
"Kita berhenti di sini, ya?" kataku.
"Terserah Kakak aja," ucapnya lembut.
Kupandangi wajah manisnya, bola matanya yang teduh, kulitnya yang kuning langsat, bulu matanya yang lentik, dagunya yang indah membuatku terpesona pada gadis bernama Wiwi yang saat itu tengah mengenyam pendidikan di SMP.
Aku pun menyetandarkan sepeda motor di pinggir jalan, lalu mengajak Wiwi duduk di atas batu di bawah sebuah pohon rindang. Semilir angin di area persawahan itu meninabobokan kami dengan amat romantis.
"Bagaimana pelajaran di sekolahnya?" kataku membuka perbincangan karena tampak Wiwi bungkam saja sepertinya tak ada sesuatu yang bisa diucapkan, atau boleh jadi canggung tak tahu apa yang harus dikatakannya dalam suasana seperti itu.
"Pelajaran apa?" bisiknya, lembut.
Namun pandangannya jauh ke depan, seolah ia berkata ngapain tanya-tanya pelajaran sekolah emang guru atau apa. Dalam situasi romantis begini, janganlah bicara pelajaran. Mungkin, mungkin, seperti itu yang ada di benak gadis manis dengan senyuman nan indah itu.
"Yaaa.....pelajaran apa aja, misalnya Matematika, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Biologi, Sejarah, dan....." kataku hampir saja menyebutkan semua mata pelajaran sekolah.
"Ah biasa-biasa aja Kak," ujarnya.
"Kok biasa-biasa saja?"
"Ya harus bagaimana lagi Kak. Emang sih mimpi mah sama seperti orang lain ingin melanjutkan pendidikan ke SMA, lalu ke perguruan tinggi. Namun apa daya keadaan ekonomi keluarga tak memungkinkan. Bapak dan ibuku hanya menggarap sawah orang di Kades Danu, sementara kakak dan adikku juga harus dibiayai. Ya...sudahlah. Tapi moga-moga SMA bisa kesampaian dan sesudah itu, mau kerja aja di parik seperti orang lain....." kata Wiwi curhat.
Aku serius menyimak kata demi kata yang diucapkan Wiwi. Aku bisa menyimpulkan sejatinya dia mempunyai cita-cita yang tinggi seperti para pelajar lainnya. Namun terhalang keadaan ekonomi sehingga mengubur dalam-dalam impiannya.
Saat itu terbetik dalam pikiranku untuk membantunya agar bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Andai misalnya aku bisa berjodoh dengannya dan aku bekerja serta Wiwi masih ingin kuliah, aku akan mengizinkannya kuliah toh banyak mahasiswi atau mahasiswa yang kuliah dengan status sudah menikah.
Aku pun memahami mengapa dia mengatakan biasa-biasa saja terhadap pelajaran di sekolahnya, itu tak lain karena boleh jadi dia sadar diri takkan mampu meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
"Ya jangan begitu dong, sayang. Setiap pelajaran harus dibuat istimewa biar dapat nilai bagus."
"Meski takkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?"
"Ya iyalah siapa tahu ada rezekinya. Kan ada peribahasa kuda lari dapat dikejar, nasib orang siapa tahu," ujarku sembari menatapnya lekat dan tersenyum. Dia membalas dengan senyuman pula.
Semoga saja kata-kataku barusan menjadi penyemangat untuk lebih giat belajar dan menyukai setiap mata pelajaran menjadi luar biasa, tak sekadar dipandang biasa saja.
"Ya emang sih semua pelajaran juga menurutku sama saja, sama penting, sama juga mengesalkan," katanya, seolah mengetahui apa yang tengah terlintas di pikiranku.
__ADS_1
"O ya?"
"Iya Kak. Apa yang diajarkan di sekolah pastinya penting untuk masa depan anak didik walaupun dalam proses belajarnya terkadang mengesalkan, misalnya karena gurunya galak, pelajarannya sulit, banyak PR, harus ulangan atau ujian......" tuturnya lagi.
"Ya itu wajar, sayang. Namanya juga belajar. Kita di sekolah ditempa agar menjadi manusia," ucapku menimpali.
"Emang aku bukan manusia?" tanyanya memandang tajam ke wajahku.
"Ya manusia lah. Tapi pan manusia itu ada yang tahu ada yang tidak, ada yang bisa ada yang tidak. Nah manusia yang tahu di antaranya karena manusia itu belajar, sekolah, berpendidikan. Contoh entengnya, kamu pasti tahu soal-soal Matematika karena diajarkan di sekolah, tapi teman kamu yang tidak sekolah pastinya tidak akan tahu Matematika karena tak sekolah," ujarku lagi.
