Teror Dedemit Sumur Tua

Teror Dedemit Sumur Tua
Bab 115. Ending


__ADS_3

Hari yang ditunggu-tunggu kedua mempelai akhirnya tiba juga. Tak dapat digambarkan dengan untaian kata-kata bagaimana bahagianya Warya dan Triana Wiarti.


Tak hanya kedua mempelai, orangtua mereka pun sangat bahagia bahkan terharu menyaksikan anak-anak mereka sudah tiba di pelabuhan fase kehidupan yang sangat dinantikan guna berlayar di samudra kehidupan selanjutnya.


Haji Makmur dan Bu Hajjah Tita tak henti-hentinya memandangi sang buah hati termasuk calon menantunya yang sebentar lagi akan diresmikan menjadi menantu yang benar-benar sah setelah akad tikah.


Yang membuat terharu warga pengantar dari Kampug Mekarsari melihat pengantin wanita persis seperti almarhumah Wiwi, bahkan kebanyakan dari mereka menyangka bahwa Wiwi korban rudapaksa Darpin cees itu hidup lagi.


Demikian pula orangtua Triana, ibunda Bu Sari adiknya Bu Ratih dan sang suami, Pak Muslih dan Bu Ratih sangat bahagia menyaksikan sang putri sudah ada yang mempersunting seorang pemuda tampan, baik-baik, dan anak orang berada dari Kampung Mekarsari.


Usai ijab kabul yang disaksikan keluarga, kerabat, tetangga, teman, semuanya larut dalam kebahagiaan dan berucap syukur alhamdulillah tatkala para saksi mengucapkan sah, sah.


Lalu acara dilanjutkan dengan sungkem kedua mempelai kepada kedua orangtua mereka. Air mata kebahagiaan tumpah dari mata-mata orangtua mereka.


Ustaz Hamid yang hadir didampingi Umi Utih berkenan memberikan nasihat-nasihat pertikahan yang intinya menerangkan bahwa rumah tangga itu mempersatukan perbedaan di antara kedua belah pihak.


"Oleh karena itu berumah tangga hakikatnya bukan hanya untuk bersenang-senang mengumbar syahwat, tetapi sebaliknya untuk berjuang karena akan banyak godaan, rintangan, ujian, bahkan cobaan sepanjang berumah tangga," ujar Ustaz Hamid yang notabene juga pengantin baru.


"Okelah sebagai pengantin baru mungkin saatnya untuk bersenang-senang. Itu normal sebab pertikahan berawal dari rasa cinta. Rasa ini harus terus dipupuk dan pupuk utamanya adalah ajaran agama," ujar Ustaz Hamid.


Usai acara pokok akad tikah, penyerahan dan penyambutan dari kedua keluarga mempelai, kini saatnya para tamu menikmati sajian yang telah disediakan tuan rumah.


Musik tradisional degung sudah mulai ditabuh lengkap dengan pesindennya yang bersuara 'halimpu' (merdu, Sunda). Kehadiran musik itu menambah suasana jamuan para tamu makin terasa syahdu.


Sebelum menikmati hidangan jamuan untuk para undangan, tentu saja para tamu menyalami kedua mempelai. Warya dan Triana sebagai raja dan ratu sehari duduk di pelaminan.


Juru foto, jeprat sana-jepret sini. Kameramen video yang telah disewa pun saatnya sibuk mengabadikan momen-momen indah bagi kedua mempelai dan keluarganya.


"Wilujeng (selamat), semoga samawa," ujar Bu Windi menyalami Warya dan Triana, lalu kepada Pak Haji Makmur, Bu Hajjah Tita, dan orangtua Triana.


"Hatur nuhun (terima kasih) Bu," timpal Warya saat menyambut Bu Windi.


Di belakang Bu Windi ada Toto dan Imas, lalu Pak Rudi dan Bu Amih, serta yang lain-lainnya.


Rama beserta istrinya Yati, pun Anwar dan Wati, Bi Inah dan Iis, bahkan Iis tampil sebagai pagar ayu, tak ikut menyalami karena mereka dilibatkan sebagai panitia acara karena yang menikah adalah keluarganya yaitu Triana.


Ketika waktu sudah beranjak siang hari para tamu undangan masih berdatangan, baik undangan mempelai wanita maupun mempelai pria.

__ADS_1


Saat itu Warya dan Triana duduk di kursi pelaminan karena sudah lama berdiri dan tamu undangan yang mengucapkan selamat kebetulan lowong.


Namun tiba-tiba pandangan Warya tertuju kepada pasangan muda yang tengah menuju dirinya. Warya terkejut, dia mencuil paha istrinya dan berbisik.


"Lihat!" bisik Warya, lalu Triana menoleh kepada orang yang tengah bejalan ke hadapannya.


"Oh iya, memang aku undang dia Kak," ujar Triana.


"Selamat ya Kak Warya, Triana, semoga kalian awet hingga akhir hayat," ujar Ira.


