Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 83. Si Beni dan si Gono Pamit dari Muka Bumi


__ADS_3

Namun Imas bukan sembarang wanita, dia telah menjadi singa betina yang walaupun betina dia tetap singa.


Dia melirik Inah yang tengah memegang parang hasil rampasan dari anak buah Embah Sawi. Sekilat Imas merebut parang nan tajam itu.


Setelah berhasil direbut, Imas mengayunkan parang itu bersamaan dengan datangnya serangan tinju si Beni Codet atau si Benco. Serangan parang Imas telak mengenai pergelangan tangannya dan seketika tangan si Benco terputus.


Potongan tangan si Benco menggelepar-gelepar di tanah. Sedangkan si Benco sendiri sudah lebih dulu terjungkal sambil memegang tangannya yang telah putus.


Tak membiarkan kesempatan bagus terbuang, Imas lalu meloncat salto dan menimpakan raganya ke tubuh si Benco yang sudah terkapar.


"Ini balasan kekejian kamu bangsat! Ini untuk hadiah pelecehan kamu terhadap temanku Wiwi. Kau menodai Wiwi sambil mabuk, kau menghancurkan masa depannya. Dan kini masa depanmu hancur oleh ulahmu sendiri!" koar Imas sambil berkali-kali menghunjamkan sikut ke kapala si Benco.


Si Benco pun tak berdaya, raganya ditinggalkan nyawanya.


"Sebuah perlawanan yang bagus kau anakku. Si Benco pantas mendapatkannya!" puji Bi Utih.


"Bagaimana Sawi? Ayo segera keluar, hadapi aku! Pasti takut ya anak buahmu si Benco tolol telah meregang nyawa dihajar anakku. Ya, anakku si Imas yang akan kau nodai demi persembahan, demi tumbal! Namun kupastikan itu takkan terjadi!" ujar Bi Utih membuat Embah Sawi benar-benar ketar-ketir.


"Danu, bukankah engkau punya pistol?" tanya Sodom.


"Ada, tapi pelurunya cuma sedikit lagian ini untuk menghadapi aparat jangan-jangan mereka pun datang ke sini," ujar Danu.


"Benar, sebaiknya simpan saja dulu senjatamu Danu. Kita lawan dengan kekuatan kita yang ada dulu," saran Embah Sawi.


Sodom pun tak bisa apa-apa. Sejatinya dia kesal juga melihat si Benco sudah terkapar tak berdaya menghadapi seorang gadis.


"Kau, maju!" kata Embah Sawi kepada si Gonto.


"Saya?" si Gonto ketar-ketir demi melihat si Benco sudah mengakhiri hidup dengan amat tragis.


"Iya kamu bego! Ayo cepat!" hardik Embah Sawi.


Gonto yang nama aslinya Gono Tato karena di tubuhnya banyak tato itu tak bisa apa-apa, apalagi kabur.

__ADS_1


Gonto loncat dari balai-balai rumah, lalu berkacak pinggang dan berkoar-koar layaknya residivis baru keluar dari balik jeruji besi.


"Siapa yang berani melawan saya Gono Tato disingkat jadi Gonto. Jangan kira tato di tubuhku cuma hiasan, ini mengandung kekuatan dah.........aoooooow!" Gonto tak lanjut bicaranya karena tiba-tiba ke dalam mulutnya masuk sandal jepit.


"Bengsek! Siapa yang ngirim sandal jepit ke mulutku? Pagi-pagi ngirim bakwan kek, serabi kek, bukan sandal jepit!" teriak Gonto sambil larak-larik mencari yang punya dosa.


"Hahaaaa.......rasain tuh sandal jepit. Emang mulut kamu lebih layak menyantap sandal jepit daripada martabak!" kata Bi Utih menertawai ulah si Gonto.


"Jangan biarkan dia hidup berlama-ama, Rudi! Ayo hadapi!" teriak Bi Utih kepada Pak Rudi yang telah dirasuki anasir dedemit arahan Ratu Mayanggeni dari Kerajaan Dedemit Sumur Tua.


"Siap, Bi! Lihat!" kata Pak Rudi sambil melayangkan sebelah kaki kanannya memburu perut Gonto.


Si Gonto cepat bereaksi dengan berkelit menghindari terjangan kaki Pak Rudi. Namun Pak Rudi segera mengambil posisi lebih mumpuni dengan melancarkan terjangan tangan dengan cara memutar tubuhnya dan plak, blep, bluk. Berkali-kali tubuh Gonto terkena serangan tangan Pa Rudi.


"Auuuuuw...setan!" si Gonto amat murka tubunya menjadi sasaran empuk tangan Pak Rudi.


Gonto bangkit setelah barusan terjengkang karena mundur kakinya terantuk batu. Bokongnya terasa panas.


Gonto lantas mengepalkan tangan yang jemari-iemarinya sudah dibentengi cincin azimat. Lalu kepalan tinju itu diarahkan ke muka Pak Rudi yang kebetulan sedang menghadapinya.


cahaya mentari dengan cara merundukkan tubuhnya dan kepalanya diarahkan ke dada Gonto.


