
Ketika berpapasan motor mereka pun berhenti.
"Lho kok ke sini Pak?"
"Udah gak sabar, War. Ayo kita langsung ke kota kecamatan saja," kata Pak Rudi sembari memutarkan sepeda motornya dan terus melaju ke arah selatan menuju kota kecamatan bersama yang lainya.
Setelah 30 menit perjalanan melajukan sepeda motor akhirnya mereka sampai di kota kecamatan, langsung ke pusat kotanya yang memang banyak ditemui deretan toko, termasuk toko emas
Mereka langsung memasuki toko emas setelah memarkir sepeda motor di depan toko emas tersebut.
Rama langsung bertanya kepada ibu-ibu penjaga toko emas itu, apakah kemarin sore ada yang menjual emas ke sini dua orang perempuan muda dan diterangkan pula ciri-cirinya.
"Saya rasa tidak ada dua perempuan muda yang menjual emas ke sini. Coba tanyain toko emas sebelah, sebelah utara," kata penjaga toko emas itu.
"O ya, terima kasih. Maaf sudah mengganggu," kata Rama.
"Iya, sama-sama. Tidak mengganggu kok. Coba tanyain toko emas sebelah. Tapi kalau boleh tahu, kenapa sampai dicari-cari?" tanya penjaga toko itu.
"Kemarin sore katanya keduanya ke sini menjual emas, tapi hingga petang, malam, bahkan hingga kini belum pada pulang ke rumah," kata Rama lagi menjelaskan.
"Wah, wah, kenapa ya? Ya coba tanyakan saja ke toko emas di sana!"
"Iya, iya, mari," kata Rama, sambil mengangkat sebelah tangan.
"Iya," kata penjaga toko emas sambil membalas mengangkat tangan juga.
Rama, diikuti yang lainnya segera pergi menaiki sepeda motor menuju toko emas lainnya sesuai petunjuk penjaga emas yang tadi.
Sesampainya, Rama melihat toko emas itu, di seberangnya ada kedai bakso. Namun ditutup dengan tirai kain dan ada pengumuman, "Buka Pkl 16:00".
Rama langsung memasuki toko emas dan menghubungi penjaganya. Lalu menerangkan maksud kedatangannya.
"Iya, iya ada kemarin menjual ke toko emas ini. Lalu ada apa ya, apakah emas itu bermasalah? Saya kira kemarin surat-suratnya lengkap, emasnya pun asli tidak ada masalah," kata penjaga toko emas itu.
"Bukan begitu Bu. Setelah menjual emas di sini, adik saya dan temannya hingga kini tak ada pulang ke rumah. Ke sini kami hanya ingin memastikan bahwa benar adik saya dan temannya datang ke sini," kata Rama.
"Iya benar ke sini. Tapi kok belum pada pulang, kenapa ya?" ujar penjaga toko emas itu dengan nada khawatir.
"Ya, belum pada pulang. Kalau begitu, kami permisi, terima kasih infonya, dan maaf mengganggu," kata Rama.
"Iya, iya, tidak ada-apa, tak mengganggu, kok. Cepat cari aja atau lapor langsung ke polisi, takutnya kenapa-kenapa," kata penjaga toko emas lagi ikut khawatir.
"Iya, emang itu yang akan kami lakukan. Mari, pemisi!" kata Rama.
__ADS_1
"Iya, iya," kata penjaga toko emas itu.
Rama dan yang lainnya menyeberangi jalan mendekati kedai bakso yang tutup, namun pintunya tampak terbuka.
"Benar Pak, kemarin Yati dan Wati menjual emas ke sini. Tinggal sekarang kita mencari tahu, dari sini mereka naik apa ya? Apakah berjalan kaki, atau naik ojek?" kata Rama kepada Pak Rudi.
"Benar Ram, kita cari tahu dulu naik apa mereka pulang kemarin. Coba kita tanyakan ke kedai bakso ini, Ram?" ujar Pak Rudi.
"Boleh-boleh," kata Rama.
Rama pun mengetuk pintu kedai bakso yang sudah terbuka. Tiba-tiba muncul seorang perempuan setengah baya, tampaknya dia pemilik kedai bakso itu.
"Maaf, belum saatnya buka. Bukanya nanti jam empat sore Mas," kata perempuan itu, dia mengira Rama dan rombongan akan jajan bakso.
"Maaf Bu. Kami ke sini bukan mau jajan bakso. Insyaallah kami semua sedang menunaikan saum. Tapi ada yang mau ditanyakan," sahut Rama.
"O ya, menanyakan apa ya?"
"Begini, barangkali ibu kemarin sore melihat ada dua perempuan dengan ciri-ciri mengenakan celana panjang. Keduanya sore kemarin menjual emas di toko itu tuh. Kali aja Ibu sempat melihat mereka berdua saat pulang naik apa ya?" kata Rama.
Si ibu tampak mengernyitkan dahi seolah tengah mengingat-ingat kejadian kemarin sore.
