
Melajukan sepeda motor sambil melamun tak terasa sudah sampai ke jalan raya. Untung jalannya tidak bagus sehingga tidak perlu ngebut. Kalau jalannya bagus lalu melamun, bisa-bisa celaka terjatuh dari motor, gumam Warya lagi kepada dirinya sendiri.
Sesampainya di jalan raya kampung halamannya, Warya langsung membawa sepeda motor ke rumah Rama.
Begitu tiba, kebetulan Rama sedang berada di teras rumahnya. Keruan saja Warya senang, tetapi juga degdegan karena yang diharapkan berada di teras tak tampak.
"Kak Rama, mana Ira?" tanya Warya dalam hatinya, sedangkan yang terlontar di mulutnya lain lagi.
"Bagaimana Kak Rama apa sudah dimakamkan para korban?"
"Oh Warya. Alhamdulillah sudah kembali. Mari sini. Para korban belum dimakamkan karena kini sudah malam mungkin besok pagi, itu atas kesepakatan para keluarga korban lagian mau dimakankan berdekatan sekalian," jawab Rama.
"O ya. Ini aku mau mengantarkan motor, kiranya Kak Rama bisa bantu. Takutnya ada pertanyaan dan sebagainya dari aparat. Biar aku ambil dulu sepeda motorku."
"Oh baik, baik. Silakan ambil."
"Iya Kak, kalau agak lama maaf ya, mungkin aku mandi dan salat magrib dulu,"
"Iya siap, tenang aja, War," tutur Rama.
Warya pun akhirnya turun dari sepeda motor curian lalu pergi ke rumahnya. Namun, sebelum membalikkan badan Warya terhenti karena dari pintu rumah Pak Muslih keluar seorang wanita yang tak lain Triana diikuti Wati.
"Halo, Kak Warya, sini dulu dong!" ajak Wati.
Warya benar-benar serasa mimpi melihat Wati hadir kembali di rumahnya dengan wajah ceria. Ditambah ada Triana yang mirip Wiwi, lengkap sudah keluarga Pak Muslih berkumpul lagi.
"Iya, iya nanti Wat. Ini masih ada urusan, mau mengantarkan sepeda motor polisi. Minta diantar Kak Rama," kata warya.
"Oh iya kalau begitu silakan," tutur Wati. Sementara Triana hanya mematung, namun tatapannya sesekali mengintip Warya, lalu menunduk takut Warya menatapnya juga.
Triana tak sanggup membayangkan bagaimana degup jantungnya bakal bergemuruh hebat jika ditatap pemuda tampan anak orang kaya di kampung ini.
Ya, Triana sudah banyak tahu tentang Warya, baik dari uwaknya Bu Ratih maupun Rama dan Wati barusan.
Warya pun segera pergi dari rumah Pak Muslih menuju rumahnya.
Waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 18:30, Warya belum salat magrib. Karenanya, begitu tiba di rumah ketika Pak Haji Makmur dan Bu Tita bertanya, dia mengabaikannya dan langsung ke kamar mandi.
"Ya Ira sudah sampai ke orangtuanya. Ada salam dari kedua orangtuanya untuk Bapak dan Ibu di sini. Hanya itu saja dulu, maaf ya Pak, Bu, aku belum salat," kata Warya, seraya bergegas mengambil handuk lalu berjalan menuju kamar mandi.
Pak Haji Makmur dan Bu Tita cuma saling pandang. Lalu Bu Tita segera memburu dapur dan mempersiapkan makanan untuk anak lelaki satu-satunya itu.
Usai dari kamar mandi dan salat, Warya pun makan. Setelah itu permisi kepada kedua orangtuanya karena masih ada urusan.
__ADS_1
Lalu sekitar pukul 19:00 Warya dan Rama dengan masing-masing mengendarai sepeda motor pergi ke kota kecamatan untuk mengantarkan motor ke kantor polsek.
Setelah itu dengan sedikit diberi arahan oleh polsisi agar kalau ada perkembangan kasus harus siap-siap dimintai keterangan. Warya dan Rama pun mengangguk tanda siap bekerja sama dengan aparat.
Lalu keduanya pulang dengan berboncengan menuju rumah Rama. Di teras rumah sudah tampak dua orang wanita cantik, kakak beradik bersaudara, Wati dan Triana.
Entah mengapa hati Warya degdegan melihat Triana saat itu yang tampak sangat cantik. Dalam hatinya bertanya-tanya bahkan berpantun ria.
"Di pantai bercuci mata,
ada paku di lemari.
Duhai kau gadis jelita,
hatiku napa kau curi."
Begitulah Warya berpantun dalam hatinya. Dia tak berani mengutarakannya di mulut biar terdengar oleh Triana. Biarlah untuk sementara ia umpetin dulu dalam batin.
"Bagaimana ceritanya di rumah Ira, War?" tanya Rama.
