
"Aku akan ke sana, Kades Danu sudah ada di rumahnya," kata Tanu kepada Inah, istrinya.
"Ya, segera. Tanyakan bagaimana nasib anak kita, Kang!" titah Inah.
"Kalau jawabannya tidak beres atau Iis tidak ada dan Kades Danu tidak mau bertanggung jawab, udah jangan bekerja lagi dengannya, Kang!" pinta Inah.
Tanu tak menjawab. Dia segera keluar rumah dan di jalan raya mencari ojek. Setelah mendapatkan ojek Tanu bilang minta diantarkan ke rumah Kades Danu.
Sesampainya di rumah Kades Danu, Tanu langsung saja mengetuk pintu dan tak lama kemudian pintu dibuka olah Bu Windi.
"Cepet masuk Tan," perintah Bu Windi.
Bu Windi ditekan oleh suaminya agar jangan membuka pintu untuk sembarangan orang. Dia pun berkata takkan lama di rumah, harus cepat pergi lagi kalau urusan dengan Tanu sudah beres.
Yang dimaksud urusan dengan Tanu, tak lain mau minta uang tagihan di malam Lebaran itu, jadi bukan untuk mempermasalahkan Iis dan Imas yang hilang dan dia tahu bahwa kedua gadis itu sudah 'aman' berada di kediaman Embah Sawi.
Tanu segera masuk dan menemui Kades Danu di ruang tengah rumahnya.
"Lebaran Pak," kata Tanu sambil mengajak bersalaman.
"Ya," timpal Kades Danu, cuma segitu-gitunya tak ada kata-kata lain.
"Bagaimana tagihannya hasil Tan? Kok belum disetor?" tanya Kades Danu.
"Tampaknya kita kesampingkan dulu soal pekerjaa Pak, ada hal penting," ujar Tanu.
"Lho? Kamu kan kupanggil ke sini urusannya dengan pekerjaan, lain tidak. Kalau tak ada urusan pekerjaan, silakan kamu pergi, membuang-buang waktu saja!" ujar Kades Danu dengan tatapan mata yang tajam seolah tengah disepelekan orang kepercayaannya.
Deg!
"Maaf Pak. Anak saya Iis belum pulang ke rumah. Katanya sore-sore ke sini bersama Imas. Iis mau menemui saya dan Imas mau menjemput ibunya, Bi Utih. Lalu Bapak mengantarkan pulang keduanya, namun kenyataannya Iis dan Imas tidak ada di rumah," kata Tanu.
"Oalah itu yang kamu katakan penting, Tanu?"
"Iya, itu Pak. Iis darah daging saya, saya tak rela kalau hilang gegara ada yang menculik atau apa pun," ujar Tanu.
__ADS_1
"Siapa bilang anakmu darah daging saya? Hei Tan, apa kamu enggak percaya saya? Kamu seperti baru kemarin sore saja kenal saya? Kan kita sudah puluhan tahun bersama. Kurang bagaimana perhatian saya menyejahterakan keluargamu?" ujar Kades Danu membuat Tanu terpojok.
"Dengar ya Tan, anakmu dan Imas sejak pergi dari rumahku saat itu, ya saya antar langsung pulang ke jalan raya depan rumah kakakmu, si Muslih. Setelah itu saya balik lagi dan terus mencari kamu ke desa tetangga, tapi sayang saya menerima telepon dari rekan bisnis, karena penting ya saya hubungi rekan bisnis dan pagi ini baru tiba ke rumah dan sekarang juga akan pergi lagi, begitu Tan. Jadi jangan menyalahkan saya karena anakmu dan Imas sudah saya antarkan ke kampung halaman kamu," kata Kades Danu panjang lebar dan berbohong.
"Tapi kenyataannya anak saya tidak ada pulang ke rumah sejak sore itu dan hingga ini, demikian pula dengan Imas," kata Tanu.
"Kamu menuduh saya Tanu?" Kades Danu bangkit, tampaknya akan melakukan tindakan fisik.
Hanya saja di luar ada yang mengetuk pintu. Kades Danu pun mengurungkan niatnya untuk menghajar Tanu.
Kades Danu menyuruh istrinya membukakan pintu dan ternyata yang datang Bi Utih diantar oleh Rama naik sepeda motor.
"Masuk Bi," kata Bu Windi, namun dia kaget kenapa bersama Rama.
Bu Windi sudah menduga Bi Utih pun ingin menanyakan keberadaan Imas, putrinya yang pasti menghilang juga seperti Iis.
"Silakan duduk Bi, Rama!" kata Bu Windi, sementara Kades Danu mendadak wajahnya memerah melihat kedatangan Rama.
