
Tanu pun segera masuk rumah, mengambil uang, memadamkan lampu, dan menemui Danu.
Kades Danu mengenakan jaket, masker, dan kupluk yang kebetulan ada di Tanu. Sedangkan Tanu selain mengenakan jaket miliknya juga masker dan topi.
"Ayo segera berangkat, kita bicarakan nanti di sana," kata Danu. Tanu pun menurut.
Sepeda motor dituntun ke jalan raya, lalu dihidupkan, dan melaju kencang keluar dari Kampung Mekarsari dan Desa Mekarmulya.
***
Menjelang dini hari tiga sekawan, yaitu Rama, Warya, dan Anwar baru saja terlelap ketika pintu depan rumah Kades Danu diketuk orang.
Rama yang pertama mendengar ketukan itu segera bangun dan mengintip siapa yang datang dan mengetuk pintu di pagi dini hari.
Ketika melihat dari balik kaca nako dengan cara membuka sedikit kain tirai, tampak beberapa orang polisi, lengkap dengan senjata di tangan.
"Permisi!!!" teriak polisi di luar sambil mengetuk-ngetuk pintu lagi.
Rama segera membangunkan kedua temannya, Warya dan Anwar, walapun keduanya tampak masih tertidur pulas.
"War, An, bangun! Ada polisi!" ujar Rama sambil menggoyang-goyang tubuh kedua temannya.
Warya dan Anwar pun bangun, lalu bertanya kepada Rama mengapa dibangunkan.
"Ada polisi di luar," kata Rama, pelan.
Warya dan Anwar pun benar-benar bangkit dan berdiri bersamaan dengah Rama yang saat itu membuka pintu depan rumah Kades Danu. Setelah dibuka, Rama melihat beberapa anggota polisi.
"Selamat pagi, maaf kami dari polsek mau memeriksa rumah ini, tahanan kami Saudara Danu melarikan diri!" ujar polisi.
Deg!
Rama, Warya, dan Anwar, terkejut. Kok bisa-bisanya Kades Danu melarikan diri dari tahanan polisi. Namun Rama tak ingin berlama-lama berpikir.
"Silakan duduk dulu Bapak-bapak, kami aka mencoba membangunkan tuan rumah," timpal Rama mempersilakan para polisi memasuki rumah.
Namun hanya beberapa orang yang masuk, sisanya tetap berada di luar rumah berjaga-jaga.
Rama diikuti Anwar ke tengah rumah, lalu mengetuk kamar Bi Utih. Bi Utih pun bangun dan membuka pintu.
"Ada apa Ram?" tanya Bi Utih sambil mengucek-ucek kedua matanya.
__ADS_1
"Bi, tolong bangunin Bu Windi. Ada polisi," kata Rama.
"Hah? Ada polisi?" ujar Bi Utih, lalu keluar dari kamarnya dan segera mengetuk pintu kamar majikannya yang tak jauh karena berdampingan.
Tak lama kemudian Bu Windi keluar. Begitu melihat Bi Utih dan Rama, Bu Windi terkejut.
"Ada apa Bi?" tanya Bu Windi kepada Bi Utih.
"Ini Bu, kata Rama di depan ada polisi," kata Bi Utih
"Benar, Ram?" tanya Bu Windi kepada Rama.
"Benar, Bu, mereka di ruang tamu, sebaiknya ibu temui saja biar lebih jelas," ujar Rama.
Bu Windi pun ke depan menemui polisi di ruang tamu rumahnya. Benar saja sudah ada polisi lengkap dengan senjata membuat batin Bu Windi bertanya-tanya, ada apa gerangan?
"Selamat pagi Bu," kata petugas setelah Bu Windi duduk di salah satu kursi yang kosong.
"Selamat pagi, ada apa ya Pak?"
"Begini, kami beri tahukan bahwa tahanan kami yang bernama Danu baru saja kabur dari tahanan. Dia kabur setelah sebelumnya melumpuhkan petugas dan merebut pistolnya," ujar Pak Polisi menjelaskan kepada Bu Windi.
"Jadi, kami harap keluarga di sini berhati-hati karena Pak Danu membawa pistol," kata polisi lagi.
Bu Windi menyimak dengan serius sambil menyumpahi suaminya bukannya sadar dan segera bertaubat ini malah berulah melukai polisi dan merebut senjatanya.
"Nah selain itu kami juga mohon izin ke ibu akan memeriksa rumah ini, siapa tahu dia lari ke sini dan bersembunyi," kata petugas lagi.
"Tapi, tapi saya rasa di sini tidak ada Pak, kami hanya bertiga di sini ditambah ini anak-anak ikut nginap," kata Bu Windi.
"Ya, semoga begitu. Tapi bagaimanapun kami harus melakukan pencarian di sini karena ini rumah yang bersangkutan," ujar polsi lagi.
