
"Ada apa Imas?"
Toto menatap wajah Imas yang tampaknya sangat ketakutan. Imas sendiri tanpa sadar masih memeluk tubuh Toto. Namun kemudian dia sadar.
"Maaf," tutur Imas sambil melepaskan rangkulan dari tubuh Toto.
"Enggak apa-apa. Lagian kamu sedang ketakutan," ujar Toto agak sedikit menyesalkan Imas mengapa harus melepaskan rangkulan dari tubuhnya.
"Ada apa? Ayo kuantar ke depan!"
"Takut."
"Iya, makanya kuantar. Ayo, ada apa?"
Imas masih berdiri. Kemudian beralih ke kursi untuk duduk menghadap TV yang masih menyala. Toto pun lalu duduk di kursi berdampingan dengan Imas.
"Ada apa, ayo bilang? Kalau enggak bilang, mana aku bisa menolong?"
"Duh! Ngeri, deh Kak. Aku enggak sanggup lihatnya!"
"Iya ceritakan saja, jangan takut-takut. Ada aku di sini kok," Toto cukup bersemangat memberikan tawaran bantuan.
"Enggak mau, ngeri!" tutur Imas bersikukuh tak mau menceritakan.
Meski Imas menjerit keras, Bi Utih dan Bu Windi sama sekali tak terganggu. Keduanya masih terlelap. Mungkin tak terdengar karena di luar hujan deras.
Sebaliknya Imas setelah melihat yang disebutnya mengerikan, tetapi tak mau berterus terang kepada Toto, mendadak hilang kantuk dari matanya.
Hanya degup jantungnya yang makin kencang. Bahkan keringat dingin serasa bercucuran dari tubuhnya. Ini lebih mengerikan daripada ketika disekap di lokasi kediaman Embah Sawi yang sekali pun belum pernah melihat makhluk aneh-aneh di sana.
"Baiklah akan kulihat ke depan," kata Toto.
"Jangan!" Imas mencegah.
"Enggak apa-apa, takkan ada apa-apa kok," timpal Toto.
"Aku takut!" kata Imas.
"Makanya ayo kita lihat ke depan ada apa? Apa yang menyebakan kamu takut?"
Toto kesal juga melihat sikap Imas yang masih tak mau berterus terang.
Makanya ia terus bangkit dan berjalan ke ruang depan untuk memeriksa ada apa sebenarnya yang menyebabkan Imas menjerit sekeras-kerasnya.
"Ikut!" teriak Imas.
Kelihatan nyali Imas menciut ketika akan ditinggalkan Toto. Imas pun akhirnya mengikuti Toto berjalan di belakangnya. Nyaris saja tangan Imas memegang tangan Toto, namun tak dilakukan takutnya Toto baper dan geer.
Toto berjalan perlahan-ahan mengayun langkah. Tatapannya fokus
ke depan, sesekali ke pintu depan. Hujan di luar masih mengguyur lebat, angin masuk dari lubang fentilasi rumah Bu Windi, bahkan kain tirai jendela kelihatan bergerak-gerak seperti ada yang menarik-narik. Mungkin itu hanya tiupan angin dari celah-celah jendela.
__ADS_1
Makin dekat makin dekat ke pintu kamar depan yang biasa ditempati Darpin dan kini ditempati Imas. Namun, Toto tak melihat apa-apa, hanya pintu kamar Imas yang terbuka dan lampu di dalamnya masih gelap karena boleh jadi belum dinyalakan oleh Imas.
"Enggak ada apa-apa kok, Im. Kenapa menjerit?" ujar Toto.
"Ya udah kita ke ruang tengah lagi," ajak Imas.
Dia tak mau menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada Toto. Padahal Imas tadi begitu tiba dari ruang tengah dan akan memasuki kamarnya melihat pintu kamar sudah terbuka padahal dia rasa tadi menutup pintu sebelum bergabung ke ruang makan.
Selain itu, Imas melihat sosok hitam berkelebat masuk ke kamarnya. Itulah yang membuatnya terkejut dan lantas menangis.
Entah makhluk apa sosok hitam itu. Atau hanya penglihatannya karena perasaan Imas tadi sudah begitu ngantuk ingin segera tidur, tetapi kemudian menghilang begitu melihat sosok hitam berkelebat itu.
Toto dan Imas pun kembali ke ruang tengah. Begitu tiba di ruang tengah keduanya terkejut lagi. Betapa tidak, ketika tadi keduanya berjalan menuju ruang depan, pesawat televisi itu masih menyala.
Akan tetapi kini sudah off alias sudah mati. Siapa yang mematikan pesawat televisi?
"Im, kok TV mati, kamu tadi yang matikan?" bisik Toto.
Imas yang kini tak ragu-ragu lagi mendekat ke tubuh Toto menggelengkan kepala.
"Tidak, kan remote-nya sedari tadi dipegang Kakak?"
"O iya ya."
Imas dan Toto pun akhirnya duduk kembali di depan pesawat televisi. Namun tidak dinyalakan.
