
Ketika muncul mobil warna putih, para anak buah Embah Sawi sangat terkejut.
Biasanya yang membawa mobil itu Danu dan anaknya kalau membawa gadis. Tapi sekarang Danu sedang tidur, pun anaknya. Lanta siapa yang datang?
Begitu pertanyaan dari anak buah Embah Sawi.
Mobil berhenti, para penghuninya
segera keluar dengan santainya. Tak ada seorang pun yang merasa risih, takut, apalagi lari dari medan.
Termasuk tiga anak muda, Rama, Anwar, dan Warya yang masih utuh sebagai manusia biasa tanpa dirasuki anasir para dedemit dari Kerajaan Dedemit Sumur Tua.
"Sawi, keluar kau!" tantang Bi Utih dengan suara lantang sembari bertolak pinggang. Lampu tempel yang disimpan di bagian atas balai-balai rumah, lumayan menerangi sekitar. Ditambah cahaya bulan memperjelas hilir mudik orang-orang di kediaman Embah Sawi.
Didatangi sekelompok orang secara tiba-tiba, lalu ada wanita tua menantang si Embah, membuat para anak buah Embah Sawi serasa dilecehkan.
Betapa tidak, seorang perempuan tua berkoar-koar menantang guru mereka yang sakti sarat ilmu.
Pun dengan dua orang wanita lainnya, yaitu Inah dan Bu Windi tampak tak ada rasa takut sedikit pun.
"Hahaaaa......hai wanita tua! Ngapain kamu nantang-nangtang Embah Guruku. Lawan aku kalau benar kamu betina, eh jago!" kata seorang anak buah si Embah.
"Apa kau bilang? Aku betina? Emang ayam! Inah, jangan biarkan cecurut itu hidup lebih lama. Segera antarkan ke kuburan!" Titah Bi Utih.
"Siap Bi!" timpal Inah.
Seketika Inah maju ke depan dan mengirimkan telapak tangan kanannya ke wajah anak buah Embah Sawi yang tadi melecehkan Bi Utih.
"Rasakan nih manusia tak berguna! Wuuuuuuwssh.........!"
Dengan sekali entakan, telapak tangan Bi Inah yang dipinjam anasir dedemit menghajar wajah penantang anak buah si Embah.
"Wadowwwwwww.......! Sakiiiit.......heks!"
Si pria anak buah Embah Sawi merintih menahan sakit, lalu seketika meregang nyawa. Tak mampu menahan terjangan dahsyat bayukinasih yang dikirimkan dedemit via tangan Bi Inah.
Mendengar ribut-ribut di luar, Sodom paling dulu tersadar. Lalu keluar kamar tempat tidurnya di samping
kiri rumah utama Embah Sawi bersama Danu dan Darpin cees.
"Danu, bangun!" teraik Sodom.
"Ada apa paman?"
"Dengar di luar ada yang menjerit seperti sekarat."
Sodom dan Danu bangkit, lalu membangunkan Darpin cees.
"Bangun-bangun, ada bahaya!" kata Danu.
Darpin cees pun bangun dan menghampiri Danu serta Sodom.
"Ada apa Pak, Paman?" tanya Darpin.
__ADS_1
"Ada keributan di luar ayo intip?!" kata Sodom.
Mereka melihat di luar sedang terjadi pekelahian antara anak buah Embah Sawi dengan sekelompok orang yang seperti perempuan, sebagian lagi laki-laki.
"Siapa mereka, Paman?" tanya Danu. Hatinya sudah mulai was-was, ketar-ketir.
"Entah, kita lihat saja dulu apakah anak buah kita mampu melawan atau tidak," kata Sodom
"Sawi, keluar kau! Jangan sembunyi! Kalau berani hadapi aku sekarang juga sebelum tempat ini akan dibumihanguskan!" koar Bi Utih masih lantang.
Suara Bi Utih benar-benar nyaring dan seperti bergema menghampiri setiap telinga di kawasan itu.
"Kak Yati! Dengarkan!" ujar Wati kepada Yati di dalam kamar penyekapan.
"Iya aku juga mendengar, sepertinya suara Ibumu, Imas!" kata Yati.
"Sawi keluar, Sawi keluar kau. Mana anakku Imas, ayo keluarkan. Kalau tidak awas akan kupotong 'pusaka'-mu menjadi seratus potong!" kata Bi Utih lagi.
"Tuh kan Ibumu, Imas!" kata Yati.
"Oh iya itu suara Ibuku. Alhamdulillah, telah datang pertolongan untuk kita semua," ucap Imas senang, demikian pula yang lainnya.
"Anakku, dan kamu segera tolong ada gadis tuh di gudang belakang sana. Pinjam raga mereka oleh kalian," kata Bi Utih, membuat anak buah Embah Sawi tak mengerti bicara kepada siapa perempuan itu.
Demikian pula Rama, Warya, dan Anwar tak mengerti. Namun ketika Bi Utih barusan menyebut para gadis ada di belakang di gudang, Rama berinisiatif mengajak kedua temannya ke belakang tanpa diketahui anak buah Embah Sawi.
