Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 110. (PoV Ira) - Sebal Melihat yang Berdekapan


__ADS_3

Kak Ganda menghentikan sepeda motornya di tengah perjalanan antara Kampung Karangsari dengan Kampung Karanghegar.


"Kenapa berhenti Kak?" tanyaku kepada Kak Ganda.


"Kamu mau ke mana sih Ira? Katanya mau ke kota kecamatan beli kebutuhanmu. Kini menyuruh aku belok menuju Kampung Mekarsari?" Kak Ganda tampak kesal.


Tapi dia masih berada di atas jok depan sepeda motornya. Dia bicara tanpa menoleh ke belakang, mungkin ribet karena harus membuka helem.


"Ya nanti setelah dari Mekarsari, kita langsung ke kota kecamatan membeli kebutuhanku," timpalku.


"Mau ngapain ke Kampung Mekarsari?" desak Kak Ganda membuat aku risih juga.


Aku tak menjawab. Bingung harus berbicara apa. Kak Ganda pasti kesal kalau aku bilang rindu kepada Kak Warya, aku ingin segera mendapat jawaban apakah benar dia mencintaiku?


Akan tetapi, ditunggu-tunggu, alih-alih mendapat kunjungan apalagi jawaban, jadinya malah aku sendiri yang terserang penyakit kangen kebangetan.


"Mau ketemu si pemuda sombong itu lagi? Apa emang di dunia ini hanya ada dia cowok yang layak kamu dekati, Ira?" sungut Kak Ganda membuat aku makin 'ngeper'.


"Sudah kubliang, sudahlah jangan diingat-igat lagi dia. Sudah jelas dia menjauhi kamu. Ingat waktu kita sepulang syukuran, apakah dia ada menemui kamu? Kan tidak ada sampai kita pulang! Palingan dia sama si Triana!" kata Kak Ganda.


"Aku kangen Kak. Aku sangat mencintainya, tolong aku pertemukan dengannya, aku ingin kepastian. Dia telah memberi harapan indah, tetapi ia tak juga datang ke rumah kita. Tolong Kak!" aku sudah tak ada rasa malu lagi sebagai wanita mengutarakan isi hati tentang cinta.


Sejatinya aku ingin mengatakan isi hati ini langsung kepada Kak Warya biar dia tahu dan melihat bagaimana pedihnya hatiku menahan rindu.


"Memalukan!!!" teriak Kak Ganda, sambil melabrakkan punggungnya ke belakang, ke tubuhku. Aku nyaris terjengkang.


"Ya sudah kalau tak mau, silakan kamu pulang!" hardikku.


Lantas aku turun dari sepeda motor dan berjalan kaki sambil terisak menahan pilu di hati. Aku benar-benar bingung. Tak ada orang yang bisa membantuku di saat kepedihan hati ini muncul lagi.


Apakah aku harus meneruskan niatku dulu untuk menceburkan diri ke Sungai Cilampit biar segala beban berat yang mengimpit batinku terselesaikan?


Aku pun mempercepat langkah, apalagi kakakku seolah membiarkanku pergi tanpa dia mencegahku.


Namun tak lama kemudian aku mendengar deru mesin sepeda motor yang dihidupkan.


Bunyi mesin sepeda motor itu makin terdengar jelas karena membuntuti aku. Klakson pun dibunyikan keras-keras. Itu pasti sepeda motor Kak Ganda.

__ADS_1


Benar saja Kak Ganda mengejarku. Sepeda motornya sudah berada di depanku.


"Ayo naik, akan kuhajar pemuda brengsek itu!"


"Gak mau!"


"Kenapa gak mau?"


"Kok Kak Ganda mau menghajarnya?"


"Iya akan menghajar kalau dia tak mau bertanggung jawab. Derita batinmu juga derita aku sebagai kakakmu. Namun juga kamu harus berpikir dewasa, jika dia menolak kamu, jangan main paksa," kata Kak Ganda membuat aku sedikit terobati ternyata Kak Ganda pun ikut memprihatinkan apa yang tengah kualami ini.


"Maksud gue, akan ditanyakan kepadanya mengapa sampai menolak kamu, apa apalasannya. Jika alasannya dapat dimengerti, oke kita terima. Tapi kalau alasannya karena tidak bisa melepaskan rasa citanya kepada dedemit seperti yang dikatakan ibu dari ibunya si Warya, ini sudah keterlaluan. Mana harga diri kamu sebagai manusia. Kok bisa-bisanya dedemit lebih dihargai daripada manusia nyata?"


