
"Ini peringatan pertamaku.Jika kau masih melakukannya awas saja tahu rasa! Ayo Nyi, kita pulang. Biarkan wanita jahat itu merasakan sakit!" kata Nyi Ratu Mayanggeni.
"Iya, Paduka," kata penampakan Wiwi.
Sebelum pergi penampakan Wiwi mandang lekat wajah Bu Tita. Pandangan mata yang sangat menyilaukan mata Bu Tita karena mengandung cahaya nan kuat hingga Bu Tita tak mampu lagi memandangnya.
"Tol, tol, tolooooong.......!" Bu Tita berteriak sekeras-kerasnya.
"Ada apa, Bu, ada apa?" Pak Haji Makmur yang baru saja masuk kamar pribadinya terkejut mendengar istrinya beteriak minta tolong.
Bu Tita bangun. Degup jantungnya berdebar kencang. Pikirannya belum kembali kepada kesadaran penuh, masih terbawa alam yang baru saja dilalui dengan hal yang menakutkan.
Warya pun sempat terbangun karena mendengar begitu jelas teriakan ibunya. Dia bangkit mau mengetahui lebih lanjut apa yang terjadi hingga ibunya harus menjerit minta tolong.
Namun ternyata pintu kamar orangtuanya menutup rapat dan tak tampak ayahnya duduk di sofa seperti tadi. Ini artinya ayahnya sudah masuk kamar pribadinya. Dia pun tak khawatir ibunya kenapa-kenapa walaupun tetap penasaran terhadap apa yang menyebabkan ibunya harus berteriak minta tolong.
Namun sulit mendapatkannya karena pintu kamar pribadi orangtuanya telah ditutup rapat. Dia pun kembali ke kasur dan melanjutkan tidur.
***
(PoV Rama)
Kulihat jam dinding jarumnya telah menunjukkan pukul 23:00. Kumenanti kantuk segera tiba karena besok harus bangun dini hari untuk makan sahur.
Akan tetapi justru malah sebaliknya mataku tak bisa dipejamkan sama sekali. Itu tak lain karena pikiranku masih teringat akan kata-kata dan perilaku Bu Hajjah Tita tadi sepulang dari salat tarawih.
Ya, kata-kata Bu Tita yang menyuruhku menjauhi Warya anaknya, kata-katanya yang menyebut Almarhumah Wiwi sebagai arwah penasaran, dan minta dikembalikan uang yang Rp 5 juta.
Ini yang membuat hatiku sangat sakit. Kalau saja uang itu sudah ada, ingin saat tadi juga kukembalikan kepada Bu Tita walaupun aku sudah mendengar jelas dari Warya bahwa Pak Haji Makmur membebaskan uang itu untuk tidak dikembalikan.
Begini rasanya jadi orang miskin. Tadinya aku berharap bisa mengumpulkan uang untuk segera membuka warung. Kebetulan rumah orangtuaku di pinggir jalan, cukup strategis untuk membuka warung kecil-kecilan.
Selain itu, kuharap bapakku bisa bekerja di Pak Haji Makmur. Namun melihat gelagat istrinya seperti itu, aku pun tak berharap banyak.
Aku keluar dari kamar dan duduk di kursi ruang tamu seorang diri. Aku berpikir keras bagaimana caranya ingin mendapatkan uang secepatnya untuk dikembalikan kepada keluarga Pak Haji Makmur.
Aku membuka HP, melihat konten WA teman-teman. Terbaca di status WA Yati, teman Almarhumah adikku yang kini tengah menjalin hubungan kasih denganku.
__ADS_1
Yati membuat status WA, "Belum tidur ingat makan sahur" tulisnya di status WA-nya.
Aku tersenyum sendiri membaca statusnya, aku pun mencoba menanggapi statusnya itu di kolom komentar.
(Ingat makan sahur atau ingat mantan) tulisku dengan diiringi emoji tertawa lebar.
Tak lama ada jawaban dari Yati.
(Ternyata makan sahurnya masih bangun) tulisnya lagi diiringi dengan emoji tertawa lebar dan hati.
Lagi-lagi aku tersenyum. Kantuk makin jauh, pikiran rumit sedikit menyingkir.
(Iya dong kan lagi nunggu yang mau memasakin makan sahur) tulisku lagi.
(Kasihan gak ada yang memasakin, padahal mau masak makan sahur istimewa) jawabnya masih diiringi emoji hati dan senyum.
Aku pun tersenyum membacanya.
(Kenapa belum tidur Kak?) tanyanya mengalihkan topik chat.
"Butuh uang lima juta Yat. Barangkali Yati punya, pinjam dulu," bisikku dalam hati. Adapun yang ditulis:
(Kenapa masih terbuka, jawabannya pasti karena tidak tertutup) tulisnya ada 5 emoji ngakak.
