
Sekitar pukul 17:00, Warya sudah tiba di halaman rumah Bu Yani dan Pak Dudung, orangtua Ira, di Kampung Karangsari.
Kebetulan orangtuanya sedang berada di rumah, termasuk kakak Ira, Ganda.
Keruan saja begitu mereka melihat Ira datang diantar seorang pemuda naik sepeda motor, mereka sangat senang.
"Ira, anakku!" teriak Bu Yani.
"Iya Bu," sahut Ira.
Ibu dan anak itu pun seketika terlibat salingpeluk dan hujan air mata. Namun tentunya, air mata bahagia karena sudah berkumpul kembali.
"Silakan masuk dek," kata Pak Dudung kepada Warya yang masih berdiri di teras.
"Terima kasih Pak," sahut Warya sembari menyalami Pak Dudung, Bu Yani, dan Ganda.
Bu Yani mengajak Ira ke dalam melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan. Baju sudah kusut tak keruan, rambut acak-acakan.
"Makan dan minum dulu, Ira, pasti kamu sangat lelah, lapar, dan haus," ujar Bu Yani seraya mengambil air hangat dari termos.
Ira pun segera menerima air pemberian ibunya dan meneguknya sedikit demi sedikit.
Seperempat jam sudah saling berpelukan antara ibu dan anak, kemudian keduanya kembali ke ruang tamu.
Beberapa tetangga Bu Yani berdatangan ingin mengetahui keberadaan Ira yang terlihat tiba di rumahnya kembali padahal isu yang berkembang Ira sudah meninggal dunia.
Lantas para tetangga itu oleh Bu Yani dipersilakan masuk ke ruang tengah rumahnya saja melalui pintu dapur karena di ruang tamu ada banyak orang.
"Terima kasih Dek sudah mengantarkan Ira kembali dalam keadaan selamat. Kami di sini sudah khawatir bahkan sampai menduga ha-hal yang buruk," kata Pak Dudung membuka pembicaraan, ingin segera megetahui bagaimana ceritanya anaknya bisa hilang lalu kembali dengan selamat.
"Ini namanya Warya Pak. Anaknya Bu Tita yang dulu diceritain," kata Bu Yani.
"Oh....ini yang namanya Warya? Bapak baru dengar dari Ibu," kata Pak Dudung.
Sebenarnya Pak Dudung merasa kesal juga mendengar cerita Bu Yani bahwa Warya berulah ketika didatangi Bu Yani dan Ira.
Namun itu kejadian sudah berlalu, sekarang yang penting anaknya sudah selamat. Soal jodoh bagaimana yang akan dberikan Tuhan saja. Habisnya dipertemukan juga kalau bukan jodohnya tetap saja tidak akan nyambung.
"Lalu bagaimana ceritanya sampai bisa ketemu Ira?" tambah Pak Dudung.
"Ceritanya panjang Pak. Ini sebenarnya cerita warga kampung kami dan desa kami yang terkena musibah," kata Warya.
"O ya?" Pak Dudung menatap lekat Warya sepertinya begitu penasaran dengan cerita Warya.
__ADS_1
Lalu Warya pun berceritera sejak terjadinya kasus penodaan terhadap salah seorang warga kampung yaitu Wiwi yang dinodai anak Kades Danu dan kawan-kawannya hingga tewas, terjadinya penculikan, beberapa gadis yang akan dijadikan tumbal, hingga kejadian malam dan siang tadi.
"Kami kira gadis yang diculik itu hanya warga kampung kami, ternyata ada juga Ira. Saya kaget. Tapi alhamdulillah semuanya selamat. Dari kampung kami ada empat gadis yang satunya lagi ya Ira dari kampung sini. Hanya saya tidak tahu mengapa Ira bisa sampai di tempat Embah Sawi," tutur Warya, menceritakan apa yang terjadi.
"Oh...iya ke sini juga ada kabar itu, bahkan saudaranya Bu Sari katanya ada anaknya yang jadi korban," tutur Pak Dudung.
"Oh benar Pak. Itu terjadi menimpa almarhumah Wiwi dan adiknya Wati, keduanya putri Pak Muslh dan Bu Ratih. Tetangga saya," terang Warya, dalam hatinya menyebut Wiwi sebagai pacar.
"Oh begitu ya. Tapi semuanya kini selamat kan?"
"Alhamdulillah seperti telah saya bilang tadi mereka selamat karena para penjahatnya sudah diketahui dan dilumpuhkan hingga tak tersisa seorang pun," sebut Warya.
Pak Dudung kemudian melihat putrinya Ira yang tampak kini sudah lebih segar.
"Bagaimana ceritanya kamu bisa diculik Ira?" tanya Pa Dudung.
"Maaf aku Yah, Bu. Kuakui saat itu di pagi hari aku sudah tak ada semangat hidup," kata Ira seraya melirik Warya.
Warya bisa membaca isi hati dan pikiran Ira bahwa yang dimaksud dengan tak ada semangat hidup adalah patah hati karena dirinya.
