
"Maaf Pak Bu, kami harus membawa Bapak ke kantor sekarang juga," kata polisi.
"Lho, emang ada urusan apa?" tanya Kades Danu.
"Masih terkait dengan urusan dua gadis yang dulu, Nona Yati dan Wati, ditambah lagi sekarang dengan laporan dari warga termasuk Ibu Utih yang katanya anaknya hilang, seorang lagi anaknya pekerja Bapak? Katanya sore malam lebaran, mereka diantar Bapak pulang ke rumahnya hingga jalan raya, tetapi kenyataannya mereka tidak ada," kata seorang polisi.
"Sudah saya jelaskan tadi kepada orangtuanya bahwa kedua anak itu memang saya antarkan hanya sampai jalan raya karena pastinya mereka sudah tahu jalan pulang mereka sudah besar-besar," dalih Kades Danu.
Kini hatinya sudah degdegan, sepertinya kecurigaan polisi bakal menyudutkannya. Makanya dia berpikir keras untuk membuat alibi.
"Jam berapa Bapak mengantarkan mereka pulang dan sampai mana mengantarkannya?"
"Sudah saya katakan sampai jalan raya tepatnya di depan rumah orangtua anak ini," kata Kades Danu sambil menunjuk Rama.
"Iya jam berapa Pak?" desak polisi.
"Jam berapa ya, haduh saya lupa lagi, kalau tak salah jam tujuhan," kata Kades Danu.
"Jam tujuhan saya ada di depan rumah, Pak Danu. Saya tidak melihat ada mobil Bapak," sebut Rama.
"Saya tak parkir mobil di depan rumah kamu sekali, agak jauhan," kilah Kades Danu.
"Tadi bilangnya di depan rumah anak ini? Bagaimana?" desak polisi lagi sudah mencium ada kebohongan di alibi Kades Danu.
"Sudah nanti di kantor lebih banyak lagi bicara, ayo sekarang ke kantor, Anda kami tahan dengan tuduhan penculikan," tandas petugas.
Beberapa petugas pun menangkap dan membrogol tangan Kades Danu lalu membawanya ke kantor polisi di kota kecamatan untuk dimintai keterangan.
Kades Danu tak bisa berbuat apa-apa, saat itu juga dibawa ke kantor polisi.
Rama, Warya, Anwar, Bi Utih dan Pak Rudi masih berada di rumah Kades Danu.
Seketika Bu Windi menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, kini suaminya ditangkap polisi, sedangkan anaknya si Darpin menurut keterangan Rama tadi saat berbincang diketahui berkomplot menculik Wati dan Yati.
"Saya mohon maaf kepada kalian semua, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ulah suami dan anak saya," kata Bu Windi.
"Ibu tidak salah, pasti saya maafkan," kata Bi Utih.
"Saya berjanji akan membantu kalian untuk menangkap si Darpin dan saya tidak akan mengampuni suami saya. Dia benar-benar manusia iblis yang tak perlu dikasihani!" ujar Bu Windi sungguh keluar dari lubuk hatinya.
"Untuk itu, saya mohon Bibi temani aku di sini. Aku jamin takkan membantu suami saya kalau dia datang ke sini. Syukur-syukur kalau kalian juga mau tidur di sini, Rama, warya, dan Anwar, paling tidak untuk malam ini sebelum saya mengabari orangtua dan saudara saya," ujar Bu Windi sambil menangkupkan kedua telapak tangannya memohon bantuan.
"Bagaimana War?" tanya Rama.
"Ya bolehlah kasihan Bu Windi dan Bi Utih kalau ditinggalkan. Kecuali mungkin Pak Rudi bagaimana?" tanya Warya sambil menatap Pak Rudi.
"Ya, sebaiknya saya pulang saja. Silakan kalian bermalam di sini untuk berjaga-jaga dan akan saya kabari orangtua kalian sekaligus mengabari bahwa Kades Danu telah ditangkap polisi," ujar Pak Rudi.
"Nah bagus kalau begitu, biar yang mengabari Bi Inah bahwa Kades Danu telah ditangkap polisi saya saja Pak," jawab Rama. Seketika dia mengirim chat via WA kepada Bi Inah, ibunya Iis.