"Lho kok dia disuruh duduk seperti tamu aja Bu. Ayo ambilkan air Bi!" kata Kades Danu dengan suara nyaring dan raut muka kesal.
Hati ibu mana yang tega anaknya hilang tanpa jejak dan tak diketahui pelakunya. Oleh karena itu yang harus bertanggung jawab ya tentu yang membawanya dari rumah ini, yaitu Kades Danu.
"Oalah tampaknya kalian sudah tak menghargaiku lagi ya? Bukankah aku telah mempekerjakan kalian dengan upah layak, eh malah berterima kasih dengan menuduh yang bukan-buan?" koar Kades Danu.
Rama hanya menyimak saja. Di tangannya dipegang HP menunggu kabar lanjutan dari Warya, Anwar, dan Pak Rudi yang sekarang ini sedang menghubungi polisi dan melaporkan lagi dua gadis warga Kampung Mekarsari yang hilang.
"Saya bukannya menuduh, tapi ingin minta penjelasan dari Bapak yang membawa anak saya dan Iis mengingat anak saya dan juga Iis tidak ada di rumah," kata Bi Utih.
"Sudah saya jelaskan tadi kepada si Tanu bahwa anakmu dan anak si Tanu sore malam itu juga telah saya antarkan di depan rumah orangtua orang ini!" kata Kades Danu menyebut Rama dengan orang ini.
"Tapi kenyataannya tak ada di rumah. Masa iya kalau sudah diantarkan ke kampung kami tidak ada? Pastinya mereka pulang ke rumah, dong!" kata Bi Utih.
"Baiklah kalau memang Bapak telah mengantarkan Iis dan Imas ke jalan raya dan rumah Kak Muslih, apakah saat itu ada orang yang melihat?" tanya Tanu ingin lebih meyakinkan lagi.
Kades Danu tak menjawab, bahkan dia mengajak Tanu ke belakang sepertinya ada rahasia yang akan disampaikan dan tidak ingin didengar oleh Rama dan Bi Utih.
__ADS_1
"Ayo ke sini dulu, Tanu!" kata Kades Danu.
Tanu pun menurut mengikuti Kades Danu ke ruangan belakang dekat dapur.
"Kenapa sih kamu Tan tega-teganya menuduh aku seperti ini? Apa kamu tidak merasakan pemberian dari aku?" tanya Kades Danu.
Dia memandang tajam mata Tanu. Tiba-tiba Tanu merasakan kepalanya pening. Ternyata Kades Danu menggunakan azimat genianggara untuk melumpuhkan otak waras Tanu.
"Mana uang hasil tagihanmu?"
Tanu pun mengeluarkan dompet yang berisi uang hasil tagihan dan mau diserahkan kepada Kades Danu.
"Ini Pak," kata Tanu dengan lemah lembut.
"Ambil saja uang itu untuk kamu, Tan. Tapi kamu jangan ungkit-ungkit anakmu yang hilang. Anakmu ada padaku, aman, tidak apa-apa," kata Kades Danu.
"O ya jadi ada di Bapak?" kata Tanu, senang mendengar anaknya ada bersama Kades Danu tanpa curiga sedikit pun.
Tentu saja hal itu terjadi karena Kades Danu berhasil mengelabui Tanu dengan kesaktian azimat genianggara.
"Iya ada di aku. Ayo kamu pulang saja, jangan ungkit-ngkit lagi ya. Awas kalau diungkit lagi, uang yang aku kasihan barusan akan kuambil lagi!" ancam Kades Danu.
"Terima kasih, kalau begitu saya permisi mau pulang saja," kata Tanu.
Diikuti Kades Danu, Tanu kembali ke ruang tengah. Di sana masih ada Rama dan Bi Utih yang tengah berbincang dengan Bu Windi. Tanu langsung keluar rumah, pulang tanpa berkata sepatah kata pun kepada Rama, Bi Utih, dan Bu Windi.
Tentu saja hal itu membuat ketiganya terkaget-kaget. Tadi terdengar Tanu begitu semangatnya menanyakan keberadaan Iis, namun sekarang pulang begitu saja.
Baru saja Kades Danu mau bicara dengan Rama yang tiba-tiba datang tanpa ada keterkaitan dengan kasus Iis maupun Imas, di luar terdengar suara mobil.
Kades Danu terkejut, dia langsung menduga yang datang adalah polisi.Benar saja, tak lama kemudian polisi mengetuk pintu.
Apa boleh buat, Bu Windi membuka pintu dan mempersilakan polisi masuk termasuk tampak ada Warya, Pak Rudi, dan juga Anwar.
(Bersambung)
__ADS_1