
Merasa malam hari di tempat yang gelap meski di jalan raya keluar dari Desa Mekarmulya menuju kediaman Embah Sawi di sebuah kampung terpencil di kaki gunung, Darpin cees berjalan dengan santai.
Mereka seolah merasa diri sebagai orang bebas dan tak perlu ada yang ditakutkan. Boleh jadi karena hingga hampir sebulan pelarian mereka dengan status DPO polisi, mereka aman-aman saja.
Seperti saat ini ketika mereka berjalan, tak sadar di depan ada yang mengintai dan ketika sekitar dua meter lagi tiba-tiba menyala lampu mobil dengan amat terangnya.
Begitu lampu menyala, sontak keempatnya hanya mematung saking terkejut dan membiarkan wajah mereka tersorot lampu menyala. Sudah pasti pengemudi mobil akan melihat dengan jelas siapa mereka karena wajah mereka tak tertutup apa pun.
Sejenak mereka mematung. Namun sejurus kemudian, sadar akan apa yang sedang terjadi seketika mereka berbalik arah. Lari.
Akan tetapi, Darpin terkejut ketika namanya dipanggil dan sepertinya suara yang memanggil itu sudah tidak asing lagi baginya.
"Darpin, jangan lari!" teriak yang memanggil.
Semula Darpin akan meneruskan langkahnya, namun mendengar namanya dipanggil lagi dan hapal suaranya, Darpin pun menghentikan langkahnya.
Tiba-tiba sesosok pria menghampirinya dan bertanya.
"Darpin? Kamu, nak?"
"Ayah?" balas Darpin.
"Iya, ini Ayah. Syukur kamu selamat."
"Iya, Yah. Kok ada di sini?"
"Nanti Ayah bercerita. Ayo panggil kawan-kawanmu, kebetulan sekali!" kata pria yang ternyata Pak Danu, orangtua Darpin.
Doma, Benco, dan Gonto yang sudah lari menjauh, melihat Darpin tak melanjutkan lari dan bahkan menghampiri seseorang, ketiganya pun berhenti dan kembali menghampiri 'bos'-nya.
"Pak Danu?" tanya Doma segera menghampiri dan langsung saja sun tangan dengan takzimnya. Diikuti Benco dan Gonto.
"Iya, Dom. Syukur kalian belum tertangkap dan sebaiknya ayo masuk mobil semuanya," kata Kades Danu.
__ADS_1
Mereka pun memasuki mobil Kades Danu. Lalu lampu dalam mobil dinyalakan meski cuma lampu kecil asal ada cahaya saja.
"Tentu kalian lapar. Ayo ini makan," kata Pak Danu, sembari memberikan roti yang belum dimakannya.
Darpin cees pun bahagia mendapatkan makanan itu apalagi kini ada air mineral yang sedari makan ikan bakar mereka belum minum.
"Kita tidak punya waktu lama. Ayolah Darpin ceritakan apa yang telah terjadi dan apa rencana kalian?" tanya Pak Danu.
Darpin pun menceritakan kisah pelariannya sejak kejadian pemerkosaan pada Wiwi, kabur ke kota, kembali ke desa, dan ke rumahnya, lengkap dengan kisah-kisah penampakan hantunya.
"Jadi kami akan menemui Embah Sawi yang kita datangi dulu bersama Ayah untuk minta azimat penangkal gangguan dedemit, hantu, dan sebagainya. Aku sudah capai diganggu dan diteror dedemit, Yah!" timpal Darpin.
"Kasihan sekali kamu Nak. Senasib dengan Ayah," kata Pak Danu.
Lalu dia bercerita pula tentang pengalamannya usai menagih utang ke rumah Pak Muslih untuk mengajak berdamai dan meminta mencabut perkara di polisi tentang kasus Darpin, namun ditolak.
Diceritakan pula gangguan dedemit wanita yang mengerjainya hingga pulang ke rumah cuma mengenakan kolor sehingga ia pun merasa dendam kepada dedemit.
"Jadi Ayah sudah ke Embah Sawi?"
tanya Darpin.
Doma, Benco, dan Gonto cuma menyimak obrolan ayah dan anak itu.
"Ya, sudah. Ayah baru saja pulang dari rumah Embah Sawi dan akan pulang ke rumah sekalian untuk melaksanakan misi balas dendam kepada orang-orang yang menghalangi niat Ayah dan juga kepada para dedemit itu!"