Chat tidak diteruskan karena aku melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 12:00 atau jam 00:00, tak baik keterusan chat takut kebablasan padahal harus ibadah makan sahur untuk puasa besok hari.
Yati pun menerima dan mengucapkan terima kasih. Syukur ada pengertian. Aku takut saja keterusan maklum yang namanya lagi kasmaran.
Sebenarnya aku menjalin cinta kasih dengan Yati secara serius baru belakangan ini, tepatnya setelah adikku Wiwi meninggal dunia. Itu karena Yati kerap bermain ke rumah mungkin menghibur keluargaku terutama Wati yang kerap murung hingga akhirnya Wati pun diajak Yati ikut bekerja di pabrik.
Ketika Yati bertandang ke rumah, Wati sepertinya sengaja membiarkan kami berdua mengobrol di ruang tamu. Itu menunjukkan Wati setuju kalau aku berjodoh dengannya. Pun kedua orangtuaku, tampak senang.
"Aku masih teringat kebaikan-kebaikan Almarhumah," kata Yati suatu saat ketika bertandang ke rumahku.
"Terima kasih masih mengingat-ingat kebaikan adikku yang terbaik," timpalku.
"Moga aja jalinan kekeluargaan kita tetap erat meski sudah tak ada Almarhumah ya Kak Rama," kata Yati membuatku terharu.
__ADS_1
"Iya, masa iya harus terputus, apalagi kita sekampung, se-RW," kataku.
"Ya iyalah apalagi kalian berdua tampak lengket kayak perangko. Aku seneng deh," tiba--tiba Wati muncul membawa jamuan air dan kue.
Aku dan Yati cuma saling pandang. Wajah Yati tampak memerah, tersipu.
"Aamiin...." aku mengaminkan kata-kata adikku Wati.
Sejak saat itu kami pun terus menjalin hubungan dan berjanji secepatnya aku akan mendatangi orangtuanya untuk meminta restu melalui lamaran sebelum ke jenjang pertikahan. Semoga saja terlaksana.
Tak terasa aku duduk di sofa sudah pukul 1 dini hari. Aku tidur di ruang tamu saja di atas tikar tak khawatir kesiangan makan sahur karena anak-anak Irma yang telah kuamanati untuk membangunkan sahur akan terdengar.
Aku pun segera tidur dengan pulas setelah mencoba menyingkirkan perasaan sedih hati mengingat perilaku Bu Hajjah Tita.
Tak lama kemudian aku terbangun langsung melihat jam, sudah pukul 03:00.
Hah? Pukul 03:00, kok tak terdengar anak-anak Irma membangunkan makan sahur. Padahal aku tadi telah pesankan mulai membangunkan warga jam 2 atau jam setengah tiga dini hari. Tapi sudah jam 3 belum terdengar.
Atau tak terdengar karena aku sedang tidur pulas? Mustahil, tetabuhan yang mereka gunakan cukup ramai dan nyaring.
Aku penasaran terhadap anak-anak Irma mengapa sampai tidak membangunkan makan sahur, padahal mereka tidur di masjid.
Aku pun segera keluar rumah untuk menengok ke masjid yang merupakan tanggung jawab sebagai pembina Irma. Aku mengambil lampu senter. Di dapur kudengar Ibu dan Wati sudah mulai memasak.
Aku berjalan menuju masjid. Di setiap rumah sudah terdengar ibu-ibu sedang memasak, namun ada pula yang tampak sepi mungkin belum bangun.
"Sahur, sahur, sahuur.....!" teriakku di depan rumah warga yang tampak sepi sambil terus berjalan menuju masjid.
Aku bergegas mengayun langkah ingin segera sampai ke masjid karena begitu penasaran mengapa si Boim cees tak membangunkan waga makan sahur seperti yang telah direncanakan semula.
Ketika langkahku medekati rumah Pak Haji Makmur, langkahku terhenti karena melihat dua sosok manusia tengah mengendap-endap mau memasuki teras rumah Pak Haji Makmur.
Aku mundur dan menuju tempat gelap di balik pohon rambutan. Mataku terus mengawasi dua sosok itu yang tampaknya akan melakukan kejahatan di rumah Pak Haji Makmur.
Pantas saja dua orang itu megendap-endap ke teras rumah Pak Haji Makmur karena di teras ada sepeda motor tanpa penutup apa pun. Mungkin itu sepeda motor Pak Haji Makmur yang lupa dimasukkan ke dalam rumah.
Kedua orang yang tak kuragukan lagi sebagai maling itu tampak sudah memasuki teras. Aku terus mengawasinya. Keduanya benar saja mendekati sepeda motor dan memegangi stang.
__ADS_1
Aku melangkah dengan tak hirau tempat yang akan dipijak. Sial, kakiku terantuk bambu yang bersender di pohon dan menimbulkan bunyi "gloprak".
Aku mundur lagi, dua orang itu tampak terkejut dan melihat-lihat ke arahku.(Bersambung)