
"Adow .....sakit Bos!' rintih Benco.
Doma da Gonta tampak tersenyum, puas melihat kesialan Benco digetok botol oleh si bos. Sementara yang punya kuasa, Darpin, masih saja marah-marah.
"Kalau kamu waras, ayo bantu tuh si Doma ikat perempuan brengsek itu ke tiang!"
Tak banyak omong apalagi protes takut botol digetokkan lagi di kepalanya, si Benco pun gegas membantu Doma mengikat tubuh Wiwi ke tiang yang ada di tengah gudang.
Tangan Wiwi dikebelakangkan dan diikat kuat-kuat oleh tambang plastik, matanya kembali ditutupi kain, dan mulutnya lagi-lagi disumpal.
Wiwi tak berkutik, dia pasrah menerima perlakuan yang sangat tidak diinginkannya itu. Sebab, meski berusaha meronta-ronta ingin melepaskan diri, hanya sia-sia.
"Hahahaaa........saatnya kau menerima pembalasan atas ludah-ludahmu yang kau muncratkan di wajahku, Sarwi!"
Darpin mendekatkan mulut botol miras oplosan ke lubang hidung Wiwi agar disesap. Seketika Wiwi terasa muak.
"Namun," kata Darpin sambil mengusap-usap lengannya ke pipi mulus Wiwi, "Aku sekali lagi ingin bertanya, apakah kau mencintaiku sayang?"
Wiwi tak menjawab karena memang mulutnya disumpal.
"Oh, maaf mulutmu disumpal. Baiklah akan kubuka sumpal mulutmu. Nah sudah terbuka. Ayolah jawab sekali lagi, apakah kau mencintaiku sayang?"
Dan....****, untuk ke sekian kalinya ludah mendarat di wajah Darpin. Tak kuasa menahan gejolak emosi usai kembali disembur ludah, Darpin benar-benar murka.
Minuman yang tinggal seperempatnya itu diminum hingga tandas. Matanya mendadak tampak memerah. Nafsunya bergejolak, segera tangannya menjambak rambut Wiwi dan ditarik ke belakang.
"Plak, plak, plak!" tiga kali tamparan mendarat di wajah Wiwi. Wiwi hanya meratapi sakit kena tamparan, tak mampu berbuat banyak.
Lalu Darpin memegang bagian atas baju Wiwi dan ditariknya ke bawah hingga terbukalah bagian dada Wiwi.
Mata Darpin melotot melihat gunung kembar yang senantiasa diimpi-impikannya. Kini tampak jelas terlihat. Dalam keadaan mabuk berat, dia lalu melucuti pakaian Wiwi satu per satu dan tampaklah tubuh indah yang membuat degup jantung Darpin kian berjoget ria.
"Indah, indah sekali sayang......," gumam Darpin berbisik lembut di telinga Wiwi.
Sementara konco-konco Darpin, Doma Benco, dan Gonto, cuma menonton. Lalu mereka pun mulai mengambil jatah botol miras, dan segera meminumnya mengikuti jejak sang bos yang lebih dulu sudah mabuk.
Bersamaan dengan itu pula mereka bertiga merasakan perubahan pada tubuhnya. Pandangan matanya menatap tajam kepada sang bos yang sudah bugil lalu menodai kehormatan Wiwi, wanita buruh pabrik yang bernasib malang itu dirudapaksa pria bajingan bernama Darpin.
Wiwi menjerit-jerit dalam batinnya, menyambat-nyambat orangtuanya, kakak dan adiknya, pacarnya, dan orag-orang tersayang. Ingin sekali ia berontak dan melawan namun sia-sia belaka.
__ADS_1
Darpin kian bernapsu menodai Wiwi dengan hasrat berahi overdosis. Hingga Wiwi terkulai lemas. Akhirnya beberapa saat kemudian Darpin menghentikan aksinya, mungkin sudah sampai puncaknya.
Tak dinyana, Doma pun menghampiri Wiwi.
"Helo Bos, apa boleh gue ikut enak?" ujar Doma, malu-malu.
"Terserah lo, brengsek!" ujar Darpin sambil merebahkan diri ke lantai tanah gudang. Tampaknya ia begitu kelelahan setelah menodai Wiwi.
Doma pun tak membuang kesempatan, serta merta mendekap tubuh Wiwi dan melakukannya seperti Darpin tadi, bahkan si Doma lebih tak berperasaan.
Begitulah, usai Doma, lanjut Gonto, dan Benco. Pria-pria bejat ini dengan seenaknya menodai gadis kampung buruh pabrik dengan tanpa rasa perikemanusiaan.
Mereka pun merebahkan diri kecapaian. Sementara yang dinodai sudah tidak ingat apa-apa lagi, kepalanya terkulai, dengan tubuh tanpa sehelai benang pun karena dilucuti para bajingan. Tubuhnya masih terikat di tiang gudang.
"Bos!" Doma berbisik kepada Darpin.
"Apa lu?"
"Lihat!" tunjuk Doma ke arah Wiwi.
"Apa, ayo kamu periksa!" kata Darpin masih merebahkan tubuh saking merasa capek.
