
Keruan saja jantung si bibi berdegup kencang mendengar pintu kamarnya diketuk-ketuk.
"Nekat bener tuh hantu?" bisiknya, ia langsung saja menduga yang mengetuk-ngetuk jendela dari luar itu hantu.
"Tok tok tok.....!" bunyi ketukan itu terdengar lebih jelas karena memang dekat..
Si bibi makin gemetar, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Jantungnya kian berdebar-debar.
Dia cuma bergeming. Habis harus bagaimana lagi. Tak tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Tok, tok, tok" bunyi ketukan di pintu kamarnya terdengar lagi.
"Bi, Bi, Bi?"
Kali ini terdengar suara memanggil. Tak salah suara majikan perempuannya. Segera saja bangkit, lalu membuka pintu. Dan...benar saja Bu Windi.
"Ada apa Bu. Kok ketuk-ketuk pintu?" tanya si bibi.
"Sssst....jangan keras-keras," ujar Bu Windi. Lalu menarik tangan pembantunya untuk duduk di ranjang.
"Maaf membangunkan. Bibi denger gak di luar ada yang ketuk-ketuk jendela dan benda jatuh di belakang dapur?" Bu Windi langsung saja bicara kepada pokok persoalan.
"Justru Bibi gak bisa tidur dari tadi juga. Ya, dengar. Malah ada yang ngetuk pintu kamar segala. Kirain yang ngetuk jedela tadi, nyatanya Ibu....." kata si bibi sedikit berseloroh.
"Iya maaf. Siapa yang ngetuk-ngetuk jendela. Aku takut Bi," bisik Bu Windi, blak-blakan.
"Sama Bibi juga. Takutnya orang jahat yang mau mencuri atau apa....."
"Iya. Ayo Bi, tidurnya di kamar aku saja."
"Ah gak baik, Bu. Di sini aja lah!" bisik si bibi risih juga harus tidur di kamar majikan.
"Gak apa-apa. Habis aku takut banget Bi."
"Tapi mau tidur mah tidur aja Bu. Biar aku yang jaga di kamar Ibu, aku takkan tidur habis sudah jam dua tuh di jam juga. Tidur nanggung. Biar Bibi akan lawan kalau ada apa-apa," kata si bibi.
Dia nekat apa pun itu, mau hantu mau orang, dia akan menghadapinya.
"Yuk Ibu ke kamar Ibu saja kalau tak mau tidur di kamar Bibi. Saya akan ambil golok. Kalau ada orang jahat Bibi takkan diam, akan ditebaskan golok ini ke lehernya," kata si bibi, lalu ia beranjak sambil memegang senter karena lampu belum menyala dan membimbing majikannya ke dalam kamarnya.
Si bibi mengendap-endap mencari golok di dekat dapur. Ketemu. Ia ambil golok itu.
"Ayo Ibu tidur saja biar saya duduk di kursi ini," kata si bibir, masih berbisik. Dia duduk di kursi yang berada di dekat pintu kamar majikannya.
"Tidur aja di sini Bi," ajak Bu Windi. Kasihan kalau si bibi harus duduk berlama-lama. Namun si bibi menolak ia memilih duduk sambil bersender ke tembok
Bu Windi pun merebahkan tubuhnya ke kasur. Namun tiba-tiba ketukan ke jendela terdengar lagi.
__ADS_1
"Tok, tok, tok...."
Si bibi bangkit, dia bersiaga akan melawan. Pun Bu Windi tak jadi merebahkan diri, ia juga bangun sambil memandang remang-remang si bibi karena lampu masih padam. Bu Windi menggunakan senter HP. Sementara si bibi menyalakan lampu senter yang dibawanya.
Lampu yang padam cuma di rumah Kades Danu sementara di rumah lainnya tetap menyala. Ini berarti lampu ada yang memadamkan dan pastinya si pengetuk jendela misterius yang pasti manusia.
"Tok, tok, tok. Maaaa, Paaaak......!"
Kini ketukan jendela itu diiringi panggilan kepada Bu Windi dan Pak Danu.
Bu Windi mendekati si bibi.
"Ada yang memanggil-manggil, jangan-jangan......" bisik Bu Windi kepada si bibi.
"Jangan-jangan apa Bu?" si bibi belum mengerti, justru dia curiga makhluk itu sengaja bersuara agar dipercaya. Namanya hantu bisa menyerupai orang.
"Jangan-jangan anak saya...."
"O ya?" si bibi menyahut.
"Maaaa.....Paaaak.....tolong bukain pintu, ini saya ..." kata yang di luar.
"Siapa????" akhirya Bu Windi memberanikan diri bertanya takutnya benar yang di luar itu si Darpin anaknya.
"Darpin Ma......" kata si Darpin.
"Masuk jalan dapur!" perintah Bu Windi senang hati anaknya pulang.
"Darpin, anakku! Mengap kau tega berbuat konyol?" kata Bu Windi. Si bibi cepat menutup pintu dapur.
Darpin masuk dapur, lalu ke ruang makan. Perutnya sangat lapar.
"Ma, Darpin mau makan dulu, lapar sekali," kata si Darpin. Lalu ke kamar mandi, bersih-bersih.
