
Dengan hati kesal akhirnya Tanu permisi dan kapan-kapan katanya akan datang lagi. Syukur-syukur ada kabar dari Bu Windi jika suaminya sudah tiba di rumah.
"Kalau Bapak sudah ada tolong kabari saya via WA, ya Bu!" kata Tanu.
"Pasti Tan. Ibu ikut prihatin, semoga Iis tak kenapa-kenapa," sahut Bu Windi.
Tanu pun pamit dan di jalan langsung memanggil lagi tukang ojek yang kebetulan lewat.
Saat naik ojek, pikiran Tanu melayang ke mana-mana, mengira-ngira siapa yang punya ulah. Dia lantas ingat beberapa waktu lalu Rama mendatanginya dan meminjam uang tapi tak dikasih.
"Bisa jadi ini perbuatan si Rama, balas dendam ke aku gegara tak dikasih pinjaman uang," pikir Tanu.
Dia pun ingat pada kebaikan Kades Danu. Boleh jadi benar Imas dan Iis diantar pulang ke rumah karena mustahil Kades Danu akan berkhianat kepadanya dengan menculik Iis padahal dia sudah bekerja mati-matian di Kades Danu sampai semalam menunggu yang bayar utang hingga tengah malam atau dini hari.
"Yakin, ini perbuatan si Rama," gumam Tanu.
Di hari nan fitri ini Tanu malah membakar amarah sejadi-jadinya, kepada saudaranya sekalipun.
Tanu pun langsung ke rumah Pak Muslih, tidak ke rumahnya sendiri padahal tengah dinanti-nanti sang istri.
Dia ingin segera meluapkan amarahnya kepada Rama karena sudah begitu yakin pastilah Rama yang berbuat ulah.
Begitu tiba, dia mengucapkan salam alakadarya dengan mimik muka yang masam. Apalagi di ruang tamu terlihat Rama, Pak Muslih, Bu Ratih, seorang wanita yang lupa lagi namanya karena jarang bersua tapi dia tahu wanita itu saudaranya Bu Ratih, dan seorang gadis yang membuat Tanu terpana.
"Mana istrimu Tanu?" kata Pak Muslih melihat Tanu hanya datang sendiri tanpa istri dan anak gadisnya, Iis.
Tentu saja Pak Muslih menyangka kehadiran Tanu ke rumahnya untuk bersilaturahmi karena ini pas hari Lebaran. Makanya dia kaget megapa hanya datang Tanu sendiri, tanpa anak dan istrinya.
"Udah Kang jangan pura-pura lah," kata Tanu ujug-ujug.
Baru saja salaman lebaran, malah berkata yang bukan-bukan. Keruan saja Bu Ratih, Rama, dan saudara Bu Ratih serta anak gadisnya terbengong-bengong.
Bahkan Saudara Bu Ratih dan anak gadisnya permisi masuk ke dalam tengah rumah, sementara di ruang tamu hanya ada Rama, Pak Muslih, dan Bu Ratih.
Tadinya Bu Ratih mau mengikuti saudaranya dan anak gadisnya yang ternyata dia adalah adik Bu Ratih yang sengaja bersilaturahmi bersama anak gadisnya seumuran almarhumah Wiwi, bahkan potongan tubuh dan wajahnya seperti kembaran Wiwi, ini yang membuat Tanu kaget begitu tadi melihatnya.
Namun melihat gelagat Tanu sepertinya yang akan marah-marah, Bu Ratih mencoba bertahan di ruang tamu.
"Pura-pura bagaimana kamu, Tanu? Bukannya bawa oleh-oleh untuk kakak di hari Lebaran setahun sekali, ini malah membawa marah-marah!" ujar Pak Muslih.
"Iya ada apa Tanu? Ini hari Lebaran, malu dong harus bertengkar dengan saudara."
"Saya tidak mengajak bertengkar Wak, tapi kenyataan terbukti!" ujar Tanu, asal bicara.
__ADS_1
"Kalau nuduh orang tanpa alasan dan bukti, itu namanya ngajak bertengkar, Tanu! Ada apa denganmu?" Pak Muslih mulai naik pitam.
"Anak saya si Iis ada yang menculik, sejak sore hingga kini belum kembali!" kata Tanu.
"Apaaaaa????" tanya Pak Muslih, Bu Ratih, dan Rama serempak.
"Iis ada yang meculik, Paman?" tanya Rama terkejut.
Kemarin sore dia bersama Warya bersua dengan Iis dan Imas akan ke rumah Kades Danu dan dia mewanti-wati agar keduanya berhati-hati berhubungan dengan Kades Danu.
Kini Rama mendengar kabar dari pamannya keponakannya ada yang menculik.
"Iya, pasti kamu yang melakukannya!" kata Tanu blak-blakan.
"Apa kamu bilang?" Pak Muslih bertanya dengan mata melotot tajam ke arah Tanu.
"Dia beberapa hari lalu datang ke rumah saya Kang pinjam uang lima juta rupiah, tapi oleh saya tidak dikasih karena saya tahu kalian takkan mampu melunasinya!" ujar Tanu berterus terang
Deg!
Seketika darah Rama mendesir di kepalanya. Demikian pula Pak Muslih dan istrinya. Sementara adik Bu Ratih dan gadis serupa Wiwi hanya menyimak di tengah rumah.