Maka walaupun merasa berat akhirnya Bu Windi mempersilakan para polisi menggeledah seluruh ruangan yang ada di rumah. Bahkan kolong ranjang, para-para rumah, ke gudang, tak terlewat. Namun tak membuahkan hasil .
Akhirnya polisi menghentikan penggeledahan. Dua orang polisi ditugasi menjaga rumah Bu Windi, sementara yang lainnya kembali ke kantor dan besok pagi akan mencari buron Danu.
Sementara di kantor polisi beberapa jam setelah Danu kabur, seorang pria yang mengaku tukang ojek melapor bahwa sepeda motornya dirampas penumpang bersenjata.
Polisi pun menanggapi serius laporan si tukang ojek itu dan akan menindaklanjutinya. Polsi mencatat nomor sepeda motor yang hilang, dan menanyakan ke arah mana kaburnya.
Si tukang ojek menerangkan bahwa pria bersenjata itu kabur ke arah Desa Mekarmulya. Polisi yakin pria bersenjata itu adalah Danu yang kabur dari tahanan setelah melumpuhkan polisi jaga.
__ADS_1
Itulah sebabnya komandan menugasi beberapa anggotanya untuk mengejar, pertama ke rumah Kades Danu. Namun setelah digeledah ternyata tidak ada.
Bu Windi bersama yang lainnya berkumpul di tengah rumah dengan hati waswas ketika mendengar keterangan polisi bahwa Danu kabur membawa senjata api berupa pistol yang direbut dari polisi jaga.
"Kita semua harus waspada, takutnya dia tiba-tiba datang ke sini dan melukai kita," kata Bu Windi.
"Iya, tapi menurut Rama kecil kemungkinan akan ke sini. Dia pasti berpikir kalau pulang ke sini bakal ditangkap polisi," kata Rama.
"O iya ya," jawab Bu Windi.
"Tapi waspada harus, Ram. Orang bawa senjata, pasti merasa aman dan muncul keberanian, tak melihat lagi siapa yang menghalanginya," kata Inah, kini dia ikut bergabung setelah terbangun mendengar ribut-ribut.
"Benar, di sini atau di mana pun kita harus tetap waspada. Sialan tuh orang bukannya sadar ini malah membuat kasus baru," kata Bu Windi.
Hingga pagi dan matahari muncul dari arah timur mereka tak tidur lagi dan langsung beraktivitas di rumah.
Semetara dua polisi yang dini hari tadi berjaga, pamitan dan mohon kalau Danu ada pulang segera lapor polisi. Bu Windi dan yang lainnya mengiyakan.
***
Sementara itu setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh keluar dari Desa Mekarmulya, Kades Danu dan Tanu tiba di sebuah kawasan perkebunan yang entah di mana.
Danu menghentikan sepeda motor curiannya yang masih bagus. Dia berharap sepeda motornya masih berisi bengsin yang cukup untuk melancarkan aksi kabur dan misi tertentu.
Ya, sejatinya Danu mengajak Tanu sekadar ingin ditemani dan bukan untuk melihat Iis seperti yang dikatakannya tadi ke Tanu.
Danu meminta Tanu membawa uang dan itu dipenuhi Tanu mengingat niat baik Danu untuk menjemput putrinya.
Padahal Danu punya misi untuk mendapatkan lagi seorang gadis untuk melengkapi lima orang setelah kini berhasil mendapatkan Yati, Wati, Iis, dan Imas.
"Jadi tinggal satu gadis lagi untuk memenuhi syarat lima gadis dan saat inilah aku harus mendapatkannya dengan minta bantuan Tanu," gumam Kades Danu.
Dia pun lantas berpikir bagaimana caranya untuk mendapatkan seorang gadis itu. Dia berharap Tanu mau melakukannya.
"Gini Tan. Jadi si Iis itu udah diterima bekerja bersama Imas. Nah, kalau Tanu mau ambil lagi Iis di tempat pekerjaannya itu ya harus ada gantinya, kalau tidak pimpinan perusahaan minta ganti rugi yang bisa puluhan juta karena membatalkan kesepakatan semula," kata Danu mengarang cerita.
"Oh begitu Pak. Lalu bagaimana caranya kita mendapatkan pengganti Iis?" tanya Tanu terheran-heran.
"Ya kita harus cari akal, kita harus memanfaatkan anak gadis dan memaksanya agar mau bekerja. Kerjaannya sih enteng cuma kerja biasa membantu-bantu pekerjaan sehai-hari semisal menyapu, menyediakan jamuan, memasak," kata Danu menambah karangan ceritanya agar Tanu percaya dan tertarik.
"Ayo sekarang kita melaju lagi, moga mendapati kampung dan kita menemukan jajanan, perut udah laper nih," ajak Danu kepada Tanu. (Bersambung)
__ADS_1