Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 99. (PoV Bi Utih) - Kapak Berdarah di Gedung Tua


__ADS_3

Bab 99. (PoV Bi Utih) - Kapak Berdarah di Gedung Tua


Saat makan malam bersama Bu Windi, anakku Imas, dan Toto keponakan Bu Windi, hatiku tentu saja sangat bahagia karena masih bisa berkumpul dengan orang-orang tercinta.


Terutama anakku, Imas, yang nyaris menjadi korban kebiadaban orang-orang yang menggunakan ilmu yang salah, ilmu gaib, yang bersekutu dengan jin jahat dan iblis.


Konon kata yang bercerita, sengaja Kades Danu menculik para gadis yang akan dijadikan tumbal sebagai syarat Kades Danu memiliki azimat kekuatan untuk meraih cita-citanya hidup lebih dari orang lain, entah kedudukan entah jabatan.


Begitulah memang nafsu manusia jika bersekutu dengan jin jahat atau iblis, maka sifat-sifat kesucian nuraninya, akan musnah berganti dengan perilaku jahat, buas, sebagaimana kelakuan iblis dan jin jahat itu sendiri.


Aku juga tidak mengerti kata orang-orang saat di tempat orang-orang jahat itu aku menjadi sosok wanita jagoan, bahkan menjadi pimpinan penyerangan yang memerintahkan segala sesuatu agar meraih kemenangan.


Aku pula kata yang bercerita yang menaklukkan pimpinan penjahat bernama Embah Sawi. Si Embah Sawi tewas di tanganku menggunakan kapak.


"Iyyyy......." aku bergidik jika mengingat hal itu.


Bagaimana aku seorang wanita yang sudah berumur bisa mengayunkan kapak kepada kepala seorang pria jagoan hingga tewas.


Begitu beres-beres bekas makan, tiba-tiba aku terasa diserang kantuk yang begitu kuat, ingin segera merebahkan tubuh ke atas kasur. Apalagi tiba-tiba kepalaku terasa pusing.


Oleh karena itu aku segera saja masuk kamar bersamaan dengan Bu Windi yang juga memasuki kamarnya. Sedangkan anakku Imas dan Toto terlihat masih duduk di ruang tengah menonton televisi.


Saking tak kuatnya kantuk menyerangku, aku langsung saja merebahkan tubuh ke atas kasur. Lampu kamar yang tadi padam, tidak kunyalakan. Aku pun lupa menutup pintu kamarku.


Lupa menutup pintu kamar itu terbawa ke alam bawah sadarku sehingga aku tidur antara sadar dan tidak. Hal itu terasa sangat mengganggu. Aku tak bisa tidur dengan lepas.


Maka aku pun terbangun dengan niat menutup pintu kamar dulu dan menyalakan lampu kamar. Aku tak terbiasa tidur dengan lampu gelap.


Aku bangkit dari kasur, lalu berjalan agak sempoyongan, menekan tombol saklar lampu biar nyala. Lampu menyala terang benderang. Lalu aku menghampiri pintu untuk dikunci dari dalam.


Namun aku penasaran juga untuk melihat Imas dan Toto di ruang tengah apakah mereka masih terjaga menonton TV atau sudah pada tidur.


Ada perasaan takut anakku Imas melakukan perbutan yang tak semestinya dilakukan bersama Toto. Aku sudah mencium gelagat Toto ada hasrat kepada anakku Imas.


Ya, tak mustahil ketika kami berdua terlelap mereka melakukan hubungan intim layaknya suami-istri. Itu tidak boleh terjadi.

__ADS_1


Aku pun menyempatkan diri dulu ke ruang tengah, ternyata mereka berdua tidak ada di situ. Namun pesawat TV masih menyala.


Aku pikir mereka sudah pada tidur di kamarnya masing-masing, namun lupa mematikan TV. Maka aku pun segera mengambil remote TV dan mematikannya, lalu kembai ke kamarku dan mengunci pintu kamar rapat-rapat.


Aku terkejut begitu memasuki kamar lampu sudah mati padahal tadi jelas-jelas sudah kunyalakan. Aku pikir mungkin bohlam lampu di kamarku sudah putus dan harus diganti oleh yang baru.


Tiba-tiba serasa ada yang membantingkan tubuhku ke atas kasur lalu terlelap tidur dengan nyenyaknya tak ingat apa-apa tentang dunia nyata.


Namun tiba-tiba aku merasa tengah berada di sebuah rumah gedung tua seorang diri duduk di kursi rotan menghadapi meja kayu tua tanpa taplak.


Seketika ke meja itu ada  benda jatuh.


Ketika kulihat, ternyata yang jatuh itu sebuah kapak tajam. Yang membuat aku terkejut, kapak itu berlumuran darah kental, seolah baru saja digunakan untuk membacok orang.