"Apa hubungannya Rama pinjam uang tak dikasih sama kamu dengan
hilangnya si Iis ada yang menculik, Tanu?" Pak Muslih geleng-geleng kepala.
"Demi Allah saya tidak melakukan itu Paman. Untuk apa balas dendam sampai harus mengorbankan keponakan? Kalau tak diberi ya tak diberi pinjaman dan saya juga sadar takkan bisa megembalikannya, jadi saya bersyukur tak diberi pinjaman," ujar Rama.
"Jangan berbelit-belit, ayo katakan di mana si Iis sebelum saya kamu laporkan ke polisi!" ujar Tanu makin tak terkontrol bicaranya, boleh jadi dia sangat stres.
"Sore kemarin saya ketemu Imas dan Iis di jalan ketika kami berdua berboncengan dengan Warya. Saya tanya mau ke mana? Imas dan Iis......," ujar Rama, tak melanjutkan bicaranya karena ada yang mengucapkan salam.
Ketika dilihat ternyata yang datang Bi Inah. Dia mau bersilaturahmi ke kakak kandung suaminya. Tadinya mau bersama suaminya, ternyata lama tiba. Ternyata dia sudah ada di sini.
"Waalaikumsalam, masuk In. Suamimu adadi sini," kata Bu Ratih.
Inah pun masuk dan langsung saja bersilaturahmi kepada Bu Ratih, Pak Muslih, dan Rama.
"Kok Akang sudah ada di sini, kenapa tak buru-buru pulang ke rumah? Bagaimana nasib si Iis, ketemu dengan Kades Danu?" tanya Inah.
"Tida ada! Aku yakin bukan Kades Danu yang berbuat. Masa iya dia mau berkhianat. Aku kerja padanya banting tulang, sampai semalam nagih utang hingga dini hari," kata Tanu.
"Terus tadi ketemu siapa saja, Bu Windi ada?"
__ADS_1
"Ada," jawab Tanu.
"Terus gimana kata Bu Windi?" tanya Inah.
"Dia biiii......," Tanu tak melanjutkan bicaranya karena lagi-lagi ada yang mengucapkan salam, seorang wanita, dia adalah Bi Utih, ibunya Imas.
"Waalaikumsalam, mari ke dalam Bi," sambut Bu Ratih.
Bi Utih pun menyalami oran-orang yang ada di ruag tamu rumah Pak Muslih.
"Bagaimana Bi, sudah ada kabar tentang Imas?" tanya Pak Muslih.
Dengan terisak Bi Utih megatakan bahwa Imas belum ada pulang ke rumahnya. Justru ke sini ingin bertanya kepada Bi Inah, kali aja Iis sudah ada pulang, namun ketika tadi Bi Utih ke rumah Bi Inah, ternyata tak ada dan menurut tetangganya sedang ke rumah Pak Muslih.
"Tapi benar kemarin Imas dan Iis ada ke rumah Pak Kades Danu?" tanya Rama.
"Iya ada. Kades Danu bilang biar saya tak usah pulang disuruh nemenin Bu Windi. Trus Imas dan Iis dibawa naik mobil, katanya mau diantar pulang ke rumah. Tapi ketika saya tadi subuh pulang, Imas tak ada, hiks.....anakku di mana kau Imas?" ujar Bi Utih, menangis sejadi-jadinya.
"Sabar Bi, moga aja anak kita tidak kenapa-kenapa. Anakku kedua-duanya tak ada, Lebaran begini terasa sepi." timpal Bu Ratih, dia pun menangis,
Tak terkecuali Bi Inah pun menyimak perkataan Bu Ratih jadi tergores hatinya sehingga dia pun ikut terisak.
"Bagaimana kata Bu Windi tadi Kang?" tanya Inah kepada suaminya.
"Iya dia bilang memang kemarin ada ke sana seperti yang dikatakan Bi Utih barusan," kata Tanu.
"Iya tapi kenyataannya tidak ada di rumah Tanu. Lalu ke mana mereka?"
"Ya mungkin diculik oleh penjahat yang ingin balas dendam Bi. Saya yakin mustahil Kades Danu memperlakukan kita yang telah bekerja mati-matian mau menceakakan kita Bi," kata Tanu.
Bicara begitu sambil melirik sinis Rama, lalu ke Bi Utih seolah minta persetujuan.
"Penjahat yang ingin balas dendam katamu Tanu?" Bi Utih tercengang mendenganya.
"Iya, balas dendam karena pinjam duit tak dikasih!" kata Tanu tanpa tedeng aling-aling lagi.
"Kang?" Inah menatap tajam suaminya dengan muka memerah saking kesal dengan ucapan suaminya yang tanpa dipikir panjang.
"Jaga mulutmu Tanu!" akhirnya Pak Muslih marah juga, nyaris saja akan melayangkan tamparan kepada sang adik.
Kalau saja tak dicegah Rama dan Bu Ratih, tentu tangan Pak Muslih sudah hinggap di muka Tanu.
"Aku tak rela!" kata Tanu, lalu berdiri meninggalkan rumah Pak Muslih tanpa permisi.
__ADS_1
Melihat gelagat tak baik itu, Inah langsung mengejar sang suami agar meminta maaf kepada sang kakak. Namun Tanu tak menggubrisnya, dia langsung pulang menuju rumahnya.
(Bersambung)