Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 43. (PoV Rama) - Ketiduran


__ADS_3

Namun keduanya tak beranjak, mungkin mengira kucing atau apa yang melabrak bambu itu, padahal jelas-jelas kakiku. Kuraih sepotong bambu sepanjang sekitar 1 meter itu, akan kugunakan untuk memukul bangsat tersebut.


Kedua pencuri tampaknya tak terganggu dengan bunyi bambu tadi. Mereka dengan cepat membuka kunci motor tentunya dengan kunci palsu atau barang apa pun yang bisa digunakan membuka kunci motor.


Sepeda motor berhasil ditarik mundur. Namun, sebelum berhasil membawanya kabur, aku segera lompat sambil berteriak.


"Maliiiing....maliiiing.....maliiing tangkaaaaap....!" ujarku sembari memukulkan potongan bambu kepada salah seorang pencuri.


"Aduh!" teriaknya, namun dia masih bisa bangun lagi dan lari menyusul rekannya.


Aku pun berteriak lagi, "Maliiing, maliiiing, tangkaaap, kejaaaar.......!" teriakku.


Seketika beberapa warga yang bedekatan dengan rumah Pak Haji Makmur keluar rumah. Termasuk Pak Haji Makmur, Bu Tita, dan Warya keluar rumah.


Melihat aku memegang bambu, Pak Haji Makmur menghampiriku.


"Ada apa Rama? Kok pegang bambu?" tanyanya.


"Tadi aku mau ke masjid Pak Haji, tiba-tiba melihat dua orang yang mengincar motor ini," kataku.


"Duh, ia lupa semalam lupa memasukkan sepeda motor," kata Pak Haji Makmur.


Bu Tita tampak hanya terdiam, tak mengatakan sesuatu pun. Warya menoleh dan menghampiriku.


"Untung ada Kak Rama. Malingnya ke mana Kak?" tanya Warya.


"Lari ke sebelah sana, War," kataku pendek.


"Kuncinya sudah berhasil dibuka. Bangsat sialan. Tahu ini Bulan Suci, masih saja mau mencuri," kata Pak Haji Makmur seraya memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah.


"Yah namanya maling tak hitung-hitungan Bulan Suci atau bulan biasa, kalau ada barang yang dincar dan memungkin ya diambil," kataku.


"Iya Ram. Makasih ya, sudah bantuin memergoki maling," kata Pak Haji Makmur.


"Iya Pak sama-sama. Besok-besok jangan sampai lupa masukan motornya ke dalam rumah Pak biar aman," kataku.


"Iya, iya Ram. Sini masuk rumah dulu makan sahur bersama di sini," ajak Pak Haji.


"Makasih Pak. Kapan-kapan aja. Ini mau ke masjid ada keperluan sebentar," kataku.


Warya menghampiri. Sementara Pak Haji dan Bu Tita yang tak berkata apa pun sudah masuk rumah. Beberapa warga yang tadi menghampiri pun sudah bubar.


"Ada apa Kak ke masjid?" tanya Warya.


"Ini si Boim cees kenapa gak ada ngebangunin warga makan sahur. Warya tadi dengar gak ada anak-anak Irma ngebangunin sahur?" tanyaku

__ADS_1


"Justru aku juga menunggu-nunggu. Aku bangun sejak pukul 02:00 sampai sekarang belum tidur lagi. Tapi tak mendengar anak-anak ngebangunin makan sahur," kata Warya.


Aku makin curiga. Dan permisi ke Warya akan menengok anak-anak ke masjid.


"Kalau begitu, aku akan tengok anak-anak ke masjid, mari War pemisi," kataku.


"Aku ikut Kak," kata Warya.


Aku dan Waya gegas ke masjid. Di setiap rumah tampak terdengar kesibukan makan sahur, ada pula yang masih terdengar sibuk masak di dapur.


Kulihat jam di HP sudah hampir jam 4 pagi, aku belum sahur, tak mengapa justru sahur di akhir waktu mendekati imsak adalah contoh Rasulullah.


Ketika mendekati masjid di sana tampak ada Anwar.


"Kok udah pada ke masjid. ada apa?" tanya Anwar.


Aku pun menerangkan apa alasannya.


"Ayo kita lihat ke dalam Kak," kata Anwar, seraya membuka pintu masjid. Dan tampak si Boim cees masih tengkurap tidur saling berdekapan. Di tangannya masih dipegang HP.


"Sialan pantas saja keriduran, tidur di masjid bawa HP lagi," kataku, sudah kuduga mereka asyik bermain game dengan HP-nya itu.


"Ck, ck, ck........" Warya dan Awar berdecak.


"Kirain gak ada yang tidur di masjid, Kak," kata Anwar.


"Bangun, bangun, bangun, sahuuuuur!" kataku sambil mengguncang-guncang tubuh anak-anak tak tahu malu itu.


"Apa, apa, apa? Ampun, jangan dipukul, ampuuuun......!" kata Boim seperti ketakutan.


