Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 18. Ketukan Misterius


__ADS_3

"Kurang ajar!" tiba-tiba Kades Danu bangkit dan seketika menggebrak meja dengan pukulan keras tangannya.


"Oke, oke, aku terima telah selingkuh dengan wanita lain. Lalu kamu mau apa?"


Kades Danu bangkit, harga dirinya merasa diinjak-injak iblis durjana yang telah mempermainkan dirinya. Dia semakin menggebu untuk membuat perhitungan dengan dedemit atau iblis itu.


"Aku akan melawan! Aku tak enak diperlakukan semena-mena oleh kamu. Mentang-mentang punya banyak harta, mentang-mentang punya kekuasaan. Kau sadar tidak, anak sedang bermasalah. Anak satu-satunya, bukannya sadar, ini malah dengan seenaknya selingkuh!"


"Itu urusan dia! Dia sudah dewasa, biar dia merasakan akibatnya!"


"Kamu juga harus bertanggung jawab! Kamu menurunkan darah kotor kepada si Darpin, dia tega memperkosa anak orang lain lalu membunuhnya!" kata Bu Windi berapi-api.


Dan....plak, plak, plak, plak, empat tamparan mendarat di muka Bu Windi. Ia menjerit histeris sampai-sampai si bibi terbangun dari tidurnya lalu menghampiri Bu Windi.


"Kenapa Bu? Ada apa Pak?" tanya si bibi ikut sedih.


"Diam kamu, masuk kamar!" hardik Kades Danu.


Dia benar-benar sudah kepalang basah, tak ada lagi harapan bisa berdamai dengan istrinya pun dengan penghuni rumah. Dia sudah kehilangan nalar sehatnya bahwa dia seorang pemimpin. Tampaknya ia takkan mempersoalkan lagi jabatan kadesnya. Harga drinya sudah benar-benar merasa diinjak-injak.


Yang tertanam dalam dirinya hanya ingin balas dendam kepada orang-orang yang telah mengharu biru apa yang diinginkannya. Satu-satunya harapan dia harus menemui guru spiritualnya, seperti yang telah dilakukannya ketika ingin menjadi kades hingga akhirnya dipilh oleh rakyat meski mereka sudah tahu bagaimana keseharian perilaku Danu.


Rakyat Desa Mekarmulya sejatinya sudah condong memilih Haji Makmur saat itu. Namun entah mengapa tiba-tiba justru tangan mereka seolah ada yang membimbing untuk memilih Kades Danu. Dan itu tak lain karena kesaktian azimat yang dimiliki Kades Danu pemberian guru spiritualnya yang bernama Embah Sawi.


Sekarang, Kades Danu tengah tersandung kasus perselingkuhan yang disangka wanita sungguhan namun ternyata wanita jadi-jadian atau penampakan.


Jika harus dilawan oleh versinya sendiri tentu takkan berhasil, kecuali harus dengan bantuan sang guru spiritual itu. Dia pun saat itu juga pergi dari rumah, lalu naik mobil dan segera akan menemui sang guru di suatu tempat nun jauh di lereng gunung.


Sementara Bu Windi menangis sejadi-jadinya merenungi nasib yang amat menyedihkan. Sudah pedih memikirkan si Darpin yang kabur dan entah berada di mana, kini ada masalah lagi dengan suaminya.


Bu Windi sudah berkali-kali menghubungi si Darpin untuk memberi tahu harus segera pulang dan menyerahkan diri kepada polisi. Namun, tak tersambung karena nomor anaknya sudah tidak aktif, mungkin mengganti nomor atau bagaimana.


"Sudahlah Bu, sabar. Mudah-mudahan, Bapak tak keterusan emosi dan Gan Darpin segera pulang," si bibi menghampiri sembari mengelus-elus punggung majikan perempuannya.


"Ia Bi. Mohon doa restunya semoga anak dan suami saya berbalik pikir, tidak keterusan mengikuti hawa nafsu...." timpal Bu Windi.

__ADS_1


"Aamiiiin....." sahut si bibi.


"Makasih Bi. Bapak bilang mau ke mana?" tanya Bu Windi penasaran.


"Enggak bilang mau ke mana mau ke mana, Bu."


"Oh, ya udah. Bibi jangan tinggalkan aku ya. Aku hanya seorang diri di rumah. Aku mau ke kamar, Bibi juga ke kamar. Tolong jangan lupa kunci pintu."


"Ya, Bibi akan mengunci pintu rumah dan pintu gerbang juga mungpung masih sore," ujar si bibi.


Lalu si bibi mengunci pintu-pintu rumah dari dalam setelah mengunci pintu gerbang, lalu pintu dapur. Setelah itu mengunci kamarnya sendiri dari dalam.


