Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 58. Tragedi 'Pusaka' Si Embah


__ADS_3

Embah Sawi di malam yang dingin setelah turun hujan mendadak ingin 'sesuatu'. Dua bunga untuk persembahan yang telah didapatkan Kades Danu melalui si Darpin cees jadi bunga idaman malam ini.


Tadinya ia ingin kelima bunga yang menjadi persyaratan Kades Danu mendapat azimat paket komplet bisa segera terwujud. Kemudian kelimanya akan dipersembahkan kepada guru spiritualnya di alam gaib.


Sebelum lima bunga persembahan atau lima perawan paling sedikit, gurunya takkan memberikan azimat paket komplet yang sangat diidam-idamkan Kades Danu guna memenuhi ambisinya menjadi orang terhormat.


Namun, cuaca dingin yang sangat menusuk tulang sumsum si Embah, ingin dihangatkan dengan kenikamatan mencicipi dua gadis yang kini telah berada di kediamannya.


Tadi sore ketika Darpin cees melapor ke Sodom, si Embah tak mengetahuinya dan belum diberi tahu oleh Sodom. Saat itu dia tengah PDKT kepada Wati dan Yati dengan air liur meruah saking penasaran ingin segera mencicipinya.


Terakhir si Embah mempersembahkan seorang gadis kampung bernama Nani. Ia diambil si Embah karena orangtuanya bandel tak memberi upeti ketika diminta. Lalu anaknya dinodai si Embah dan selanjutnya dijadikan persembahan kepada gurunya dengan cara dilukai lehernya hingga berdarah-darah dan tewas.


Kini, dua bunga baru pun akan diperlakukan seperti itu. Si Embah dengar nama dua gadis itu bernama Wati yang lebih muda dan Yati yang berusia lebih tua. Dan keduanya pun akan diperlakukan seperti gadis kampung bernama Nani beberapa waktu lalu.


"Hahhaaa.....kini saatnya aku mencicipi lagi bunga harum nan cantik itu. Tapi siapa yang lebih dulu kunikmati? Wati yang lebih muda atau Yati yang lebih tua?" Gumam Embah Sawi kebingungan juga.


Seandainya bisa dua-duanya dinikmati, tentulah itu yang akan dilakukannya. Namun 'perangkatnya' cuma satu, ya tak ada pilihan lain kecuali memilih satu dari keduanya.


"Ya udah aku pilih Yati yang lebih tua dulu aja, biar yang muda nanti dulu," bisik batin si Embah nakal ini.


Si Embah pun lalu keluar rumah utama, menuju rumah yang mirip gudang di bagian belakang tempat Yati dan Wati disekap dengan penjagaan yang superketat dari anak buahnya.


"Malam, Embah," kata salah seorang anak buah Embah Sawi.


"Malam," timpal si Embah.


"Tolong persiapkan tempat persembahan seperti biasa. Kini aku akan melakukan persembahan kepada salah satu bunga," kata Embah Sawi.


"Siap Embah," kata anak buahnya.


"Hai kamu, panggilkan si Sodom agar ke sini," kata si Embah kepada anak buahnya yang lain.


Seorang anak buahnya mengabari kawan-kawannya untuk mempersiapkan persembahan di sebuah kamar khusus di rumah mirip gudang itu. Anak buahnya sudah tahu apa yang harus dilakukan, yaitu sebuah kasur wangi dan baskom berisi air yang ditaburi bunga warna-warni.


Itu semua telah dilakukan dalam waktu sekejap karena memang telah dipersiapkan sebelum-sebelumnya. Si Embah tinggal melaksanakannya.


"Siap Embah, ada apa ya?" tanya Sodom yang baru tiba setelah mendengar panggilan dari salah seorang anak buah si Embah.


Si Embah mendekati Sodom dan berbisik di telinga Sodom yang kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang harus dilakukan.


"Siaaaaap, Embah!" ujar Sodom.