Sodom, Danu, dan Darpin cees, belum keluar masih memantau keadaan karena masih banyak anak buah Embah Sawi.
Memang awal-awal berdiri hanya beberapa saja anak buah Embah Sawi, namun belakangan terus bertambah karena tergiur ada upah yang dijanjikan, walaupun upah itu sejatinya hasil rampasan dari warga sekitar.
Hanya dengan satu tangan, Pak Rudi bisa melumpuhkan dengan mudah anak buah Embah Sawi.
Sementara Rama cees sudah tiba di bangunan mirip gudang yang terbuka karena para penjaganya menghampiri keributan. Mereka abai terhadap para gadis karena merasa sudah aman dikunci dari luar.
Tiba-tiba dari dalam kamar terdengar suara gaduh.
"Ayo kita bangkit, lawan mereka!" ujar suara wanita.
Rama langsung hapal suara itu yaitu suara Yati.
"Hihihi......oke Kak Yati, kita lawan. Saatnya kita habisi para cecunguk itu!" terdengar lagi suara cekikikan yang membuat bulu kuduk merinding, namun kemudia terdengar suara normal wanita yang membuat Rama terkejut karena suara itu seperti suara adiknya, Wati.
"Kau dengar suara barusan seperti suara Wati, An?" tanya Rama kepada Anwar
"Kayaknya iya Kak. Ayo kita dobrak saja pintunya!" ajak Anwar.
"Nanti dulu, jangan gegabah. Takutnya diketahui si Danu yang bawa pistol," ujar Rama mengingatkan.
"Apakah Kak Rama yakin Danu ada di sini?" tanya Anwar.
"Ngeliat belum sih. Tapi siapa lagi yang menculik para gadis itu kan sudah jelas si Darpin dan Bapaknya!" jelas Rama, dia merasa yakin Danu ada di sini.
"O iya ya," timpal Anwar.
__ADS_1
"Aku ingin segera membunuh bajingan si Sawi. Akan kukunyah 'pusaka'-nya seperti aku mengunyah daging alot!" terdengar lagi di dalam kamar suara perempuan.
Rama cees hapal betul bahwa suara itu suara Imas.
"Ayo kita buka pintunya," kata para gadis dari dalam kamar, dan seketika pintu terbuka.
Rama cees terperangah melihat kelima gadis di dalam kamar.
Ada Yati, Wati, Imas, Iis, dan seorang gadis yang tak dikenal Rama dan Anwar. Sedangkan Warya mengenal gadis itu.
"Yati?" tanya Rama kepada Yati.
Yang ditanya tak merespons, Yati terus berjalan keluar dari kamar.
"Wati? Syukurlah kau tak apa-apa!" kata Anwar menghampiri sang pacar, Wati.
Namun Wati pun tak menggubris kehadiran Anwar. Dia amat dingin, jangankan bicara, melirik pun tidak. Wati mengikuti langkah Yati di depan.
"Imas? Ibumu ada di sini!" kata Warya kepada Imas.
Lagi-lagi Imas tak menghiraukan pertanyaan dari Warya seperti Yati dan Wati.
Bahkan Imas bergegas mengikuti langkah Yati dan Wati dengan langkah cepat sepertinya tak menginjak titian kaki yang dipijaknya yaitu papan di gudang itu.
Rama cees membiarkan ketiga orang itu, lalu masuk ke dalam kamar mendekati Iis yang tampak menutup wajahnya seperti sangat ketakutan.
"Iis?" tanya Rama sambil mendekati Iis.
"Kak Rama!" Iis menjerit lalu merangkul Rama.
"Kau tak apa-apa kan?" tanya Rama lagi.
"Aku sedih Kak. Aku ingat Bapakku, bapakku dibunuh si Darpin pakai parang di sini!" kata Iis lalu menangis sejadi-jadinya.
"Apaaaaa.....?" Rama terkejut.
"Iya, Bapakku dibunuh di sini. Mayatnya dikuburkan di sini, tolong gali dan bawa jasad bapakku!"
"Iya, iya pasti akan Kaka lakukan, Is. Sekarang tenanglah di sini." Kata Rama kepada Iis.
"Ira?" tanya Warya menatap gadis di samping Iis yang tengah lesu.
"Siapa dia War, kau kenal?" tanya Rama sambil memandang Warya dan gadis yang oleh Warya dipanggil Ira.
"Ini Ira yang diceritakan oleh Tri, Kak Rama. Dia hilang tahunya diculik juga dibawa ke sini!" kata Warya.
Melihat Warya, Ira begitu senang. Dia menyangka Warya sengaja datang ke sana untuk menolongnya. Kini dia yakin, cintanya tak sedang bertepuk sebelah tangan.
"Kak Warya...." lirih Ira.
"Ya, Ira. Kau tak apa-apa kan?"
"Tidak, Kak. Kakak apa kabar?" Ira besemangat menanyai Warya, seolah sakit hatinya ditolak dulu sudah hilang seketika.
__ADS_1
Buktinya kini dia ada di hadapanya dan itu berarti akan menolongnya, menyelematkan jiwanya, dari ancaman pembunuhan orang biadab di sini. (Bersambung)