Si Bibi masuk kamar setelah mengunci pintu depan, pintu belakang, pintu dapur, memeriksa jendela. Lalu masuk ke kamarnya mau tidur.


Namun, matanya malah melotot, boleh jadi karena dia tadi telah tidur sore-sore bersamaan dengan kedatangan Kades Danu dan Bu Windi sedang di dapur.


Sebenarnya bukan hanya itu, dia tak bisa tidur karena kepergian Kades Danu tak bilang-bilang. Apakah akan segera kembali atau masih lama, apakah akan pulang malam ini atau besok pagi atau siang?


Di lain pihak dia pun melihat kedua majikannya tengah bersitegang. Jadi mana mungkin Bu Windi mau membuka pintu, pasti si bibi yang harus membukanya kalau majikan prianya pulang malam ini.


Langsug saja dia menarik selimut menyongsong kantuk agar segera bisa tidur.


Saat itu jam di kamar si bibi sudah menunjukkan pukul 24:00. Malam terasa sepi, hening, sehingga bebunyian makhluk malam terdengar jelas.


Tiba-tiba jantung si Bibi berdegup kencang karena sepintas terdengar ada yang mengetuk-ngetuk jendela di luar rumah.


"Tok, tok, tok......" terdengar jelas walaupun tidak keras.


"Siapa ya yang mengetuk-ngetuk jendala rumah?" gumam si bibi terheran-heran, sementara jantungnya kian berdegup kencang.


Bunyi toktoktok itu terdengar lagi namun agak pelan dan agak jauh, tampaknya di kamar majikan perempuannya.


"Maling atau siapa? Mengapa maling mengetuk-ngetuk jendela? Seperti orang yang mau bertamu?" bisik si bibi masih belum mengerti.


Si bibi bangkit dari tidur. Lalu duduk. Mengambil gelas berisi air sisa tadi minum sebelum tidur. Kini diminum lagi untuk menenangkan degup jantungnya.

__ADS_1


Bulu romanya sudah mulai berdiri, namun bunyi ketukan di jendela tak terdengar.


"Pergi sana! Ganggu orang tidur saja!" gumam si bibi dalam hati mengusir pengganggu tidurnya yang entah makhluk apa.


Pletuk, gombrang......!


Si bibi benar-benar terkejut mendengar bunyi seperti di belakang dapur ada benda jauh, mungkin itu ember bekas terkantuk kaki atau terjatuh.


Si bibi makin takut. Keruan saja kantuknya seketika hilang. Matanya terbuka lebar.


Sunyi lagi. Si bibi berharap suara pengganggu di malam itu segera pergi. Bagaimanapun dia harus segera tidur karena besok banyak pekerjaan. Belum lagi membantu menenangkan hati majikan istrinya yang lagi bersitegang dengan majikan prianya.


Dia pun lantas menarik selimut lagi, mau melanjutkan tidur semoga saja kantuk tiba dan bisa tidur nyenyak hingga subuh tanpa ada gangguan apa pun.


Namun.....pesssss....tiba-tiba lampu padam. Si bibi makin ketakutan.


"Sialan sedang gawat begini malah lampu padam. Bagaimana kalau ada orang jahat?" bisik si bibi.


"Tok, tok, tok......" pengetuk jendela itu datang lagi. Ya, di jendela kamar si bibi, persis. Keruan si bibi makin ketakutan, sekujur tubuhnya mendadak meriang saking takut.


Dia makin bingung harus berbuat apa.


"Mengapa tega-teganya meneror rumah yang dihuni dua perempuan. Beraninya sama perempuan!" gumam si bibi.


"Tok, tok, tok......" ketukan di jendela itu kini pindah lagi agak menjauh seperti mendekati kamar majikannya.


Si Bibi tak tahu apakah majikannya mendengar atau tidak ketukan dan benda jatuh tadi. Mungkin majikannya sudah tidur atau bagaimana ia tak tahu.


Yang pasti ketukan ke jendela itu terdengar lagi, bahkan kini lebih kenceng seperti orag yang mau masuk rumah dengan segera.


Si bibi lalu membaca ayat Al Quran yang dihapalnya seperti surat pendek semisal Surat Al Ikhlas (Qulhu). Hanya surat-surat yang pendek itu yang dihapalnya selain surat Al Fatihah.


Hati si bibi sedikit tenang setelah melafalkan ayat suci itu. Dan segera saja menarik selimut kembali untuk segera tidur. Sejenak melihat jam sudah pukul 01.00.


Namun, baru saja memejamkan mata, tiba-tiba terdengar lagi bunyik "Tok, tok, tok...." Bukan di jendela bagian luar. Tapi justru di pintu kamarnya. (Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2