu terkejut. (Bersambung)


__ADS_2