Keduanya duduk dengan perasaan tak menentu. Imas tak berani lagi masuk ke kamar depan setelah melihat kejadian misterius tadi.
23:00. Jika terus begadang besok pasti kesiangan.
Dia tak mau mengecwakan tantenya apalagi tadi dia sudah berjanji akan selalu taat kepada tantenya seiring dengan sikap tantenya yang juga akan memperhatikan kebutuhannya.
Jadinya bingung juga. Pikir Toto, pasti Imas juga tak mau tidur di kamarnya. Kalau dia ikut tidur menemani Imas di kamarnya, sungguh perbuatan yang tak pantas dilakukan meski sebagai lelaki normal Toto sangat berhasrat.
"Belum mengantuk Im?" tanya Toto.
"Ngantuk sih, tapi aku tak mau masuk kamar," lirih Imas.
"Terus bagaimana?" tanya Toto ingin mengetahui bagaimana sikap Imas selanjutnya.
"Aku mau tidur bersama ibuku aja. Kalau kamu mau tidur di atas, ya silakan," kata Imas.
Imas lantas bangkit dan berjalan menuju pintu kamar yang ditempati oleh ibunya. Namun setibanya di depan pintu, Imas terkejut karena pintu kamar ibunya sudah tertutup rapat.
"Kak, tadi kan pintu kamar ibuku sedikit terbuka, tapi kini tertutup rapat," tutur Imas dengan suara pelan takut didengar ibunya.
"Iya ya, kok menutup?" timpal Toto.
Lalu Imas kembali ke ruang tengah dan duduk di kursi semula, diikuti oleh Toto yang juga duduk di tempat asalnya tadi.
"Udah aku mau tidur di sofa ini aja. Kak Toto pun di sini ya, tapi awas jangan macem-macem!" ujar Imas minta bantuan Toto agar diam di sana dengan catatan jangan macam-macam.
__ADS_1
"Iya, iya. Mau ambilkan selimut? Yuk aku antar ke kamarmu!" kata Toto menawarkan bantuan.
"Udah, enggak usah biar gini aja," kata Imas lalu menyenderkan kepalanya ke tangan-tangan sofa serta merebahkan tubuhnya.
"Ya udah kalau begitu, silakan tidur yang nyenyak!" titahToto.
"Awas jangan macam-macam, ya!" Imas lagi-lagi memperingatkan Toto.
"Enggak paling satu macam saja, enggak bakal macam-macam!" Toto tersenyum.
"Yang semacam juga enggak boleh!"
"Emang apaan gitu?"
"Yah paling juga kamu mulanya semacam yaitu cuma lihat-lihat, lalu macam keduanya meraba, macam ketiganya.......udah ah!"
"Tahu aja kesenangan sang pangeran," goda Toto membuat Imas tersipu-sipu.
"Ya udah dijamin aman. Kelak, jika sudah waktunya dan sah, gak bakal kusisakan sesenti pun."
"Sesenti apaan?" Imas bangkit dari tidurnya.
"Iya mie rebus." tutur Toto terkekeh.
"Gak lucu!"
"Ya emang, gue bukan pelawak," timpal Toto.
"Tapi suka niru-niru pelawak, tapi enggak lucu-lucu," sergah Imas.
Toto makin bersemangat melayani ocehan wanita yang diakui sebagai kekasihnya meski belum secara resmi diutarakan.
Padahal dia sudah sangat ingin mengutarakan isi hatinya biar gak penasaran terus.
Semoga saja dalam waktu-waktu dekat ini atau bahkan saat ini juga selagi suasana lagi tegang-tegangnya?
Bukankah Imas tak mau masuk kamar karena rasa takut yang entah takut karena apa karena dia belum bercerita banyak kepada Toto.
Pikir Toto, dalam suasana begini, pastilah Imas sangat membutuhkannya. Ini peluang emas unuk mengutarakan isi hatinya. Begitu pikir Toto, tetapi belum juga berani melakukannya.
Entah karena apa. Mungkin juga karena takut. Ya, sama-sama takut. Imas takut oleh sosok hitam yang tadi seperti tampak di hadapannyya, sedangkan Toto takut ungkapan rasa cintanya ditolak oleh Imas.
Akhirnya keduanya bungkam seribu bahasa. Imas merapatkan bibirnya tak mau berbicara lagi karena pastinya bakal tak ada ujungnya.
Lalu dia memejamkan mata menyongsong alam maya yang sudah memanggilnya sedari tadi.
Sementara Toto dia berusaha untuk tidak tidur, menjaga hal-hal yang tak diharapkan. Kejadian Imas menjerit. menjadi catatan Toto untuk lebih waspada.
Toto pun mengambil temote TV untuk melanjutkan menonton TV. Dia berharap ada siaran langsung sepak bola agar mampu mengusir kantuknya.
Namun, baru saja tangannya menyentuh remote, tiba-riba dari kamar Bu Windi terdengar jeritan. (Bersambung)
__ADS_1