Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 20. Wanted


__ADS_3

Usai keluar dari rumahnya, Darpin berjalan dengan kewaspadaan tingkat dewa, takut diketahui aparat mengingat dia sebagai buron.


Udara dini hari itu sangat dingin, sedingin pikiran Darpin yang tak keruan memikirkan nasibnya yang entah bagaimana ke depannya. Ajakan ibunya agar dia menyerahkan diri ke polisi, dia sadari sebagai kasih sayang seorang ibu.


Akan tetapi gengsi dan rasa malu serta takut kenapa-kenapa di dalam bui, akhirnya dia lebih memilih hidup bebas meski dalam incaran sanksi hukum.


"Moga aja pelarianku dan kawan-kawan sukses," gumamnya dalam hati, percaya diri.


Ia menarik kupluknya lebih dalam agar tak terasa dingin. Rambutnya kini gondrong karena tak dicukur. Masker tetap dia kenakan meski di malam hari dan Covid-19 sudah dinyatakan bebas meski tak seratus persen.


Dompet besar milik ibunya yang diambil paksa dari rumahnya ia selipkan di sela-sela antara celana dan punggungnya. Entah ada berapa duit, dia belum menghitungnya. Yang pasti uang itu pecahan seratus ribu dilihat dari warnanya yang merah. Sebagian kecil hijau tampaknya pecahan Rp 50.000.


"Moga aja besar hingga tak kesusahan makan," ujar Darpin dalam hatinya.


Ya, dia untuk saat ini cuma berharap tidak sakit dan bisa makan. Dengan HP, dengan sepeda motornya, dengan mobil Jeepnya, dengan kemewahan hidupnya, sudah ditinggalkan.


Ngenas sesungguhnya, tapi ini harus dijalani karena buah dari perbuatannya.


"Kau amat tega Wi. Andai saja kau tidak menolak aku sambil meludahi hingga membuatku mabuk dan berbuat tak senonoh, tentu aku akan sabar menunggu kesedianmu. Walaupun kau misal menikah dengan si Warya, aku bersedia menunggu jandamu," koar batin Darpin, tiba-tiba ingat wanita buruh pabrik yang telah dia nodai.


Darpin berjalan kian cepat karena masih berada di perkampungan dan orang-orang satu dua mulai kelihatan. Mungkin mereka ada yang akan ke ladang, ke pasar, dan sebagainya.


Ketika di depan jalan itu terlihat ada cahaya lampu mobil, Darpin tak ingin ambil risiko, dia segera ke pinggir dan bersembunyi. Takutnya pengendara itu polisi yang siap menangkapnya.


"Sumpah, tak tenang!" bisik Darpin.


"Kalau tak tenang mengapa tak berserah diri saja seperti nasihat ibumu?" masih kata batinnya.


"Gak mau, emang enak dipenjara? Dibui?" katanya lagi.


"Ya udah, rasain aja tuh tak tenangnya kalau tak mau dinasihati orang," bisik batinnya lagi.


Darpin menarik nafas dalam-dalam saking sedih hati memikirkan gejolak hatinya yang tengah berperang antara berserah diri atau terus maju mengikuti hawa nafsunya.


Sambil terus mengayun langkah yang kini sudah belok ke gang kecil dan terus ke jalan sawah yang menuju sungai Cilampit, Darpin mengingat-ingat lagi petualangan pelariannya.


Ia ingat lagi ketika bersama-sama kawannya pingsan sebab 'ditipu' penampakan cewek cantik yang berjualan bakwan ternyata berubah jadi kotoran yang diambil dari kali.


Setelah sadar dari pingsan, Darpin, Doma, Gonto, dan Benco, pagi-pagi sudah naik bus ke kota sesuai dengan janji Darpin sebelumnya.

__ADS_1


Di kota Darpin menemui kerabat dari ibunya. Namun tak dinyana kerabat ibunya menolak kedatangan Darpin cees karena kerabatnya telah mengetahui berita bahwa Darpin sudah menjadi DPO dan sebaiknya segera lapor ke polisi.


Saat itu Darpin bilang akan lapor, namun di tengah jalan berubah pikiran, tepatnya takkan lapor polisi dan berniat mengontrak kamar.


"Sialan, kerabatku telah tahu aku jadi buronan. Kita cari kontrakan saja," ajak Darpin kepada teman-temannya.


"Siap Bos," timpal kawan-kawannya.


"Aku akan ke ATM, ambil uang," kata Darpin ketika di kota itu melihat ATM sebuah bank tempat Darpin menyimpan rekening tabungannya.


Namun ketika dia masukkan kartu ATM dan memasukkan nomor PIN-nya, ternyata telah diblokir.


"Sialan!" gerutu Darpin, lalu keluar pintu ATM itu.


"Hasil Bos?" tanya Doma.


"Gagal, ATM-ku diblokir," kata Darpin sedih.


"Ayo pergi dari sini. Awas jangan saling berdekatan, kita pura-pura tak saling kenal, tetapi juga jangan jauh-jauh," saran Darpin.


