Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 55. Kehilangan Jejak


__ADS_3

"Saya pikir juga begitu Pak Ustaz dan memang saya dan Warya sudah berniat minta bantuan Pak Ustaz untuk menghadapi si Darpin cees. Baiklah mulai besok atau bagaimana perkembangan kasus ini kami akan menemui Pak Ustaz. Kira-kira jam berapa ya?" ujar Rama gembira mendapat tawaran ilmu khusus dari Ustaz Hamid.


"Sebaiknya usai salat tarawih saja Ram," kata Ustaz Hamid.


"Baik, kami siap. Iya kan War?" tanya Rama kepada Warya. Warya pun mengangguk.


"Untuk melapor ke aparat, biar besok aja ya Pak?" ujar Pak Rudi dan disetujui oleh forum.


"Ya sebaiknya besok aja Pak Rudi, saya juga ingin ikut karena yang hilang anak saya," kata Pak Muslih.


"Baik kalau begitu, nanti besok dijemput oleh saya. Kalian juga mungkin harus ikut Ram, War, dan Anwar," ujar Pak Rudi dan disanggupi oleh ketiganya.


Keesokan harinya, Pak Rudi, Pak Muslih, Rama, Warya, dan Anwar ikut melapor ke polisi di kota kecamatan. Sedangkan Pak Haji Makmur dan Ustaz Hamid melapor ke RW dan beberapa tokoh masyarakat tentang kasus yang tengah terjadi di kampungnya, yakni Wati dan Yati hilang ada yang menculik.


"Jadi mohon Pak RW umumkan ke warga, khususnya warga di kampung kita agar berhati-hati dengan anak gadisnya, takutnya kasus yang menimpa Yati dan Wati terjadi lagi," pinta Ustaz Hamid kepada Pak RW.


RW pun menanggapinya dengan serius karena jelas jika kasus ini dibiarkan akan sangat membahayakan bagi warga.


Sementara itu yang melapor ke polisi dipimpin oleh Pak Rudi, saat itu juga dimintai keterangan.


Polisi terkejut saat mendengar DPO si Darpin, Doma, Benco, dan Gonto, ternyata masih hidup dan berkeliaran. Pihak aparat pun berjanji akan menindaklanjuti laporan ini.


"Jadi ada tiga orang yang tewas ya?" kata aparat kepada Pak Rudi.


"Iya, Pak. Sementara anak saya dan anaknya Pak Muslih belum ditemukan, masih disekap kelompok si Darpin cees," kata Pak Rudi.


"Tapi entah bagaimana nasib si Darpin cees Pak. Sebab kemarin ketika dia menghajar kawan kami, tiba-tiba diserang babi hutan," ujar Rama.


"Baiklah, sekarang juga kita lihat lokasi itu," kata petugas yang kemudian meminta para pelapor untuk ikut serta ke lokasi.


Pak Rudi dan Pak Muslih menyetujui. Demikian pula Rama, Warya, dan Anwar akan ikut serta.


Setelah itu beberapa polisi siap pergi. Ada 5 anggota polisi yang salah seorang di antaranya sebagai komandan. Mobil patroli pun dikeluarkan.


Polisi meminta Pak Muslih dan Pak Rudi duduk di depan mobil patroli sebagai petunjuk jalan. Permintaan itu pun diterima.

__ADS_1


Sementara motor Pak Rudi dinaiki Rama. Warya dan Anwar menggunakan sepeda motor sendiri.


Kemudian mobil patroli melaju dengan petunjuk arah Pak Rudi yang telah mengetahui lokasi pastinya. Di belakang mobil patroli empat anggota polisi duduk di kursi yang disimpan di bagian tengah mobil bak terbuka itu.


D belakangnya mengikuti tiga buah sepeda motor yang ditunggangi Rama, Warya, dan Anwar.


Laju mobil tersendat-sendat karena jalan yang tidak begitu lebar, sesekali harus menepi ketika dari arah berlawanan ada sepeda motor lewat.


Sekitar pukul 13:00, tibalah mereka di lokasi TKP. Lalu mobil diberhentikan setelah Pak Rudi memberi tahu lokasi kejadian perkara kemarin siang.


Polisi yang menyopiri mobil patroli membuka pintu mobil. Disusul Pak Muslih dan Pak Rudi.


Betapa terkejutnya Pak Rudi, Rama, Anwar, dan Warya karena di sana sudah tidak didapati lagi apa-apa, kecuali rerumputan di pinggir jalan dekat tebing yang sudah rusak bekas terinjak-injak. Sepeda motor dan ketiga jenazah Udin, Odos, dan Somad sudah tidak ada jejaknya.


"Di sini kejadiannya kemarin Pak," kata Pak Rudi.