__ADS_1


Tiba-tiba mulut tongos Sodom komat-kamit seperti tengah membacakan mantra-mantra tertentu. Lalu tangannya dihentakkan dengan keras ke sebuah sudut dan terdengar seolah ada wanita menjerit menahan sakit.


"Sudah kuusir dedemit brengsek itu Embah," ujar Sodom sambil membetulkan kupluk yang selalu dikenakannya.


Ternyata Embah Sawi mencium gelagat ada dedemit di sekitar gudang tempat menyekap Wati dan Yati. Tentu saja kehadiran sang dedemit itu sangat mebahayakan aksinya. Oleh karena itu dia menyuruh Sodom mengatasinya dan berhasil.


Ya, dua dedemit dari Kerajaan Dedemit Sumur Tua yang tak lain Kentingmanik dan penampakan Wiwi tercium oleh Embah Sawi.


"Aduh gimana nih Tante kita berhasil diusir," keluh penampakan Wiwi setelah menerima hentakan tangan Sodom dan terlempar menjauhi Wati dan Yati.


"Iya, kita terlempar jauh. Duh, gimana caranya ya membantu adik dan temanmu?" Kentingmanik kebingungan juga.


Dia kemudian meneropong azimat apa yang digunakan Sodom barusan. Ternyata sama dengan yang digunakan si Darpin cees ketika dia meminjam tubuh seekor babi hutan.


Genianggara, itulah azimat ampuh yang digunakan Sodom dan si Darpin cees. Lantas Kentingmanik membuka telapak tangannya yang berupa tulang belulang dengan kuku-kuku panjangnya.


Dilihatnya telapak tangan itu dalam-dalam untuk melihat-lihat petunjuk azimat apa yang bisa menangkal azimat genianggara.


"Gunakan banyukinasih, Kenting!" ada petunjuk di telapak tangan Kentingmanik.


Petunjuk itu datang dari Ratu Mayanggeni yang tiba-tiba merasakan ada telepati minta tolong dari Kentingmanik serta dia tahu masalahnya sehingga tak ragu-ragu lagi memberikan petunjuk.


"Terima kasih, Ratu," gumam Kentingmanik, senang.


"O ya, kemampuannya bagaimana Tante?" penampakan Wiwi belum mengerti sambil memegang azimat yang berupa cahaya berkilauan yang hanya terlihat oleh sebangsa mereka.


"Kita punya kekuatan dan tidak akan terlihat mereka," kata Kentingmanik.


"Apa yang akan mereka lakukan terhadap Wati dan Yati serta apa yang harus kita lakukan?"


"Adik dan temanmu tuh lihat sedang dimantrai dan keduanya akan pingsan tak sadarkan diri. Lalu si kakek tua bangka namun doyan **** itu akan menodai Wati dan Yati," kata Kentingmanik.


"Brengsek!" murka penampakan Wiwi.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya penampakan Wiwi.


"Ketika si tua bangka itu mulai beraksi akan menodai adik dan temanmu, aku akan segera menghalanginya dengan cara merebahkan diri di atas tubuh keduanya. Si Sawi takkan tahu, tahunya dia menodai tubuh Wati dan Yati, padahal terhalang oleh tubuh aku dan kekuatan banyukinasih. Kita lihat nanti bagaimana reaksi si tua bangka itu!" tukas Kentingmanik panjang lebar.


"Oh begitu ya Tante, semoga berhasil," ujar penampakan Wiwi senang bisa menyelamatkan sang adik dan teman dekatnya ketika di dunia nyata.


Benar saja, Embah Sawi sudah mulai membacakan mantra guna melumpuhkan Wati dan Yati yang saat itu keduanya tengah tertidur. Namun tiba-tiba tak sadarkan diri dan tak tahu apa-apa yang menimpa diri keduanya.

__ADS_1


"Sudah pingsan Embah. Silakan mulai," bisik Sodom.


