Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 51. Penculik Buka Suara


__ADS_3

Rama mengendap-endap di pinggir jalan mendekati tiga orang pengojek atau entah siapa. Kebetulan ketiganya masuk ke semacam bangunan gardu ronda.


Ketiganya memang benar si Udin, si Odos, dan si Somad yang telah berhasil menculik Wati dan Yati kemarin sore. Atas kerjanya itu mereka mendapat upah yang dikasihkan Darpin dari bapaknya, Kades Danu.


Pertemuan Udin cees dan Darpin secara kebetulan saja. Ketika dia keluar dari tempat Embah Sawi dan mengemban misi dari bapaknya utuk mulai mencari perawan untuk tumbal karena bapaknya sudah tak sabar ingin segera mendapatkan azimat paket komplet.


Darpin cees pun mulai bergerak dan salah satu upayanya mencari pemuda yag punya motor untuk bisa diajak kerja sama dan akhirnya bersua si Udin dibantu Odos dan Somad.


Si Udin ingat betul kemarin masih mendapat 'proyek' penculikan perawan lagi karena kata Darpin dia butuh perawan sebanyak-banyaknya.


"Sayang yang dibutuhkan cuma perawan, padahal janda lebih banyak dan cantik-cantik. Eh, sialan yang dibutuhkan perawannya bukan cantiknya," gumam batin si Udin.


Malam tadi mereka sepulang mengantarkan 'pesanan' perawan mendapat duit banyak. Ada sepuluh juta rupiah. Udin mendapat lima juta rupiah, yang dua juta setengah diberikan kepada Odos, dan dua juta setengah lagi untuk Somad.


Rezeki nomplok itu bagi mereka sangat berarti dan telah mendorong mereka untuk terus mencari dan mencari perawan lainnya.


Seperti sore kemarin. Udin yang mulai beraksi mencari mangsa, melajukan sepeda motor ke kota kecamatan.


Ketika melihat dua perempuan celingukan di depan kedai bakso depan toko emas, Udin bukan main gembiranya karena sang mangsa sudah didapatkan dan dia berharap takkan gagal.


Mujur, dilihatnya ojek pangkalan yang biasanya mengenakan pakaian seragam, satu pun tak tampak di sana. Sementara dua perempuan itu terlihat gelisah ingin segera pulang, tentu takut kemalaman karena ini bulan puasa.


Udin melihat kedua perempuan itu tengah berbincang-bincang. Di depan pintu kedai bakso terlihat pula ibu-ibu, mungkin pemilik kedai bakso itu.


Tak membuang waktu lama, Udin segera menghampiri kedua wanita itu yakni Wati dan Yati yang ternyata sangat mudah ditipu dengan dia pura-pura menjadi tukang ojek setelahnya kemudian diserahkan kepada Darpin cees dan Kades Danu.


"Gimana kemarin elo bisa sukses ngelabui dua cewek itu, Din?" tanya si Odos, sambil mengisap rokok dalam-dalam.


"Ya, gue Udin. Kagak bakal kehilangan akal ngelabui cewek. Dua-duanya gue tahu itu cewek pasti lemah, pasti lugu, dan bakal mudah dikelabui. Nyatanya benar, hahaaaa.........!" Udin tertawa ngakak.


"Ceritanya gimana Din, biar gue bisa ngikuti cara elo nyari mangsa. Kan kita dipesenin menculik perawan sebanyak-banyaknya?"


"Gini ya Mad. Gue kemarin melihat-lihat dua perempuan muda masuk toko emas. Yang seorang bawa tas itu yang lebih muda dari satunya lagi. Nah, usai keluar toko emas, keduanya masuk kedai bakso. Gue perhatiin aja dari kejauhan sambil markir motor pura-pura nunggu seseorang," kata Udin, makin bersemangat bercerita di depan dua konconya.

__ADS_1


"Terus?" Odos dan Somad menatap tajam wajah Udin saking penasaran.


"Ya gue tungguin sampai keduanya keluar membawa jajanan bakso, dan gue samperin, mau naik ojek enggak. Lalu bla-bla...akhirnya mau boncengan dua orang di belakang, hahaa...."


"Iya terus?"


"Si perempuan yang lebih tua bilang agar ngejalanin motornya sedang-sedang saja, jangan kenceng jangan pelan. Tapi...tahukah kalian? Di jalan gue kencengin motor, dan direm mendadak. Duh nikmatnya tuh ada yang kenyal-kenyal menabrak punggung gue, hahaaaa......." Udin tertawa senang.