Si bibi pun lantas mempersiapkan nasi dan lauk pauk seadanya. Darpin pun lantas makan dengan amat lahap. Untungnya ada air panas di termos, si bibi segera menuangkannya ke gelas.
Usai makan, Darpin bercerita dengan tergesa-gesa.
"Ma, maaf Darpin sudah mengecewakan Mama, Papa. Darpin sagat menyesal....sungguh Ma."
"Sudahlah yang sudah mah. Syukur kamu pulang. Mama sangat khawatir. Besok kamu harus menyerahkan diri ke polisi......!" saran Bu Windi.
"Aduh Ma, Darpin takut dibui. Darpin mau ngumpet aja. Tapi gak punya bekal, Darpin ke sini mau minta bekal untuk kabur, kasihan kawan-kawan. Darpin mau buka tabungan di bank namun sudah diblokir, tapi Darpin gak mau dipenjara. Mau hidup bebas. Minta uang saja untuk bekal, cepet keburu pagi nanti kelihatan polisi!" ujar Darpin.
Bu Windi tercenung bingung. Apakah mengasih uang atau memaksa anaknya menyerahkan diri ke polisi.
"Mana Bapak, Ma?' tanya Darpin demi melihat tak ada bapaknya.
__ADS_1
"Bapakmu entah ke mana, pergi tak bilang-bilang. Makanya di rumah ini hanya ada Mama dan si Bibi. Udah besok menyerahkan diri ke polisi, biar Mama tenang walau tak berharap kamu dipenjara. Jalani tanggung jawab atas perbuatanmu!'
"Gak mau Ma. Ayo cepet, keburu pagi!"
Darpin mendekati ibunya agar bangkit dan mengambil uang.
"Pin, kasihanilah ibu, kasihanilah dirimu!"
"Bukan waktunya berdebat. Cepat, ambilkan uang!" bentak Darpin kepada Bu Windi.
"Den, Den, jangan begitu. Itu ibumu..." kata si bibi menasihati.
"Diam kau!" Darpin murka.
Bu Windi benar-benar bingung. Apa yang harus dilakukannya. Dilematis.
"Cepet, atau Darpin menebaskan golok ini!" ancam Darpin merebut golok yang tengah dipegang si bibi
"Darpin! Istigfar kamu. Kelewatan, gak takut durhaka?" Bu Windi mengingatkan.
"Sudah, sudah cepetan minta uang, keburu pagi!"
Darpin memaksa meggiring ibunya ke kamar agar mengambil uang. Darpin sendiri yang mengacak-acak isi lemari orangtuanya, ada dompet besar. Lalu ia ambil, dilihat isinya kebetulan banyak uang.
Dia pun lalu membawa dompet itu dan keluar melalui pintu dapur, lalu menaiki pintu gerbang dan lari di kegelapan dini hari tanpa menyalakan kembali lampu di rumahnya yang tadi dipadamkannya.
Bu Windi dan si bibi cuma saling pandang. Terkejut kedatangan si Darpin. Tadinya Bu Windi senang anaknya pulang dan akan menyerahkan diri ke polisi, namun nyatanya malah lari lagi dengan membawa uang.
"Aku harus bagaimana Bi?"
"Sabar aja Bu. Semoga Gan Darpin dan Bapak segera sadar, bertaubat atas segala perbuatan buruknya,' kata si bibi mendekati Bu Windi yang seketika menangis tersedu-sedu.
Tak lama kemudian terdengar gema azan memanggil kaum muslim untuk menunaikan kewajiban salat subuh. Laki-laki seyogianya ke masjid, perempuan salat di rumah.
Si bibi segera menghampiri saklar listrik di luar rumah untuk menyalakan lampu. Gegas ke dapur memasuki kamar mandi, bersih-bersih wudu untuk salat. Kantuk yang menerjang tak dihiraukan.
Sejenak dia mengirim pesan WA ke putrinya yang bernama Imas, teman akrab Wiwi dan Yati di pabrik. Si bibi yang bernama Bi Utih itu menyuruh Imas jangan telah bangun dan salat subuh.
Di rumah, Imas sendiri saja. Ayahnya sudah meninggal dunia. Sementara ibunya, Bi Utih, kadang tidur di rumahnya kadang tidur di rumah majikannya, Bu Windi.
Bu Windi masih duduk termenung dengan kepedihan hatinya yang amat sangat. Meski demikian, ketika mendengar gema azan dia masih ingat panggilanNya.
Dia pun akhirnya gegas ke kamar mandi, membersihkan diri untuk segera menunaikan salat dua rakaat itu.
Usai salat, dalam zikirnya dia mengadu kepada Yang Mahakuasa agar beban pikiran yang menghimpit dirinya segera diringankan.
Dia berharap agar kedua orang yang dicintainya dibimbing ke jalan lurus, jalan kebajikan, dan dijauhi dari kezaliman.
__ADS_1
Bu Windi memanjatkan doa itu dengan deraian air mata. Air mata seorang istri dan seorang ibu bagi suami dan anak tercintanya.
Tak lama kemudian pagi menampakkan diri mengganti malam. Gelap berganti terang. Betapa indahnya hidup dengan siklus alam yang terus berputar. (Bersambung)