Aku bergidik melihat kapak itu, degup jantung berirama kencang. Aku pun berniat keluar dari gedung tua ini karena sangat takut, tak ada siapa-siapa, justru malah ada kapak berdarah.


Namun, ketika aku akan bangkit, tiba-tiba pundakku ditepuk tangan sangat kuat lalu ditekan seolah aku dilarang bangkit berdiri, apalagi pergi.


"Mau ke mana kau?"


Aku mencoba menoleh ke belakang melihat siapa yang berbicara. Seketika aku syok melihat sesosok tubuh manusia yang kepalanya terbelah.


Aku makin ketakutan, sekujur tubuh menggigil, aku mencoba berdiri dan nekat akan lari dari gedung tua yang entah di mana ini.


"Hahaaa........kau mau lari perempuan jahat?" ujar sosok itu.


Aneh juga mengapa dengan kepala terbelah dia masih bisa bicara.


Sedang berada di mana aku sekarang? Mengapa dipertemukan dengan sosok menakutkan begini?


Aku tak menghiraukan pertanyaannya, aku nekat bangkit dan lari menuju pintu depan gedung tua yang tampak terbuka.


Aku berhasil berlari menuju pintu gedung tua tanpa diikuti sosok menakutkan itu. Akan tetapi, sontak aku terkejut karena pintu depan gedung tua itu menutup sendiri sehingga praktis aku takkan bisa keluar.


Aku hanya bisa memandang terpana pintu itu. Namun aku segera mendekatinya dan mencoba memegangi pegangan pintu lalu kuputar-putar agar bisa terbuka.

__ADS_1


Akan tetapi, alih-alih terkuak, pintu itu malah semakin tekunci rapat. Sialan, apa yang harus kulakukan dalam kondisi seperti ini.


Aku pun larak-lirik melihat-lihat barangkali ada pintu lain. Tak ada pintu lagi, tetapi syukurlah aku melihat ada jendela yang terbuka, cukup bagi tubuhku untuk keluar.


Aku pun segera mendekati jendela itu dan bermaksud akan menaikinya lalu keluar dari gedung tua yang menyeramkan ini.


Akan tetapi, seperti pintu depan gedung tua yang tiba-tiba menutup rapat, daun jendela pun seketika menutup rapat ketika kudekati.


"Sialan," bisikku dalam hati.


Aku pun segera mencari akal mencari jalan keluar. Karena pintu depan rumah dan jendelanya sudah tertutup, aku harus mencari pintu lain, mungkin pintu dapur rumah ini.


Namun, untuk sampai ke pintu dapur di belakang rumah ini mau tak mau aku harus kembali ke ruang tengah menemui sosok menakutkan dan kapak berdarah.


Tak ada jalan lain, aku pun membalikkan badan dan menuju tengah rumah bermaksud akan ke dapur.


Sejenak aku melirik sosok menakutkan. Dia tengah duduk manis di bekas aku tadi duduk. Di tangannya digenggam kapak berdarah sepertinya siap untuk dibacokkan kepada musuhnya.


Siapa musuhnya? Semoga bukan aku. Aku tak mengenal siapa dia, apalagi punya masalah dengannya sehingga tak ada alasan dia memusuhiku. 


Namun dugaanku meleset, sosok menakutkan itu  bangkit dari tempat duduknya. Berdiri memegang kapak berdarah dan menghampiriku yang tengah menuju pintu dapur.


Kulihat pintu dapur terbuka, aku pun bergegas menuju ke sana dengan harapan bisa segera keluar. Namun seperti pintu depan dan jendela, lagi-lagi pintu dapur yang tadi terbuka itu mendadak menutup rapat.


Habis sudah jalan keluar dari gedung tua yang entah di mana ini. Aku hanya bisa terpaku, berdiri mematung dengan perasaan takut yang amat sangat.


Di luar kudengar gemuruh hujan besar. Halilintar menggelegar saling bersahutan menambah perasaan kalut dalam diriku yang kebingungan harus berbuat bagaimana lagi.


"Kau mencari pintu keluarkah? Takkan menemukanya, takdirmu di dalam gedung tua ini untuk menerima pembalasanku, perempuan jahat!" ujar sosok menakutkan itu sudah berdiri di hadapanku menghalangi jalan.


Kapak di tangan kanannya dipermainkan, diputar-putar, lalu dilemparkan ke atas dan ketika kapak itu jatuh ke bawah dia tangkap dengan sempurna oleh tangan kanannya.


"Pembalasan?" tanyaku, lirih.


Bulu kudukku mendadak merinding seketika. Aku tak kuat lagi melihat sosok menakutkan itu, apalagi tangannya tak henti-hentinya mempermainkan kapak, serasa sudah membelah kepalaku.

__ADS_1


"Jangan pura-pura bego, kamu! Bukankah engkau yang telah membacok kepalaku dengan kapak ini hingga aku harus meregang nyawa?" (Bersambung)


__ADS_2