"O ya? Apakah Ayah sudah dikasih azimat lagi seperti dulu ketika Ayah mencalonkan diri jadi kades?"
"Tentu, Pin. Ayah dikasih azimat lagi oleh si Embah, namun cuma untuk menghadapi makhluk-makhluk gaib sebangsa dedemit, misalnya dengan azimat itu Ayah bisa membedakan, mana dedemit dan mana manusia."
"Maksudnya Yah?" Darpin dan juga kawan-kawannya merasa penasaran mendengarkan penuturan Pak Danu.
"Ya, maksudnya dengan azimat itu Ayah gak bakal kena tipu dedemit lagi. Tak seperti kejadian memalukan itu, Ayah diganggu dedemit dengan penampakan wanita cantik. Ayah tak tahu dia dedemt, makanya Ayah manut saja ketika dia mengajak tidur di kamarnya, eh tahunya malah di gudang tempat kalian bersenang-senang dengan si Wiwi....," kata Kades Danu panjang lebar.
__ADS_1
"Wah hebat Yah. Aku juga mau. Tapi tentu aku mah sekadar untuk menangkal gangguan dedemit saja. Jangan mengganggu lagi," timpal Darpin.
"Beres, tenang saja. Ayah belum selesai bicara, Pin," kata Pak Danu.
Pak Danu menarik napas dalam-dalam. Mengambil botol minuman dan diminumnya beberapa teguk.
"Tapi Ayah tak mau punya azimat cuma untuk melawan gangguan dedemit dan menghabisi musuh, namun Ayah ingin benar-benar menjadi orang kebal segala-galanya, termasuk rencana Ayah untuk menjadi wakil rakyat," kata Kades Danu mengutarakan ambisinya yang ternyata ingin menjadi wakil rayat.
"Ingin jadi wakil rakyat?" Darpin terperangah, namun gembira juga.
"Ya, biar Ayahmu menjadi orang terhormat, punya gaji besar, disegani orang-orang. Itu artinya juga akan mengangkat derajat keluarga, termasuk kamu Pin, dan juga kawan-kawanmu. Ayah janji, kalau kelak menjadi wakil rakyat, menjadi anggota dewan terhormat, Ayah tidak akan melupakan kalian semuanya!" ujar Pak Danu berapi-api demi sebuah ambisi.
"Asyiiiik......kami mendukung Pak," timpal Doma diamini kawan-kawannya.
"Nah, gitu dong. Kalian harus mendukung dan sekaligus membantu aku. Ibaratnya sekali merangkul dayung dua tiga pulau terlampaui. Niatnya melawan hantu dan musuh, sekalian menggapai cita-cita menjadi pejabat lebih terhormat daripada sekadar jadi kepala desa dan juragan sawah, kebun, dan ladang," imbuh Kades Danu lagi.
"O ya, sudah berapa lama Ayah tak masuk kantor?" Darpin kaget juga, pasti ayahnya meninggalkan pekerjaan sebagai kepala desa.
"Ada dua mingguan, tapi tenanglah. Ada sekdes yang menggantikan dan Ayah bisa menguasai semua bawahan Ayah. Siapa sih yang tidak butuh duit. Dengan duit semuanya beres," imbuh Kades Danu lagi menyombongkan diri.
"Terus yang mengurus sawah dan ladang, 'kan bapaknya si Rama mungkin sudah tidak mengurus lagi?"
"Ayah percayakan kepada si Tanu. Dia bisa dipercaya," jawab Kades Danu lagi.
"Syukur kalian mendukungku. Sebenarnya aku sedang butuh bantuan orang untuk mendapatkan azimat dengan kekebalan istimewa yang kini belum diberikan oleh Embah Sawi karena syaratnya belum terpenuhi. Dan untuk memenuhi syarat itu aku butuh bantuan kalian. Aku harap kalian bisa."
"Siap, siap kami siap membantu," ujar Darpin cees.
"Ternyata, Pin, Dom, Gom, Gon, Ben. azimat dari Embah Sawi dengan kekebalan dahsyat itu harus ditebus cukup mahal dan berat juga," kata Kades Danu, menghela napas sejenak.
"Mahal dan berat Pak?" tanya Darpin terperangah.
"Benar, kalian akan kaget kalau sudah tahu!" kata Pak Danu. (Bersambung)
__ADS_1