Warya merasa senang ditanya seperti itu oleh Rama. Sepertinya ada jalan untuk berlama-lama duduk di rumah
Pak Muslih walaupun ayah dan ibunya menyuruh segera pulang kalau urusan dengan aparat telah selesai.
"Jadi begini Kak Rama, tadi saya sampai ke rumah Ira sore hari kebetulan orangtua dan kakaknya sedang berada di rumah," ujar Warya membuka pembicaraan.
Matanya sesekali mampir ke wajah cantik berkulit putih bermata teduh dan berbibir mungil menggemaskan milik Triana.
"Iya terus?" Rama segera memberikan lagi pertanyaan usai melihat mata temannya itu jelalatan kepada keponakannya.
"Ni anak kalau dibiarkan membahayakan," gumam Rama dalam hatinya.
"Ya alhamdulillah orangtuanya menerima dengan baik-baik, mengucapkan terima kasih Ira sudah kembali dengan selamat. Dikira warga bahkan orangtuanya Ira sudah almarhumah," kata Warya.
"Terus Ira bercerita saat ada yang menculik?" tanya Wati.
"Ya bercerita, Wat. Bahkan cukup mengejutkan, katanya di pagi hari itu dia pergi seorang diri dengan hati yang terluka kemudian di perjalanan ada yang menculik, yaitu Kades Danu dan Paman Tanu," ujar Warya,
"Benar dia pun cerita begitu saat kami bersama-sama disekap. Bahkan dia sempat curhat tadinya mau nekat menceburkan diri ke Sungai Cilampit karena merasa dikhianati oleh seorang pria di kampung ini. Entah siapa ya?" ujar Wati.
Deg!
Jantung Warya seketika serasa berhenti ketika mendengar ucapan Wati.
__ADS_1
"Apakah dia mengatakan siapa prianya Wat?" tanya Warya ketakutan.
"Justru aku bertanya juga belum tahu," ujar Wati.
"Kak Rama kali?" tanya Wati.
"Wah kamu ini Wat. Triana kali yang tahu kan temenan di ana?"
"Iya sih temenan Kak Rama. Tapi gak cerita soal itu. Hanya akhir-akhir ini Ira kelihatan sering murung, bahkan terakhir dikabarkan hilang. Disangka hilang ya kecebur ke Sungai Cilampit,
tahunya diculik. Ya syukur aja dia sudah selamat, aku pun senang," timpal Triana.
"Tadi juga ibu Ira bilang kabar keluarga di sini kehilangan dua anak gadisnya sampai ke sana melalui Bu Sari, mungkin ibu Triana kan?" ucap Warya sembari menatap lekat wajah Triana.
Di mulut bicara begitu, di hatinya sudah berpantun lagi.
"Minum jamu berduaan,
di sawah kok banyak batu.
Wajahmu duh cantik nian,
akankah kita bersatu?"
"Iya, itu ibu saya. Kapan-kapan mampir ya Kak Warya ke tumah aku," ajak Triana sambil melempar senyum.
"Iya, iya, pasti, mungkin kapan-kapan bersama Kak Rama. Iya kan Kak Rama kita main ke Karangsari?" ujar Warya setengah memaksa.
"Iya kapan-kapan saya antar War."
"Terus jam berapa besok acara pemakaman. Dengar-dengar akan di satu lokasi?" kata Warya kembali ke pembicaraan serius.
"Kata Pak RW besok ya sekitar jam delapanan mungkin. Maksud di satu lokasi mungkin karena memang satu kampung dan Pak RW serta utamanya tokoh masyarakat di sini, yakni Ustaz Hamid dan Bapakmu ingin sedekit memberikan semacam petuah kepada masyarakat agar kejadian yang menimpa para korban tidak terulang lagi." ujar Rama menjelaskan.
Perbincangan pun makin serius ketika Pak Muslih dan Bu Ratih ikut bergabung setelah keduanya sibuk di dapur.
"Jadi sudah beres mengantarkan gadis itu War?" tanya Pak Muslih.
"Beres Pak, alhamdulillah orangtuanya tidak apa-apa, bahkan berterima kasih walaupun semula ada yang curiga katanya saya yang menculik Ira karena Ira menyebut diculik menggunakan motor yang saat itu yang saya bawa membonceng Ira," kata Warya.
"O ya?" Rama terperangah.
"Iya Kak Rama. Tapi buru-buru saya jelaskan. Alhamdulillah mereka mau mengerti."
__ADS_1
"Ya alhamdulillah persoalan membasmi orang-orang jahat kini sudah usai. Bapak bersyukur, Wati kembali dengan selamat, walaupun Wiwi tak mungkin kembali. Biarlah dia tenang di alam sana kita doakan semoga dilapangkan di alam kuburnya, diterima amal ibadahnya...." ujar Pak Muslih, lrih. (Bersambung)