"Iya, akan aku lakukan. Aku ambil yang tua dulu, tolong bawa ke atas tilam," kata Embah Sawi.


Sodom lalu memerintah anak buahnya untuk membopong tubuh Yati yang telah pingsan ke atas tilam di kamar sampingnya.


Setelah tubuh Yati dibaringkan di atas tilam yang wangi, mulailah Embah Sawi beraksi dengan melucuti satu per satu pakaian Yati hingga tak ada secuil benang pun di tubuhnya.


Melihat tubuh mulus, tenggorokan Embah Sawi naik turun. Degup jantungnya makin kencang seiring berahi nakalnya yang memuncak.


Dia pun mulai membuka pakaiannya, janggut panjangnya dielus-elus, lalu ke perut buncitnya, meraba-raba gelang bahar yang melilit di tangannya, juga cincin azimat di jemarinya dijamah seolah minta izin dan dukungan akan melakukan ritual persembahan.


Lalu telapak tangannya dicelupkan ke air di baskom yang telah diberi wewangian, kemudian diusap-usapnya ke tubuh Yati mulai kepala, dahi, hidung, bibir, dagu, hingga ke bawah ke area sensitif.


Setelah itu ia membaca mantra lagi dan memulai aksinya menodai Yati dengan sangat rakus.


Dia tak menyadari bahwa sejak tadi di atas tubuh Yati telah telentang jasad gaib yang menghalangi aksi si Embah Sawi. Dia adalah Kentingmanik.


Kentingmaniklah yang sebenarnya tengah dinodai Embah Sawi. Dengan liciknya Kentingmanik melayani aksi keji Embah Sawi. Kentingmanik sesekali menjepit 'pusaka' Embah sawi dengan kuku tajamnya hingga si Embah menjerit menahan rasa sakit tiada tara.


Embah Sawi terkaget-kaget merasakan apa yang terjadi pada 'pusaka'-nya. Apakah ini keistimewaan 'pusaka' Yati yang pastinya perawan tingting?


Embah Sawi pikir, pastilah ini gegara keistimewaan 'pusaka' Yati. Maka, dia pun makin bersemangat dengan harapan segera mencapai puncak kenikmatan.


Akan tetapi, alih-alih sampai kepada puncak kenikmatan, Embah Sawi justru merasakan sakit yang amat sangat pada 'pusaka'-nya yang seolah putus dipotong oleh gunting penyabit rumput.


"Aouuuuuuuuuw.......!" jerit Embah Sawi hingga terdengar oleh anak buahnya yang di luar.


Mereka mengira si Embah tengah merasakan puncak kenikmatan yang tiada tara sehingga harus menjerit.


"Hebat! Si Embah pasti mendapat kepuasan," bisik Sodom kepada anak buahnya sambil mengangkat jempol.


Merasakan sakit yang tiada tara di 'pusaka'-nya, Embah Sawi menghentikan aksinya. Dia menjamah 'pusaka'-nya takut benar-benar putus sebab barusan serasa disunat oleh gunting penyabit rumput.


Namun ternyata 'pusaka'-nya terasa masih utuh, tak kurang sesuatu apa pun.


Dia pandangi wajah Yati yang benar-benar pasrah karena memang dibius mantra. Embah Sawi kaget karena Yati solah-olah tak kena mantra sebab dia menyunggingkan sebuah senyuman, senyuman penggoda tentunya.


Lantas tangan Yati pun melambai-lambai kepada Embah Sawi seolah menantang agar si Embah melanjutkan aksinya yang belum sampai puncak.


Melihat senyuman merekah dan lambaian tangan Yati yang cukup menggoda, si Embah pun melanjutkan aksinya dengan sangat bernafsu.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Kentingmanik pun tak tinggal diam uuntuk melancarkan aksi lainnya hingga si tua bangka itu benar-benar kapok. (Bersambung)


__ADS_2