"Oh iya benar Ibu ingat sekarang. Malah bukan ingat lagi tapi hapal juga karena kemarin keduanya jajan bakso di sini," kata si ibu itu membuat Rama dan yang lainnya terperangah.
"Jajan bakso?" tanya Anwar terheran-heran. Mustahil saja Yati dan Wati jajan bakso kecuali kalau lagi ada halangan bulanan.
"Terus Ibu lihat pulangnya apakah berjalan kaki atau naik ojek?"
"Naik ojek. Saya hapal betul kemarin setelah keduanya membeli bakso saya keluar kedai dan memperhatikan mereka yang tampak gelisah karena lama menunggu ojek pangkalan yang tak terlihat. Tapi tiba-tiba ada pengojek lain, tapi bukan ojek pangkalan karena tak megenakan seragam....." kata si Ibu itu membuat Rama dan yang lainnya terkesiap.
"Ya Tuhan....." Rama mengusap muka.
"Berarti ojeknya ada dua ya Bu?"
"Cuma satu. Saya juga dengar yang seorang minta tunggu ojek pangkalan biar ada dua motor, tapi yang satu bilang takut kemalaman. Akhirnya kelihatan keduanya dibonceng satu motor," kata si ibu itu.
"Jadi bukan ojek pangkalan ya Bu?" tanya Pak Rudi dengan wajah kecut.
"Bukan, ojek pangkalan mengenakan seragam khusus. Entah siapa pengojek itu, mungkin saja pengojek dari daerah lain pulang megantarkan penumpang ke sini dan sekalian mencari penumpang lagi." kata si Ibu.
"Ya, terima kasih infonya Bu. Maaf mengganggu," kata Rama.
"Ya enggak apa-apa. Moga keduanya tak kenapa-kenapa, dapat kembali dengan selamat," kata si ibu lagi.
__ADS_1
"Iya aamiin. Kalau begitu kami permisi," kata Rama.
"Iya," sahut si ibu, seraya masuk ke dalam kedai bakso.
"Jadi kita makin yakin Yati dan Wati ada yang ngejahatin Pak Rudi. Sekarang kita mencari keberadaan si pengojek, barangkali aja orang sekitar sini."
"Iya Ram." kata Pak Rudi.
"Iya kita harus bergerak cepat mencari si pengojek itu. Tapi ke mana ya?" ujar Rama mengernyitkan alis.
"Kak, apa tak sebaiknya kita tanyakan lagi kepada si Ibu itu, motor yang digunakan si pengojek jenis apa atau warna apa?" kata Warya.
"Nah, betul itu Kak Rama, ayo tanyakan lagi," kata Anwar.
"Benar ya. Kalau begitu, mari kita tanyakan lagi."
Rama pun kembali mengetuk pintu dan si ibu penjaga kedai bakso pun dengan segera menghampiri.
"Ada apa lagi Mas?" tanya si Ibu.
"Maaf Bu kami kembali. Mau tanya kira-kira motor jenis apa yang digunakan si pengojek yang membawa adik saya dan temannya kemarin?" tanya Rama.
"Aduh, jenis motornya saya gak tahu deh. Tapi kalau tak salah warnanya merah," kata si Ibu.
"O ya? Terima kasih lagi Bu. Mungkin warna merah ini bisa menjadi petunjuk bagi kami untuk menemukan jejak adik saya dan temannya," kata Rama.
"Iya, iya semoga ditemukan kembali dengan selamat," kata si ibu.
Akhirnya Rama dan yang lainnya kembali menaiki sepeda motor masing-masing. Kini Rama yang menyetir motor milik Warya, dan Warya yang dibonceng.
Rama melajukan sepeda motornya sedang-sedang saja sambil matanya jelalatan ke setiap sepeda motor yang berpapasan dengan rombongannya terutama melihat-lihat warna motornya.
Tiba di sebuah jalan yang ada persimpangan ke jalan sebelah kanan dan di sana tampak tiga buah sepeda motor lengkap dengan penunggangnya seperti tengah mengojek. Atau memang di persimpangan jalan itu ada pangkalan ojek.
Rama pun memajukan sepeda motornya pelan-pelan bahkan akhirnya berhenti.
"Lihat, ada tiga sepeda motor tampaknya tukang ojek tak berseragam. Lihat juga salah satu motornya ada yang warna merah tuh," kata Rama kepada Pak Rudi, Warya, dan Anwar.
"Iya ya? Jangan-jangan benar mereka pelakunya, Ram?" tanya Pak Rudi.
"Entahlah Pak. Tapi coba saja kita tanyakan kepada mereka dengan hati-hati. Untung mereka belum melihat kita, Tunggu saja dulu di sini, biar aku yang akan menghampiri mereka," kata Rama.
"Iya, silakan Ram. Tetap hati-hati," kata Pak Rudi.
__ADS_1
"Oke," sahut Rama.
Dia berjalan menuju ketiga penunggang sepeda motor yang tengah asyik mengobrol dan merokok merek termahal. Sungguh mereka tak ada rasa malu merokok bulan puasa di tempat terbuka. (Bersambung)