"Termasuk tiga jenazah yang tadi Bapak bilang?" tanya polisi meragukan keterangan Pak Rudi karena ternyata ketiga jenazah para penculik tidak ditemukan.


"Benar Pak. Di sini kemarin terjadi keributan antara kami, penculik, dan kemudian datang Darpin cees meggunakan mobil."


"Iya Pak menggunakan mobil. Kami tahu mobil itu biasa digunakan si Darpin juga ayahnya Kades Danu," timpal Rama.


"Mobil apa itu?"


"Mobil Jeep, Pak!" jawab Rama. Polisi pun mencatat keterangan yang diberikan para pelapor.


"Terus para penculik menggunakan apa?" tanya polisi lagi.


"Mereka menggunakan sepeda motor juga, satu orang satu sepeda motor," jawab Pak Radi.


"Ayo cari sekeliling barangkali sepeda motor atau jenazahnya ada di sekitar sini!" perintah komandan polisi kepada anggotanya.


Maka anggota polisi yang empat orang itu pun dibantu Warya, Rama, dan Anwar mencari sekeliling tempat dengan cara berpencar.


Sedangkan Pak Rudi dan dan Pak Muslih masih menemani komandan polisi di dekat mobil.

__ADS_1


Sekitar dua puluh menit mencari ke sana ke mari, para petugas dan Rama cees, kembali ke tempat semula dan melaporkan bahwa yang dicari tak ditemukan.


"Mereka menghilangkan jejak. Biarlah untuk sekarang sampai sini dulu, besok lusa kita cari ke sono, siapa tahu ada petunjuk," kata komanda polisi sembari menunjuk jalan menanjak ke arah atas belantara pegunungan.


"KIta sudah menemukan petunjuk. Pasti takkan jauh-jauh lokasi persembunyian mereka dari sini," kata petugas itu.


Setelah itu komandan mengajak semuanya untuk kembali ke kota kecamatan guna merancang pengusutan lebih lanjut dengan akan melibatkan anggota yang lebih banyak lagi.


Pak Rudi dan Pak Muslih pun mengikuti saja meski hatinya belum puas karena Wati dan Yati tidak berhasil ditemukan.


Setelah tiba di kantor polsek, saat itu juga polisi melanjutkan pengusutan lebih lanjut atas keterangan pelapor, di antaranya keterangan bahwa mobil yang digunakan adalah mobil Jeep milik Kades Danu.


Polisi pun lalu meluncur ke kediaman Kades Danu saat itu juga ditemani para pelapor.


Kebetulan Kades Danu tengah berada di rumahnya. Melihat kedatangan polisi beserta orang-orang yang dikenalnya, Kades Danu sangat terkejut.


Dia menduga polisi telah mencium jejak perbuatannya, termasuk anaknya si Darpin cees, bahkan mungkin kediaman Embah Sawi, tempat Yati dan Wati disembunyikan telah diketahui.


Meski begitu, Kades Danu mencoba tetap tenang dengan menampakkan sikap srigala berbulu domba yang tidak tahu-menahu persoalan meski yang datang adalah aparat kepolisian.


Sementara sang istri, Bu Windi, melihat kedatangan polisi dan orang-orang yang dikenalnya, sedikit lega dengan harapan semoga kasus hilang anaknya si Darpin sebagai DPO dan telah merampok uang miliknya ketika datang malam-malam bisa segera terkuak.


"Silakan Pak, masuk," sambut Kades Danu dengan senyum ramah kepada para petugas.


"Terima kasih, Pak," sahut polisi.


Tak lama kemudian polisi pun menerangkan maksud kedatangannya tentang kronologis kejadian sesuai dengan apa yang dikatakan oleh para pelapor.


"Jadi para saksi ini melihat anak bapak dan juga mobil yang digunakan katanya milik bapak sebuah Jeep," kata polisi.


Deg!


Kades Danu benar-benar terkejut mendengar keterangan polisi terutama tentang mobil Jeep miliknya. Apa yang harus dijadikan alibi atas fakta yang tak mungkin bisa dibantah ini.


Namun bukan Kades Danu orang kesayangan Embah Sawi kalau tak bisa menghilangkan jejak dan membuat alibi untuk menghindari kejaran petugas.

__ADS_1


"Oh, itu memang benar mobil milik saya dan suka dipakai anak saya si Darpin Pak. Namun setelah kejadian memalukan hingga anak saya jadi DPO, saya sudah tidak tahu-menahu dengan mobil itu karena dibawa kabur si Darpin dan kawan-kawannya sekarang saya menggunakan mobil lainnya, tuh di depan, kata Kades Danu dengan ringannya. (Bersambung)


__ADS_2