Dia tak sadar seseorang tengah mengintip pembicaraan mereka. Ya, dia Rama yang sedari kedatangannya ke tempat tiga pemuda itu bekumpul di gardu ronda mengendap-endap ke belakang pohon besar. Dan mengintip pembicaraan mereka, serta merekamnya melalui HP.


Rama yakin, ketiga pemuda inilah yang telah menculik Wati dan Yati. Maka Rama pun seketika mengendap-endap kembali mau menemui Pak Rudi, Warya, dan Anwar.


Namun sayang, karena tegesa-gesa, kaki Rama tersandung batu yang tak dilihatnya. Dia terjatuh dan tak sadar mengaduh serta terdengar oleh si Udin, si Odos, dan Somad.


"Hai, siapa lho? Lho ngintip gue bicara ya?" tanya si Udin sambil bangkit dan memburu datangnya suara.


"Ya, memang!" kata Rama, akhirnya ia menghadapi Udin cees.


"Apa perlunya kamu mendengar ucapan gue?" tanya Udin.


Rama menghampiri Udin dan seketika mencengkeram kerah bajunya lalu ditarik ke pinggir jalan. Maksud Rama tak lain agar Pak Rudi, Anwar, dan Warya bisa melihat.


Benar saja, ketika Pak Rudi melihat Rama mencekal seorang pemuda yang diduga pengojek itu seketika mengajak Warya dan Anwar menghampiri Rama yang pastinya membutuhkan pertolongan.


"Ayo, hampiri Rama. Dia pasti menemukan sesuatu," kata Pak Rudi.


Anwar dan Warya pun menurutinya.


"Pak, kita sudah menemukan penculik Wati dan Yati. Ini mereka bertiga!" kata Rama, masih mencengkeram kerah baju Udin yang tak melawan karena masih shock. Tak dinyana obrolannya ada yang mendengar.


"Biadab! Dikemanakan anak gue, bangsat!" kata Pak Rudi sembari mengirim tonjok ke muka si Udin.


"Apa-apaan ini?" kata Udin ngeper juga setelah menerima tonjokan Pak Rudi, padahal tubuhnya segar bugar karena tak puasa, sementara yang mengirim tonjok malah tengah berpuasa.

__ADS_1


"Ayo bilang saja dan akui. Dikemanakan anak gue dan temannya?" kata Pak Rudi lagi.


Udin tak menjawab. Dia memandangi kedua temannya, Odos dan Somad yang mendadak lemas.


"Jawab!" hardik Pak Rudi.


"Nganu, nganu...." kata Udin terbata-bata.


"Nganu apa, hah? Sekarang gini aja. Bukti sudah ada. Kata penjaga kedai bakso kemarin adik gue dan temannya dibawa naik motor oleh seseorang menggunakan motor bercat merah. Ini motor elo kan?" kata Rama sambil menunjuk motor warna merah yang memang benar milik Udin.


Udin makin menciut.


"Bukti lainnya, pembicaraan kalian tadi sudah saya rekam di HP ini. Kami tinggal lapor ke polisi dengan bukti-bukti kuat. Tapi laporan itu akan kami cabut, asal kalian bisa menunjukkan adik saya dan temannya dalam keadaan selamat, tak luka sedikit pun," ujar Rama.


"Ao jawab!"


Plak, plak, plak! tiga buah tamparan mendarat di wajah Udin yang sontak merintih kesakitan.


"Elo pada diam goblok! Gue ditabok nih. Duitnya aja elo mau, giliran gue kena tabok elo diem!" kata Udin kepada si Odos dan Somad.


"Iya, iya deh kami yang menculik dua wanita itu kemarin. Tapi kami kini sudah tak tahu menahu karena sudah dikasihkan kepada yang menyuruh kami," akhirnya si Odos bicara, membantu penderitaan mendadak si Udin.


"Siapa yang menyuruh kalian? Ayo jawab!" kata Rama dengan muka memerah saking geram dan marah.


"Siapa Din? Ayo elo yang bicara karena gue kan cuma diajak elo!" kata Odos.


"Ayo jawab siapa?" tanya Pak Rudi.


"Di, di, dia mengaku nama Darpin," kata Udin berterus terang, takut tamparan tangan Pak Rudi mendarat lagi.


Namun alih-alih menghindari tamparan tangan Pak Rudi, malah mendarat sebuah tonjokan maut yang telak mengenai hidung Udin.


"Blugh!!!!"

__ADS_1


"Adauw.....sakit tahu!" teriak si Udin sambil mengusap-usap hidungnya yang baru saja dikirimi tonjok. Ketika dilihat tangannya ada cairan merah. (Bersambung)


__ADS_2