Kawan-kawan Darpin menurut. Lalu mereka merapikan masker yang dikenakannya jangan sampai terlepas. Topi yang dibelikan Darpin dikenakan untuk menutup kepala. Lengkap sudah kepala dan wajah mereka tertutupi.


Kalau sudah begini, barulah mereka merasakan penyesalan. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Langkah yang harus ditempuh ya pandai-pandai saja menerapkan ilmu kucing-kucingan.


Hingga saat itu mereka belum tercium aparat berwajib. Mereka lihai juga menyiasati kejaran aparat.


Ketika berjalan yang jauh dari teman-temannya sesuai instruksi Darpin, tiba-tiba Doma melihat-lihat kertas yang ditempel tembok pinggir jalan. Melihat gambar itu dia amat terkejut.


Dia pun memanggil Darpin. Darpin menghampiri.


"Ada apa Dom?"


"Lihat gambar ini!" kata Doma menunjuk gambar di kertas yang ditempel.


"Waduh, bahaya, kita harus segera meninggalkan kota ini. Kita harus balik ke desa atau ke tempat lain, mungpung masih ada ongkos!" kata Darpin.


"Iya Bos," timpal kawan-kawannya.


Ternyata di kertas itu terpampang gambar mereka dengan tulisan "Wanted", DPO. Lapor polisi terdekat jika melihat orang-orang ini. Waspada!

__ADS_1


Segera saja mereka menuju terminal. Waktu sudah menunjukkan pukul 15:00. Diperkirakan datang ke desa selepas waktu magrib atau isya. Jarak kota ke kota kecamatan sekitar 45 km.


Benar saja mereka tiba di desa selepas magrib. Mujur di perjalanan mereka tak menemukan rintangan, masih bisa bersembunyi walaupun sepanjang perjalanan hati mereka tidak tenteram.


Setibanya di desa mereka langsung memburu sisi kampung dan yang agak sepi. Meski waktu malam, masih ada orang lalu lalang yang membuat mereka ketar-ketir atau was-was.


"Kalian diam tuh di dangau di sawah itu, jangan ke mana-mana, aku akan pulang dulu ke rumah minta uang," kata Darpin.


"Perlu diantar Bos?"


"Gak usah, biar aku sendiri saja! Awas apa pun yang terjadi kalian jangan pergi. Tunggu aku, kita rencanakan langkah selanjutnya besok," kata Darpin.


"Siap Bos," kata teman-temannya.


Sekitar pukul 22:00 Darpin pun segera pergi menuju rumahnya. Mengendap-endap takut diketahui orang. Hingga tengah malam atau pukul 24:00 baru sampai di rumahnya karena di jalan harus menghindari beberapa ronda atau jaga malam.


Segera saja dia mengendap-endap mendekati jendela kamar si bibi dan mengetuk-ngetuk jendela tersebut dengan harapan si bibi merespons. Namun tidak ada respons boleh jadi si bibi sudah tidur.


Darpin pun melangkah menuju jendela kamar orangtuanya dan mengetuk lagi jendela kamar orangtuanya seperti tadi. Namun sama tak ada respons. Boleh jadi ayah dan ibunya sudah pada tidur.


Dia ulangi lagi mengetuk jendela baik di kamar si bibi maupun di kamar ibunya, namun tak ada respons pula. Dia pun ke belakang dapur kali aja pintunya tak dikunci. Sayang tergesa-gesa sehingga kakinya terantuk ember dan menimbulkan suara nyaring.


"Bahaya!" pekik batin Darpin.


Menyadari takut ada yang mengawasi Darpin buru-buru ke depan rumah dan mematikan sentral aliran listrik yang telah ia hapal letaknya.


Lalu kembali beraksi mengetuk-ngetuk jendela sperti tadi, namun juga tak ada respons.


Lama kelamaan Darpin mendengar di dalam ada ketukan pintu juga. Ini artinya orang rumah sudah pada bangun dan mendengar ketukan jendela tadi.


Darpin merasa lega. Dia pun kembali mengetuk jendela kamar orangtuanya. Agar memperjelas siapa yang mengetuk jendela, kini Darpin langsung memanggil-manggil ibu dan bapaknya.


Barulah ada sambutan dari ibunya dan Darpin pun bisa masuk. Lalu langsung megutarakan maksudnya setelah sebelumnya minta makan.


Setelah itu megutarakan tujuan pokoknya meminta bekal yang nyaris saja gagal dan berhasil setelah mengancam ibunya.


Kini dia sudah berhasil membawa bekal uang. Meski sedih harus mengancam sang ibu. Tapi daripada tidak melakukan ini pastinya ia bakal lebih sengsara.


Kini Darpin tengah berjalan akan menemui rekan-rekannya di dangau.

__ADS_1


Setibanya di dangau sawah yang tak begitu jauh dari rumah penduduk dan di sana teman-temannya disuruh menunggu, Darpin terkejut dan hanya bisa melongo. (Bersambung)


__ADS_2