
USAI salat, Rama berzikir, lalu diakhiri doa yang selain doa berbahasa Arab juga dengan bahasa Indonesia. Dia berdoa semoga saja Wiwi dalam keadaan selamat.
"Ya Tuhan, lindungilah adikku Wiwi. Sabarkanlah keluarga kami yang tengah menghadapi ujian teramat berat. Dan tampakkanlah siapa yang telah berbuat buruk kepada adik kami....!" ucap Rama dalam lantunan doanya yang begitu ikhlas.
Usai salat dan berdoa Rama beranjak ke peraduan. Kantuk begitu terasa berat menyergap sehingga gegas saja dia memejamkan mata dan beralih ke alam maya.
***
Tubuh Wiwi terasa lemas, hatinya amat tersiksa mengalami nasib yang tak disangka-sangka menerima perlakuan biadab dari Darpin.
Dia tidak tahu berada di mana, namun ia sadar sepertinya saat itu sudah pagi hari.
"Ayolah makan Wi, jangan biarkan perutmu keroncongan," bujuk seseorang.
Wiwi tahu itu suara Darpin yang semalam menculiknya. Ya, semalam ia ingat kembali ketika pulang berbelanja bersama adiknya Wati, pas di area permakaman ketika melewati sebuah mobil tiba-tiba dia disergap orang berkupluk. Lalu dibopong ke dalam mobil.
Di dalam mobil kedua tangan Wiwi diikat di bagian belakang punggungnya, mulutnya disumpal kain agar tak berteriak, sementara matanya ditutupi kain juga.
Dia berusaha melepaskan diri dari sekapan, namun sia-sia. Kemudian dia mendengar suara dari orang-orang yang menculiknya, tak asing lagi, dia adalah Darpin, anak Kades Danu yang memaksanya agar mencintainya.
Dia pun ingat ancaman Darpin ketika hari Minggu bersama Yati dan Imas serta Warya.
"Duh tolong aku Kang Warya, toloooong......," batin Wiwi menjerit-jerit minta bantuan sang kekasih.
"Apakah dia tahu aku seperti ini? Bagaimana nasib Wati adikku? Bagaimana ayah dan ibu, pasti mereka menangis mendengar nasibku, apakah mereka sudah tahu?" benak Wiwi terus bertanya-tanya dalam ketidakpastian.
Yang pasti malam tadi ia begitu sedih dan tidak tahu harus berbuat apa hingga akhirnya di malam yang entah di mana dia dibawa keluar dari mobil.
Lalu disuruh berjalan sepertinya jalan setapak, tak lama kemudian tubuh Wiwi dibopong seseorang. Kini tak hanya tangannya yang diikat kakinya pun diikat. Ada sekitar 30 menit tubuh Wiwi dibopong bergantian hingga sampai ke suatu tempat yang tidak diketahuinya.
"Ayo bawa ke dalam gudang. Awas ya kalau kalian mengganggu. Aku pulang dulu ke rumah nanti ke sini lagi!" kata seseorang, suaranya seperti Darpin.
"Oke Bos," kata seorang pria lainnya sepertinya Wiwi kenal, dia adalah Doma.
Wiwi pun lalu dibawa ke dalam sebuah ruang sepertinya gudang. Isak tangis pun pecah takut mengalami hal-hal yang tak diharapkan.
"Pulangkan aku!" teriak Wiwi. Dia bisa ngomong karena sumpal di mulutnya sudah diambil atas suruhan Darpin yang merasa kasihan. Namun ikatan tangannya dan penutup mata tak dibuka. Pun ikatan kakinya.
"Sst....jangan berteriak-teriak. Percuma, ini di tempat jauh ke rumah penduduk, apalagi rumahmu dan pacarmu si jahanam Warya!" kata Darpin ikut masuk ke dalam gudang.
__ADS_1
Lalu tangannya mencuil dagu Wiwi.
"Lepaskan setan!" Wiwi murka.
"Oke, Dom, Gon. Ben, titip ya. Aku pulang dulu takutnya ada orang menyusul ke rumah dan kalau aku tak ada di rumah disangkanya aku menculik Wiwi, nanti ke sini lagi," kata Darpin lalu menyodorkan tiga bungkus rokok dibagikan kepada ketiga kawannya masing-masing 1 bungkus.
"Makacih, Bos." Sahut Doma, kini ia gembira dikasih sebungkus tak seperti malam kemarin cuma sebatang.
"Tapi Bos, koreknya mana?" Doma baru ingat tak bawa korek api.
"Waduh, aku lupa. Entar aku bawa ke sini," timpal Darpin lalu gegas teburu-buru kembali ke rumahnya.
"Hah.....sialan. Ngasih sebungkus rokok tanpa korek api, sama aja bohong!" teriak Doma, manyun.
"Iya, sialan. Ke mana kita cari api?"
"Gpp lah biar awet," ketus Benco.
"Ayo duduklah Wi. Makanya jadi wanita jangan bodoh. Udah dimauin ama Gan Darpin, ini malah milih cowok miskin si Warya!" kata Doma, sembari menyorot Wiwi dengan senter yang diberikan Darpin untuk sekadar cahaya penerangan.