Lalu Ira pun menceritakan ketika tiba-tiba dibujuk seorang pria yang mengaku seorang kades dan katanya akan menemui orang yang telah menyakiti hatinya di kampung atau desa sang kades.
Pria itu menggunakan sepeda motor dan sepeda motor itu persis sama dengan sepeda motor yang diparkir di halaman rumahnya saat ini.
Keruan saja semua mata tertuju kepada Warya. Namun Warya buru-buru menjelaskan bahwa motor itu curian orang yang menculik Ira, bukan miliknya.
Ira melanjutkan ceritanya, katanya setelah dibonceng sepeda motor, tiba-tiba muncul seorang pria lagi dan membekap mulutnya dan mengikat tangannya, kemudian dia tak ingat apa-apa. Saat siuman, dia sudah berada di sebuah kamar bersama para wanita muda lainnya.
"Aku disuruh melihat seseorang membunuh dengan parang, ngeri sekali," sebut Ira.
"Nah itu yang membunuh dengan parang namanya Darpin, yang dibunuh namanya Tanu, dan yang membawa motor adalah Kades namanya Danu. Jadi Ira sudah dikelabui Kades Danu untuk dijadikan tumbal. Namun kini Danu dan Darpin juga Tanu sudah tewas," papar Warya.
"Ya Allah, benar-benar jahat sekali tuh orang," kesal Pak Dudung.
Usai menceritakan hal-hal pokok, kemudian berbincang ke sana ke mari, dan Warya pun segera permisi karena sudah senja dan sepeda motor harus segera dikembalikan kepada aparat kepolisian.
Meski disuruh menginap takut ada apa-apa, Warya memaksa ingin pulang saja. Apa boleh buat akhirnya keluarga Pak Dudung pun mengizinkan.
"Salam untuk Bapak dan Ibu ya War," ujar Bu Yani.
Kini Bu Yani tak menaruh hati buruk lagi kepada Bu Tita karena Ira sudah kembali dan suatu saat dia berniat menemuinya untuk meminta maaf.
"Iya Bu," jawab Warya.
__ADS_1
Ketika Warya keluar rumah, Ira mengikutinya dan saat Warya memegang setang motor Ira mendekatinya.
"Kak Warya terima kasih ya telah menyelamatkan aku, telah mengantarkan aku kembali ke keluarga," lirih Ira.
Pandangan mata Ira tak lepas dari mata pria ganteng di hadapannya yang selama ini menjadi impiannya.
Ira benar-benar sudah putus asa ketika harapannya untuk mendapatkan pria pujaan itu bakal pupus.
Namun, sekarang semuanya sudah belalu. Bagi Ira, penculikan itu ternyata membawa hikmah. Dia bisa bertemu dengan Warya di tempat penyekapan.
Padahal niat semula keluar rumah dengan membawa pikiran kusut adalah untuk menceburkan diri ke Sungai Cilampit alias bunuh diri.
Namun karena ada penculikan terhadap dirinya, dia selamat dan kini bersua dengan sang pujaan.
"Iya sama-sama Ira," timpal Warya, datar.
"Sering main ke sini ya Kak," harap Ira.
"Insyaallah," tutur Warya.
Mesin motor pun dihidupkan. Detak jantung Ira berdegup seirama dengan bunyi mesin sepeda motor.
Warya naik sepeda motor lalu mengangukkan kepala diarahkan ke ruang tamu rumah Pak Dudung dan istri yang tengah berdiri di teras.
Warya pun menghilang dari tatapan Ira. Ada sesuau yang hilang dari dalam benak Ira. Muncul pertanyaan apakah ini pertemuan terakhir? Atau akan disambung ke pelaminan?
"Aku harap bisa bersanding di pelaminan," gumam Ira sambil membalikkan tubuh masuk ke rumahnya.
Demikianlah angan-angan yang terlintas di benak Ira terhadap pemuda yang baru saja mengantarkannya ke rumah.
Sementara pria yang diangan-angankannya justru tengah membayangkan gadis yang mirip dengan Wiwi, Triana Wiarti.
"Apakah masih ada di rumah Pak Muslih atau sudah pulang? Semoga masih ada di rumah Pak Muslih," gumam Warya sembari melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang.
Warya berpikir dengan selesainya pembasmian terhadap para penjahat, maka selesai sudah perjuangannya membalas dendam atas kematian Wiwi.
Sekarang saatnya dia menyongsong hidup baru, berumah tangga layaknya orang lain sehingga harapan ibunya yang sudah sangat merindukan cucu bisa segera terwujud dan itu akan terlaksana jika dia bersanding dengan gadis bernama Triana yang bagi Warya gadis itu jelmaan dari Wiwi.
"Bukan, bukan dengan Ira," ujar Warya dalam hatinya.
Dia sudah bisa membaca aura Ira yang sangat menaruh perhatian terhadapnya. Apalagi ketika dia telah berhasil membawa pulang ke orangtuanya dengan selamat, pastilah Ira bakal baper.
"Maaf Ira," imbuh Warya masih dalam hatinya. (Bersambung)
__ADS_1