Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 92. Wejangan Ustaz Hamid dan Amuk Warga


__ADS_3

Bu Ratih dan putrinya Wati saling peluk. Di matanya ada cairan bening, terharu mendengar ucapan Pak Muslih.


"Iya Pak, aamiiin....semoga kampung kita untuk seterusnya aman, tidak dipimpin lagi oleh orang jahat," ujar Warya.


***


Keesokan harinya dipimpin tokoh masyarakat seperti Ustaz Hamid dan Pak Haji Makmur serta Pak RW, warga diajak memakamkan para korban di satu lokasi.


Meski tak banyak warga yang ikut mengingat mereka mengatahui siapa yang dimakamkan, proses pemakaman berjalan lancar sesuai arahan Ustaz Hamid.


Selesai proses pemakaman, Ustaz Hamid berbicara di hadapan warga terutama menyangkut peristiwa yang telah terjadi yaitu penodaan terhadap wanita hingga tewas.


"Semoga peristiwa yang angat menyedihkan ini tidak terulang kembali di kemudian hari. Jadikan cermin, didik anak-anak kita dengan ajaran agama agar mereka kuat ketika menerima godaan hawa nafsu. Jauhilah sifat serakah kemaruk terhadap harta benda, apalagi yang bukan haknya," kata Ustaz Hamid.


"Mari kita lihat sahabat kita yang sudah terbujur kaku di liang lahat dan jasadnya sudah ditutup tanah ini tak membawa harta benda sekadar uang seribu atau dua ribu. Harta benda yang dibawa cuma kain kafan, lain tidak," imbuh Ustaz Hamid.


Warga di sekitar pemakaman menyimak dengan baik-baik wejangan yang disampaikan Ustaz Hamid. Semuanya membenarkan kata-kata Ustaz sekaligus tokoh masyarakat di Kampung Mekarsari itu.


"Yang akan dibawa ketika kita mati itu hanya amal perbuatan yang kita kerjakan selama hidup. Amal terbagi dua bagian, amal baik dan amal buruk. Tidak ada sebutan setengah baik setengah buruk. Yang hak dan batil itu sudah jelas. Termasuk akibat yang akan kita terima. Maksudnya, jika amal kita baik, maka kebaikan pula yang akan kita terima kelak di akhirat. Sebaliknya jika amal kita buruk, maka keburukan pula yang akan kita terima," tambah Usaz Hamid panjang lebar.


Warga mengangguk-angguk setuju sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri, entah sudah berapa banyak kebaikan dan berapa banyak pula keburukan.


"Mari kita kaji diri kita masing-masing. Sudah sampai sejauh mana kita berbuat baik agar kita kembali ke haribaanNya membawa kebajikan sehingga kelak kita menemui kebahagiaan di akhirat. Kita pun harus mengoreksi diri sudah sampai sejauh mana perbuatan buruk kita. Setiap manusia pasti punya kesalahan, punya dosa. Mari kita ingat-ingat kesalahan dan dosa kita, lalu mungpung kita masih hidup yuk segera bertobat agar diampuniNya," imbuh Ustaz Hamid lagi.

__ADS_1


Oran-orang makin merasakan terhanyut oleh seruan Ustaz Hamid. Terutama tentang perbuatan dosa, pasti takkan terhitung dan kalau itu tidak segera diubah dengan bertobat, maka nanti akan celaka. Jika celaka nanti di akhirat apakah akan bisa memperbaikinya? Begitu rata-rata pertanyaan hati warga usai menyimak keterangan Ustaz Hamid tentang dosa.


"Sekaranglah saat kita masih hidup waktunya bertobat. Sebab nanti di alam kubur, di alam barzah, di alam menerima pengadilan Ilahi, pintu tobat benar-benar sudah tertutup. Tak ada lagi pintu tobat setelah kita wafat," ucap Ustaz Hamid penuh penekanan.


"Tobat tak hanya terucap pada lisan dan terlintas dalam hati, tetapi tobat sejati adalah mengabdikan diri sepenuhnya kepada Sang Khalik, Allah SWT."


"Misal kalau kita pernah berbohong kepada siapa saja apalagi kepada orang terdekat, anak kepada orangtua, istri atau suami kepada pasanggannya, kepada tetangga, maka mintalah maaf kepada yang bersangkutan. Namun setelah diberi maaf, jangan dulu geer," jelas Ustaz Hamid.


Orang-orang terkejut, lantas pandangan mereka tertuju kepada Sang Ustaz seolah memita penjelasan lebih lanjut dari ucapan beliau barusan.