Aku tak menyahut, cuma bergeming. Tapi benar juga kata Kak Ganda. Sungguh sangat keterlaluan kalau aku harus bersaing dengan arwah mantan kekasihnya walaupun aku dengar kekasihnya yang notabene kakanya Wati tewas gegara dinodai anak asuh Embah Sawi yang nyaris mencelakaiku ketika aku diculik dan disekap.


"Cepet naik, jangan banyak pikiran lagi!" ajak Kak Ganda.


Aku pun kembali mengenakan helem dan menaiki sepeda motor di bagian belakang. Lalu Kak Ganda melajukan sepeda motornya ke Kampung Mekarsari.


Aku dibonceng motor menyamping, tidak seperti tadi ketika pergi dari rumah aku dibonceng dengan menghadap punggung Kak Ganda.


Pandanganku praktis kepada benda-benda yang ada di pingir jalan yang kami lalui. Sampai di suatu tempat pinggir persawahan aku melihat pemandangan yang benar-benar membuat jantungku berdegup kencang dan darahku mendidih panas.


Tampak jelas di hadapanku dua insan yang sangat kukenal tengah berdekapan. Sungguh aku sangat sebal melihat mereka berdua berdekapan yang pastinya sarat kemesraan. Sialan juga siang-siang begini bercumbu di tempat terbuka.


Sebenarnya aku takkan ambil pusing apa pun yang dilakukan keduanya. Entah mau berdekapan atau apa pun jenis kencannya jika itu dilakukan oleh orang lain yang tidak kukenal. Tapi ini dilakukan oleh orang yang justru kucintai, yang akan kutemui, belain jauh-jauh dari kampung dengan siap menangung malu sebagai wanita yang bela-belain mendatangi pria.


Maka, aku pun sontak memukul bahu Kak Ganda.


"Stop Kak!" teriakku.


Kak Ganda pun menghentikan laju sepeda motornya.


"Ada apa, Ra?"


"Lihat di belakang, sepertinya Warya dan Triana," ujarku.

__ADS_1


Kak Ganda menoleh. Setelah jelas, sepeda motor pun dibelokkan lagi ke belakang dan langsung menghampiri Warya dan Triana yang sedang berdekapan mesra. Keduanya tampak terkejut ketika melihat kami berdua.


"Ira, Ganda?" tanya Kak Warya.


Kak Ganda tak menjawab. Dia turun dari sepeda motor demikian pula aku. Kak Ganda memarkirkan sepeda motornya tak jauh dari sepeda motor Kak Warya.


Darahku mendadak naik ke ubun-ubun. Nafsu angkara murka sudah tak tahan lagi melihat Triana, teman sekampungku berdekatan dengan kekasihku, Warya.


Aku tak pikir panjang lagi langsung saja menjambak rambut Triana.


"Kurang ajar!" ujarku sambil kemudian menarik lengan Triana agar menjauh.


"Ira, apa-apaan kamu?" teriak Triana ketakutan.


Sementara Kak Ganda tak pikir panjang lagi langsung mengirimkan bogem mentah ke tubuh Warya. Namun Warya dengan gesit menangkap lengan kakakku.


"Apa-apaan sih kamu Ganda?" tanya Kak Warya.


Tangannya menghalangi Triana yang tengah menghindari tanganku. Triana mundur dan berlindung di balik punggung Waya. Aku menyusulnya berputar akan terus menghajarnya.


"Awas kau lukai Triana, Ira!" ancam Warya.


Tiba-tiba tubuhku terasa lemas selemas-lemasnya mendengar ucapan Kak Warya barusan. Kalau sudah merasakan ditusuk belati, ya seperti itulah sakitnya.


Pria yang sangat kudambakan, sangat kunantikan kehadirannya di kehidupanku, ternyata dia lebih memilih wanita lain.


Bukan, bukan, mantan kekasihhnya yang telah meninggal dunia, yang sudah tidak ada wujud fisiknya, tetapi justru wanita hidup, yang nyata, dan ini yang sangat menyakitkan dia Triana teman sekampungku!


"Kau tega Triana, kau tega Warya!" pekik batinku yang akhrinya meluapkan air mata bercucuran dengan derasnya membasahi pipi.


Kak Ganda melihatku yang tengah menangis. Dia tampak tak mampu lagi menahan emosi melhat adiknya terluka batin karena cinta. Serta merta Kak Ganda pun kembali mengirimkan tinju ke muka Warrya.


"Blugh!!!!!"


Tinju itu tampak sangat keras karena boleh jadi didorong nafsu yang meluap-luap dan emosi yang sangat membuncah. Hingga Warya terjerembab di tanah. Kulihat dari bibirnya keluar darah segar.


(Bersambung)

__ADS_1


__ADS_2