"Mumet, ah," lirihnya memalingkan muka.
"Ya udah kita akhiri aja bicara tentang pelajaran. Selebihnya kalau ada PR pelajaran yang berat-berat dan tak mampu mengerjakannya, jangan sungkan-sungkan minta bantuan Kakak."
Dia menatap lekat wajahku, senyuman tersungging di bibir sensualnya. Semoga suatu saat nanti jika berjodoh aku bisa ******* bibir itu. Semoga.
"Bagaimana mau nggak diajari Kakak?"
"Siapa tak mau diajari guru ganteng," ucapnya lembut, membuat hatiku berbunga-bunga.
"Siapa tak mau memberikan les kepada murid cantik," ucapku.
"Tapi aku tak punya uang untuk bayar lesnya, Kak?"
"Gak usah khawatir, bayar aja dengan senyuman indahmu."
"Gombal!" celetuknya sambil memukul pahaku.
"Auw, gak sakit," teriakku.
Kami pun larut dalam sensasi romantis yang amat berkesan. Semoga saja benih-benih cinta ini kian tumbuh mekar dan berbuah kebahagiaan.
"Iya kan kamu cantik?" godaku, kini berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dari masalah pelajaran ke hal yang lebih romantis.
"Ya iyalah kan aku perempuan," katanya lembut. Jemarinya mempermainkan ujung bajunya.
"Iya sih cantik itu ada di perempuan, tapi tidak semua perempuan cantik dan kamu salah satu perempuan yang paling cantik......"
__ADS_1
"Gombal lagi gombal lagi, ih Kakak!' sebutnya kini sambil mencubit pahaku.
"Aduh, sakit, ih." teriakku pura-pura meringis kesakitan.
"Mau lagi?" tantangnya.
"Maulah, tapi....jangan dicubit pakai tangan...."
"Lantas pakai apa?"
"Pakai ini," ujarku menunjuk bibir sensualnya.
"Ih, Kakak nakal, nakal banget. Ayo pulang, ah!" katanya sembari memukuli lenganku dan berdiri seolah akan pergi, namun buru-buru ia duduk kembali.
"Canda dong, jangan diambil hati ya. Kakak takkan mengganggu kamu dengan yang aneh-aneh. Terus terang Kakak sangat mencintai Wiwi, bukan hanya mencintai karena kecantikan Wiwi, namun karena kepribadian Wiwi..." aku bicara serius.
"Tapi, tapi, tapi, apakah Kakak takkan menyesal kelak punya istri yang cuma anak petani. Orangtuaku miskin, aku pun tak berpendidikan tinggi meski aku punya cita-cita ke arah sana. Apakah orangtua Kakak, Pak Haji Makmur dan Ibu Tita, akan merestui jika Kakak meminang aku," tutur Wiwi dengan suara pelan membuatku terharu.
"Jangan pikirkan tentang itu sayang. Cinta sejati adalah ketulusan kedua belah pihak untuk saling menyayangi dalam kondisi dan situasi bagaimana pun. Ayo sekarang kita ikrar janji bahwa kita akan senantiasa setia dan saling mencintai. Bagaimana?" tanyaku.
Wiwi hanya menunduk. Lagi-lagi jemari lentiknya mempermainkan ujung bajunya.
"Bagaimana? Apakah Wiwi bersedia untuk terus setia terhadap Kakak? Kalau Kakak sih berjanji akan tetap setia kepada Wiwi. Hanya Wiwilah wanita yang akan Kakak jadikan pendamping hidup untuk selama-lamanya......" tuturku.
"Bagaimana?" tanyaku mengulangi lagi pertanyaan.
"Ya, Kak," ujarnya pendek.
Dengan kata-katanya itu aku merasa sudah tak perlu lagi bertanya ulang. Kini, tinggal aku menjaga diri agar jangan sampai tergoda perempuan lain dan berjanji akan tetap setia kepadanya.
Sejak saat itu kami pun terus merajut kasih dan menjaganya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan. Namun dalam praktiknya, tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada saja godaannya.
Di kampus misalnya banyak cewek cantik yang PDKT dengan berbagai cara terhadapku. Namun alhamdulillah aku bisa menjaga diri.
Sementara Wiwi aku tahu dia kerap diganggu si Darpin, anak Kades Danu. Perilakunya yang kerap mengganggu Wiwi membuatku kesal. Namu aku percaya pada Wiwi, dia akan tetap setia.
Ketika saat itu mendengar Wiwi masuk SMA dan aku melanjutkan kuliah di kota, aku gembira mendengarnya. Apalagi saat dia telah tamat SMA. Aku pun sangat gembira dan bahagia tentunya. (Bersambung)
__ADS_1