"Blughhhhh! Heks!" Si Gonto tak berdaya ditanduk kepala Pak Rudi.


Ngerinya, kepala Pak Rugi serasa adukan tembok beton. Gonto terengah-engah menahan napas. Pak Rudi memanfaatkan situasi itu untuk mengambil parang dari Imas.


Dan...plas! Parang menyambar leher si Gonto. Kepala si Gonto nyaris terlepas karena lehernya luka menganga. Lalu, Gonto pun menyusul si Benco yang sudah terlebih dahulu pamitan dari muka bumi.


"Masih mau melawan? Ini balasan gue atas kekejaman kamu dan kawan-kawanmu menganggap orang lain tak ubahnya sampah yang dibuang dan disiksa sembarangan! Rasakan ini balasan atas perbuatan kamu sendiri Gonto!" kata Pak Rudi.


Sejatinya Pak Rudi masih ingin menginjak tubuh si Gonto yang sudah terkapar dengan kakinya, lalu ingin juga merobek mulutnya dengan kedua tangannya, dan menumbuk perutnya dengan kepalanya yang membeton. Namun....


"Sudah Pak Rudi! Dia sudah menerima balasan!" teriak Bi Utih menghalau Pak Rudi agar menyudahi aksi balas dendamnya kepada si Gonto.

__ADS_1


"Masihkah kau tak percaya kekuatan kami Sawi? Kau masih betah bersembunyi? Baiklah akan kulayani apa pun yang kau lakukan. Silakan keluarkan lagi siapa jagoanmu, eh betinamu!" sindir Bi Utih membuat darah Embah Sawi mendidih.


"Bagaimana Embah? Apakah tidak sebaiknya kita lawan bersama-sama? Masa iya kalau tenaga dan kekuatan kita disatukan takkan mampu menghancurleburkan mereka yang hanya perempuan?" ujar Sodom menanggapi enteng persoalan meski terbukti si Benco dan si Gonto sudah tewas.


"Danu, coba bidikkan pistolmu ke perut atau dada pembantumu! Pasti dia pemimpinnya! Kalau dia terlebih dahulu mati, para anak buahnya pasti mudah dikalahkan!" kata Embah Sawi.


"Baiklah akan saya coba, Embah," jawab Danu.


Tanpa diketahui orang-orang yang ada di luar, Danu membidikkan pistol dengan kedua tangannya di dalam kamar dan membuka sedikit jendela kayu tanpa jeruji.


Pandangan Danu lurus mengarah kepada tubuh Bi Utih yang menjadi bidikan pistolnya. Setelah diperkirakan akan mengenai sasaran, pelatuk pistol siap ditarik.


"Pletuk, jeder!!!" ***** atau peluru melesat dari mulut pistol.


"Auuuuuw......heks!" seseorang menjerit histeris lalu tewas.


Orang-rang terutama anak buah Embah Sawi mundur mencari aman. Ketika seketika mendengar letusan pistol yang ditembakkan dari dalam rumah yag didiami Embah Sawi dan kawan-kawannya.


Seorang pria terkulai ambruk ke atas tanah terkena sambaran peluru yang diletuskan Danu.


Dia adalah salah seroang anak buah Embah Sawi, sementara Bi Utih yang raganya dipinjam dedemit sudah tahu apa yang bakal menimpanya, yaitu ada yang mebidiknya dengan senjata api sehingga bersamaan dengan Danu menarik pelatuk, Bi Utih segera merebahkan tubuhnya ke belakang hingga terjatuh dan perluru salah sasaran mengenai anak buah Embah Sawi.


"Hahahaa.....katanya kau jagoan Sawi! Punya andalan azimat genianggara. Kok, malah main-main dengan senjata api! Ayo tembakkan lagi, habiskan pelurumu dan anak buahmu akan menjadi sasaran lagi, biar kami tidak harus capai-capai membunuh mereka!" koar Bi Utih, sembari menpuk-nepuk pakainnya yang bertabur tanah bekas terjatuh.


"Goblok! Kenapa kau bunuh anak buahku, Danu?!" si Embah marah kepada Danu.


"Maaf Embah. Bukan saya mau membunuh ana buah kita, tapi emang si Utih malah menghindar padahal tadi bidikanku sudah menuju sasaran dadanya," dalih Danu tak mau disalahkan.


"Buang pistolmu! Tak ada gunanya kau bawa-bawa. Atau agar ada gunanya coba tembakan kepada kepala anakmu atau kepalamu sendiri!" hardik Embah Sawi, amat kesal melihat Danu salah sasaran menembak musuh.


"Kau maju!" titah si Embah kepada si Doma yang sedari tadi sudah terduduk lesu melihat dua konconya, si Benco dan si Gonto sudah terkapar.


Apa boleh buat, ogah seribu kali ogah, si Doma yang nama aslinya Dodo namun disambungkan dengan nama 'Lama' hingga jadi Doma.

__ADS_1


Teman-temannya menjuluki si Dodo dengan nama 'Lama' karena memang dia selalu berlama-lama dalam segala urusan, termasuk, makan, buang hajat, dan tidur. (Bersambung)


__ADS_2