Maka Pak Rudi pun segera pamit meninggalkan rumah Kades Danu menggunakan sepeda motornya.
***
Tanu tiba di rumahnya. Inah, sang istri, segera memberondong dengan pertanyaan terutama keberadaan Iis, anaknya yang hilang bersama Imas.
__ADS_1
"Bagaimana Kang, apakah Iis ada, kok pulang sendiri?" tanya Inah, heran saja melihat wajah sang suami sepertinya tenang-tenang saja.
"Minum dulu," kata Tanu, enteng, padahal hati Inah begitu gelisah dan pikirannya tertekan.
Inah pun mengambil teh hangat untuk sang suami. Lalu disimpan di depan suaminya yang segera saja mengambil gelas lalu meminumnya.
"Bagaimana?" tanya Inah lagi dengan tatapan tajam kepada Tanu.
"Tenang Inah. Anak kita, Iis, tidak apa-apa. Dia bersama majikan kita, Pak Danu," kata Tanu, tanpa beban.
"Akang yakin, Akang melihat dengan kepala sendiri anak kita baik-baik saja, tidak apa-apa?" selidik Inah.
"Ya tidak, tapi yang ngomong kan Pak Danu majikan baik kita!" jawab Tanu.
"Baik dengkulmu!" hardik Inah, kesal, masih saja suaminya manut kepada Kades Danu.
"Jaga mulutmu, Inah! Denger ya, selain Pak Danu menyebut anak kita dalam keadaan baik-baik, uang hasil tagihan utang di malam Lebaran itu pun dikasihkan ke kita semuanya!" ujar Tanu sambil membuka dompet dan memperlihatkan sejumlah uang hasil tagihan utang.
"Makan tuh uang!" ketus Inah.
"Lho, emang kamu enggak senang suami pulang bawa uang banyak?" Tanu terkaget-kaget.
"Aku menyuruh Akang menemui Kades Danu bukan meminta uang, tetapi meminta pertanggungjawaban tentang anak kita si Iis!" ujar Inah.
"Kan saya bilang tadi Iis baik-baik aja bersama Kades Danu."
"Ya pasti bilang baik-baik saja karena dia telah menyuap kamu dengan tagihan utang dia. Pasti dia bilang Akang jangan ungkit-ungkit lagi soal Iis karena sudah dikasih duit, iya kan?"
Deg!
Karena sudah silau dengan pemberian uang, pikiran dan hati nurani Tanu sudah tertutup sehingga anak pun seolah dikorbankan.
"Nih lihat chat dari Rama," kata Inah, lalu dia memperlihatkan isi chat dari Rama yang menerangkan bahwa Kades Danu telah ditangkap polisi barusan.
Tanu benar-benar terkejut melihatnya. Tadi di rumah Kades Danu dia melihat sendiri keberadaan Rama bersama Bi Utih. Ini artinya benar bahwa Kades Danu telah ditangkap oleh polisi di kediamannya.
Seketika Inah pergi keluar rumah dengan tergopoh-gopoh.
"Mau ke mana kamu?" tanya Tanu.
"Mau ke rumah Kades Danu, mau mencari Iis. Habis kamu tak bisa diandalkan!" ujar Inah
"Ini sudah malam!" cegah Tanu.
"Tak peduli!" kata Inah.
Inah keluar rumah memburu jalan raya mencari ojek. Kebetulan ada seorang pemuda tukang ojek yang dikenalnya sedang menunggu penumpang. Inah pun naik ojek itu.
"Ke rumah Kades Danu, Tong!' kata Inah.
"Siap, Tante," kata Otong si pemuda tukang ojek itu.
Tak lama kemudian Inah sudah sampai ke rumah Kades Danu. Tiba di halaman rumah Kades Danu dan bayar ongkos ojek si Otong, Inah melangkah ke halaman dan melihat di teras ada Rama, Warya, dan Anwar.
"Assalaamualaikum," ujar Inah. Disambut jawaban salam oleh Rama cees.
__ADS_1
"Sendiri ke sini Bi?" tanya Rama.
"Iya Ram," timpal Inah.
"Di dalam ada siapa saja Ram? imbuh Inah.
"Ada Bu Windi dan Bi Utih, masuk aja, ayo!" kata Rama.