Ternyata dua pasangan muda itu Ira dan seorang pemuda calon suaminya. Di belakangnya ada Ganda, kakaknya Ira.


Yang membuat Warya heran, si pemuda pendamping Ira seperti sama dengan dirinya.


"Kok seperti diriku?' gumam batin Warya


Menjelang sore hari undangan sudah mulai bekurang. Namun acara belum ditutup karena perjanjian dalam undangan acara ditutup pukul 16:00. Kini jam menunjukkan pukul 15:30 dan satu dua undangan masih berdatangan.


Tiba-tiba mata Warya tertuju lagi kepada tamu lainnya sekelompok wanita yang membuat mata Warya terbelalak dan degup jantungnya serasa kencang,


Betapa tidak, para wanita itu yang semalam hadir ke dalam mimpinya bersama Wiwi.


Warya makin degdegan. Anehnya, ketika dia melirik wajah sang istri tak terlihat wajah tegang seperti dirinya, malah tersenyum menyambut kahadiran para perempan itu seolah sudah sangat mengenal.


"Selamat ya, semoga kalian samawa," ujar perempuan yang lebih tua kepada Warya. Warya ingat dalam mimpi semalam wanita itu bernama Mayanggeni.


Kemudian wanita bernama Mayangggeni itu menyalami Triana. Bahkan dengan Triana saling berangkulan membuat bulu kuduk Warya mendadak merinding.


"Terima kasih Ibu Mayanggeni," ujar Triana.


Deg!


Jantung Warya terasa copot mendengar Triana tahu bahwa wanita itu bernama Mayanggeni, tahu dari mana dia? Apakah dia juga bermimpi kedatangan Wiwi dan wanta itu?


Lalu wanita lainnya menyalami juga.


"Terima kasih kehadirannya Tante Kentingmanik, Tante Kantingayu, dan kamu Nani," ujar Triana seolah benar-benar mengenal mereka.

__ADS_1


Lalu para perempuan itu meninggalkan kedua mempelai. Warya terus mengikuti para perempuan aneh itu, namun dalam sekejap sudah tidak tampak. Tak seperti para tamu undangan lainnya yang usai bersalaman lalu mencicipi hidangan jamuan.


"Kamu kenal perempuan tadi, aku tidak," ujar Warya.


"Perempuan yang mana? Kan belum ada lagi tamu undangan yang menyalami kita," ujar Triana.


"Hah?!" teriak Warya dalam hatinya.


Pukul 17:00 acara benar-benar selesai. Para tamu undangan sudah tidak ada, kerabat dan orangtua Warya sudah pada pulang ke Kampung Mekarsari.


Pukul 22:00 malam kedua mempelai sudah tak tahan ingin segera ke peraduan yaitu di kamar pengantin yang telah dihias sedemikian rupa. Wewangian pengundang berahi telah menyeruap di dalam kamar, membuat hasrat kelelakian Warya benar-benar tak tahan.


Apalagi di kamar pengantin ini hanya ada dua orang, dirinya dan Triana.


"Ayolah sayang, kita mulai," bisik Warya ke telinga sang istri.


Ketika beradu pandang, Warya benar-benar terkejut karena menatap wajah istrinya persis dengan wajah Wiwi, sang kekasih yang telah tiada.


"Wi, Wiwi? Apakah kamu Wiwi?"


Warya tak tahan untuk bertanya dan menyebut nama Wiwi.


"Ya," ujar Triana tak ragu.


"Benarkah?" sekali lagi Warya bertanya.


"Ya, Kakak boleh panggil aku Wi atau Wiwi. Bukankah namaku Triana Wiarti?" ujar Triana.


Warya pun merapatkan wajahnya ke dekat wajah Triana. Menatap lekat wajah manis nan cantik itu. Bibir Warya mengembut lembut siap ******* bibir delima merkah milik sang istri.


Namun, tiba-tiba Warya dibuat terkejut karena dari atap rumah ada sesosok orang terjun dan lalu berdiri persis di hadapannya.


Keruan Warya sangat murka. Acara sakral yang telah dinanti-nantinya itu terganggu sesosok pria yang tak dikenalnya.


"Hai, siapa kamu? Berani-beraninya masuk kamar pengantinku?" hardik Warya sambil membulatkan tinju.


"Sssssst....tenang, aku ini si penulis cerbung 'Teror Dedemit Sumur Tua'. Terpaksa aku menemuimu melalui atap karena kamu tidak mengundangku di acara tadi siang. Padahal akulah yang berjasa menyatukan kamu dengan kekasihmu. Maaf-maaf aja kalau aku menggangu. Aku ke sini hanya untuk mengucapkan selamat atas pertikahanmu. Aku ikut bahagia, semoga rumah tangga kalian samawa alias sakinah, mawadah, warahmah. Aamiin....silakan lanjutkan!"

__ADS_1


(TAMAT)


__ADS_2