"Bos, tampaknya dia......" Doma tak melanjutkan omongannya menyadari wanita buruh pabrik pacar Warya yang telah dinodai ramai-ramai itu tampaknya sudah tak bernyawa lagi. Bisa jadi kehabisan napas ketika mulutnya dibekap agar tidak berteriak ketika para playboy itu menodainya.
Darpin pun bangkit lalu mendekati Wiwi dan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ternyata bergerak seluruhnya, tanpa ekspresi kehidupan lagi.
"Waduh, gimana ini Dom?"
Darpin amat terkejut. Sejenak dia tertegun, jantungnya terasa mau copot. Dia menyesal telah berbuat sejahat itu. Andai bersabar, mungkin Wiwi masih hidup dan dia masih punya harapan untuk menikahinya. Kalau sudah begini?
"Terserah Bos ajalah, aku ngikutin," ujar Doma, enteng.
"Ayo segera kita pergi dari sini!" kata Darpin kepada teman-temannya.
"Wiwi gimana Bos ditinggal begitu saja, bagaimana kalau diketahui orang dan polisi, kita bahaya!" ucap Doma.
"O, iya ya."
"Gon, Ben, kamu punya pendapat?"
__ADS_1
"Di pinggir gudang ini saya lihat ada sumur. Kita buang ke sana aja lalu kita pergi," usul Gonta.
"Ya, cepet buang ke sana dan kita harus segera pergi!" suruh Darpin.
Maka mereka pun membuka ikatakan tali tambang di tubuh Wiwi. Sebelum mengeksekusi jenazah Wiwi ke dalam sumur tua, Benco disuruh melihat-lihat situasi di luar gudang. Apalagi saat itu waktu menunjukkan pukul 14.00 siang
Benco mengangkat jempol pertanda di luar gudang nan jauh dari perkampungan itu tak ada yang patut dicurigai.
Maka, jenazah Wiwi pun dibopong oleh mereka dan tak berperikemanusiaan langsung saja dimasukkan ke dalam sumur yang entah berair atau kering. Sumur itu berdiameter 1 meter.
Bluk terdengar bunyi benda jatuh ke dalam. Mendengar benturan sumur itu tampaknya sudah kering. Lalu mereka mencari-cari penutup sumur. Ditemukan bilah-bilah kayu yang kebetulan ada di gudang itu, lalu ditutupi lagi dengan benda-benda lainnya semisal kayu-kayu bekas, dan potongan bambu.
"Ayo kita pergi sekarang. Awas kalian jangan buka mulut kepada siapa pun. Kita dalam bahaya, keluarga Wiwi pasti mencari dan tak mustahil mencari-cari kita. Makanya ayo kita kabur saja keluar kampung sebab kalau di kampung pasti ditangkap, paling tidak diinterogasi polisi," kata Darpin dengan hati waswas.
"Siap Bos, aku ngikutin aja!" ujar Doma dan rekan-rekannya.
"Namun karena sekarang masih siang. Kita ngumpet dulu, nanti malam kita kabur," ajak Darpin.
"Iya betul, tuh ada dangau pinggir sungai, kita ngumpet dulu di sana," kata Doma.
Mereka pun lantas meninggalkan gudang itu menuju dangau yang berada di pinggir sawah dekat sungai besar. Sesampainya di sana mereka langsung merebahkan diri dan tertidur hingga pulas seolah mereka tak mengalami kejadian yang mengerikan telah memperkosa wanita buruh pabrik dan langsung membuangnya ke sumur tua.
***
Waktu telah menunjukkan pukul 17:00 petang ketika dua orang pria baru saja beranjak dari bibir Sungai Cilampit. Keduanya seharian menunggui bibir sungai itu, memancing ikan.
Keduanya merasa waktu begitu cepat berlalu saking asyik memancing padahal ikan hasil tangkapannya tak melebihi 10 ekor dengan waktu nyaris seharian. Andai saja tak ingat kepada yang di rumah, pastinya mereka akan terus dan terus duduk mencangkung di bibir sungai, lupa makan lupa mandi. Yang diingatnya mungkin cuma merokok dan meneguk kopi yang sudah basi.
Bagi sebagian orang memancing ikan di sungai atau di mana pun tak ubahnya berjudi. Semakin kalah semakin penasaran ingin menang. Pun dengan memancing, semakin ikan sulit didapat dan sekalinya ada yang menyanggut, maka teruslah tergoda untuk bisa menangkap ikan berikutnya, tak peduli ikan yang didapat cuma ikan nila yang di pasar juga banyak dan mudah ditangkap dengan umpan uang.
Ketika kedua pria yang bernama Didi dan Taryo mendekati gudang yang siang tadi di sana ada tragedi mengerikan, tiba-tiba langit gelap, angin kencang bergemuruh, dan tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Petir bersahutan.
"Kang, berteduh dulu tuh di gudang yuk, hujan nih!" ajak Taryo kepada Kang Didi.
"Iya Tar, hujannya besar nih kalau kecil kita paksain lari," timpal Kang Didi
Lalu keduanya berteduh di serambi gudang yang pintunya agak terbuka.
Beberapa saat ketika mereka duduk sambil merokok menunggu hujan reda. Tiba-tiba di dalam gudang terdengar suara wanita menangis.
__ADS_1
Mendadak bulu kuduk Kang Didi dan Taryo berdiri. (Bersambung)