"SIapa yang mau pukul? Bangun, makan sahur, mau puasa enggak?" kataku.


"Oh, Kak Rama, Kak Warya, Kak Anwar....duh maaf ketiduran gak bisa ngebangunin sahur..." kata Boim cengengesan.


"Ayo cepat pulang, makan sahur!" kataku


Mereka pun buru-buru pulang menuju rumahnya masing-masing. Aku pun demikian segera pulang karena untuk makan sahur hanya tersisa waktu sekitar 20 menit lagi.


Usai makan sahur aku bergegas ke masjid lagi untuk salat subuh berjemaah. Lalu kembali ke rumah, tak sempat mengikuti acara pengajian yang digelar bakda salat subuh karena pikiranku kembali kacau mengingat kata-kata Bu Tita tentang uang Rp 5 juta.


Aku berpikir keras untuk mendapatkan uang itu. Apakah memberanikan diri pinjam ke orang tua kekasihku, Yati, karena orangtuanya meski tak tergolong orang kaya, namun kehidupan ekonominya tak buruk-buruk amat.


Akan tetapi, ketika dipikir lagi, di mana harga diriku sebagai lelaki yang belum menikah sudah merepotkan calon mertua, bagaimana kalau sudah menikah? Aku pun segera mengurungkan niat itu.


Sedang tertunduk di kursi sambil mengurut-urut kening, dan meggaruk-garuk kepala yang tak gatal, tiba-tiba adikku Wati menghampiri.

__ADS_1


"Kenapa Kak Rama?" tanyanya, duduk di hadapanku.


"Ada masalah dengan Kak Yati?" susulnya.


Aku geleng kepala.


"Lalu kenapa pagi-pagi begini sudah mengurut dahi garuk kepala? Mustahil kalau tak ada masalah!" sebut adikku lagi.


Pada satu sisi aku bangga adikku ada perhatian, di satu sisi aku ragu kalaupun harus dibicarakan masalahku tak mungkin dia bisa membantu karena ini menyangkut uang. Dari mana dia dapat uang.


"Iya, Wat," kataku pendek.


"Ada masalah?"


Aku mengangguk


"Kak Rama, kita bersaudara, kita satu kesatuan dalam keluarga. Ayolah katakan masalah apa yang tengah jadi pikiran Kakak. Mari kita pecahkan bersama demi keutuhan keluarga kita," kata Wati membuat aku terharu dengan adikku.


Wati memang berbeda dengan kakaknya Almarhumah Wiwi yang


sangat kalem dan jarang berbicara kecuali hal-hal yang penting. Itulah mengapa banyak pemuda yang mengatakan tertarik kepada Wiwi karena sifatnya yang kalem.


Adapun Wati kebalikannya, kalau bicara lantang. Jika ada masalah yang membikin hatinya tersinggung, tak sungkan-sungkan bicara terus terang, blak-blakan.


"Eggak usah Wat. Biar masalah ini jadi pikiran Kakak. Insyaallah Kakak bisa mengatasi sendiri," kataku tak ingin melibatkan Wati.


"Kakak jangan bohong. Ini bulan Puasa lho. Tak mungkin sepagi ini sudah merenung tak keruan kalau tak memikirkan masalah berat. Ayo katakan, apa masalahnya. Katakan kalau Kakak ingin diakui sebagai Kakakku!" teriak Wati dengan nyaringnya.


Tiba-tiba bapak muncul.


"Ada apa kalian pagi-pagi sudah bertengkar?" tanya bapak, lalu ikut duduk bersama aku dan Wati.


"Kami tidak sedang bertengkar lho Pak," kataku.


"Lalu mengapa Wati berteriak-teriak kalau tak lagi bertengkar?" tanya bapak degan wajah sayu.


"Kalian jangan suka bertengkar. Bapak sedih kalau anak-anak bapak bertengkar. Bapak sudah sedih ditinggalkan Wiwi, kalian jangan bikin persoalan lagi. Kalian harus kompak harus saling bantu, harus saling sayangi," nasihat bapak panjang lebar.


Aku tak menyangka persoalan ini akan menarik perhatian adikku dan bapakku. Tahu bakal begni, tadi aku langsung saja tidur lagi usai pulang dari masjid. Kini sudah telanjur, namun aku bingung harus bagaimana.


"Kami tak sedang bertengkar, Pak," kataku sekali lagi menjelaskan karena tampak wajah bapak seperti kesal.


"Kalau tak sedang betengkar kenapa kalian seperti bicara saling bantah-bantahan?" kini ibu yang bicara, tampaknya dia mendengar juga.


Ibu pun lantas duduk di kursi bersama kami.

__ADS_1


"Benar seperti yang bapakmu katakan, Rama, Wati, kalian berdua harus kompak, harus saling menyayangi, harus saling tolong, harus maju, jangan bertengkar. Adik dan kakakmu, Wiwi, takkan tenang di alam sana kalau kalian bertengkar," kata Ibu. (Bersambung)


__ADS_2