Inah pun masuk rumah Kades Danu diikuti oleh Rama cees. Tampak Bu Windi tengah berbincang dengan Bi Utih. Melihat kedatangan Inah, Bu Windi pun menyambutnya dengan terharu.
"Sini Inah, maafkan aku dan keluargaku ya telah membuat hatimu tersakiti," kata Bu Windi, lalu merangkul tubuh Inah. Isak tangis pun pecah.
"Iya Bu, jadi bagaimana cerita yang sebenarnya tentang Iis dan Imas?" tanya Inah lalu duduk di kursi yang berdampingan dengan Bi Utih.
Bu Windi pun menerangkan kembali kejadian saat Iis dan Imas ke rumahnya di sore jelang malam Lebaran dengan detail, tak ada yang terlewat, tak ada yang disembunyikan.
"Tentu Bi Utih telah menerangkan pula kepada Inah kan?" tanya Bu Windi.
Inah mengangguk.
Lalu Bu Windi pun bercerita pula bahwa suaminya Kades Danu telah dibawa ke kantor polisi sore tadi.
"Ibu tidak akan membela suami yang jelas-jelas berbuat salah, juga terhadap si Darpin yang tak jauh berbeda dengan kelakuan ayahnya," kata Bu Windi membuat lega hati Inah meski belum bisa bertemu dengan Iis.
Bagaimana keadaannya sekarang apakah benar baik-baik saja seperti dikatakan suaminya mengutip omongan Kades Danu atau sebaliknya?
"Tadi juga suamimu ke sini, dia sudah mendengar penjelasan suamiku yang sudah pasti berdusta mengatakan mengantarkan Iis dan Imas ke jalan raya sampai depan rumah Rama jam tujuhan, namun kata Rama tidak melihat mobil suamiku pada jam itu," ujar Bu Windi.
"Iya, Kang Tanu bercerita, tapi yang diceritakannya bukan itu," kata Inah.
"Lho, lalu apa yang dikatakannya?"
"Kang Tanu bilang Iis baik-baik saja dan kini berada dalam pengawasan Pak Danu. Tapi saya tidak percaya karena tidak melihat dengan mata kepala saya dendiri, makanya saya ke sini, Bu," ucap Inah.
"O ya?" Bu Windi terbeliak, apalagi Rama cees.
"Kalau Kades Danu benar mengatakan begitu, itu artinya dia benar menculik Iis dan Imas. Sebuah pengakuan yang tak bisa terbantahkan lagi," kata Rama.
"Tapi benar itu Bi?" tanya Rama terhadap tentenya atau bibinya itu.
"Benar Ram. Tapi Bibi terkejut mendegar ucapan pamanmu, katanya Iis dalam keadaan baik, sudah jangan diungkit-ungkit lagi. Begitu pesan Kades Danu pada pamanmu, Ram. Ini yang membuat keyakinan Bibi bahwa Iis diculik dan kini dalam ancaman bahaya," kata Inah.
"O ya?" Rama menatap lekat wajah bibinya seperti berharap ada keterangan lainnya tentang pamannya itu.
"Iya benar Ram. Malah Bibi makin yakin Iis diculik dan menyuruh pamanmu merahasiakannya karena pamanmu menerima sejumlah uang dari Kades Danu," ujar Inah membuat orang-orang terperangah.
"Kini semakin nyata, Kades Danu telah merencanakan perbuatan jahat terhadap Iis dan Imas. Kalau benar dikatakan baik-baik saja, mestinya dia mau menunjukkan di mana keberadaan Iis dan Imas," kata Warya.
"Ya, kini sudah makin jelas apa yang dilakukan suamiku. Seperti telah kukatakan tadi kepada kalian, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membantu kalian. Kita harus kompak, melawan kejahatan ini!" kata Bu Windi dengan penuh semangat.
"Siap!" timpal Bi Utih sambil mengacungkan tinju.
"Aku juga siap!" kata Inah.
"Sekarang Bi Inah rencananya terus ke mana? Apakah mau pulang ke rumah?" tanya Rama.
__ADS_1
"Kalau mau pulang ke rumah, biar saya antar pakai motor Warya. Kalau kami, termasuk Bi Utih akan menginap di rumah Bu Windi untuk berjaga-jaga," imbuh Rama. (Bersambung)