"Ya, jangan geer karena kita baru mendapat sebagian pelepasan dosa yaitu berbohong kepada sesama manusia dan kalau dimaafkan maka kita terlapas dari dosa berbohong itu. Namun, kalau kita ngin selamat hingga di akhirat, kita pun jangan berbohong kepada Allah SWT," ujar Ustaz Hamid.


Orang-orang makin penasaran saja. Ternyata berbohong terhadap manusia masih ada kaitannya dengan berbohong kepada Allah. Warga belum mengerti sehingga mereka pun lagi-lagi ingin mendapatkan penjelasan.


"Kita ingat dalam khazanah hukum Islam ada sebutan hablumminallah dan hablumminanas yaitu hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia," kata Ustaz Hamid.


"Kita harus baik hubungan kepada manusia juga kepada Alllah. Dalam kasus berbohong tadi, jika kita sudah dimaafkan, itu artinya jalinan hablumminanas kita masih utuh. Nah demikian pula dengan Allah harus tetap utuh."


"Bagaimana utuhnya hubungan kita dengan Allah? Tadi saya katakan bahwa tobat sejati itu adalah mengabdi kepada Allah. Jadi, utuhkan hubungan kita dengan Allah yaitu dengan menunaikan segala titahNya dan menjauhi segala laranganNya. Jika kita sudah melakukannya, kita tidak berbohong. Tetapi jika kita masih saja mengabaikan perintah dan malah terjerembab ke dalam perbuatan yang dilarangNya, berarti kita berbohong."


Barulah orang-orang mengerti, apalagi setelah Ustaz Hamid memerinci lagi keterangannya.


"Jadi, walaupun kita sudah baik dengan manusia, tetapi kita tidak menunaikan titah Allah dan masih saja melakukan maksiat, tetap saja kelak kita bakal celaka. Sehingga hubungan baik dengan manusia pun takkan menolong kita kelak. Demikian pula sebaliknya, kita baik-baik hubungan dengan Allah, tetapi tidak baik dengan manusia, tetap bakal celaka!" ujar Ustaz Hamid makin memerinci.

__ADS_1


"Dalam hadis diterangkan bahwa keridaan Allah itu bergantung pada keridaan ibu bapak. Takkan masuk surga orang yang suka memutus, yaitu memutus tali siltarahmi!" jelas Ustaz Hamid panjang lebar dan dapat dipahami oleh warga.


"Itulah sebabnya mari kita perbaiki diri, tetap jaga hubungan dengan sesama manusia, dengan Allah SWT, jangan merusaknya dengan perbuatan-perbuatan buruk seperti yang telah terjadi di kampung halaman kita khususnya."


Ustaz Hamid mengakhiri wejangannya dengan berdoa dan diamini warga yang ada.


Lalu semuanya pulang ke rumahnya masing-masing dengan hati tenang setelah mendapat siraman rohani dari Ustaz Hamid.


***


Sementara itu kalau di Kampung Mekarsari para korban dimakamkan yang dipimpin tokoh masyarakat, maka warga di kampung tempat tinggal Embah Sawi, beraksi dengan membumihanguskan tempat itu.


Warga merasa kesal karena selama ini mereka tak berani melawan karena Embah Sawi dan antek-anteknya mengintimidasi akan membunuh mereka.


Tak cukup dengan itu, mereka pun dimintai upeti secara paksa. Jika ada yang menolak, maka siksaanlah yang bakal diterima.


Mujur cuma disiksa tubuh masih ada harapan untuk sembuh, tetapi jika yang disiksa tembus ke batin, lama sembuhnya bahkan takkan sembuh.


Itu menimpa kepada warga yang anaknya menjadi korban kebiadaban Embah Sawi dan antek-anteknya. Seorang gadis bernama Ani, adalah salah satu korban yang dirudapaksa Embah Sawi hingga tewas.


"Ayo kita bumihanguskan tempat ini, kalau dibiarkan nanti muncul lagi orang-orang jahat seperti mereka!" kata seorang tetua kampung.


Maka warga pun makin semangat membakar segala yang ada di situ, terutama bangunan rumah yang terdiri atas empat bagian. Tiga di depan dan satu di belakang yang biasanya digunakan untuk menyekap para tawanan gadis.

__ADS_1


Dalam beberapa saat saja, tempat itu benar-benar telah hangus dan rata dengan tanah hingga di sebelah mana Embah Sawi dan Sodom dikuburkan, tak ada cirinya.


"Orang seperti keduanya tak perlu dicari makamnya, tak perlu didoakan, tak perlu ditangisi, biarkan jangan diberi nisan, siapa yang mau datang ke sana?" kata salah seorang warga meluapkan kekesalannya. (Bersambung)


__ADS_2