Wiwi tak menyahut. Ia cuma duduk beralaskan tikar di pojok dengan tubuh menggigil kedinginan udara malam. Ingin rasanya melawan kepada orang-orang itu, namun pasti takkan mampu mereka laki-laki dan di tempat yang belum diketahuinya di mana dan juga malam hari.
"Dom, dom!"
"Ya, Bos," Doma keluar, tampak sesosok tubuh menghampirinya. Ternyata Darpin, dia datang membawa tas.
"Gimana Bos?" tanya Doma.
"Benar dugaanku, mereka telah mengetahui si Wiwi diculik dan mencurigaiku. Untung saja aku tadi pulang dan pasti mereka menyangka bahwa yang menculik Wiwi bukan aku," kata Darpin.
Darpin memberikan tiga buah korek api untuk ketiga temannya yang langsung diterima dan bungkus rokok yang sedari tadi dipegangnya langsung dibuka, mereka pun menyulut rokok dengan nikmatnya.
"Trus mereka itu siapa Bos?" Doma penasaran.
"Ada empat orang," jawab Darpin.
Wiwi mendengar omongan Darpin dengan seksama. Mendengar empat orang yang mendatangi rumah Darpin Wiwi merasa senang, tapi siapa mereka? Adakah Warya?
"Dia Si Rama, si Anwar, si Wati, dan musuh besarku....!" kata Darpin dengan cukup jelas didengar Wiwi.
__ADS_1
Wiwi bersyukur Wati selamat. Dia yakin Watilah yang melaporkan kepada orangtuanya sehingga Rama sang kakak bergerak menemui Darpin. Tapi siapa yang disebut musuh besarku oleh Darpin.
"Musuh besar Bos?" tanya Doma penasaran.
"Iya si Warya. Dia musuh besarku. Setelah misi ini selesai, aku akan membuat perhitungan dengannya karena aku takkan rela jika dia tetap hidup!" koar Darpin.
Hati Wiwi begitu senang mendengar Warya ikut terlibat dalam pencarian dirinya, namun juga khawatir mendengar ancaman Darpin yang katanya akan membunuh Warya.
"Terus tadi si Rama bilang apa saja Bos dan bagaimana reaksi dia?"
"Ya, dia menuduhku menculik si Sarwi aku bantah dengan mengatakan bahwa aku ada di rumah dari tadi juga. Sampai-sampai ayahku memukul dia beberapa kali karena tak suka mendengar tuduhan Rama," kata Darpin.
Wiwi ingin mengelus dada namun tak berdaya karena tangannya diikat di belakang punggungnya ketika mendengar kakaknya Rama dipukul Kades Danu.
"Terus bagaimana Bos?"
"Ya para cecunguk itu akhirnya pulang."
"Pak Kades Danu dilawan......!" Doma bangga memuji Kades Danu.
"Benar Dom. Dan asal kalian tahu, Bapakku mengancam orangtua si Rama, katanya mulai besok harus berhenti bekerja dan utang orangtuanya sebanyak 5 juta harus dilunasi besok. Kalau tidak, jangan menyesal kalau terjadi apa-apa!"
"Brengsek!" Pekik Wiwi dalam batinnya karena ingin bersuara tak mungkin karena mulutnya disumpal lagi oleh Doma setelah tadi Wiwi mencoba bicara ingin lepas, sambil meronta-ronta mendengar omongan Darpin tentang oragtuanya.
Punya uang dari mana orangtuanya untuk membayar utang?
"Hahaaaa........rasain lu Wi!" Darpin menyorot senter ke muka Wiwi yang matanya masih ditutupi kain, mulut tersumpal lagi.
"Coba kalau kamu menuruti kata-kataku, menerima cintaku, orangtuamu takkan menerima nasib menyedihkan. Ayahku besok akan minta uang untuk membayar utang orangtuamu!" kata Darpin semalam yang masih diingat Wiwi.
Lalu, dia membuka sumpal mulut Wiwi dan membuka tutup matanya sehingga wajah cantik Wiwi tampak jelas tersorot cahaya senter HP.
"****!" Wiwi meludahi muka Darpin.
"Hai Sarwi! Jangan bodoh lu! Gue buka sumpal dan matamu agar bicara dan melihat betapa aku mencintaimu......" Darpin menarik napas dalam-dalam.
"Namun ternyata kau meludahi wajahku. Ingat, ludah ini akan kembali kepadamu dengan perlakuanku yang lebih keji jika kamu tetap kepala batu!" ancam Darpin.
"Lebih baik kau bunuh aku!" ujar Wiwi dengan wajah terisak.
__ADS_1
"Itu pasti kalau kamu membangkang. Tapi aku takkan melakukannya karena aku ingin mencicipi tubuhmu dahulu layaknya suami istri........dan kau akan hidup nyaman, derajat kamu dan orangtuamu akan terangkat karena mendapatkan suami keturunan ningrat. Namun sebaliknya kalau menolak........!" ujar Darpin membanggakan dirinya berikut ancaman. (Bersambung)